
Kayla menatap kosong ke arah depan, tubuhnya mematung dengan darah yang berlumur dari perutnya.
Bruk!
Ia terjatuh dan terbaring lemah diatas lantai. Loura tersenyum puas. "Haha.. mati kau.. mati!" ucap Loura.
"KAYLA!" Suara pria itu terdengar serak, ia mendekati tubuh Kayla dan memeluknya. "Kay.. bangun Kay.. bangun!" ucapnya.
Tak! Loura menjatuhkan pisaunya, begitu melihat Alsen yang terduduk lemah memeluk tubuh Kayla.
"Kay... bangun!" ucap Alsen menggoyangkan kepala Kayla.
"Alsen.. kamu disini? Ahahaha, aku tahu.. kau masih mencintaiku Alsen!" ucap Loura kegirangan. Ia segera mendekati Alsen dan memeluknya.
Cup!
Wanita itu mencium pipi Alsen dengan wajah bahagia. "Alsen~" Loura tidak mau melepas tubuh Alsen, ia terus memanggil nama pria itu dengan suara yang mendayu-dayu.
"Alsen.. aku merindukanmu.. Kita balikan ya? please.."
Alsen menatap dingin Loura, dengan kasar ia mendorong tubuh wanita itu dan memilih untuk berada disisi Kayla.
"Dasar gila!" ujarnya.
wiuu....wiuu...
Tidak lama kemudian, suara sirene polisi terdengar dari arah luar. Alsen menatap nalar, dengan cepat pria itu menggendong Kayla ala bridal style.
"Kay.. Lo gak boleh kenapa-kenapa!" ucapnya.
Entah apa yang membuat pria itu menjadi sangat khawatir pada gadis yang baru dikenalnya. Pikiran Alsen mendadak kacau, saat mobil polisi membawa Kayla ke rumah sakit terdekat.
Alsen mengambil kunci motornya dan mengendarainya dengan cepat menuju RS Graha Indah, yang terletak tak jauh dari sana.
****
Alsen terus saja mondar-mandir, ia begitu cemas dengan kondisi Kayla yang terbaring lemah diatas kasur.
Krekk
"Apa anda keluarga korban?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan Kayla.
"A-aku? Aku bukan.." Alsen merasa canggung, ia bahkan tidak tahu siapa keluarga Kayla karena tidak pernah sekelas dengannya.
"Saya temannya, dok!" ucap Alsen menjelaskan.
"Dimana keluarganya? Apa kau mempunyai kontak keluarga korban?" tanya dokter.
"Tidak, dok! Tapi.. saya.. saya bisa menanggung biaya perawatannya, dok!" ucap Alsen.
"Bukan itu masalahnya, tuan. Tapi, harus mengisi surat administrasi dulu, maka bisa melanjutkan pengobatan lebih lanjut. Dan itu harus memerlukan tanda tangan dari keluarga korban," ucap dokter menjelaskan.
"Bisakah kalian merawatnya sementara? aku akan mencoba menghubungi keluarganya!" ucap Alsen
"Baiklah, tolong cepat ya.." ucap dokter mengangguk.
"Ehm, ngomong-ngomong bagaimana kondisinya? Apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Alsen khawatir.
"Kondisinya baik-baik saja, tapi anda tidak mempunyai hubungan apapun dengan pasien, jadi sebaiknya.."
Grepp!
Alsen mencengkram pelan kedua lengan dokter itu. "Saya bersumpah tidak akan melakukan hal jahat padanya!" ucap Alsen meyakinkan.
"Tapi.."
"Saya mohon, dok.. dia sahabat saya!" ucap Alsen kembali.
__ADS_1
"Haih.. baiklah" dokter itu mengangguk pasrah. Melihat wajah Alsen yang benar-benar tulus mencemaskan Kayla.
*****
Ruangan Kayla..
"Kay.. Lo harus bangun! Gue gak mau Lo kenapa-kenapa!" ucap Alsen lemah. Ia mendekati Kayla.
Tangannya bergerak ingin menyentuh jemari wanita itu, namun Alsen tersadar, ia bukanlah siapa-siapa, dan tidak pantas baginya melakukan itu.
"Cepat sembuh, Kay.." ucap Alsen. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Kayla. Kepalanya terbaring di pinggir ranjang, ia teringat akan sambungan telepon yang terarah padanya.
"Seandainya gue tepat waktu, apa mungkin Lo masih baik-baik aja saat ini? Maaf Kay.. maaf!" ucap Alsen.
Flashback..
Di sebuah gedung sekolah, kelas MIPA 1.
Drrtt....drtt..
"Woy Al, itu berdering ponsel Lo! Angkat gih, ada yang telepon itu..," Farel menghela nafas panjang, melihat teman karibnya yang tengah sibuk membuat proyek biologi.
"Lo aja yang angkat, gue sibuk!" ketus Alsen.
"Heh, ada cewek baru malah sahabatnya ditelantarin. Begitulah cinta.. cinta itu buta!" ucap Farel kesal.
"Apaan? Gue masih jomblo bambang!" ucap Alsen kesal. "Bisa gak sih Lo diem dulu? Gue ngelakuin ini juga karena gue yang salah, paham?!" ketusnya.
"Astaga, gue disalahin lagi?!" Farel menatap kesal sahabatnya. Ia mengambil ponsel Alsen dan hendak mengangkatnya.
"Halo, maaf orangnya lagi sib--"
"TOLONG AKU!" teriakan begitu keras terdengar dari telepon.
"YA AMPUN..!" karena terkejut, Farel membanting ponsel itu secara tidak sengaja. Beruntung, ponsel itu jauh diatas buku yang terletak di atas lantai.
"Al.. gila Lo.. ada orang yang lagi dalam bahaya!" ucap Farel.
"Hah??" Alsen menatap bingung Farel.
"Lo bisa tau dia ada dimana, kan? gue khawatir kalau wanita itu kenapa-kenapa Al..," ucap Farel histeris.
"Emang siapa? Siapa yang telepon gue?"
"Ka.. Kayla! Iya.. itu namanya!"
Deg!
Jantung Alsen berdegup kencang begitu mendengar nama Kayla.
"Dia kenapa?!" tanya Alsen.
"Dia bahaya, Al! Tadi gue denger dia minta tolong di telepon!" jelas Farel.
Dengan sigap, Alsen membuka ponselnya, melacak keberadaan Kayla yang tengah membutuhkan pertolongan.
"Ambil kunci motor gue! Cepet!" ucap Alsen
Farel mengangguk, ia mengambil kunci motor Alsen dan melemparkan padanya. "Gue nyusul, Lo duluan!" ucap Farel. Ia sudah memasang alat pelacak di ponsel Alsen, jadi ia bisa melihat keberadaan Alsen yang berangkat duluan.
"Ya," jawab Alsen mengangguk.
Hati Alsen tidak karuan, pikirannya kacau. Ia mengendarai motornya dengan kencang menuju gedung terbengkalai yang tidak jauh dari sekolah.
"Lo harus baik-baik aja, Kay! Harus!" tegasnya cemas.
Flashback end..
__ADS_1
"Ehm.." Kayla membuka matanya perlahan, ia melihat atap dan suasana yang berbeda dari rumahnya.
"Hahh!" Kayla segera bangkit dan mendudukkan tubuhnya, hal itu membuat Alsen yang tertidur pun terbangun.
"Lo udah sadar?" tanya Alsen tiba-tiba.
"AKHHH! PERGII!" Kayla berteriak, ia memeluk lututnya dengan tubuh gemetar takut.
"Kay.. tenang Kay.. ini gue, Alsen!" ucap Alsen memenangkan Kayla.
"Nggak... nggak... kenapa kamu disini?! Pergi!" teriak Kayla.
"Kay, Lo harus tenang! Lo itu pasien sekarang!" ucap Alsen.
"Pasien?" Kayla terdiam sejenak, berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya.
"Gue Alsen, Kay! Tadi, gue yang nyelamatin Lo saat Lo dijebak sama Loura, wanita gila itu sekarang sedang disidang polisi!" ucap Alsen geram memikirkan Loura.
"Loura?" Kayla menjambak rambutnya, ia sangat terkejut dan takut atas kejadian tadi.
"Hiks.. Anya.. dimana dia?" tanya Kayla.
"Anya udah dirawat disini juga, tapi Lo dibawa ke UGD karena kondisi Lo parah tadi, Kay." jelas Alsen.
Kayla tersadar, ia lantas menunduk dan meminta maaf pada Alsen. "Maaf," ucapnya pelan.
"Ehm, iya gapapa."
"Ngomong-ngomong, punya kontak keluarga lo, gak? Kata dokter, harus ada tanda tangan keluarga Lo kalau mau dapat perawatan serius," tanya Alsen.
"Aku gak butuh perawatan serius kok! Lagipula luka di perutku gak terlalu dalam." jawab Kayla menggeleng.
"Tapi Kay.."
"Mama pasti capek harus banting tulang demi kebutuhan keluarga. Papa aku udah meninggal, jadi lebih baik masalah ini jangan sampai diketahui mama," jelas Kayla.
Jadi.. papanya Kayla udah meninggal.
"Maaf Kay, gue gak ada maksud bahas gitu.. Tapi--"
Kayla lantas tersenyum dan kembali menggeleng, "Aku harus cepat pulang, mama pasti khawatir di rumah," ucap Kayla.
"Gak, Kay! Lo itu masih dalam kondisi kritis, walau keadaan Lo udah baik, tapi mana ada orang yang baik-baik aja setelah perutnya ketusuk?" Alsen menghela nafas panjang. Beruntung tadi Kayla menghindar, jadi tusukannya tidak terlalu dalam. Namun, Kayla pingsan karena melihat darah yang berlumur dari perutnya.
"Alsen, aku gak mau mama khawatir. Ditambah dia punya penyakit jantung! Mama adalah orang tuaku satu-satunya.. aku gak mau mama kenapa-kenapa hanya karena masalah kecil yang aku alami!" tegas Kayla tersenyum pahit.
Kay.. gue gak tau apa yang ada di dalam pikiran Lo.. tapi gue ngerasa banyak kesedihan dari mata Lo! Dulu, mama juga gitu, kan?
"Kay.."
"Hm?" Kayla menyahut.
"Kalau Lo ada masalah, bilang aja ke gue." Alsen menunduk.
"Gue bisa jaga rahasia, tenang aja!" ucapnya kembali.
Kayla tersenyum, "Haha, tenang saja! Aku baik-baik saja kok!"
"Oh ya, tadi aku menelepon mu, ya? Maaf mengganggu waktumu, tapi tadi aku sungguh tidak melihat siapapun itu, yang jelas hanya ingin meminta tolong. Terima kasih, terima kasih banyak, Alsen!" ucap Kayla.
Alsen mendongakkan kepalanya, "Iya," ia tersenyum.
"Lalu, kenapa kamu bisa tahu keberadaan ku?" Kayla memiringkan kepalanya bingung. "Itu karena aku bisa melacaknya." jawab Alsen. Mata Kayla lantas berbinar, ia kagum karena Alsen bisa melacak keberadaan seseorang lewat telepon.
"Oalah, ternyata lagi senyum-senyum gak jelas nih, temen gue!" Farel tiba-tiba datang dan menepuk bahu Alsen.
"Apa-apaan Lo? Gak jelas!" ucap Alsen kesal.
__ADS_1
Dia yang waktu itu pasangan badminton Anya kan? Kayla tersenyum tipis. Mengingat Anya yang terus menampilkan senyumnya di hadapan pria itu.