Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 14. Mood buruk


__ADS_3

Jam istirahat akhirnya tiba, seperti biasa Vanessa dan gengnya berjalan angkuh di hadapan para murid. Meskipun mereka dikenal dengan siswi yang cantik, tapi itu tidak bisa menutup sifat mereka yang amat sangat menjengkelkan.


"Kay, kamu gak makan?" tanya Anya seraya membuka kotak bekalnya.


"Aku belum lapar, Nya" jawab Kayla menggeleng.


"Ehm.. Aku makan duluan ya?" ucap Anya, dan disahut anggukan kepala oleh Kayla.


Kayla sedang tidak mood makan saat ini, bahkan berbicara sekali pun. Ia hanya membuka buku pelajarannya dan memanfaatkan waktu untuk belajar, karena sebentar lagi juga sudah waktunya ujian kenaikan kelas.


Waktu berlalu cepat banget ya..


Kayla tersenyum tipis, entah kenapa ia merasa hidupnya selama ini sia-sia.


***


"Kay, kamu yang bawa proyeknya aja yah, besok kan libur, kita bisa diskusi mau kerja kelompok di rumah siapa," ucap Rani, teman sekelompok Kayla.


Kayla mengangguk. Ia mengambil sebuah alat organ peredaran darah yang telah dibuat beberapa jam lalu. Namun, belum jadi sepenuhnya.


"Oke anak-anak, silakan nanti diputuskan untuk melanjutkan proyeknya ya. Senin depan sudah harus dikumpulkan!" Bu Fitri, selaku guru biologi kelas 11 MIPA 2 menjelaskan secara rinci apa saja yang harus disiapkan. Setelah itu, mereka boleh pulang dan memikirkannya di rumah nanti.


Tepat jam dua siang, pelajaran selesai. Kayla segera memakai tasnya dan berjalan keluar kelas. Anya memandang Kayla dengan penuh pertanyaan, mengapa Kayla yang biasanya murah senyum menjadi lesu dan diam hari ini?


"Kayla baik-baik saja, kan?" gumam Anya pelan.


BRUK!


Karena tidak memperhatikan jalan dengan benar, Kayla hampir saja tertabrak motor yang melaju padanya. Karena itu, ia membanting tubuhnya ke samping, menghindari dirinya yang ingin tertabrak.


"Auh.." Kayla memegang kepalanya yang sakit. Ia lalu memandang proyeknya yang jatuh tanpa sengaja.


"Ya ampun.. masalah baru apalagi ini?!" Kayla mengerutkan kening, ia bahkan tidak sadar bahwa kakinya terluka karena terjatuh tadi.


"Kayla.. Lo..." Alsen turun dari motornya. Ia menatap bersalah pada Kayla. Sebenarnya, dari tadi ia sudah memperingati gadis itu untuk menghindar, karena motornya yang melaju cepat. Namun, Kayla tidak mendengarnya dan berjalan pelan tadi.


"Kay, Lo gapapa?!" cemas Alsen dengan wajah paniknya.


"Hmm," hanya deheman yang disahut Kayla. Justru, hal itu membuat Alsen semakin khawatir.


"Kay, sumpah.. gue tadi udah ngingetin Lo.. tapi--" Alsen terdiam, setelah melihat luka di kaki Kayla.

__ADS_1


"Akhh proyekku!!!" Kayla meringis, melihat proyeknya yang sudah kotor dan sedikit rusak.


Alsen menoleh ke samping, ia lantas melihat proyek Kayla yang telah kotor karena jatuh.


"Kay, maaf" ucap Alsen.


Kayla menatap Alsen dengan tatapan tajam. Tapi tetap saja.. nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur, dan Kayla juga tidak bisa menyalahkan Alsen sepenuhnya.


"Ya sudah, kau ingin pulang, kan?" Kayla berusaha berdiri dengan bantuan Alsen. Ia menepuk-nepuk roknya yang kotor, dan segera mengambil proyeknya.


"Maaf tadi aku gak dengar, jadinya gak menghindar" ucap Kayla.


Kayla ingin cepat-cepat pergi dari sana, karena sudah mulai berkerumun fans Alsen yang menatapnya dengan penuh kebencian dan terbakar api cemburu.


"Kay, Lo bawa ponsel, kan?" tanya Alsen tiba-tiba.


"Iya, kenapa?"


"Minjem bentar! Gue lupa bawa ponsel," ucap Alsen.


Kayla mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Alsen tanpa rasa curiga.


Tap...tap... tap..


"Kay, Lo gak mau dianter?" tanya Alsen.


"Gak usah, makasih!" ucap Kayla menggeleng.


Sepulang sekolah pun, Kayla segera membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia memejamkan matanya, padahal ia belum berganti pakaian. Ia menaruh proyeknya diatas meja belajar.


"Disini sepi banget..," ucap Kayla bergumam. Sang mama yang harus bekerja demi kebutuhan hidup keluarga, membuat Kayla tinggal sendirian di rumah yang luas ini. Ia terbiasa ditinggal sedari kecil, semenjak sang ayah pergi meninggalkannya.


Pa.. kenapa papa pergi begitu cepat? aku gak bisa hidup sendirian, pa..


Berulang kali Kayla berpikir, mengapa Tuhan tidak adil padanya? Mengapa Ia memberikan cobaan yang begitu berat pada hidupnya yang tidak mampu menahan semuanya sendiri?


Kayla tersenyum tipis, mencoba memahami bahwa ini kenyataan. Terkadang, ia bahkan berpikir bahwa ini hanya mimpi panjang. Bisakah ia bangun segera dan merubah segalanya?


Hari dimana ia menunjukkan Isak tangisnya, melihat kepergian sang ayah yang telah tenang di alam sana. Mengapa ia meninggalkanku begitu cepat? Padahal, belum sempat kukatakan cinta padanya, papa..


Sosok yang menerima hadirnya ia di dunia ini, dan merawatnya sepenuh hati hingga bisa menempuh hidup sejauh ini. Tanpa sang ayah, mungkin hidupnya sudah hancur..

__ADS_1


Tuttt....tutt..


Sebuah pesan masuk


Kayla membuka ponselnya, melihat pesan yang terkirim padanya.


"Ini no Alsen, anak MIPA 1"


"Eh, jangan-jangan tadi dia.." Kayla mengerutkan keningnya. "Huft, jadi tadi dia memasukkan nomornya di ponselku?"


"Ok" [ Balas Kayla ]


"Kay, gue minta maaf hampir nabrak Lo tadi. Kebetulan, tadi gue juga liat proyek Lo jatuh, kan? Kalau Lo butuh bantuan hubungi nomor ini aja, hitung-hitung sebagai permintaan maaf gue."


"Iya iya" Kayla membalasnya.


Tak lama setelahnya, muncul sambungan telepon entah darimana. Bahkan, Kayla tidak mengenal nomor siapa itu.


"Halo?" Kayla mengangkat telepon yang menggetarkan ponselnya.


"Ini nomor Kayla?" suara yang tidak asing membuat Kayla segera bangkit dan mendudukkan tubuhnya.


"Ini siapa?!" tanya Kayla.


"Siapa? heh, Lo mau tau gue siapa?" suara sinis terucap dari mulut wanita di telepon.


"Lo tau kan dimana gedung terbengkalai di dekat sekolah? Kalau Lo mau nyelamatin teman kesayangan Lo, si Anya.. Cepat datang kesini sebelum gue lakuin sesuatu sama dia!" titah wanita itu dengan nada ketus dan dingin.


"Kay.. jangan kesini!! hmpp.." Kayla membuka bola matanya lebar, ia dengan jelas mendengar suara Anya yang berteriak padanya.


"Anya.. aku kesana! Kamu tunggu aku, ya!!" Kayla berteriak di telepon. Dengan pakaian yang masih mengenakan seragam lengkap, Kayla berlari pergi ke tempat halte bus, ia hanya membawa tas berisikan handphone miliknya.


"Gawat, Anya baik-baik aja kan?"


Kayla terlalu ceroboh, bahkan ia tidak sempat meminta bantuan siapapun.


****


20 menit lamanya, Kayla tiba di sekolah. Ia segera berlari pergi ke gedung terbengkalai yang berada di dekat sekolah. Gedung dengan rumor horor mengenai 'Seorang siswa yang bunuh diri' kala itu.


"Gelap banget..," tubuh Kayla merinding melihat gedung itu. Gedung yang benar-benar kosong karena tidak ditinggali lagi, dan tidak terawat selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Krekk..


"Ha.. sudah datang rupanya!"


__ADS_2