
"Seira?" semua anggota keluarga membulatkan matanya lebar saat melihat seorang wanita cantik dengan pakaian terbuka mendekati mereka.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Jack dengan nada dan wajah yang dingin.
"Untuk apa? Tentu saja untuk merebut sesuatu yang harusnya menjadi milikku! Ah tidak, maksudnya mengembalikan hakku!" ucap wanita yang bernama Seira itu, dengan seorang anak perempuan yang ia genggam tangannya.
"Mama, mereka siapa?" anak itu menatap bingung keluarga Andreanta dan bersembunyi dibalik tubuh mamanya, Seira.
"Seira... kamu..?" Willson menatap dalam Seira, seolah tidak menyangka Seira bisa datang ke kediamannya.
"Willson!" Seira memanggil nama ayah Anya dan berlari ke arahnya.
Dengan sigap, Seira memeluk tubuh gagah Willson sambil mencium pipinya.
"Willson, I Miss you!" ucap Seira dengan nada manja.
Greanna menatap geram Seira yang bertingkah manja pada suaminya.
"Seira, dia suamiku! Minggir darinya!" ucap Greanna marah.
"Kenapa? Kau marah padaku?" pancing Seira sambil memainkan jemarinya.
"Wil...Willson, dia suamiku! jangan harap kau merebutnya!" ucap Greanna tegas.
Greanna melangkah ke tangga dan hendak mendekati Seira, namun sebelum ia dekat, Seira mendorong tubuh Greanna hingga tersungkur ke lantai.
"MAMA!" Anya berteriak memanggil Greanna. Ia segera berlari dan memeluk tubuh sang mama.
"Mama, mama... mama bangun ma!" Anya menangis histeris, berharap sang mama bangun.
Semua orang khawatir akan keadaan Greanna, kecuali dua sejoli yang sedang berpelukan melepas rindu seperti tidak terjadi apa-apa, tentu saja itu adalah Seira dan Willson.
***
Greanna yang tengah tersungkur di lantai dengan bersimpah darah segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Maaf..." Dokter menunduk dengan tubuh gemetar.
"Ada apa, dok?" tanya Johan bingung.
"Nyonya Greanna mengalami sedikit kelumpuhan di kakinya," jelas Dokter Zergan.
Anggota keluarga yang menyaksikan langsung menangis, tidak menyangka seseorang yang telah menjadi bagian keluarganya bisa mengalami kelumpuhan seperti itu. Apalagi, seorang anak yang mendengar hal itu, tentu sangat sedih mengetahui ibunya lumpuh.
"Doakan saja yang terbaik untuknya, ia akan dirawat sementara selama sebulan lebih ke depan!" ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok," jawab Johan mengangguk paham.
"Kakek!" Anya menarik baju Johan dengan jari-jari tangan kecilnya.
"Kenapa nak?" tanya Johan lembut, ia mengelus kepala Anya.
"Aku boleh gak nemenin mama disini? Aku mau sama mama!" ucap Anya memohon.
Johan mengangguk, "Terserah kau saja!" jawab Johan.
***
Satu bulan kemudian, hari dimana Greanna diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit pun akhirnya tiba.
Seorang anak perempuan cantik yang kini sudah berusia 6 tahun itu tersenyum riang sambil menggandeng tangan mamanya.
"Akhirnya mama bisa sembuh ya! Walau kaki mama agak bengkak sedikit!" ucap Anya senang.
"Iya sayang," jawab Greanna lembut.
Greanna dan Anya pulang ke rumah mereka sendiri menggunakan taksi.
__ADS_1
"Gimana keadaan orang rumah ya sekarang? apa... aku ke rumah besar dulu?" batin Greanna.
"Pak, kita ke perumahan berlian permai di jalan sakti aja ya pak!" ucap Greanna pada supir taksi.
***
Sesampainya di rumah besar, Greanna meneteskan air mata haru. Sudah satu bulan lamanya ia meninggalkan keluarga dari pihak suaminya itu.
"Jika dipikir-pikir, Willson tidak menjengukku saat aku di rumah sakit, bagaimana keadaannya ya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Greanna khawatir dalam benak hatinya.
Deg!
Jantung Greanna mendadak berdegup kencang saat melihat bendera kuning yang terpasang di depan rumahnya. Ia melangkah pelan memasuki rumahnya yang sunyi itu.
"Ayah.. kakak!" panggil Greanna dengan wajah bingung.
"Mama, kenapa semua orang disana pakai baju hitam semua?" pertanyaan dari Anya membuat Greanna kembali cemas, ia menoleh ke arah samping, dilihatnya kerumunan orang dengan pakaian serba hitam tengah menangis sambil memeluk satu sama lain.
Greanna menggendong putrinya dan berlari kesana, "Permisi, permisi, aku keluarganya!" ucap Greanna.
Tap... Greanna menghentikan langkahnya, betapa terkejutnya ia melihat seluruh anggota keluarganya tengah menangis histeris.
"Papa...papa... hiks hiks,"
"Papa? Kenapa kak Jena memanggil papa mertua?" tanya Greanna bingung.
Jena adalah istri dari Jack, ia juga merupakan wanita yang bersikap baik pada Greanna.
"Kak Jena!" Greanna memanggil Jena, membuat semua pandangan tertuju padanya.
"Greanna?" bersamaan semua orang memanggil Greanna.
"A-ada apa ini?" Greanna menatap bingung seluruh keluarga iparnya.
Jena berlari mendekati Greanna, ia lantas memeluk tubuh Greanna dan menangis.
"Papa...Papa meninggal!" ucap Jena menangis.
"Papa Johan, papa mertuamu!" ucap Jena menjelaskan.
Greanna hanya termenung, ia tidak percaya dengan perkataan kakak iparnya itu.
"Jangan bercanda, kak!" ucap Greanna.
"Aku tidak bercanda, Anna! Aku serius!" ucap Jena dengan tatapan serius namun masih setia dengan tangis yang membasahi wajahnya.
"Papa sudah meninggal, An! Papa meninggal!" ucap Jena meyakinkan
"JANGAN BERCANDA KAK!" Greanna mendorong tubuh Jena sehingga menjauh darinya, ia lalu duduk bersimpuh dan memeluk erat tubuh putri kecilnya.
Plakk... Satu tamparan keras tiba-tiba saja mendarat di pipi Greanna. Greanna yang kaget lantas mendongakkan kepalanya.
"Sei.. Seira? Kenapa kamu ada disini?" tanya Greanna bingung.
"Dasar gak tau malu! Papa baru aja meninggal, Lo malah teriak-teriak gak jelas!" ucap Seira.
"Papa yang kamu maksud itu siapa? Bukannya, kamu yang gak jelas! Ngapain ada di rumah keluarga orang!" ucap Greanna dengan tatapan marah.
"CUKUP!" Willson berteriak, dan melerai Greanna dan Seira.
"Cukup, ini adalah acara pemakaman papa! Jangan sampai kalian ribut-ribut kayak gini!" ucap Willson dengan nada dinginnya.
"Su..suamiku..!" Greanna mengulas senyum di wajahnya begitu melihat sang suami tercinta, ia juga hendak memeluk tubuh Willson.
Grep! Satu pelukan mendarat di tubuh Willson. Namun, bukan Greanna lah yang memeluk Willson, melainkan Seira.
"Se-Seira!" Greanna menatap geram Seira. Namun, ada satu hal yang membuatnya kecewa, begitu melihat Willson membalas pelukan Seira, bahkan mencium keningnya.
__ADS_1
"Mas, dia itu bukan istrimu!" ucap Greanna marah.
"Kata siapa? Seira sekarang sudah menjadi istriku!" ucap Willson.
"A-apa?" Greanna menatap bingung Willson.
"Ya, kami menikah seminggu yang lalu!" ucap Willson sambil menyunggingkan senyum pada istri keduanya, Seira.
Sulit dipercaya keadaan saat ini bagi Greanna. Kematian papa mertuanya, ditambah.. wanita yang dinikahi untuk menjadi istri kedua oleh suaminya.. cerita macam apa ini?
Greanna mendekati Jena, ia lalu menatap Jena dengan serius.
"Apa ini kak? Apa maksud semua ini?" tanya Greanna.
Jena menundukkan kepalanya, "Maaf, bukan begitu maksudku.. Aku hanya--" belum selesai berbicara, Greanna lebih dulu memotong ucapan kakak iparnya itu.
"Katakan sejujur-jujurnya kak! Apa yang terjadi!" ucap Greanna sambil mencengkram lengan atas tangan Jena.
"Hentikan Greanna!" ucap Jack yang langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri istri serta adik iparnya itu.
"Hentikan, hentikan ini, Greanna!" ucap Jack.
"Kak Jack?"
Jack hanya bisa terdiam tidak menyahut, ia lalu menarik pergelangan tangan Jena untuk kembali duduk seperti semula.
"An, sebaiknya kau berganti baju yang berwarna hitam! Kita akan segera ke pemakaman!" ucap Jena menjelaskan.
Beberapa menit kemudian, sesuai perkataan Jena, Greanna mengganti bajunya menjadi warna hitam pekat, baju yang tingginya sampai mata kakinya.
Karena diluar hujan, seluruh anggota keluarga memakai payung dan berjalan menuju pemakaman. Jujur, Greanna masih bingung dengan keadaan saat ini. Namun, demi tidak terjadinya perselisihan yang lebih panjang, ia memilih menurut.
"Anna, kemarilah!" ucap Jena sambil menyalurkan tangannya, berniat menggandeng tangan Greanna.
"Iya kak," jawab Greanna mengangguk, ia lalu menggandeng tangan kakak iparnya itu.
"An, aku tahu kau memang tidak bisa percaya akan semua kejadian yang terjadi saat ini, tapi.. perlahan kau pasti akan menyadari kenyataan ini!" ucap Jena pelan.
Tap! Greanna menghentikan langkahnya.
"Kak, apa masih ada rasa sayang padaku dari kakak?" tanya Greanna.
Jena terdiam sejenak, "Tentu saja aku menyayangimu!" ucap Jena.
"Lalu, kemana kakak saat aku mengirim pesan pada kakak? Seminggu lalu, aku dikabarkan akan segera pulang dari rumah sakit, apa.. hari itu juga pernikahan antara suamiku dan Seira berlangsung?" tanya Greanna.
"An, per-percayalah, aku...aku bukan bermaksud seperti itu! Kau tahu sendiri, Willson adalah anak yang keras!" ucap Jena.
Greanna melepas gandengan tangannya dari Jena, ia lalu berdiri di hadapan Jena dan menatap dalam bola mata kakak iparnya itu.
"Lalu, apakah jika kakak yang berada di posisi ku, tahan dengan semua ini? Kak... coba pikirkan perasaanku, bukan hanya perasaan Willson!" ucap Greanna, perlahan ia meneteskan air matanya.
Greanna mempercepat langkahnya menuju pemakaman. Sesampainya disana, tampak ramai orang-orang yang tengah berduka dengan derai air mata di sekeliling makam Johan.
"Papa, aku tidak menyangka kita berpisah secepat ini," ucap Greanna pelan.
"Mama! Mama kenapa nangis?" tanya Anya yang saat itu tengah di gendong oleh Greanna.
"Anya, jika kau sudah besar nanti, kau akan mengetahui segalanya! Kau akan mengetahui semua keburukan tentang keluarga papamu! Semua orang yang bermuka dua, dan lainnya!" ucap Greanna tegas.
***
Setelah itu, kehidupan Greanna dan Anya tidak berjalan lancar. Mereka dianggap sebagai beban keluarga, bahkan dianggap pembantu disana.
Greanna dan Anya terpaksa harus menetap di kediaman Andreanta karena tidak mempunyai banyak uang untuk mencukupi kehidupan mereka. Greanna meninggalkan pekerjaannya sebagai office girl, karena keinginan Willson agar Greanna menjadi ibu rumah tangga saja.
Sejak awal, pernikahannya dengan Willson tidak berjalan mulus. Willson yang terpaksa menikah dengan Greanna, saat ia masih berpacaran dengan Seira, membuat hatinya masih bertempat untuk Seira. Perjodohan antar keluarga ini, adalah kemauan kedua pihak keluarga, dan membuat Greanna dan Willson terikat dengan janji pernikahan.
__ADS_1
"Sabar ya nak, mama akan cari cara agar kita bisa hidup layak!" ucap Greanna sambil memeluk hangat tubuh putrinya.
Flashback End