Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 11. Kenapa hatiku terasa sakit?


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, Kayla segera menaiki bus untuk pulang ke rumah, tak lupa ia berpamitan terlebih dahulu pada Nek Ruqa.


Jederrr! Petir bergemuruh, diiringi suara derasnya hujan.


"Nak, diluar hujan deras loh itu.. mau pinjam payung nenek?" tawar Nek Ruqa khawatir.


"Gak usah Nek, nanti aku ketinggalan busnya, hehe.. makasih banyak atas tawarannya!" Kayla membungkuk dan tersenyum hangat pada Nek Ruqa.


"Ayo ayo, cepat masuk.. diluar hujan deras!" supir bus melambai-lambaikan tangannya pada para penumpang diluar. Kayla segera berlari menaiki bus itu dan duduk di bangku paling belakang, bangku bus yang baginya paling sejuk dan nyaman, karena tidak terlalu dilihat banyak orang.


Tes...tes... tes.. hujan mengalir di jendela bus, Kayla menyandarkan dirinya di bangku, ia menjentikkan jemarinya di jendela, dan tersenyum.


Entah kenapa, perasaanku menjadi lebih tenang...


Kayla mengambil earphone yang ada ditasnya, ia mengambil handphonenya dan memasang lagu seraya memejamkan matanya.


Aku tidak tahu mengapa, tapi rasanya lelah...


Kayla tersenyum tipis, ia membuka matanya perlahan dan melihat derasnya hujan dari jendela.


*****


Krekk..


"Ma.." Kayla membuka pintu rumahnya, ia lantas memanggil sang mama.


"Kenapa sepi, ya? apa mama pergi lagi?" gumam Kayla bertanya.


Kayla menghela nafas panjang, karena lelah ia memutuskan untuk berbaring sejenak di kamarnya.

__ADS_1


Setelah mengganti pakaian, Kayla membuka ponselnya, rasanya sudah lama ia tidak bertemu dengan Naura, kakak keduanya yang kini sudah kuliah di universitas negeri.


Tutt...tutt... 'Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif'. Berkali-kali Kayla menelepon, tapi tak kunjung mendapat jawaban dari Naura.


Kayla menaruh ponselnya di meja yang terletak di sebelah tempat tidurnya. Ia menutup tubuhnya dengan selimut, dan mulai tertidur di tengah hujan yang masih mengalir deras diluar.


****


"Ukh.." Kayla memegang kepalanya yang terasa pusing, ia bangun dan mencoba untuk berdiri untuk mengambil air putih.


Kayla membuka kamarnya. Saat ia ingin turun ke lantai bawah, dilihatnya seorang pria yang dikenalnya..


"Om Andi?!" Kayla terkejut, kenapa Om Andi bisa datang sore-sore seperti ini? Sejujurnya, Kayla tidak ada rasa benci sedikitpun di hatinya untuk Om Andi. Tapi, melihat sang mama bercanda tawa pada pria selain ayahnya, sering membuat dirinya merasa kecewa.


Kayla berbalik badan untuk kembali ke kamar, namun tangkapan mata Om Andi melihatnya, dan segera memanggil Kayla untuk turun.


"Kayla? Sini nak!" ucap Om Andi dari bawah.


"Ha-halo Om.." sapa Kayla kikuk.


"Kayla kenapa berdiri aja? Ayo duduk," ucap Om Andi, seraya menepuk-nepuk sofa yang berada di sebelahnya.


"Ha.. iya om, maaf aku kayaknya ada kerja kelompok, jadi gak bisa nemenin om lama-lama," ucap Kayla beralasan.


"Kerja kelompok? Online atau ketemu langsung? Kalau lewat chat, siapa tahu om bisa bantu.." ucap Andi.


Kayla kembali tersenyum, "Terima kasih atas tawarannya, om.. tapi Kayla mau ketemuan sama teman, jadi gak di rumah." Kayla kembali beralasan, namun wajahnya yang sedikit panik membuat Om Andi curiga. Itu sebabnya, Andi kembali bertanya pada gadis di hadapannya itu.


"Beneran? Mau om antar gak?" tanya Andi.

__ADS_1


Kayla menggeleng pelan, "Gak usah kok om, Kayla mau jalan sendiri aja. Lagipula rumahnya dekat..hehe," jawab Kayla.


"Udahlah Di, dia mungkin mau berangkat sendiri. Kita ngobrol aja disini," Della menatap Andi, dan menghela nafas.


"Ya udah deh," Andi terkekeh pelan. "Kamu emang mau berduaan sama aku atau gimana?" candanya.


Andi dan Della sama-sama tertawa, Kayla hanya bisa tersenyum kecil, namun rasanya sakit sekali, jika ia harus menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Ma, Om, aku berangkat ya.." ucap Kayla membungkuk.


"Hati-hati!" ucap Om Andi sebelum Kayla benar-benar menghilang dari penglihatannya.


Kayla berlari ke arah kamar.


"Huft... huft... " Kayla mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak, ia memegang ujung meja dan membenturkan kepalanya ke meja. "Haah...haaah... " Nafasnya masih saja terasa sesak, hingga akhirnya.. air mata menetes di wajahnya.


Kenapa aku nangis? Kenapa hatiku terasa sakit? Toh, mama sama Om Andi kan cuman teman? Dan.. Om Andi juga orang yang baik kok..


Kayla mencoba menenangkan dirinya, dan menghentikan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Kayla segera berganti baju. Karena alasannya tadi, Om Andi dan mamanya pasti akan curiga kalau ia tidak cepat-cepat keluar.


Kayla mengambil sebuah buku diary, rasanya sudah lama sekali ia tidak menulis apapun disana.


Tak! Kayla menaruh sisir yang baru saja dipakainya, ia menguncir rambutnya.


Tanpa sadar, Kayla melihat sebuah foto yang masih ia pajang di meja riasnya, selama bertahun-tahun lamanya, ia tidak pernah memindahkan foto itu.


Kayla tersenyum, ia kembali meneteskan air matanya, begitu melihat senyuman seorang pria yang begitu berarti untuknya.

__ADS_1


Papa..


__ADS_2