
"Huft... huft... huftt" seorang gadis berlari di tengah guyuran hujan yang membasahi tubuh nya. Ia berlari dengan cepat, berharap tidak tertinggal bus untuk pulang ke rumahnya.
"Duhh, busnya belum datang kan?" gumam Kayla Larasati, gadis cantik yang masih berusia 17 tahun. Rambutnya terurai panjang dengan seragam SMA lengkap yang ia pakai, yang kini telah basah kuyup karena terkena air hujan.
"Mama pasti marah kalau aku gak pulang secepatnya. Hari ini kan ada jadwal les," gumam Kayla menampilkan wajah lesu.
"Nak, sendirian disini?" tanya nenek tua dengan tongkat yang ia pakai, wajahnya terlihat sangat tua.
"Ya?" Kayla sedikit tersentak, ia lalu menoleh ke belakang.
Kayla menyadari ada seorang nenek tua yang bertanya padanya. "Saya sedang menunggu bus, nek.." jawab Kayla sopan, disertai dengan senyuman ramah yang ia tampilkan.
"Begitu ya, sini tunggu di dekat rumah nenek aja, seharusnya sih dari rumah nenek kelihatan busnya" tawar si nenek sambil tersenyum.
Karena tidak ada pilihan lain, Kayla akhirnya menurut dan berteduh di depan teras rumah nenek itu. Ia disajikan beberapa cemilan dan teh hangat oleh nenek itu.
"Maaf ya nak, nenek ga bisa kasih banyak" ujar si nenek.
"Iya nek, gak apa kok! Aku justru yang berterima kasih banget!" ujar Kayla.
Nenek itu kembali mengulas senyum di wajahnya, ia duduk di sebelah Kayla dan ikut meminum teh hangat yang ia buat.
Karena suasana sangat sepi dan agak canggung, Kayla memutuskan untuk memulai sebuah obrolan.
"Ehm, nenek tinggal sendiri disini?" tanya Kayla agak canggung.
"Iya nak, keluarga nenek tinggalnya pada di luar kota, nenek jadi sendiri deh disini" jawab nenek itu.
Kayla menatap wajah nenek itu dengan tatapan kasihan, ia turut prihatin dengan kondisi nenek tersebut.
Tinnnn... klakson bus terdengar, Kayla melihat angka di samping bus itu. "433" itulah angkanya.
"Nah, sudah datang" Kayla tersenyum senang mengetahui bus yang ia tunggu-tunggu sudah datang.
"Nek, terima kasih banyak ya! Aku bersyukur bisa bertemu nenek disini. Semoga sehat-sehat ya nek" ujar Kayla, ia lalu mencium punggung tangan nenek itu sebagai bentuk tanda hormat.
"Hati-hati ya nak!" ucap nenek itu, dan disahut anggukan kepala oleh Kayla.
Kayla segera memakai tas gemblok nya dan berlari ke arah bus itu. Ia segera menaikinya dan duduk di bagian paling belakang dan terdapat di dekat jendela.
Suhu saat ini sangat dingin karena hujan deras. Kayla melepas tasnya dan memeluknya erat untuk menghangatkan dirinya. Perlahan, ia pun tertidur dengan posisi menghadap ke arah luar jendela.
Tempat pemberhentian lima, sekaligus terkahir, itulah yang ingin Kayla tuju. Ia mengambil uang sebesar tiga puluh ribu di saku bajunya. Selepas membayar, Kayla segera turun dan pergi menuju rumahnya.
Tok...tok ..tok... Tiga ketukan terdengar dari luar pintu. Siapa lagi kalau bukan Kayla, ia mengetuk pintu rumahnya sambil memanggil mamanya.
"Ma.. Kayla pulang" ucap Kayla.
Ceklek..
Pintu pun terbuka, Kayla memeluk ibunya dengan hangat. "Sore ma!" sapa Kayla.
Namun, hanya senyuman yang ditampilkan di wajah mama Kayla. Kayla melepas pelukannya dengan mamanya, mengingat dirinya basah kuyup karena kehujanan tadi.
"Maaf ma.." ujar Kayla.
Kayla segera pergi ke kamarnya, ia mengganti bajunya dan menyiapkan buku-buku lesnya.
Kamar Kayla berada di lantai dua, karena di rumah Kayla terdapat dua lantai.
Kayla menuruni anak tangga dengan tas selempangnya, ia berlari menuju mamanya.
__ADS_1
"Ma, aku pergi les ya!" ujar Kayla.
Della adalah mama Kayla. Della termasuk mama yang cuek pada Kayla, Kayla pun mengetahui hal itu.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari mamanya, Della, Kayla akhirnya tidak melanjutkan ucapannya dan segera pergi keluar untuk pergi ke tempat lesnya.
"Gak usah" Della tiba-tiba berucap, membuat Kayla sedikit tersentak kaget.
"Maksud mama?" tanya Kayla tidak mengerti.
"Kamu di rumah aja! Diluar hujan, gak mungkin guru lesnya mau ngajar!" ujar Della. Della melangkah ke arah jendela, ia menutup gordennya.
"Lebih baik kau masak mie instan, mama sekarang belum masak, banyak kerjaan" ujar Della.
Kayla mengangguk mengerti, ia mengambil mie instan di tempat kardus penyimpanan khusus untuk makanan instan.
Karena cuacanya dingin, Kayla memutuskan untuk memasak mie kuah rasa ayam bawang, ia juga memasak hal yang sama untuk mamanya.
Beberapa menit kemudian
"Ma, ayo makan dulu, Kayla udah masak mie kuahnya" ujar Kayla.
"Diem dulu bisa gak sih? Abang kamu tuh dari tadi belum pulang, biasanya kan dia pulang lebih awal daripada kamu. Mama khawatir!" ujar Della. Ia terus menggenggam teleponnya dan menelepon beberapa orang terdekat kakak Kayla yang tak kunjung pulang.
"M-maaf ma." ujar Kayla, ia menundukkan kepalanya.
Kayla adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Sebenarnya, Della sangat menginginkan anak laki-laki saat mengandung Kayla. Tapi sayang, keinginannya tidak tercapai. Ia jadi hanya mempunyai satu anak laki-laki, dan itupun hanya anak pertamanya.
Kayla mempunyai tiga kakak, satu pria, lainnya perempuan. Kehadiran Kayla di dunia tidak terlalu disukai kakak-kakaknya, mereka menganggap diantara mereka, Kayla lah yang paling disayang karena merupakan anak bungsu. Nyatanya, sang mama, Della tidak menyukai Kayla karena terlahir sebagai perempuan.
Kayla termasuk anak pendiam dan introvert, apalagi di sekolahnya. Ia bukan anak yang gampang bergaul, malah justru kebalikannya.
Biar begitu, Kayla sangat pintar. Ia selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya.
***
Kayla berjalan ke arah tangga, ia melirik mamanya sekilas. "Mama sayang banget ya sama Abang" batin Kayla.
Kayla pergi ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya yang sudah kelelahan itu.
********
Malam hari, tepat pukul 20.20 Kayla terbangun dari tidurnya. Karena tidak bisa tidur, Kayla keluar dari kamarnya dan mengambil segelas air putih.
Ia berjalan dengan langkah pelan menuruni anak tangga, agar tidak mengganggu keluarganya.
"Nak, kamu itu harus banyak makan! Kalau seharian di kantor, nanti kamu bisa sakit kalau gak makan!" suara lembut dan hangat terdengar jelas di balik pintu kamar yang berada di dekat ruang makan. Kayla menatap kamar tersebut, ia tahu suara siapa itu.
Kayla melangkah mendekati pintu kamar itu, yang tidak lain adalah kamar abangnya. Ia melihat senyuman lembut yang mengulas di wajah sang mama, dengan dekapan hangat yang ia berikan pada putranya.
Jujur, Kayla terkadang merasa iri pada kakak-kakaknya. Mereka bisa mendapat kasih sayang dari mamanya, berbanding terbalik dengan dirinya.
Sejak kecil, Kayla diasuh oleh sang ayah yang kini telah tiada sejak ia berumur 11 tahun. Kini Kayla hanya tumbuh sendiri, tanpa perhatian dan kasih sayang dari orang tua.
Kayla berusaha berjuang sendiri, meraih pendidikan yang baik agar bisa membanggakan mamanya. Namun, kenyataannya berbeda jauh dengan khayalannya selama ini. Sekeras apapun ia berusaha, semuanya akan salah di mata mamanya.
"Iya ma, aku juga tau!" ucap Reynold menjawab ucapan mamanya. Reynold adalah kakak pertama Kayla, dia adalah anak kesayangan mama Kayla.
"Gitu dong, kalau gitu, mau mama suapin makannya, hm? Mama udah jarang menyuapi anak mama yang ini lohh!" ujar Della, ia tertawa kecil mengelus kepala Reynold.
"Keluarga yang hangat," Kayla bergumam, ia tersenyum tipis melihat kebersamaan kakaknya dengan mamanya.
__ADS_1
Tanpa sadar, air mata menetes di wajah Kayla. Kayla yang menyadarinya segera mengusap air matanya. Ia lalu berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah yang amat pelan, sesekali ia melirik kamar Reynold yang masih terbuka kecil.
*****
Esok harinya, pagi-pagi sekali Kayla sudah bersiap dengan seragam sekolah lengkap dan tas sekolah yang ia bawa. Ia tersenyum menyambut pagi hari sembari menuruni anak tangga.
"Pagi ma!" sapa Kayla. Walau Kayla tahu mamanya cuek padanya, sikap ramah dan kasih sayangnya pada mamanya tidak pernah pudar. Ia selalu berharap suatu saat nanti bisa mendapat kasih sayang dari mamanya.
"Hmm" Della hanya berdehem menyahut Kayla.
Kayla tersenyum kikuk, ia lalu duduk di kursi makan dan mengambil piring yang terletak tepat di hadapannya.
"Ma, ini punya Kayla kan?" tanya Kayla.
Della segera menoleh, ia lalu berjalan cepat dan menepis tangan Kayla pelan. "Ini punya abangmu, dia kan kerja, nanti sakit kalau makannya gak banyak. Kamu makan yang disana aja, nasi goreng cukup kan?" jelas Della sambil menunjuk sepiring nasi goreng di atas meja makan.
Kayla terdiam, ia lalu mengangguk paham dan mengganti posisi duduknya, yaitu di sebelah kanan kursi yang ia duduki pertama kali tadi.
Setelah selesai memakan sarapannya, Kayla berpamitan pada mamanya. Ia mencium punggung tangan Della sambil mengucap salam.
"Aku berangkat ya ma" ujar Kayla.
Kayla memakai sepatunya, dengan cepat ia berlari menuju halte bus.
"Jam berapa ya sekarang?" gumam Kayla bertanya.
Bus nomor 433 dengan tujuan gang Flamboyan sudah datang. Kayla segera menaiki bus itu, seperti biasa ia duduk di bagian paling belakang.
Sesampainya di sekolah, Kayla segera berjalan menuju kelasnya. Sebelum sampai, ia sempat melihat sosok siswa di bawah pohon rindang dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Deg! Jantung Kayla berdebar saat melihat pria itu, ia tidak bisa mengontrol hatinya saat ini. Namun, cepat-cepat ia halau pikiran itu, dan berlari ke arah kelasnya.
Kayla duduk di bangkunya, di samping wanita bernama Anya, teman sebangkunya.
Anya adalah anak yang pendiam, sama seperti Kayla. Saat jam pelajaran berlangsung, mereka hanya diam dan mendengarkan penjelasan dari guru. Berbeda dengan murid lainnya yang saling mengobrol di sela-sela pelajaran.
Tidak lama kemudian, guru datang memasuki kelas dan mulai mengajar. Kayla mendengar penjelasan guru dengan khidmat dan serius.
Kringg... Bel istirahat berbunyi, semua murid pergi ke kantin untuk istirahat. Berbeda dengan Kayla yang hanya ingin diam di kelas berdua dengan Anya. Kayla dan Anya biasanya membawa dari bekal dari rumah, tapi karena Kayla tidak sempat membawa bekal, jadi Kayla hanya bisa membaca buku di kelas.
"K-Kayla, kamu gak makan?" tanya Anya ragu.
Kayla menoleh dan menatap Anya, ia lalu menggeleng pelan. "Aku gak lapar, Anya." jawab Kayla tersenyum ramah.
Selang setengah jam kemudian, istirahat pun berakhir. Para murid segera kembali ke kelasnya masing-masing dan kembali belajar.
Di tengah pelajaran, Kayla merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya. Sakit sekali!
"Ughh.." lirih Kayla, ia terus memegang perutnya.
Kayla mengangkat tangannya, "Maaf Bu!" ujar Kayla pada Bu Ani, guru bahasa Indonesia yang sedang mengajar saat ini.
"Ada apa Kayla?" tanya Bu Ani.
"Saya izin ke kamar mandi ya Bu" ucap Kayla.
Bu Ani mengangguk, "Silakan" jawabnya.
Kayla berlari ke kamar mandi wanita, ia lalu mengeluarkan muntahan dari mulutnya. "Ughh, akhirnya.." Kayla bernapas lega.
Kayla berjalan sempoyongan ke arah kelas, ia kembali duduk di bangkunya dan mengerjakan soal yang diberikan Bu Ani untuk seluruh murid di kelas. Rasa sakit kembali muncul di perut Kayla, Kayla memegang erat perutnya untuk menahan rasa sakit yang timbul.
__ADS_1
Tak lama kemudian, muncullah rasa pusing yang amat besar di puncak kepala Kayla. Karena tidak tahan, ia akhirnya terjatuh dari bangkunya dan pingsan di tempat.
Murid-murid sekelas Kayla pun kaget melihat Kayla yang tersungkur di lantai, begitupun Bu Ani. Bu Ani segera memapah Kayla menuju UKS dengan bantuan siswi lainnya.