
Anya yang tersadar akan panggilan dari Kayla segera menyadarkan dirinya yang sedari tadi termenung dan menatap kosong ke arah depan.
"Ah, maaf aku tadi melamun," ucap Anya.
"Anya, kamu gak apa?" tanya Kayla khawatir.
"Kamu... liat pembicaraan aku sama Vanessa tadi ya?" Anya tersenyum pahit dan menundukkan kepalanya.
"Maaf, sebenarnya aku gak berniat untuk--" Anya menutup mulut Kayla sebelum Kayla menyelesaikan ucapannya.
"Nggak Kay, aku gak marah kok! Tapi, untuk masalah ini tolong kamu rahasiakan ya!" ucap Anya tersenyum.
Ada rasa lega di hati Kayla, walau ia masih merasa bersalah pada teman sebangkunya itu.
"Anya, kalau ada masalah apa-apa, kamu boleh cerita ke aku, aku siap dengar kok!" Kayla tersenyum dan menatap sendu Anya.
Anya yang mendengarnya tentu merasa tergencang, selama ini tidak ada yang menganggapnya seperti itu. Ia hanya bahan bullyian, bahkan keluarganya pun tidak menganggapnya.
"Makasih Kay, kamu emang orang yang baik!" Anya tersenyum tipis.
Kayla ikut tersenyum, ia menggenggam tangan Anya. "Aku gak mau ikut campur urusan pribadi kamu, tapi aku juga gak mau kalau kamu sedih terus kayak gini, apalagi Vanessa udah sering bully dan fitnah kamu kan?" ucap Kayla menjelaskan.
Anya tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Kayla.
"Kay, boleh aku numpang di bahu kamu sebentar gak?" tanya Anya.
"Boleh," jawab Kayla sambil tersenyum.
Anya meneteskan air matanya, "Kay, makasih udah dukung aku!" ucap Anya.
Kayla mengelus lembut kepala Anya, "Iya Nya!" jawab Kayla.
Beberapa menit kemudian, pelajaran kedua pun dimulai. Selama tiga jam lebih pelajaran berlangsung.
"Ukh, perut aku sakit.." gumam Kayla.
"Bu!" Kayla memanggil guru IPA yang sedang mengajar di kelasnya itu.
"Kenapa Kayla?" tanya Bu Wendy.
"Maaf Bu, aku izin ke toilet sebentar!" izin Kayla pada Bu Wendy.
"Oh, silakan" jawab Bu Wendy para Kayla.
Kayla segera berjalan cepat ke arah toilet. Ia lalu memuntahkan semua isi makanan yang tersisa di perutnya.
"Haah.." Kayla menghela nafasnya panjang, ia menyiram muntahannya di toilet dan segera berkumur-kumur.
Selepas itu, Kayla kembali mengikuti pelajaran IPA yang tengah berlangsung saat ini.
KRINGGG...
__ADS_1
Bel pulang akhirnya berbunyi, para murid segera berpamitan pada guru lalu keluar kelas untuk pulang.
"Kayla, Anya, kalian bantu ibu bawa buku-buku di meja ke meja ibu di kantor ya!" ucap Bu Wendy.
"Baik Bu," jawab Kayla dan Anya bersamaan.
Kayla lebih dulu mengambil buku di atas meja, ia membagi dua jatah bawaannya dengan Anya.
Kayla dan Anya berjalan berdampingan pergi ke kantor, di jalan, Anya sempat berbincang sedikit dengan Kayla.
"Kay, ada waktu gak? Aku mau ngobrol sebentar nanti." ucap Anya bertanya.
"Ehm.." Kayla terdiam, ia mencoba berpikir.
"Kayaknya hari ini aku gak ada jadwal les deh, sempet kali ya kalau ngobrol sebentar sama Anya?" batin Kayla berpikir.
"Ya sudah, nanti setelah taruh buku-buku ini, kita pergi ke cafe sebelah sekolah," ucap Kayla.
Anya hanya mengangguk, mereka lalu meneruskan berjalan ke kantor.
*****
Di Kantor..
"Terima kasih ya Kayla, Anya!" ucap Bu Wendy sambil mengulas senyum di wajahnya.
Sesuai janji, Kayla pergi ke cafe yang terletak di sebelah sekolah dengan Anya.
"Kamu suka kesini ya?" tanya Kayla.
Anya mengangguk cepat, "Kalau aku lagi badmood, aku pasti kesini" jawab Anya.
Anya tidak seriang ini biasanya, ia adalah anak intovert yang jarang bergaul.
"Mau pesan apa, mba?" tanya pelayan wanita sambil memegang kertas pesanan.
"Aku seperti biasa aja!" ucap Anya.
"Pancake keju dan es teh manis?" tanya pelayan itu meyakinkan.
"Iya, oh ya.. pesan dua ya, pancake sama es tehnya!" ucap Anya.
Pelayan itu segera pergi meninggalkan Anya dan Kayla.
"Kay, ehm.. " Anya masih tampak malu untuk berbincang dengan orang lain. Ia menoleh ke arah jendela yang terletak di sampingnya.
"Kay, ada yang mau aku ceritakan, tapi.." Anya kembali terdiam, ia masih ragu untuk mengatakan hal yang ingin ia sampaikan itu pada Kayla.
"Tenang aja, aku gak suka bongkar rahasia orang kok!" Kayla tersenyum ramah pada Anya.
"Jadi, apa yang mau kamu ceritakan, hm?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Sebenarnya, hubungan aku gak biasa aja sama Vanessa"
"Maksudmu?" tanya Kayla bingung.
"Vanessa... dia... dia adalah saudari tiriku," ucap Anya pelan.
Flashback
Prok...prok...prok... tepukan tangan yang meriah terdengar di sebuah kediaman mewah yang telah dihiasi berbagai barang unik dan imut. Seperti balon, tempelan boneka, dan beberapa barang lainnya.
Di dalam ruangan, terdapat banyak orang yang tersenyum bahagia karena ulang tahun seorang perempuan bernama "Anya".
Anya adalah seorang perempuan satu-satunya di keluarganya, maupun keluarga besarnya. Setelah sekian lama kehadiran seorang putri tidak ada, Anya meneruskannya begitu ia terlahir ke dunia ini.
"Cucu kakek yang manis, jadi.. sekarang umurmu sudah bertambah ya!" Kakek Johan memeluk cucu kecilnya yang tidak lain adalah Anya itu sambil tersenyum bahagia.
"Anak mama sudah umur enam tahun sekarang!" Greanna, ibu Anya tersenyum pada Putrinya itu.
"Potong kuenya...potong kuenya... potong kuenya sekarang juga, sekarang juga, sekarang jugaa!"
Tepukan tangan yang bergemuruh terdengar kembali, Anya kecil mengulas senyum di wajahnya. Ia lalu memotong kue dengan hiasan princess itu dibantu oleh mamanya, Greanna.
"Anak mama..." Greanna mencubit pipi Anya yang saat itu masih tembam, ia lalu mencium kening putrinya dengan lembut.
Berbeda dengan sang ayah, Ayah Anya tidak mempedulikan putrinya yang tengah bahagia di hari ulang tahunnya itu. Ia malah sibuk dengan handpone nya.
"Pa...papa!" Anya memanggil papanya, ia menarik pelan tangan papanya dengan jemari kecilnya.
Namun, dengan cepat, papa Anya yang bernama Willson itu menepis kasar tangan putrinya.
"Aww..." pekik Anya.
"Anya!" Greanna menangkap tubuh mungil Anya yang hendak terjatuh dengan cepat. Sementara Johan, ia menatap marah ke arah putra ketiganya yang merupakan Willson itu.
"WILLSON!" Johan berteriak sekeras-kerasnya.
Willson memutar bola matanya malas, "Kenapa? Aku capek pa!" ucap Willson. Ia lalu menaruh handponenya di saku celananya dan hendak menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Willson, inikah caramu memperlakukan putrimu sendiri? Sejak kapan papa mengajarkanmu seperti ini!" Johan mengepal tangannya dan mengejar Willson.
"Aku capek, pa! Jangan ganggu deh," gerutu Willson dengan nada malas.
"WILLSON!" Johan kembali berteriak, namun kali ini ia berteriak lebih keras sampai-sampai ia tersungkur karena dadanya sakit.
"Papa!" anak-anak Johan yang berada disana segera membantu papanya agar berdiri.
"Terima kasih, putra putriku!" ucap Johan pada anak-anaknya.
"WILLSON, BERHENTI KAMU!" kakak Willson sekaligus putra sulung di keluarganya meneriaki adiknya keras.
"Apa sih? Gue capek!" ucap Willson menyahut kakaknya yang bernama Jack.
__ADS_1
"Oh oh, sungguh suasana yang baik sekarang ini," suara seorang wanita terdengar dari arah belakang. Ia melangkah mendekati keluarga besar Andreanta, yang juga merupakan keluarga Anya.