
Jam pelajaran pun dimulai, guru datang memasuki kelas dan mengajar para murid dengan seksama.
Kringgg!
"Sampai sini, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu Lely, guru PPkn Kayla.
"Gak ada Bu!" jawab para murid serempak.
"Kay!" Anya memeluk bahu Kayla pelan, dan tersenyum padanya.
"Iya kenapa?" tanya Kayla, ia lantas berbalik badan dan menoleh pada Anya. Karena posisi duduknya tadi membelakangi Anya, sebab ia ingin meletakkan buku pelajaran nya ke dalam tas.
"Ehm, kamu bawa bekal, gak?" tanya Anya.
"Bawa kok," jawab Kayla mengangguk.
"Ya udah, yuk makan bekelnya! aku lapar nih!" ujar Anya sambil memegang perutnya yang sedari tadi mengeluarkan bunyi aneh, dan tentu saja itu adalah bunyi orang yang sedang 'kelaparan'.
Kayla mengangguk, ia mengeluarkan bekal yang sudah ia siapkan, tiga helai roti beroleskan selai cokelat, yang digoreng setengah matang.
Setelah makan, Kayla mengambil obat-obatan yang diberikan dokter Roni padanya waktu itu, termasuk obat mag yang selalu ia minum jika perutnya sakit.
"Kay, kamu gak papa? Kok banyak banget obat yang kamu minum?" tanya Anya ragu. Ia sebenarnya tidak enak menanyakan hal ini pada Kayla, tapi ia khawatir akan keadaan temannya itu.
"Aku gak apa kok, Nya! Cuman punya mag akut aja," jelas Kayla tersenyum.
Kayla mengambil botol minumnya, dan meminum air putih bersamaan dengan tablet yang ditelannya.
"Anya, aku buang sampah dulu ya," ucap Kayla seraya menggenggam sampah bekas obat tablet yang ia buka tadi.
__ADS_1
"Iya Kay!" jawab Anya mengangguk.
Kayla melangkah keluar kelas, dan membuang sampah obatnya.
"Huft, enak banget ya jadi Sella.. bisa jadi pacar cowok tertampan di sekolah ini!"
"Ya iyalah, good looking selalu di depan!"
Ocehan-ocehan terdengar di telinga Kayla, ia sudah sering mendengar hal itu. Tentang hubungan yang terjalin antara "Siswa tertampan, dan siswi tercantik" di sekolah ini.
Kayla menunduk, ia berusaha tersenyum dengan raut wajah sedih.
"Weh, liat deh, itu kan si Kayla, kan? Si murid teladan seangkatan itu lhoo," tiba-tiba mereka melirik Kayla dan bergosip tentangnya. Kayla lantas mempercepat langkahnya untuk kembali ke kelas, ia sudah muak tentang pembicaraan yang mereka ciptakan untuknya.
"Kay, kenapa wajah kami pucet gitu?" Anya mengerutkan keningnya. Sementara Kayla, ia juga merasa bingung, "Emang keliatan pucet banget, ya?" tanya Kayla.
Kayla duduk di kursinya, ia meletakkan kepalanya diatas meja untuk memejamkan matanya sebentar. "Anya, tolong bangunin aku kalau bel bunyi ya!" ucap Kayla.
Sesuai perjanjian, Anya membangunkan Kayla saat bel masuk berbunyi.
****
"Anak-anak, silakan kalian berganti baju dulu, bapak akan tunggu di lapangan!" ucap Pak Tio, guru olahraga.
"Baik pak!" jawab para murid serempak.
Kayla mengambil baju olahraganya di tas, dan memasukkannya ke dalam tas kecil, ia juga membawa plastik hitam untuk memasukkan baju seragamnya.
"Kay, aku duluan ya!" ucap Anya.
__ADS_1
"Oh, iya.." jawab Kayla mengangguk.
Setelah dirasa siap, Kayla menyusul Anya untuk pergi ke kamar mandi dan berganti baju.
Tak!
"Aihh, ada si 'cantik' dan si 'teladan' ya disini.." Vanessa meletakkan lipstik yang baru saja ia pakai di meja kaca rias. Ia tersenyum sinis melihat kedatangan Anya dan Kayla.
"Anya, ayo kita ganti baju, gak usah pikirkan mereka," jelas Kayla.
"Huh, kenapa buru-buru gitu, sih? Jangan-jangan.. mau ketemu pacar? Ahahaha," Vanessa tertawa mengejek.
Kayla dan Anya tidak mau mempedulikan Vanessa dan gengnya. Mereka lantas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.
"Ups, sorry!" Seakan belum puas, ia seperti akan melakukan sesuatu di depan kamar mandi Anya.
Ceklek.. Kayla membuka pintu kamar mandi, ia menguncir rambutnya.
"Kay.. Kayla...!" Anya berteriak lumayan keras seraya menggedor pintu kamar mandi yang ditempatinya.
"Anya?" Kayla yang tersadar langsung membuka kunci yang mengunci Anya dari luar.
"Huhh...huhh... " Anya bernafas lega, sedari tadi ia merasa pengap berada di dalam kamar mandi.
Apa ini ulah Vanessa lagi? Kayla menggeleng pelan, ia tidak habis pikir dengan jalan pikir Vanessa. Ia menggandeng tangan Anya untuk pergi ke lapangan.
"Oh, udah selamat rupanya.." Vanessa menatap sinis Anya. Setelah itu, Pak Tio menyuruh para murid berbaris untuk melakukan pemanasan. Kebetulan, hari ini kelas MIPA 1 dan 2 bergabung, jadi lapangan lebih ramai daripada biasanya.
"Rangga ganteng banget!" pada siswi memuji ketampanan si 'Most handsome' di sekolah ini, namanya adalah Rangga. Rangga Pratama Xavion. Ia adalah orang berpengaruh di kota ini. Ayahnya mempunyai perusahaan besar yang cukup terkenal, dan kakaknya sudah menjadi direktur di usia muda, yakni 22 tahun.
__ADS_1