Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#21


__ADS_3

Altair menatap mereka satu demi satu sambil menghafalkan nama-nama mereka. "Lulu, Tasya, Benjamin, Lian, dan Tasya," katanya. "Oke, gak susah menghafalnya. Sekarang kalian bisa ke tempat masing-masing."


Dimulailah pelajaran hari itu.


Altair tidak terkejut ketika dalam kelas pertamanya ini ia sangat sedikit menemukan kesalahan.


Mr.Edgar dan Fanni sudah menjelaskan tentang level para siswa di sekolah itu.


Tak terasa, dua jam berlalu dan kelas pun berakhir.


Kelima siswanya keluar dari ruangan sekat masing-masing.


"See you tomorrow," kata Altair pada mereka.


"Jangan lupa apa yang sudah kita latih tadi diulang di rumah. oke? " tekan nya, tersenyum ramah.


Kelima anak itu mengiyakan sebelum ke luar ruangan menuju kelas reguler.


Altair kembali ke meja kerjanya dan memutar kembali rekaman permainan siswa-siswanya.


Namun baru satu yang ia dengarkan, ternyata Fanni udah nangkring cantik di ambang pintu.


"Sudah selesai, Sir Altair?" tanya Fanni, tersenyum.


Altair mengangkat wajah, mendapati Fanni bersandar di dekat pintu masuk.


"Ya Lord!!! Pakai Sir segala," sahutnya sambil membalas senyuman Fanni.


"Hehehe.. kan lo guru sekarang! And this is class, rigth? Jadi, gimana kelas pertamanya?"

__ADS_1


"Tunggu bentar," jawab Altair sambil memasang lagi headphone-nya dan mengalihkan pandangan ke layar monitor.


"lo masuk aj dulu..."


Fanni tersenyum memperhatikan ekspresi serius Altair.


la melangkah mendekati sahabatnya itu.


"Siapa ini?" tanyanya.


"Lian. Setelah gue amati, dia siswa paling pintar dari ke lima ini anak ini. " ujar Altair.


Fanni mengangguk-angguk, lalu merapatkan jaraknya pada Altair agar dapat melihat lebih jela


Namun tanpa sengaja hal itu membuat lengannya bersentuhan dengan bahu Altair.


Detak jantungnya kembali tidak terkontrol.


"Astaga!! Aku kenapa!!!" batin Fani. Fanni berusaha kembali memfokuskan perhatian, dan untung nya tidak lama kemudian video itu selesai.


"Syukur lah!!" Gumam nya dalam hati sambil mencuri lihat pada Altair sebelum akhirnya nya menegakkan tubuh, sementara Altair menutup rekaman itu dan mulai merapikan peralatan kerjanya.


"Jadi, gimana kesan hari pertama mengajar?" tanya Fanni untuk mengalihkan rasa grogi nya.


"Menyenangkan," sahut Altair.


"Alat- alat sini canggih- canggih! dan siswa-siswanya patuh dan disiplin waktu. Tadinya gue ngebayangi bakal dapat kelas pemberontak yang bikin gue kewalahan." ujar, tertawa.


Fanni tertawa. "elo kebanyakan nonton sinetron indomie saus tiram kali!!!."

__ADS_1


Kedua nya pun tertawa...


"Btw, lo jadi mau belajar nulis lagu?" tanya Altair kemudian. Dia teringat tadi Fanni meminta nya untuk mengajari nya membuat lagu.


"Jadi dong!" jawabnya antusias.


Altair memandangi arloji. Masih pukul sebelas.


"Kita makan siang dulu ya? Gue udah kelaparan nih. Gue yang traktir, sebagai tanda terima kasih lo udah cariin gue kerjaan." ucap nya.


Fanni tentu meng- iya kan apa yang Altair katakan. Karena memang ini lah tujuan nya dari awal membantu Altair, yakni agar bisa selalu dekat dengan laki-laki yang dia cintai ingin.


****


GEA menatap foto Moon yang ia bingkai dan letakan di tempat kerja nya.


Kucing berbulu lebat itu melihat ke arah kamera, dengan pose sempurna namun dengan wajah cool.


Ya Moon memang selalu saja sok cool.


"Moon lagi ngapain ya? " lamun nya dalam hati karena sudah satu hari Moon pulang ke negeri sihir untuk mengurus perpanjangan izin tinggal moon di dunia manusia.


Untungnya ada foto itu jadi setiap hari Gea bisa h memandangi foto kucing kesayangannya itu sampai menunggu jam tutup.


Sejak Gea memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan manusia seperti dengan Mia dan Robert dulu, hanya Moon lah teman nya. Susah payah dia membujuk semua orang agar Moon bisa hidup di dunia manusia.


Dan syukur nya akhirnya berhasil.


"Cepat pulang Moon!!!" Gumam nya lalu meletakkan kembali foto Moon.

__ADS_1


__ADS_2