Story Of Kayla

Story Of Kayla
Episode 12. Calon menantu!


__ADS_3

...Oh Tuhan, tolonglah.....


...Bawa dia kembali.....


...Bersamaku disini...


...Menjagaku selalu...


...Dengarlah...


...Doaku.....


...Yang tak pernah meminta...


...Bawa dia kembali...


...Walau hanya sesaat.....


...{ Mahalini }...


*****


Kayla menghapus air matanya, dan memeluk foto mendiang sang ayah. "Ayah, sekarang aku sudah dewasa.." Kayla tersenyum pahit.


Ikhlas itu bohong! Yang ada hanya terpaksa..


Kayla menyandarkan kepalanya di kursi taman yang terletak di ujung. Ia memang sengaja pergi ke taman untuk merilekskan tubuhnya.


Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, menghapus rasa sakit yang mengganjal di hatinya.


"Padahal, sudah lewat enam tahun lamanya, semenjak papa meninggalkanku, tapi kenapa aku masih tidak percaya bahwa ini nyata? Aku berharap ini hanya sebuah mimpi.. mimpi panjang yang membuatku terjebak,"


"Akhh.." Kayla menjambak rambutnya sendiri, ia tidak tahu kepada siapa ia harus bertukar sedih..


Papa, kenapa papa begitu cepat meninggalkanku?


Kayla tersenyum pahit, seandainya sang papa masih ada di dunia ini, mungkin ia masih bisa mendapatkan kasih sayang.


Sejak kecil, hubungan Kayla dan mama tidak terlalu akur, tentu saja karena kehadiran Kayla tidak diinginkan. Namun, papa Kayla dengan setia merawat putri bungsunya itu dengan sepenuh hati, berharap bisa memberikan kasih sayang yang tidak bisa didapatkannya dari seorang 'ibu'.


Kayla membuka diarynya, ia kembali tersenyum, mengingat kenangan-kenangan yang pernah ia tuliskan di diary nya itu.


...'Hari ini papa ngajak aku jalan-jalan, aku seneng banget.. papa emang yang terbaik!'...


Sebuah kenangan indah yang tertulis di buku itu, seakan membuat Kayla terhanyut dalam dunia mimpi. Seandainya ia bisa mengulang waktu..

__ADS_1


Kayla memeluk buku diary nya, ia menatap langit. "Pa, papa lagi ngapain disana?" Kayla menunduk sedih, rasanya ia tidak sanggup menahan semua penderitaan ini sendiri.


"Meow.." Sebuah kucing berwarna hitam putih mendekati Kayla dan mengeong. Kayla yang kasihan lantas mengangkat kucing tersebut dan menaruhnya di pangkuannya.


"Kamu lapar, hm?" tanya Kayla lembut.


"Cimmy!" teriakan seorang pria membuat Kayla sedikit heran, Cimmy? Jangan-jangan..


Pria itu berlari mendatangi Kayla, ia langsung merebut kucing yang ada di pangkuan Kayla.


"Alsen?" Kayla mengangkat kedua alisnya. "Itu kucingmu?" tanya Kayla.


Alsen mendongakkan kepalanya, awalnya ia ingin marah pada orang yang memangku Cimmy, kucing peliharaannya. Ia pikir, Cimmy diculik.


"Oh, Kayla?" Alsen menghela nafas panjang, untung saja Cimmy ada di dalam pangkuan Kayla, ia takut kucingnya hilang dan terjadi apa-apa padanya.


"Maaf, aku gak tahu ini kucingmu.." Kayla meminta maaf karena merasa tidak enak, melihat tatapan Alsen yang hampir kesal padanya.


"Ah, iya gapapa. Gue juga minta maaf sempat berpikir negatif ke Lo. Gue pikir--" Belum selesai berbicara, Kayla tersenyum dan bangkit dari duduknya. "Iya aku tahu, gak papa kok." jawab Kayla. Ia menepuk-nepuk kakinya yang dipenuhi daun kering yang tadi berterbangan ke arahnya.


"Lo rumahnya deket sini?" tanya Alsen seraya celingak-celinguk, menoleh kesana kemari.


"Nggak terlalu dekat juga, lumayan jauh," jawab Kayla.


"Kan aku bilang lumayan, bukan jauh benar-benar jauh!" tegas Kayla menjelaskan, sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi Alsen yang keheranan seperti itu.


"Ya udah, aku pulang duluan ya!" ucap Kayla.


"Lo naik apa? Jangan bilang jalan kaki lagi?!" Alsen kembali dibuat kaget, sebenarnya, ia juga kasihan pada Kayla yang harus jalan kaki ke rumah.


"Hmm, mau gimana lagi? gak ada transportasi umum disini," jawab Kayla.


"Lo.. mau ikut gue?" tawar Alsen.


"Ha? Gak.. gak usah," tolak Kayla.


"Kenapa emang? Tenang aja, gue ngendarain motor gak bakal bawa Lo ke akhirat!" ucap Alsen menegaskan.


Kayla sempat bingung dengan ucapan Alsen, namun ia akhirnya dibuat tertawa oleh kelakuan pria itu. "Akhirat? iya iya, aku tahu kok kamu gak bakal buat aku mati.. Tapi itu ngerepotin kamu!" jelas Kayla, ia tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi Alsen yang baru dikenalnya satu hari itu.


"Beneran?" Alsen kembali bertanya. Ia juga mengikuti langkah Kayla yang ingin pergi dari taman itu, seraya menggendong Cimmy di dekapannya.


"Aku pulang ya? Kamu mau jalan-jalan di taman, kan? Maaf tolak tawaran kamu, tapi aku takut dimarahin mama juga, nanti dikiranya aku pacaran lagi.." jelas Kayla. Alsen akhirnya menurut dan tidak mengikuti Kayla, namun pandangannya masih terpasang saat Kayla perlahan menjauh darinya.


Kayla berjalan dengan memeluk buku diary nya, ia telah memasukkan foto sang ayah ke dalam diary nya itu.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah, Kayla kembali dikejutkan oleh kedatangan Naura, kakaknya.


Kayla lantas berlari dan memeluk tubuh Naura, melepas rindu setelah lama tidak bertemu.


"Kakak!" Kayla memeluk erat tubuh Naura, begitupun Naura, ia membalas pelukan Kayla dengan penuh kehangatan.


Kayla melepas pelukannya, saat melihat ada seorang pria di samping Naura. Ia segera meminta maaf pada pria itu.


"Kak, dia siapa?" tanya Kayla berbisik.


Naura tersenyum lembut, "Sini, duduk di samping kakak. Nanti kakak jelaskan dia siapa, nunggu mama datang dulu..," jawab Naura.


Rasa penasaran di hati Kayla tambah bergemuruh, ia penasaran apa yang akan diberi tahu kakaknya, dan siapa pria di sampingnya itu.


Della baru saja datang, ia menyapa ramah Naura dan pria di sampingnya.


"Jadi ini yang namanya Leo?" Della tersenyum lembut di hadapan pria bernama 'Leo' itu.


"Iya mah" jawab Naura mengangguk.


"Gimana? Kapan kamu mau ngelamar anak saya, Naura?" Della tertawa kecil, menatap Leo dengan penuh pertanyaan.


"Maaa!!" Naura mengernyitkan dahinya. "Leo, Lo gak usah pikirin ucapan mama. Lagipula aku gak mau cepet-cepet!" ucap Naura tegas.


"Lho, kenapa? Bukannya lebih cepat lebih baik?" Della tersenyum kecil, menatap calon menantunya yang tengah gugup tingkat atas saat ini.


Kayla ikut senang, ia tersenyum. "Jadi kakak mau menikah?" tanya Kayla.


Naura lantas gugup, ia melirik Leo sekilas. "Enggak, mama mah cuman bercanda, dek!" ucap Naura malu.


"Masa iya sih mama bohong? jelas-jelas kamu chat mama kemarin, bilang calon menantu mama mau datang!" ucap Della.


"Eh.. eng-enggak gitu maksud aku, ma!!" Naura kembali malu melihat Leo yang tertawa kecil padanya.


"Aku kan juga mau ngejar karir dulu, ma! Gak mau cepat-cepat nikah.." ucap Naura kembali.


"Iya Tan, lagi pula saya juga mau nabung uang, menghasilkan banyak rezeki dulu buat pernikahan dan hidup kita seterusnya!" jawab Leo, yang berhasil membuat jantung Naura berdebar-debar.


"Leoo!!" Naura memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal pada sikap Leo yang terlalu plin-plan.


"Gue kan cuman bercanda, Nau! Lo malah anggap serius!" ucap Leo.


"Oh, jadi bercanda?" Naura lantas merubah ekspresi nya menjadi tidak senang. Leo mengernyitkan dahinya, ia harus menjawab apa lagi biar teman sekaligus calon istrinya itu tidak marah?

__ADS_1


__ADS_2