Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 15. Permainan licik


__ADS_3

Dari jauh, terlihat seorang wanita dengan tubuh rampingnya melihat tajam Kayla. Ia mengigit bibir bawahnya, sambil menjentikkan jemarinya di dekat jendela.


"Boss, gimana? Apa harus bawa dia keatas?" Suara pria terdengar dibalik telepon.


"Kenapa perlu ditanya? Bermainlah kalian, setelah itu bawa padaku cepat!" wanita itu tersenyum sinis, ia tak sabar akan kedatangan Kayla yang telah lama ia tunggu.


Tutt.. telepon itu berhenti bersambung, tepatnya saat ada dua orang pria bertubuh besar menghampiri Kayla secara tiba-tiba.


"Kalian siapa?" Kayla mengerutkan keningnya, langkahnya perlahan mundur saat kedua pria itu mendekati dirinya.


"Oh, jadi ini yang berani melawan Nona muda?" salah satu dari pria itu angkat bicara, ia tersenyum begitu melihat wajah cantik Kayla.


Aku tidak asing dengan wajahnya.. Kayla berusaha berpikir, siapa sebenarnya dan apa tujuan 'orang' itu membawa Kayla kemari, dengan ancaman Anya.


"Kau tidak perlu takut, biarkan kami bermain denganmu, maka sahabatmu itu bisa dibebaskan!" ucap salah satu dari mereka.


Kayla tidak habis pikir, ia mulai menjauh selangkah demi selangkah. "Jangan macam-macam!" gertaknya.


"Nona muda sangat pintar mencari wanita, ia sangat galak, tapi pasti lebih bagus untuk makan siang kita," ucap pria itu dengan senyum menjijikan.


"Johny, apa kau sudah pastikan memasang kamera disana?" tanyanya.


"Tentu saja, kita harus kerja maksimal, Roni!" jawab Johny, salah satu dari kedua pria tadi.


Roni dan Johny?!


Kayla akhirnya mengingat, Roni dan Johny adalah berandalan yang sempat bersekolah di sekolahnya. Namun, mereka dikeluarkan karena telah melakukan banyak tindak pelecehan pada siswi-siswi setiap tahunnya.


Siapa yang mengirim mereka kemari? Aku ingat, di telepon itu adalah seorang wanita..


"Katakan! Siapa yang mengirim kalian kemari?! Aku tahu dia menargetkan ku, kan?!" tegas Kayla dengan raut wajah yang marah.


"Kau tidak perlu tahu, yang harus kau lakukan hanya memuaskan kami, maka temanmu itu bisa selamat!" jawab Roni dengan nada licik.


"Seingatku, kalian sudah dimasukkan ke dalam penjara, kan?" Kayla mengigit bibir bawahnya.


Seandainya kalian tidak melecehkannya.. maka--


Kayla menunduk, entah kenapa pikirannya kacau saat melihat Johny dan Roni.


"KALIAN MENJIJIKAN!" Kayla berteriak, seraya menutup telinganya. Ia berusaha lari dan kabur dari sana dan meminta pertolongan. Namun nihil, pintu gedung itu sudah tertutup dan terkunci rapat. Ini adalah rencana wanita itu, wanita yang belum Kayla tahu identitasnya.

__ADS_1


Johny dengan sigap berlari dan memeluk tubuh Kayla dari belakang. Ia mencium lembut rambut Kayla, "Rambutmu sungguh wangi, Lady.." ucapnya menggoda.


Kayla meneteskan air mata, ia ingin sekali melawan, namun tenaga nya melemah begitu melihat Johny dan Roni


"Tidak... tidakk!!!" Kayla berteriak, melepas pelukan dari Johny.


Bruk! Tubuhnya terjatuh saat Roni berusaha membantu Johny untuk memerangkap Kayla. Tubuh Kayla bergetar takut, tidak pernah terbayang baginya di hadapan dua pria menjijikan ini.


"Jangan.. jangan dekati aku!" ucap Kayla.


Kayla mundur dengan posisi tubuhnya yang terbaring di atas lantai.


"Ponsel! Ia.. ponsel!" Kayla tersenyum, ia mengambil ponselnya yang ikut terjatuh dan sedikit mengalami retakan.


"Siapapun itu.. tolong bantu aku..,"


Kayla membuka layar ponselnya, menelepon sebuah kontak yang tertera paling atas. Ia tidak peduli siapa itu.


"TOLONG AKU..!" Kayla berteriak. Namun, belum sempat menyelesaikan ucapannya, Johny yang menyadarinya segera merebut ponsel Kayla dan membantingnya ke lantai.


Johny mengeluarkan sebuah gunting dari saku celananya, ia mencengkram kedua tangan Kayla, dan menggunting baju Kayla perlahan dari bawah.


"Ouh, biarkan aku melihat tubuhmu sekarang," Roni tersenyum melihat aksi Johny, wajahnya terlihat puas dan tidak sabar.


"ARGHH!"


Ia berlari ke arah tangga, setidaknya ia bisa menyelamatkan Anya, walau dirinya mungkin tidak baik-baik saja.


"ANYA.. ANYA.. KAMU DIMANA?!" Kayla terus berteriak, memeriksa setiap sudut ruangan untuk menemukan Anya.


"Hiks.. Anya, kau harus selamat!"


"Tes...tes.. boss.. Wanita itu memberontak!"


"Biarkan dia, arahkan dia kemari!"


Johny menutup teleponnya, dengan langkah yang tertatih ia mengikuti jejak Kayla bersamaan dengan Roni.


Johny dan Roni menggiring Kayla hingga tingkat yang paling atas. Kayla menghentikan langkahnya saat ia sudah berdiri di balkon, disanalah Johny dan Roni menghentikan langkahnya.


Prok..

__ADS_1


Prok..


Prok..


"Kerja bagus, Johny.. Roni.."


Seorang wanita berjalan santai ke arah Kayla, seraya mendorong kursi roda yang disinggahi oleh seorang wanita yang mulutnya telah tertutup oleh kain pengikat, begitupun tangan dan kakinya.


"Anya..!" Kayla menatap tajam wanita di hadapannya, seorang wanita yang tengah membawa Anya yang terduduk lemas diatas kursi roda. "Loura?!"


Loura, ya.. dia adalah dalang dibalik semua ini. Ia telah merencanakan permainan yang amat sempurna untuk memberi kejutan pada Kayla.


"Gimana? seru gak?" Loura berkata dengan santai, tanpa rasa bersalah.


"Lou.. kenapa? Kenapa kamu lakuin ini?" Kayla mengerutkan kening, saat kakinya melangkah mendekati Loura dan Anya, Johny dan Roni menghalanginya.


"AKU TIDAK PERLU ALASAN UNTUK MENJAWABNYA!" Loura berteriak keras. Ia membanting vas yang ada di dekat sana.


"AKHH MENYEBALKAN!" kesalnya.


Vas itu bahkan hampir mengenai Kayla. "SIALAN... SIALAN! DASAR JAL**NG!" umpat Loura.


"Loura.. aku.. aku bahkan tidak punya masalah apapun denganmu! Apa ini semua atas suruhan dari Vanessa?!" tanya Kayla.


"PERGI KAU JAL**NG! PERGILAH SECEPATNYA!" teriak Loura tidak karuan.


Loura mengambil pisau tajam dari sakunya. Ia mengarahkan pisau itu pada Anya.


"Uhmm... aku ingin dia cepat mati.. mati... MATI SANA!" teriak Loura.


"LOURA!" Kayla berteriak dengan keras. "APA KAU GILA?! LEPASKAN ANYA!" teriaknya.


Kayla tidak peduli, ia melewati Johny dan Roni begitu saja setelah menendang bagian sensitif kedua pria itu.


"AUKHH!"


Mereka berteriak kesakitan. Sementara Kayla, ia terus mencengkram pergelangan tangan Loura yang sudah seperti orang gila.


"YA YA YA.. AKU GILA.. AKU GILA..!" Loura tertawa, seperti halnya seorang psikopat yang membunuh seseorang tanpa ada rasa bersalah.


BRAK!

__ADS_1


"Kayla..!"


cresss...


__ADS_2