
Apa Anya dipaksa oleh Vanessa untuk menyembunyikan nya? Jangan-jangan.. yang menulis di kertas itu.. Vanessa? Kayla membulatkan matanya sempurna, dan menatap nanar Vanessa.
"Lagipula, tulisan ini persis seperti tulisan Vanessa," gumam Kayla pelan. Ia mengetahui tulisan tangan Vanessa, karena ia kerap kali diperintahkan untuk mengecek jawaban para murid di kelasnya karena kepintarannya.
"Bu Suryani, pelakunya adalah Vanessa! Aku yakin Anya tidak mungkin menulis kalimat yang kasar dan menjelekkan guru!" ujar Kayla yakin.
Kayla melirik Anya, ia melihat teman sebangkunya itu yang sedang gemetar ketakutan dan menunduk.
Melihat hal itu, Kayla mendekati Anya dan menggenggam tangannya. "Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja! Jangan takut!" ucap Kayla menenangkan.
Vanessa mengepal tangannya, dan maju ke depan menghadap Bu Suryani.
"Bu, ibu percaya padaku, kan?" Vanessa menatap memelas pada Bu Suryani.
"Vanessa, apa kau tahu, perbuatanmu itu tidak baik! Kau telah menjelekkan nama kepala sekolah, ditambah.. sekarang kau menuduh orang yang tidak salah!" Bu Suryani menatap kecewa Vanessa. Padahal, selama ini Bu Suryani selalu membanggakan Vanessa karena prestasinya yang baik.
"Ibu tidak akan memberi tahukan hal ini kepada kepala sekolah, tapi ingat satu hal, lain kali jangan ulangi kesalahanmu! Dan satu lagi, cepat minta maaflah pada Anya!" tegas Bu Suryani.
Vanessa menggigit bibir bawahnya, ia juga mengepal tangannya kesal.
"Tapi Bu.." Vanessa memanyunkan bibirnya. Tapi tetap saja, hukuman harus berlaku. Apalagi, meminta maaf lebih baik daripada masalahnya diperpanjang.
"Huh" Vanessa berdecak kesal. Ia lalu menghampiri Anya. "A-anya, aku minta maaf telah memfitnah mu tadi, a-aku tahu aku salah," ucap Vanessa.
"Ka...kamu mau kan, maafin aku?" tambah Vanessa, namun dengan tatapan tajam seolah mengancam Anya.
Anya hanya mengangguk pelan menyahut permintaan maaf yang tidak tulus dari Vanessa. Suasana kelas pun menjadi tenang kembali selepas keributan yang disebabkan Vanessa.
Kringg... Tidak terasa, bel istirahat berbunyi. Semua murid pergi ke kantin untuk membeli beberapa jajanan. Sedangkan Kayla, seperti biasa ia memakan bekalnya walau hanya membawa roti dan wafer cokelat.
"Seperti ini mungkin juga kenyang," gumam Kayla sambil tersenyum melihat roti dan wafer yang telah ia letakkan di atas meja.
Sedari dulu, Kayla bukanlah perempuan yang manja dan boros. Ia selalu memakan apapun seadanya, dan mensyukuri semua hal yang diberikan untuknya.
"Anya!" panggil Vanessa tiba-tiba pada Anya yang masih termenung menatap kosong ke arah papan tulis.
Mendengar panggilan dari Vanessa, buru-buru Anya menoleh ke arah Vanessa dengan tatapan takut. "Y-ya?" tanyanya terbata-bata.
"Anya, ayo ikut aku ke kantin! Tenang saja, ini sebagai permintaan maaf ku, jadi aku akan mentraktirmu beberapa makanan yang kamu mau!" ucap Vanessa dengan senyum lembut.
Kayla menatap bingung Vanessa, bukankah dia tadi bertengkar dengan Anya? Pikir Kayla saat ini.
__ADS_1
Tapi, Kayla tidak ingin sembarang memfitnah. Siapa tahu, Vanessa memang sudah bertaubat dan ingin berbuat baik.
"Ehm.." Anya tampak ragu, tapi pada akhirnya ia menurut juga dan mengikuti Vanessa keluar kelas.
Sebelum makan, Kayla merasa mual dan sakit di perutnya, ia lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum makan bekalnya.
"Huft, perutku sakit lagi," ucap Kayla.
Kayla berjalan ke arah kamar mandi untuk mengeluarkan muntahan yang ada di mulutnya. Karena, beberapa waktu lalu Kayla menderita penyakit mag yang membuat dirinya sering sakit perut beberapa kali sehari.
Di perjalanan menuju kamar mandi, Kayla tidak sengaja melihat Vanessa dan gengnya sedang mengerumuni Anya yang sedang berada di dekat tangga.
" Anya? Kenapa dia ada disini? Bukannya, Vanessa dan Anya mau ke kantin tadi?" batin Kayla bingung.
Kayla berniat untuk menghampiri Anya dan Vanessa serta gengnya. Tapi, ia mengurungkan niatnya dan hanya mengintip lewat belakang dinding dekat tangga tersebut.
"Heh, Lo kira, gue bakal maafin Lo? Jangan harap!" Vanessa memasang wajah marah, ia mengomel pada Anya dengan tatapan dan wajah sinis seperti biasanya.
"A-aku.." Anya terdiam.
Vanessa mendekati Anya, ia lalu menarik dagu Anya dan mencubitnya. "Dasar gak tau diri, beruntung papa mau terima anak haram kayak kamu!" ucap Vanessa mengejek.
Degg...Kayla yang mendengarnya langsung tergencang mendengar pernyataan dari Vanessa pada Anya.
"Anya..," Kayla melihat prihatin pada Anya. Tapi, ia belum bisa ikut campur saat ini. Keluarga, atau apapun itu yang berkaitan dengan Anya ia bahkan tidak tahu apapun.
"A-aku bukan anak haram! Papa itu papa kandungku!" bantah Anya dengan tatapan marah, tapi dengan tubuh gemetar ketakutan.
Vanessa tersenyum sinis, "Papa kandung kata Lo? Tahu diri aja deh, anak haram jangan banyak bicara! Lo sama mama Lo itu udah kayak pembantu di rumah gue. Ingat itu!" tegas Vanessa kembali menghina.
Air mata menetes di pipi Anya, ia terduduk lemas sambil mengusap air matanya perlahan.
"A-aku tahu, tapi jangan hina mama!" tegas Anya mendongakkan kepalanya.
Vanessa berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Anya. "Heh, kalau gue jadi Lo, gue pasti udah bunuh diri punya mama kayak wanita itu! Cewek yang gak tau diri, bisanya ngerusak kebahagiaan keluarga orang lain! Dia sih, persis banget sama wanita jal**g! Hahahaa" ucap Vanessa tertawa puas.
"NGGAK! MAMA BUKAN WANITA KAYAK GITU, MAMA ITU ISTRI SAH PAPA!" teriak Anya, ia menutup telinganya dengan derai air mata.
Vanessa menggertakkan giginya, kesal dengan perilaku Anya yang baginya semakin hari semakin tidak mau tunduk dan menurutinya.
"Lou!" Vanessa menoleh ke belakang, memanggil salah satu teman gengnya yang bernama Loura.
__ADS_1
"Iya, kenapa Van?" tanya Loura.
"Gue kan tadi minta Lo beli teh panas, cepet kasih gue tehnya!" ucap Vanessa.
"Oh, oke," jawab Loura.
Loura menyerahkan teh panas yang ia taruh di atas meja dekat tangga. Vanessa yang menerimanya lantas tersenyum licik dan mendekati tubuh Anya yang masih merangkup dan menangis histeris.
Byurrr...
"Aghh..." Anya merintih, ternyata Vanessa menyiramnya dengan teh yang masih panas. Kulitnya terasa terbakar dan perih, Anya sontak berdiri dan menatap tajam Vanessa.
"Apa lagi ini, Vanessa?!" bentak Anya.
Vanessa tersenyum, "Itu baru permulaan, tunggu aja, Lo bakal dapat karmanya!" ujar Vanessa.
Vanessa lalu mengangkat kakinya, ia menendang perut Anya sampai Anya tersungkur ke lantai.
"Van.. kenapa.. kenapa kamu mau tega aku sama mama hidup gini? Kamu bahagia diatas penderitaan orang lain, Van!" Anya tidak berhenti-henti nya menangis, berharap Vanessa sadar apa yang telah ia lakukan.
"Haha!" Vanessa tertawa, selepas itu ia mengajak teman-temannya untuk pergi dari sana sebelum ada orang lain yang melihat.
Bukankah ini sudah termasuk penindasan? batin Kayla geram.
Setelah Vanessa dan gengnya pergi, buru-buru Kayla menghampiri Anya dan memeluknya.
"Anya, Anya!" panggil Kayla. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam, biar bagaimanapun kemarahan Vanessa bisa saja menyangkut dengan kejadian di kelas tadi.
"Anya.. maafin aku," ucap Kayla lirih.
Anya yang mendengar ada suara Kayla, seketika menoleh. Ia memeluk erat tubuh Kayla sambil menangis, "Kay..Kayla...hiks hiks," tangis Anya.
Kayla menatap kasihan ke arah Anya, ia lalu mengelus punggung Anya lembut. "Tenang saja, semuanya baik-baik saja, Anya!" ucap Kayla.
Kayla lalu memapah Anya agar kembali ke kelas. Tapi, tiba-tiba saja perutnya sakit. Ia merintih kesakitan, tapi ia tetap tersenyum karena ada hati seseorang lebih berharga daripada sakit tubuhnya saat ini.
"Anya, ayo kita ke kelas dulu!" ajak Kayla.
Kayla dan Anya berjalan ke kelas. Mereka lalu duduk di bangku mereka masing-masing.
"Anya, kamu bawa minum, kan? Minum dulu gih!" ucap Kayla sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Anya hanya menatap kosong, seolah tidak mendengar ucapan Kayla.
"Anya.. Anya..!" Kayla memanggil-manggil nama teman sebangkunya itu