Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 3. Teman Lama Mama


__ADS_3

Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Kayla akhirnya berhenti memanggil mamanya itu. Ia lalu segera kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian.


"Mama kemana sih? dari tadi gak keliatan!" gumam Kayla heran.


Kayla turun ke lantai bawah, ia mengambil segelas susu di dalam kulkas dan meminumnya.


Saat Kayla melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang keluarga dan mencari mamanya, ia tidak sengaja melihat secarik kertas dan pena yang berada di atas meja makan.


...“Mama ada urusan sama teman-teman mama, kamu tunggu di rumah sampai kakak-kakakmu pulang! Jika kamu ingin keluar rumah, jangan lupa dikunci rumahnya, kunci rumah ada dibawah kasur mama”...


~Mama


Selepas membaca isi surat tersebut, Kayla menghela nafas panjang. "Pantas saja mama gak ada di rumah," ujarnya.


Karena merasa bosan, Kayla mengambil kunci rumah dan pergi keluar. Niatnya, ia ingin pergi ke taman yang terletak tidak jauh dari rumahnya.


Ceklek..


"Nah!" ucap Kayla tersenyum.


Kayla memakai sendal kesayangannya, sendal yang diberikan mama dan papanya sewaktu ia masih kecil.


🍂🍂🍂🍂


Sesampainya di taman, Kayla duduk menyendiri di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Ia memilih untuk membaca buku yang memang sudah ia siapkan dari rumah, dibanding bermain dan mengobrol seperti orang lain yang ada disana.


Saat Kayla mulai membaca halaman pertama, samar-samar terdengar suara seorang wanita yang membuat konsentrasi Kayla terpecah.


"Bagaimana rasanya? Enak kan? Sudah kuduga kau akan menyukainya"


Wajah cantik dan senyumannya yang terpancar di bibir indahnya, wanita itu tersenyum sambil memandang pria di depannya. Kayla menoleh ke arah belakang, "Kenapa aku kayak kenal ya?" gumam Kayla.


"Haaah.. gue kayak gini juga karena Lo! Lo tau sendiri gue gak suka manis," sahut seorang pria di depan wanita itu sambil menggenggam sebuah es krim cokelat di tangannya.


Deg! Kayla tersentak kaget melihat wajah pria tersebut. "Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Kayla bingung, sekaligus penasaran.


"Ish, cepetan dimakan es krimnya, nanti meleleh aja!" ucap wanita itu dengan wajah sebal.


"Iya iya, gue makan kok, tenang aja!" pria itu tersenyum, ia segera melahap es krim yang ada dalam genggaman tangannya.


Kayla menunduk, entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, seperti tersayat oleh benda tajam. "Kenapa dengan dirimu, Kayla?" tanya Kayla dalam hatinya, ia memegang dadanya yang sakit.


Kayla bangun dari duduknya, ia memeluk erat buku yang ia bawa dan berlari pergi dari taman itu untuk kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Kayla segera menaruh sandalnya di rak sepatu dan hendak pergi ke kamarnya. Tapi, ia melihat sebuah sepatu heels yang terdapat di luar pintu, dengan sepatu hitam model pria yang terdapat di sebelahnya.


"Ini kan sepatu mama, tapi yang ini.. sepatu siapa? Apa Abang ganti sepatu ya?" tanya Kayla dalam benaknya.


Kayla membuka pintu rumahnya, dilihatnya sang mama dan pria asing yang sedang berbincang di ruang tamu.


"Mama?" Kayla menghampiri mamanya. "Mama kapan pulang?" tanya Kayla.


"Baru aja kok" jawab Della sambil mengulas senyum di wajahnya.


Kayla mengerutkan keningnya sesaat, tidak biasanya sang mama memperlakukan dirinya dengan lembut seperti ini. Ditambah, rasa penasarannya terhadap pria asing di hadapannya.


"Oh ya Kay, kenalin.. ini Om Andi, dia teman mama" ujar Della memperkenalkan.


"Di, ini anak sulung aku, namanya Kayla" ujar Della.


"Hai Kayla, nama yang bagus! Perkenalkan, nama om, Om Andi!" ujar Andi memperkenalkan dirinya.


"Anak bungsu mu cantik Dell! Mirip banget kayak kamu waktu kecil, hehe.." ujar Andi tertawa kecil.


"Kamu itu.. sama aja kayak dulu! Suka godain orang!" Della tertawa kecil menanggapi ucapan Andi.


Merasa risih dengan perlakuan dan sikap Andi, Kayla memilih untuk diam dan tidak menyahut, hanya senyuman yang ia perlihatkan pada mamanya dan Om Andi.


"Ma, aku ke kamar dulu ya!" ucap Kayla meminta izin.


"Oh, iya.. " jawab Della mengangguk.


Kayla segera pergi ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia menaruh buku yang ia bawa tadi di atas meja belajar.

__ADS_1


Kayla lalu merebahkan tubuhnya di kasur, ia menatap langit lewat jendela, sambil memikirkan pria dan wanita yang ia lihat tadi di taman.


"Kenapa? Toh, dia memang pantas dengannya. Kenapa aku harus sedih?" ucap Kayla pelan, ia tersenyum pahit, dengan wajah lesu yang ia tampilkan.


"Kita bertemu di waktu yang sama, tapi aku kalah dengannya, haah.. mungkin ini sudah takdirnya. Jika dilihat-lihat, dia memang wanita yang cocok untuknya. Dia periang dan ramah, berbeda denganku yang pendiam, dan termasuk kategori orang yang intovert" batin Kayla.


Kenapa aku harus memikirkan ini? Sudah terlambat, hal yang paling baik untuk sekarang adalah melupakannya, dia bahagia dengan wanita itu, maka aku juga harus bahagia! Kayla.. kenapa kau bersedih, hm? Kayla tersenyum, menyemangati dirinya sendiri, mencoba melupakan seseorang yang telah berhasil menempatkan dirinya di hati Kayla.


****


Tidak terasa, hari sudah larut. Kayla yang baru saja selesai membersihkan dirinya, turun ke bawah karena perutnya sedari tadi terus saja mengeluarkan suara aneh. Ya, apalagi kalau bukan suara perut yang kelaparan!


Kayla pergi ke dapur. Niatnya, ia ingin masak Nuget dan mengulek sambal hijau, tapi ia mengurungkan niatnya karena di atas meja makan begitu banyak makanan cepat saji, dan yang lebih mengejutkannya, Om Andi belum pulang, padahal ini sudah jam 21:15, kunjungannya sudah terbilang lama disini.


"Mama!" panggil Kayla.


Della menoleh, ia langsung tersenyum, "Sini sayang!" ujar Della.


"Ehm, ya.." jawab Kayla mengangguk.


Kayla duduk di sebelah Naura, kakak perempuan keduanya. Naura adalah anggota keluarga yang menyayangi Kayla, disaat mama dan abangnya menyesal mempunyai Kayla yang bukan seorang anak lelaki, Naura selalu setia menemani Kayla. Tapi, karena kesibukannya sebagai anak kuliahan, ia jadi jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Kayla.


"Kayla? Hai!" sapa Naura, ia memeluk Kayla.


Kayla agak tersentak, bagaimana pun sudah tiga tahun lamanya ia tidak bertemu Naura, sang kakak. Walau canggung, tapi Kayla membalas pelukan hangat dari Naura, toh dia adalah orang yang sama, kecanggungan ini akan segera berakhir jika tidak adanya kurang komunikasi antara mereka berdua.


"Bagaimana kabarmu, Kay? Kakak udah lama gak ketemu lho!" tanya Naura ramah.


"Baik kak," jawab Kayla tersenyum.


"Bagus deh kalau gitu, kakak kangen banget sama adik kakak ini! udah lama ya gak ketemu, habisnya kakak terlalu sibuk dan fokus mengurus urusan kuliah," Naura menghela nafas panjang.


"Iya kak, gak apa! Aku paham kok!" jawab Kayla tersenyum.


Selain Naura dan Kayla, disana juga ada Ida dan Reynold. Ida adalah kakak perempuan pertama sekaligus anak kedua dari empat bersaudara. Sedangkan Naura, adalah anak ketiga dari empat bersaudara.


"Reynold, Ida, Naura, Kayla, ayo dimakan! Tadi Om Andi pesan makanan banyak banget buat kita," ujar Della.


"Gak usah lah Dell! Aku ikhlas kok! Ayo-ayo, dimakan makanannya!" ucap Andi.


"Hush, kamu ini!" Della tertawa kecil, ia lalu mengambil sepiring nasi. "Nih Di, makan juga!" ajak Della sambil menyodorkan sepiring nasi yang ia ambil tadi.


"Eng-enggak usah Dell!" tolak Andi.


"Ayoo, dimakan!" ujar Della.


Andi akhirnya menyerah, ia lalu menurut dan ikut makan bersama.


Berbeda dengan anggota keluarga yang lain, Kayla agak risih dengan sikap Andi. Sepeninggal papanya, tidak ada yang bisa membuat ibunya tertawa lepas seperti ini.


Kayla mengerti bahwa Andi memanglah baik, tapi tetap saja, ada perasaan tidak enak dalam hatinya. Ditambah, mamanya dengan santai menyerahkan posisi tempat duduk yang biasa di duduki mendiang ayahnya dulu. Dan sedari tadi, Andi juga kerap kali melirik Della dengan mengulas senyum di wajahnya


"Kay, kenapa makannya lesu gitu? Ada pikiran, hm? Ayo, makan yang banyak!" ucap Naura.


Kayla hanya melamun dan menatap kosong ke depan, seolah tidak mendengar perkataan Naura saat itu.


"Kayla.. Kayla!" panggil Naura.


Kayla membulatkan matanya, ia tersadar dari lamunannya. "Ah, iya kak?" jawab Kayla.


Naura menggeleng kepalanya, "Kenapa? Apa ada masalah? Atau.. kamu lagi sakit, ya?" tanya Naura menyelidik.


"Enggak kak, cuman gak nafsu makan aja," jawab Kayla.


"Semuanya, maaf aku harus kembali ke kamarku, ada urusan yang harus diselesaikan. Maaf ma, om.." ujar Kayla membungkuk hormat


Della mengernyitkan dahinya, tidak suka dengan sikap Kayla. "Kemana? Udah sini aja!" ujar Della memerintah.


"Udah lah Dell, biarin! dia mungkin lelah," ujar Andi.


"Huuh.. ya udah sana! Jangan tidur malam-malam, jangan lupa jadwal buku pelajarannya untuk besok!" ujar Della.


Kayla mengangguk, ia mengambil piringnya dan mencucinya di wastafel yang terdapat di dapur. Setelah itu, ia pergi ke kamarnya dan menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk besok saat ia sekolah.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂


Esok harinya, pagi-pagi sekali tepatnya jam 06.05 Kayla sudah siap mengenakan seragam lengkap serta tas ranselnya.


"Pagi ma!" sapa Kayla tersenyum pada mamanya yang sedang menyajikan makanan di ruang makan.


"Hemm.." Della hanya berdehem menyahut sapaan dari Kayla.


Kayla tersenyum kikuk, ia merasa sikap mamanya sudah balik seperti semula. Lalu, kenapa kemarin dia begitu perhatian dengannya? Apa.. karena Om Andi? Pikir Kayla saat ini.


"Sarapannya ada di meja, untuk bekal, mama beliin roti sama wafer, cukup kan? Di tas kamu kan masih ada uang jajan, kalau kurang.. beli sesuatu aja, mama gak ada waktu beli banyak makanan!" ucap Della menjelaskan. Della melangkah membelakangi anak bungsunya itu, ia pergi ke kamar anak pertamanya, Reynold untuk membangunkannya.


"Iya ma, terima kasih.." jawab Kayla sopan.


Tok..tok..tok..


"Rey.. Rey sayang, bangun nak!" ucap Della sambil mengetuk pintu.


Kayla tersenyum pahit, "Apa kemarin hanya halusinasi ku saja ya? Mana mungkin, mama menyayangiku," ujar Kayla lesu.


Kayla segera memakan sarapannya yang berupa nasi dengan ayam goreng dan sambal merah yang diulek. Selepas makan, ia segera menghampiri mamanya dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


"Ma, aku berangkat ya!" ujar Kayla seraya mencium punggung tangan sang mama.


"Ya ya ya, pergilah, nanti kamu terlambat!" ujar Della dengan bola mata yang memutar malas.


Seperti biasa, Kayla pergi ke halte bus. Ia menunggu bus nomor 433 untuk pergi ke sekolahnya.


"Oh iya.." Kayla teringat akan sesuatu, sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk pergi ke rumah nenek tua yang ia temui waktu itu.


"Permisi, nek..!" ujar Kayla memanggil.


Krekk..


Pintu terbuka, Nek Ruqa keluar dari rumahnya, ia mengulas senyum di wajahnya saat mengetahui siapa yang datang. "Nak Kayla!" panggilnya.


"Hemm, aku ganggu nenek gak, nek?" tanya Kayla ragu.


"Nggak kok nak, ayo duduk.." Nek Ruqa mempersilakan Kayla duduk di kursi di depan rumahnya. Bukan karena tidak memperbolehkan Kayla masuk, tapi ia tahu Kayla pasti sedang menunggu bus.


"Lagi nunggu bus, Nak Kayla?" tanya Nek Ruqa.


Kayla mengangguk pelan, "Iya, nek." jawab Kayla.


"Yahh, stok bubuk teh nenek habis, bentar ya, nenek buatkan susu hangat aja, gapapa kan?" ujar Nek Ruqa.


Kayla yang tadinya melihat ke arah halte bus, dengan cepat menoleh ke arah Nak Ruqa dan melambaikan tangan tanda menolak, "Enggak usah nek, gapapa! terima kasih ya nek.." ujar Kayla sopan.


"Kok gitu?" tanya Nek Ruqa dengan raut wajah sedih.


"Anu.. bukannya aku nolak nek, aku takut ngerepotin nenek! Lagipula, busnya sebentar lagi pasti datang kok, aku kesini mau ngobrol sama nenek, nanti gak keburu.. hehe!" jelas Kayla ramah.


Nek Ruqa tersenyum, kesedihannya terhapus oleh rasa bahagia dalam hatinya. Baru kali ini ada orang yang begitu menghargai dan menyayanginya. Selama ini, ia terlantar oleh keluarganya yang kaya raya. Walaupun tinggal di rumah ini adalah kemauannya, tapi ia tetap ingin dikunjungi anak dan cucunya. Ya, walau itu hanya mimpi yang tidak tercapai.


"Oalah, mau ngobrol sama nenek toh!" Nek Ruqa tersenyum, ia duduk di samping Kayla.


"Mau ngobrol apa nak?" tanya Nek Ruqa.


"Aku bukan tipikal orang yang pandai ngobrol atau berbincang nek, jadi.. aku hanya bisa berkata sedikit -sedikit.." ujar Kayla menatap ragu ke arah Nek Ruqa.


"Oh gitu, ya udah gak apa nak! Waktu dulu, semasa remaja kayak kamu nenek juga jarang komunikasi sama orang sekitar," jelas Nek Ruqa.


Kayla menatap bingung ke arah Nek Ruqa. Tidak mungkin Nek Ruqa orang yang pendiam sepertinya, kan? pikir Kayla bingung.


"Memang aneh jika dilihat-lihat! Dulu, nenek tidak mudah bergaul, nenek orang yang pendiam dan jarang tersenyum karena termasuk orang yang pemalu juga. Tapi, jika nenek sudah kenal dekat dengannya, tentu saja nenek akan berubah sifat menjadi ramah dan periang." jelas Nek Ruqa.


"Tapi, itu pengecualian untukmu! Pertama kali bertemu denganmu, nenek sangat ingin menyapa dan mengobrol denganmu, tidak tahu kenapa, hehe.." Nek Ruqa tertawa lepas, kebahagiaannya terpancar saat ini.


Kayla terdiam sejenak, mencoba memahami ucapan dan pernyataan Nek Ruqa. Tapi, melihat Nek Ruqa bahagia, suatu kebahagiaan untuknya juga. Ia dan Nek Ruqa memiliki banyak kemiripan, mereka orang yang pendiam dan introvert. Mereka juga tidak terlalu mendapat perhatian dari keluarganya. Ya, mereka cukup mirip.


Tiiinnn!! Klakson bus terdengar, Kayla mencium punggung tangan Nek Ruqa seraya tersenyum. "Terima kasih sudah menemaniku, nek! Aku pamit dulu.." ujar Kayla.


"Iya nak," jawab Nek Ruqa sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2