Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#16


__ADS_3

"Anda dan Bu Fanni adalah guru termuda di sini. Para pengajar lain rata-rata berusia di atas 35 tahun." Pak Edgar mulai bicara informal dengan Altair.


“Apa pak Altair punya hal lain yang di sukai selain musik?”


Altair tersenyum, sambil membaca dengan saksama kertas di hadapannya. "Musik satu-satunya bidang yang saya sukai dan tekuni sejak kecil. "


"Pasti senang bisa satu tempat kerja dengan teman lama ya, Pak." Seloroh pak Edgar.


"Tentu saja. Hem- Ini, Pak, sudah saya tanda tangani." Ujar Altair sambil menyerahkan kembali dokumen itu ke pak Edgar.


Pak Edgar memeriksa berkas itu sekali lagi sebelumnya mengulurkan tangan kanannya. "Selamat bergabung di S.A Music Institute, Pak Altair. Saya berharap banyak dari Anda." Altair membalas jabatan tangan itu.


"Dan semoga saya tidak mengecewakan Anda." Sebut Altair sambil menjabat tangan pak Edgar.


"Ngomong-ngomong, bolehkah saya tahu salah satu lagu klasik favorit Anda?"


"Nuvole Bianche." Jawab Altair


"Kenapa Anda suka lagu itu?"


"Dulu saya melihat seseorang memainkan lagu itu, dan itu pertama kalinya saya tahu bahwa saya akan menekuni piano klasik karena saya jatuh cinta dengan permainan musik nya." Jawab Altair lagi.


"Siapa dia?"

__ADS_1


"Gea ALnoff."


"Gea ALnoff?" tanya Pak Edgar ragu.


"Bukan pianis ternama, tapi bagi saya dia pianis sangat hebat."


Pak Edgar mengangguk. "Lalu, kenapa repot-repot mencari kerja di kota ini ? Bukannya di Boston, lebih banyak sekolah musik?"


"Rindu kampung halaman, Pak."


Pak Edgar tertawa. "Rumah memang tidak ada gantinya ya."


"Ya, begitulah," Altair tersenyum. Lalu ia bangkit berdiri, bersalaman dengan Pak Edgar sekali lagi sebelum menuju pintu.


Pak Edgar mengantarnya ke meja sekretaris, tempat Fanni ternyata sudah menunggu.


"Baik, Pak," jawab Fanni.


Altair dan Fanni berpamitan lalu pergi dari sana.


S.A Music Institute menempati sebuah gedung bertingkat tiga dengan luas tanah kira-kira empat hektar.


Altair mengagumi arsitektur dan interiornya yang bergaya Yunani Kuno. Atapnya tinggi, ditopang pilar-pilar raksasa.

__ADS_1


Selain terdiri atas berbagai jurusan seperti piano, saksofon, gitar, dan juga vokal, baik para pengajar maupun siswa terpilih dapat menjadi anggota Orchestra yang sering mengadakan pementasan musik klasik atau opera.


Mereka berjalan menyusuri lorong terbuka yang tampak sepi. Sejauh mata memandang terbentang tanaman dan rumput hijau di area-area terbuka sekolah. Suasana terasa sejuk.


"Pantes lo betah di sini," gumam Altair.


"Enak kan tempatnya? Pengelolaannya profesional. Metode pendidikannya berskala internasional. Gue yakin lo bakal betah di sini." Timpal Fanni.


"Amin. Eh, cariin info kosan deket sini dong. Kosan gue yang sekarang kejauhan." Seru Altair.


"Boleh. Kayaknya kemarin gue lihat pengumuman kamar kosong. Nanti gue mampir deh, nanyain masih available apa gak." Ujar Fanni.


"Thanks, Fan." Altair mengedipkan sebelah mata.


"Emm!” Fanni jadi salah tingkah karena kedipan mata Altair tadi.


“By the way, nanti lo ngajar gak begini kan penam- pilannya?" Fanni mengamati penampilan Altair yang hanya mengenakan kaus merah, celana jins belel, dan sepatu kets.


"Gak boleh, ya?"


“Ya enggaklah," jawab Fanni tak sabar.


"Di sini pakaian pengajar memang santai, tapi bukan berarti kaus dan jins belel gitu juga."

__ADS_1


Altair terkekeh mendengar celetukan Fanni. "Oke, oke, nanti gue sesuaiin, tenang aja. Eh, tunjukin ruang pianonya dong." Pinta Altair.


"Gak sabaran amat! Ini kita lagi menuju ke sana kok." Cetus Fanni.


__ADS_2