
Pagi-pagi sekali Kayla sudah sampai di sekolahnya, ia tersenyum menyapa satpam yang menjaga gerbang sekolah.
"Pagi, pak.." sapa Kayla ramah.
"Pagi juga, nak!" jawab satpam itu tersenyum.
Kayla melangkahkan kakinya menuju ke dalam sekolah, ia ingin segera pergi ke kelasnya.
"Kay!"
Seseorang menepuk bahu Kayla, Kayla lantas tersentak dan menoleh. "Ya?" sahutnya dengan wajah bingung.
"Alsen?" Kayla menghela nafas panjang, ia sudah berpikir aneh sebelum melihat wajah Alsen tadi.
"Lo datang pagi banget," ucap Alsen berbicara tiba-tiba, seakan-akan ia sangat akrab dengan Kayla.
"O-oh ya? Bukankah kau sendiri juga datang pagi?" tanya Kayla balik. Ia masih sedikit canggung dengan Alsen, karena mereka juga jarang berkomunikasi.
Melihat ekspresi wajah Kayla yang kebingungan, membuat Alsen sadar akan kelakuannya.
Lah, kok gue jadi sok akrab sama ini cewek..
Alsen menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Gue ke kelas duluan," ucapnya. Kayla kembali bingung, tapi ia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kelas.
Sebelum masuk ke kelas, Kayla sempat melihat Rangga yang berdiri tegap di depan kelasnya, dengan kedua tangan menyilang dan terus memperhatikan dirinya.
Sejak kapan Rangga ada disini? Apa dia mau ketemuan sama Sella?
Kayla menatap Rangga penuh penasaran, namun ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Mikirin apa sih, Kay! Udah pasti mau ketemu Sella..
Kayla bergegas masuk ke dalam kelasnya, ia menaruh tas dan duduk di bangkunya. Disana juga sudah ada Anya yang duduk seraya memakan biskuit yang ada di meja.
__ADS_1
"Hai!" sapa ramah Kayla.
"Oh, hai juga Kay!" sapa Anya balik.
Anya mengambil tisu dari kantong tasnya, ia mengelap bibirnya yang terkena cokelat biskuit.
"Kay, mau gak?" tawar Anya sembari menyodorkan biskuit olesan cokelatnya yang masih tersisa tiga.
"Enggak usah Nya, makasih ya" tolak Kayla lembut.
"Beneran? Udah sarapan belum?" tanya Anya.
"Udah kok, kamu sendiri?" tanya Kayla balik.
"Aku juga udah," jawab Anya tersenyum.
"Kay, kamu tau gosip yang sedang beredar di kalangan murid-murid, gak?" tanya Anya, ia tampak murung melihat netra mata Kayla.
Kayla mengambil buku pelajarannya, dan meletakkan nya diatas meja.
"Katanya sih, tentang skandal kamu sama Alsen!" ucap Anya, membuat Kayla tersentak kaget.
"Hah?" Kayla memicingkan kedua matanya. "Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Kemarin, ada yang lihat kamu sama Alsen lagi berduaan di taman Chun, taman yang lumayan terkenal itu.." jelas Anya.
Taman Chun? Itu kan tempat yang kemarin aku datangi.. Apa orang itu salah paham, ya?
"Ta-tapi.." Anya menatap tajam Kayla, ia menggenggam erat tangan wanita di hadapannya itu.
"Aku percaya kok kamu gak mungkin kayak gitu! Kamu itu anak baik-baik, jadi itu adalah gosip dan ocehan yang tidak berguna! Sebaiknya jangan pikirkan hal itu!" tegas Anya. Ia berusaha membuang jauh rumor yang tersebar luas di sekolah ini.
Kayla tersenyum kikuk, ia tahu maksud Anya adalah baik. Tapi rumor itu benar, namun tidak sepenuhnya. Karena itu hanyalah kebetulan yang tidak disengaja, dan saat itu Kayla juga menolak tawaran Alsen yang menawarkan dirinya untuk mengantar Kayla pulang.
__ADS_1
"Rumor itu benar kok!" ucap Kayla, Anya mengerutkan keningnya, "Ha? maksudnya?" tanyanya bingung.
"Iya, rumor itu benar, bahwa hari itu aku memang bertemu dengan Alsen. Tapi tidak sepenuhnya benar, karena kami bertemu secara kebetulan dan tidak sengaja!" jelas Kayla.
Anya menghela nafas lega, hampir saja ia berpikir buruk. Karena, bagaimana pun semua murid tahu bahwa Loura, sahabat sekaligus teman circle Vanessa menyukai Alsen. Anya khawatir Loura yang jahat itu menindas Kayla hanya karena tidak suka Kayla berpacaran atau mempunyai hubungan dengan Alsen.
"Jadi itu hanya kebetulan! Mana mungkin aku berpacaran dengan pria yang baru kukenal sehari? Tidak masuk akal!" ucap Kayla berdecak kesal.
"Siapa yang menyebarkan rumor itu?" tanya Kayla.
"Dengar-dengar dia adalah adik kelas di kelas B, kalau tidak salah... namanya Louri," jelas Anya.
Anya terdiam, Loura.. Louri... jangan-jangan..
Anya membulatkan matanya, "Iya! Pasti Louri adalah saudara Loura!" ucap Anya tersadar.
Kayla menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Jadi kisahnya, seorang adik yang memberi tahu informasi aneh kepada kakaknya?"
"Haaah..." Kayla menghela nafas panjang. "Pantas saja, kukira siapa adik kelas yang berani membuat skandal kakak kelas. Ternyata masih ada hubungannya dengan anggota geng 'pembully' itu!". Kayla mengigit bibir bawahnya kesal, kalau bukan tidak ingin membuat masalah, ia pasti akan menghajar habis-habisan sekelompok geng pembully yang sudah membuat banyak korban.
Namun, Kayla mengurungkan niatnya karena ayah Vanessa yang merupakan teman Loura juga adalah teman dekat pemilik sekolah. Ia tidak percaya bahwa dirinya bisa mengajukan kejahatan Vanessa dan gengnya. Apalagi, ia tidak mau Della, sang mama sampai terlibat dan dipanggil oleh kepala sekolah.
"Biarkan saja mereka, kita tidak perlu mengurusi orang yang tidak penting!" tegas Kayla dengan kedua bola mata yang menatap ke depan.
"Siapa yang Lo maksud?" Tiba-tiba, Vanessa datang, ia sepertinya mendengar ucapan Kayla barusan.
"Bukan siapa-siapa," jawab Kayla cepat.
"Lo ngomongin gue, iya?!" Vanessa mengerutkan keningnya dengan wajah marah.
"Siapa yang bilang kayak gitu? Emang di dunia ini hanya ada kamu? Atau emang ngerasa?" Kayla memalingkan wajahnya, ia sangat muak kalau harus bertatapan dengan Vanessa.
Vanessa mengepal tangannya, ia lantas bergegas duduk ke kursi yang terletak di paling ujung. Ia memilih kursi itu karena dirinya yang sering kali ketiduran di tengah pelajaran, dengan begitu guru tidak akan melihatnya tidur lelap di belakang.
__ADS_1