Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 2. Penyakit


__ADS_3

Dimana aku? batin Kayla bingung. Perlahan, ia membuka matanya yang tengah terpejam saat ini.


Kayla menoleh ke arah samping kanan dan kirinya, "Ukh.." Kayla memegang kepalanya yang terasa pusing dan berat. Ia mencoba untuk duduk, tapi rasa sakit di kepalanya membuat ia bahkan tidak bisa bergerak banyak.


"Anak murid ibu mengalami penyakit tifus dan darah tinggi, kemungkinan besarnya karena ia terlalu banyak pikiran atau terlalu tertekan Bu!" samar-samar Kayla mendengar penjelasan seorang pria di balik gorden yang menutupi ranjang yang sedang ia tiduri saat ini. Kayla berusaha keras untuk berdiri, ia mengintip dari dalam gorden ada apa diluar.


Melihat suasananya, Kayla akhirnya mengetahui bahwa ia sedang berada di dalam UKS saat ini. Tapi, penyebab ia disini juga tidak jelas mengapa, sebab tadi dirinya tidak sadarkan diri dan lupa akan kejadian yang menimpanya.


"Dimana orang tuanya? Apakah ibu sudah menghubunginya?" tanya dokter pada wali kelas Kayla, Bu Suryani.


"Saya sudah menghubungi mamanya, tapi sepertinya dia sedang sibuk jadi tidak menjawab telepon dari saya," jelas Bu Suryani


"Oh begitu ya," Dokter itu memijit pelipisnya sendiri, "Sebaiknya ia bolos dulu untuk sementara sampai kondisinya membaik" lanjutnya.


Bu Suryani mengangguk paham, ia tampak ingin mendatangani sebuah surat dari dokter dan juga keterangan libur karena sakit.


Kayla yang melihatnya segera menghampiri Bu Suryani, ia memanggil wali kelasnya itu. "Bu!" panggil Kayla pelan.


Bu Suryani menoleh ke arah Kayla, ia segera menaruh pulpen dan kertas surat di tangannya dan segera menghampiri Kayla.


"Lho, kenapa bangun? Kamu lagi sakit, tiduran aja ya Kayla" ujar Bu Suryani khawatir.


"Aku gak papa kok Bu, cuman telat makan aja" jawab Kayla.


"Mana ada! dokter bilang kamu banyak pikiran ya?" tanya Bu Suryani.


Kayla hanya tertawa kecil, "Hehe, nggak kok Bu, aku memang sudah terbiasa kayak gini, istirahat lima belas menit juga sembuh," ujar Kayla menjelaskan.


"Benar nih? Tapi Kayla, kamu itu lagi sakit! Jangan paksakan diri buat belajar!" nasehat Bu Suryani dengan wajah cemasnya.


"Gapapa kok Bu, aku baik-baik aja" jawab Kayla, ia kembali tersenyum.


"Ya udah deh, tapi inget ya, kamu harus banyak jaga kesehatan!" ucap Bu Suryani menasehati.


"Baik Bu" Kayla mengangguk paham.


"Oh ya Bu, boleh aku minta tolong satu hal tidak Bu?" tanya Kayla sopan.


"Boleh nak, mau minta tolong apa?" tanya Bu Suryani menjawab Kayla.


"Ehm.. Masalah ini, jangan sampai keluarga Kayla tau ya Bu, apalagi mama Kayla. Mama punya riwayat jantung, jadi gak boleh di kasih tahu hal kayak gini." ujar Kayla.


Bu Suryani lantas kaget mendengar permintaan Kayla. Ia lalu mengusap lembut kepala Kayla, "Tapi nak, masalah seperti ini sudah seharusnya mama kamu tau" ujar Bu Suryani.


Tahu ya? Aku bahkan sudah sering mengatakan gejala yang aku alami sekarang, tapi apakah mama pernah mempercayainya? batin Kayla tersenyum pahit.

__ADS_1


"Gak usah Bu, penyakit mama lebih penting daripada penyakit aku! Mama punya riwayat jantung, Bu! Dan itu lebih berbahaya," ujar Kayla sambil menggelengkan kepalanya.


Bu Suryani menatap khawatir muridnya itu, ia lalu menghela nafas panjang. "Haaah, baiklah..." jawab Bu Suryani.


Bu Suryani kembali menghadap dokter dan berbincang sedikit tentang penyakit Kayla. Setelah itu, Bu Suryani mendapatkan beberapa obat yang akan diberikan pada Kayla.


"Ini ya dek, obatnya! Jangan lupa diminum!" ujar Roni, nama dokter itu.


Kayla mengangguk dan kembali ke kelas bersama Bu Suryani. Karena mengetahui Kayla sedang kurang sehat, Bu Suryani meminta Kayla agar menyimak pelajaran saja. Untuk soal-soal yang diberikan, bisa ia jadikan sebagai PR.


🍂🍂🍂🍂


Bel sekolah berbunyi, menunjukkan tanda pelajaran sudah usai. Para murid berbondong-bondong keluar dari kelasnya masing-masing untuk pulang, begitupun Kayla.


Kayla berjalan dengan sedikit sempoyongan sehingga menabrak seseorang di depannya. Ia segera membungkukkan badannya dan meminta maaf, "Maaf, aku tidak sengaja!" ujar Kayla sopan.


Kayla mendongakkan kepalanya, samar-samar ia melihat seorang pria dengan seragam sama sepertinya. Sepertinya ia adalah siswa yang Kayla tabrak dengan tidak sengaja tadi. Siswa itu hanya berdehem menyahut permohonan maaf Kayla, ia berlalu dengan langkah cepat meninggalkan Kayla disana.


"Rangga? Apa dia Rangga?" tanya Kayla bergumam.


"Sudahlah, aku tidak peduli! Kepalaku pusing sekali!" ujar Kayla sambil memijit dahinya.


"Kayla!" panggil seorang siswi dari belakang tubuh Kayla, ia menghampiri Kayla karena merasa cemas padanya.


"Kayla, kamu gak papa?" tanyanya.


Siswa itu mengangguk, dia adalah Anya.


"Kayla, kamu gak papa kan? Kok jalannya sempoyongan?" tanya Anya.


Anya adalah tipikal murid pendiam di kelas. Tapi pada Kayla, ia menjadi pribadi yang ramah dan penyayang, serta mudah mengobrol dengan Kayla.


"Ng-nggak, aku gak apa kok Anya!" jawab Kayla sambil tersenyum.


Dirasa cukup khawatir, Anya akhirnya memapah Kayla menuju keluar gerbang. Tadinya, ia bahkan berniat untuk memapah Kayla sampai halte bus, tapi tentu saja Kayla menolak. Kayla tidak ingin merepotkan temannya itu.


Dengan langkah lemah, Kayla berjalan gontai menuju ke halte bus. Ia lalu duduk di kursi panjang dan menyandarkan kepalanya di pohon dekat sana.


"Huhhh..." Kayla menghela nafas berat.


"Nak..nak.." suara serak dari seorang wanita itu membuat Kayla membuka matanya yang tadinya terpejam.


"Eh, nenek?" tanya Kayla.


Wanita itu tersenyum, ia adalah nenek tua yang Kayla temukan kemarin saat dirinya kehujanan.

__ADS_1


"Nak, kok disini aja? Emang busnya belum datang lagi ya?" tanya nenek itu.


"Belum nek," jawab Kayla cepat.


"Ya udah, yuk masuk, duduk di teras nenek aja! Disini ga ada orang, sepi!" ujar si nenek.


"Hehe, ga usah nek, makasih banyak! Aku gak mau ngerepotin" ujar Kayla menggeleng.


"Ngerepotin? Enggak kok, justru nenek senang karena ada yang mau ke rumah nenek! Tenang aja, nenek gak bakal melakukan macam-macam kok!" ucap nenek itu.


Kayla akhirnya pasrah dan menuruti ucapan nenek itu, ia mengangguk dan pergi duduk di kursi depan rumah nenek itu.


"Ayo, diminum dulu tehnya!" ucap nenek itu sambil menyerahkan nampan berisi dua cangkir teh manis hangat yang sudah ia buat untuk Kayla dan dirinya sendiri.


"Eh, ga usah repot-repot nek!" ucap Kayla.


"Ambil atuh nak, nenek emang sengaja buat teh ini untuk kamu!" sahut si nenek.


"Buat aku?" Kayla bertanya bingung.


"Iya, nenek liat tadi kamu lagi jalan kesini, jadi sekalian aja nenek buat teh hangat mumpung bus nya belum datang, biar kamu mampir dulu kesini!" ujar nenek itu jujur.


Kayla tersenyum haru mendengar penjelasan nenek itu, "Makasih banyak ya nek!" ucapnya. Kayla dan nenek itu lalu segera meminum teh manis itu bersamaan.


"Oh ya nak, ngomong-ngomong namanya siapa?" tanya si nenek.


"Kayla nek" jawab Kayla.


"Nama yang bagus, sepertinya wajah dan perilakumu nak!" ujar si nenek tersenyum.


"Kalau nenek siapa?" tanya Kayla.


"Nama nenek Ruqaiyah, panggil aja Nek Ruqa ya nak Kayla!" ujar Nenek Ruqa pada Kayla.


"Baik Nek Ruqa" jawab Kayla tersenyum manis.


Tiiin... Tak lama kemudian, bus nomor 433, bus yang seperti biasanya Kayla naikkan sampai juga. Kayla berpamitan pada Nek Ruqa dan segera menaiki bus itu.


Sesampainya di rumah


Kayla menaruh sepatu sekolahnya di rak sepatu. Ia lalu mengucap salam dan masuk ke dalam rumahnya.


Kayla melihat sekitarnya, begitu gelap karena lampu tidak dinyalakan. Kayla segera menyalakan lampu dan menutup pintu rumahnya.


"Kok lampunya gak di nyalain sama mama?" tanya Kayla bingung.

__ADS_1


"Mama... mama!" panggil Kayla.


__ADS_2