Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
*Bab 11 Momen Pertama


__ADS_3

Fattah melakukan pekerjaan nya seperti biasa nya. Namun hari ini pikiran nya benar benar kacau. Ia bingung, bagaimana caranya mendekati istrinya itu.


"Arghh .... sudah 5 hari nikah, tapi nggak kunjung Arghhhh!!!" Gerutu Fattah meremas rambut kepalanya geram.


Sobri sahabat Fattah tersenyum melihat Fattah di kejauhan. Sobri mulai mendekati Fattah.


" Hei ... kenapa kamu ...? " tanya Sobri


"Aku janji akan cerita, tapi kamu jangan lemes ..." Fattah tau betul sifat lemes sahabatnya ini.


"Siap ..." sahut Sobri.


Sobri langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Fattah.


"Gini Sob ... kamu tahu kan ... aku sama istriku di jodohkan, kita nggak kenal sebelum nya,


Sewaktu nyentuh dia ... gimana ya, datar banget, secara ... aku juga pengen perlawanan dari nya," seru Fattah.


Sorry Sobri, kamu itu lemes banget, sorry aku bohong.


"Aku faham sih, mungkin dia malu, tapi ... sampai kapan malunya ...? " Fattah menambahi kebohongan nya.


"Emang ... kamu udah bisa bongkar segel gudang nya?" Sobri meragukan cerita Fattah.


"Yah ... kamu, sewaktu halal langsung aku bongkar pertahanan gudangnya." Fattah mencoba meyakinkan Sobri dengan kebohongannya.


"Dia masih muda ... mana faham hal begituan, belum lagi kalian nikah dadakan, ya malu pasti lah dia," sahut Sobri.


"Hem ... iya sih ... tapi sampai kapan?"


"Hem ... gini aja, seperti nya aku bisa bantu masalah kamu, nanti pulang kerja aku tunggu kamu dekat persimpangan di ujung jalan sana. Nanti kalau berhasil, jangan lupa hadiahnya."


"Beres!"


"Sampai ketemu nanti ya, cuss kerja dulu." Sobri meninggalkan meja Fattah dan kembali ke meja kerjanya.


Fattah menjadi semakin semangat, dia yakin rencana Sobri terbaik.


Kini jam kantor pun ber akhir. Semua karyawan dan karyawati sudah meninggalkan pekerjaan mereka.


Fattah dengan semangat berjalan menuju mobilnya. Segera ia lajukan mobil menuju tempat yang di janjikan Sobri


Perlahan Fattah menepikan mobilnya saat dekat dengan tempat yg Sobri janjikan.


Melihat Sobri yang berdiri di pinggir jalan Fattah mengisyarat Sobri dengan menyalakan dan mematikan lampu depan mobil nya.


Sobri yang faham itu Fattah, segera ia berjalan ke arah mobil Fattah. Fattah pun langsung membuka kunci mobilnya. Hingga Sobri bisa langsung masuk kedalam mobilnya.


Sobri memegang bungkusan kecil di tangannya.


"Fattah, kamu harus janji, kamu akan gunakan yang aku beri ini dengan bijak," pinta Sobri.


"Aku janji!!"


"Botol kecil ini, ini obat perangs*ng cair, kamu masukan 1 tetes kedalam 1 botol air mineral ini, terserah kamu mau minumkan berapa teguk sama bini kamu, tapi dosis nya segitu, Normal! Tapi kalau kamu memberikan kelebihan Dosis, terima akibat nya, bini kamu bisa berubah jadi "Macan sang*" di jalan!"


Fattah merinding mendengar penjelasan Sobri.


"Aman sob?"


"Aman! Asal dosis nya tepat! Ini vitamin buat kamu, ya ... kali aja kamu kewalahan melayani istrimu yang di bawah kuasa si kecil ini."


"Reaksinya pelan, kamu harus sabar, kalau sudah bereaksi istri kamu yang nggak bisa sabar."


"Kamu makai ini Sob?"


"Yah ... kalo darurat, aku pengen istri nolak, ya itu ikut turun tangan," sahut Sobri.


"Jahat!"


"Nikmat ...." sahut Sobri


Mereka tertawa.


"Udah ya, sampai jumpa besok !!! moga berhasil!"


"Makasih ya Sob."


"Iya, sudah cuss sana, aku juga mau action sama istriku."


Sobri turun dari mobil Fattah, lalu melambaikan tangan nya saat Fattah mulai melajukan mobilnya. Fattah terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan malam hari.


Sesampai di rumah, ternyata Elsa tengah menunggunya di ruang tamu. Senyum Elsa mengambang melihat Fattah masuk kedalam rumah. Segera Elsa menghampiri Fattah, lalu salim pada suami nya itu. Rasa lelah Fattah sirna melihat senyuman dan sambutan dari sang istri.


"Mas mau mandi dulu, gerah ... mas juga belum sholat Isya ..." ucap Fattah.


Elsa menemani Fattah ke kamar mereka.


Dengan telaten Elsa membantu Fattah melepas pakaian nya.


Fattah segera masuk kamar mandi. Selesai mandi Fattah menunaikan kewajibannya.


Elsa tengah sibuk menata makan malam buat dia dan Fattah. Selesai semua tugas, Fattah segera turun ke bawah. Mereka makan malam. Selesai makan malam, Fattah berjalan kedapur mengambil 1 teko air putih dan 1 gelas kosong.


"Tumben bawa air?" Sapa Elsa.


"Jaga jaga aja, males banget turun ke bawah ambil air kalo tengah malam haus," sahut Fattah.


Elsa mengangguk dan melanjutkan kembali membersihkan meja makan. Sedang Fattah segera naik ke atas, mumpung Elsa sedang sibuk di dapur dan juga mencuci piring dan lainnya.


Sesampai di kamar, Fattah segera menuangkan air ke gelas kosong yang ia bawa, tapi bukan air dari teko, melainkan air dari botol mineral yang tadi yang sudah ia campurkan sesuai kata Sobri tadi.


Ia letakkan gelas nya dekat meja di samping tempat tidurnya..Elsa sudah selesai dengan tugas nya, ia segera ke atas, ke kamarnya.


Elsa masuk ke kamarnya, namun tak terlihat Fattah di tempat tidur atau di sofa. Elsa segera menutup pintu kamar nya.


Tiba-tiba tangan Fattah sudah melingkar di perutnya, Fattah memeluk nya dari belakang sambil menciumi leher Elsa perlahan.


"Sayang, apa mas boleh meminta hak mas menjalankan tugas batiniah seorang suami?" Bisik Fattah di telinga Elsa.


Elsa bingung harus menjawab apa, ia sangat takut menolak, kata kata Fattah tadi malam terus terngiang di kepalanya. Ia membiarkan Fattah menciumi nya.


Tak mendapat jawaban dari Elsa, Fattah pun berhenti menciumi Elsa dan melepaskan pelukan nya.


"Kalau kamu ngga siap aku nggak maksa," seru Fattah.


"Bub--bukan! Aku siap! Tapi aku ngga tau gimana dan harus apa." Walau sebenarnya ia memang benar benar tidak siap.


"Kalau kamu siap, kita sama-sama belajar,


tapi kalau ngga siap, nggak usah! Sudah kita tidur aja." Fattah pura-pura merajuk.


Melihat kekesalan di wajah Fattah Elsa panik.


Dia takut kalau sampai Fattah mengadu pada neneknya, bagaimana perasaan neneknya nanti.


"Lakukanlah apa yang mas mau," ucap Elsa sambil memejamkan mata nya.


"Lakukan apa saja yang mas ingin lakukan, aku siap ...." Elsa mengulangi kata-katanya.


mendengar perkataan Elsa Fattah pun berhenti, dan langsung kembali ke hadapan Elsa.

__ADS_1


"Beneran?"


"Yakin?"


Elsa terus menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Fattah.


"Kata orang sakit lho ...." goda Fattah.


Elsa melotot mendengar kata terakhir Fattah.


"Awalnya saja ... aku janji akan memberi sesuatu yang melebihi rasa sakit itu," ucap Fattah.


Fattah menghampiri Elsa dan memulai dengan bermacam ritual, lalu mengangkat tubuh Elsa dan membawanya ketempat tidur.


Fattah tak sanggup lagi menahan semua hasratnya, dia pun melakukan pelepasan segel istrinya.


"Sakit ...." pekik Elsa.


Air matanya menetes, menahan rasa perih di kewanitaan nya.


"Maaf sayang, seharus nya mas tidak melakukan nya, maaf ...."


Fattah terpaksa menarik dirinya. Hatinya sungguh gusar, Nikmat ... tapi nanggung. Gerutu hati Fattah.


Ia menyelimuti Elsa. Elsa berbaring memiring menahan rasa perih di intinya.


Fattah teringat gelas yang berisi air yang bercampur obat tadi.


"Maaf sayang ... Minum dulu, nanti kita ke dokter, biar sakitnya cepat hilang."


Elsa minum air yang diberikan Fattah.


Mata nya terlihat sembab karena menangis.


"Udah minum aja, terus kita tidur ... maafin mas sayang ...."


Elsa tetap diam tidak menjawab kata-kata Fattah. Ia pun segera berbaring kembali dan menyelimuti dirinya.


Fattah juga berbaring di sisi Elsa, setelah memakai kembali pakaiannya. Dia menghitung waktu, menunggu obat itu bekerja.


Beberapa saat kemudian.


Elsa mulai kepanasan. Dia membuka selimut nya. Keringatnya mulai bercucuran.


"Kenapa lagi? Sakit banget? " Fattah pura-pura panik.


"Panas ...." Elsa meringis.


Fattah berlari kedalam kamar mandi, dia mengambil handuk kecil, lalu ia basahi.


Fattah kembali ke sisi Elsa, lalu me lap bagian tubuh Elsa.


"Gimana?"


"Lumayan ... makasih," sahut Elsa.


Elsa sibuk me lap dirinya dengan handuk basah. Nyeri perih di bawah sana berubah menjadi nyeri yang aneh.


Fattah tersenyum kecil melihat Elsa, dia yakin obat pemberian Sobri sudah bekerja. Fattah mulai menghidupkan rekaman video. Lalu ia letakkan ponselnya di meja dekat tempat tidur. Fattah melirik, posisi kamera itu tepat.


untuk merekam Pertempuran pertama mereka nanti. Fattah kembali berbaring di tempat tidur.


Elsa mulai kehilangan kontrol dirinya, dia langsung menyerang lebih dulu Fattah yang berbaring disisi nya. Fattah dengan senang hati melawan serangan Elsa.


Momen pertama merekapun berlangsung.


Fattah begitu bahagia, akhirnya ia menjalankan tugas nya sebagai suami. Nafas nya masih ngos- ngosan. Segera Fattah meraih ponsel yang terus merekam. Dia hentikan rekaman nya, lalu meletakan ponsel itu di meja. Ia segera berbaring memeluk istri nya yang sudah terlelap. Dia tidur dengan memeluk tubuh Elsa.


beberapa jam kemudian.


Sekitar jam 4 subuh, lagi-lagi Elsa yang masih di bawah rekasi obat perangs*ng aktif dan merengek minta lagi. Kali ini Fattah meminum vitamin pemberian Sobri. Karena dia mulai kewalahan menyeimbangi ke inginan istrinya.


Fattah dan Elsa mengulangi kesekian kali pertarungan mereka. Jam menunjukan jam setengah 5 subuh. Elsa benar benar tak berdaya.


"Gila ... apa dia minum lagi ya saat aku tidur ...? " Lirih hati Fattah. Dipandang nya gelas itu masih sama batas air nya dengan tadi malam.


Segera Fattah membuang air di gelas itu dan mencuci gelas itu di westafel kamar mandi, tak lupa ia juga membuang air yang ada di botol mineral itu. Fattah meletakan kembali gelas nya dan mengisi air yang murni air tanpa campuran, lalu menutupnya kembali.


Fattah segera mandi. Selesai mandi Adzan subuh berkumandang. Namun Elsa masih lelap dalam tidur nya.


Fattah segera menunaikan subuh. Setelah sholat subuh, Fattah membangun kan Elsa.


"Sa ... Elsa ... bangun sayang sudah subuh ...." lirih Fattah.


Elsa mengeliat, saat membuka sedikit mata nya betapa terkejut nya ia melihat Fattah mengenakan baju sholat dan peci.


"Sudah subuh mas ...? " Tanya Elsa


suara nya pun parau, suara khas orang bangun tidur.


"Iya sayang ... sudah ... sana cepet mandi ... nanti waktu subuh habis," kata Fattah tersenyum pada istri nya.


Elsa segera bangun, saat ia berdiri mencoba melangkahkan kaki, namun langkahnya terhenti merasakan nyer di kewanitaannya.


Fattah segera menghampiri Elsa.


"Masih sakit?"


Elsa mengangguk.


"Maaf, mas terlalu memaksakan diri tadi malam."


Elsa tidak menanggapi kata kata Fattah, dia melangkah perlahan menuju kamar mandi, ia pun mandi dan Wudhu. Elsa langsung sholat subuh karena waktu subuh hampir habis.


Selesai sholat subuh, Elsa kembali berbaring di tempat tidur. Sungguh tubuhnya sangat lemas tidak bertenaga.


Melihat Elsa yang lemas, Fattah mengahampiri nya.


"Pagi ini ngga usah masak, entar mas beli buat kita sarapan," seru Fattah.


Elsa hanya mengangguk, lalu memejamkan mata nya.


Fattah turun keluar untuk membeli sarapan untuk mereka berdua, sekembalinya, Fattah meletakan makan yang dia beli di meja makan.


Ia kembali naik ke atas melihat keadaan Elsa.


Ternyata Elsa masih lelap dalam tidunya.


*K*asian, pasti tenaga mu habis karena tadi malam.


Fattah tidak tega membangunkan Elsa. Dia sarapan sendirian di bawah. Setelah sarapan Fattah bersiap kerja, ia berangkat kerja tanpa membangunkan Elsa.


Sungguh over kebahagiaan Fattah.


sulit untuk melepas senyum nya yang terus mengambang di wajah nya.


Ia mampir di suatu toko, ia membeli sesuatu buat Sobri sahabatnya itu. Ia kembali melanjutkan perjalanan nya kekantor.


Sesampai kantor, Mata Fattah mencari cari sosok Sobri untuk berterima kasih.


Sobri perlahan menghampiri Fattah yang celengak celengok mencari seseorang.

__ADS_1


"Mencariku?" sapa Sobri.


Fattah langsung memeluk Sobri.


"Gimana? udah Anget kan? " goda Sobri.


"Gila kamu Sob ... bukan anget!!! tapi hampir gosong!!!"


keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Ini nggak seberapa dengan ide gila kamu itu.


terimakasih banget Sob." Fattah menyerahkan 1 bok pada Sobri.


"Gila, kamu di tanggepin serius, aku cuma bercanda," sahut Sobri.


"Udah ... buka ... buat kamu ...."


Sobri membuka box pemberian Fattah.


Matanya melotot melihat hadiah buatnya.


"Gila ... ini jam tangan coupel yang selama ini istri aku minta, Fattah!"


"Terima kasih banget Fattah ...."


"Iya ... sama-sama ... impas?"


Sobri langsung memeluknya.


"Udah ... yok kerja."


mereka segera menuju meja masing masing.


***


hari hampir jam 11 siang, sebenar nya Elsa pengen tidur lagi. Namun perutnya menabuh genderang perang minta di isi. Ia berusaha bangun, namun sangat lemes.


Ponselnya berbunyi, dilihat Fattah yang menelpon, segera ia angkat.


"Apa mas ...." Suara Elsa terdengar jelas kalau ia baru bangun.


"Baru bangun ...? apa terbangun ...? " tanya Fattah.


"Sudah bangun mas ..." jawab Elsa.


"Berarti kamu belum sarapan? Hem udah sana sarapan dulu ... sarapan ada di meja makan. Palingan udah dingin, ini sudah jam 11."


"Apa? Jam 11? Mas udah di kantor?


Aaaa ... maaf mas ... Elsa nggak nemani mas sarapan ... Elsa ngga bantu mas bersiap ... maaf ...." Elsa panik


"Sudah, mas yang salah ngga bangunin kamu,


kasian kamu kayaknya lemes banget, makanya mas biarin kamu tidur, udah makan sana sayang, mas mau lanjut kerja," ucap Fattah.


"Iya mas," sahut Elsa.


Telpon ber akhir saat Elsa menjawab salam Fattah.


Elsa menyeret kakinya yang lemas ke dapur, untuk mengisi perutnya yang udah teriak-teriak demo minta di isi. Elsa makan dengan lahapnya, menghabiskan makanan yang di beli Fattah buatnya.


Walau selesai makan, tapi kenapa tenaganya masih lemah. Elsa kembali ke kamar untuk istirahat lagi.


"Uh ... kenapa di badan lemes minta ampun ... rasanya ingin tidur seharian aku ...." Elsa kembali memejamkan matanya.


Sekitar jam 2 siang Elsa terbangun lagi dari tidur nya, namun kali ini ia lebih bertenaga, ia kedapur mengambil nasi, lalu mendadar telor untuk makan siang. Dia pun melahap habis makanan yang dipiringnya.


Elsa kembali lagi ke kamar. Ia terpaku melihat kamar yang porak poranda. Belum lagi baju nya dan baju Fattah yang ter onggok dimana mana. Elsa memungut baju baju itu dan meletakan nya di keranjang cucian.


Lalu ber alih merapikan tempat tidur.


Saat menarik selimut betapa terkejut nya ia melihat bercak darah di tempat tidur, segera Elsa menarik sprey itu dan mebawa nya ke bawah untuk di cuci.


Namun dia tidak tahu di mana letak spray baru. Dia terpaksa menelpon Fattah, tidak berselang lama panggilan Elsa dijawab Fattah.


"Kenapa? Udah kangen lagi?"


"Mas ... sprei ganti di mana?"


"Oh di lemari kamar sebelah."


"Kenapa cari ganti? Itu baru di pasang loh."


"Em, kotor mas ...."


"masa?"


"Ada darah ...."


Fattah yang di seberang telepon tertawa, mengingat percintaan mereka tadi malam.


"Ya udah ganti aja ...."


"Ya sudah aku tutup ya ...."


"Eh tunggu ... entar malam ga usah masak,


kita makan di luar saja," seru Fattah


"Iya mas."


telepon pun ber akhir.


Setelah mencuci spray dan menjemur nya di dalam rumah,Elsa benar-benar lemas.


Ia pun tidak kuasa untuk nyapu ngepel, dia kembali kekamar membawa spray baru dan memasang kembali dan berbaring lagi.


Elsa tidak ingat apa-apa lagi setelah minum air dari gelas itu, matanyamemandang gelas yang dia minum tadi malam.


Ia sedikit curiga dengan gelas itu, dia meminum air yang ada di gelas, namun tidak ada perubahan pada diri nya.


Sadar Elsa ... itu cuma khayalanmu.


(tentu saja tak ada perubahan, karena air yang sebelumnya sudah di buang fattah di westafel kamar mandi)


Setelah menunaikan sholat Dzuhur, Elsa kembali tidur lagi.


***


Bersambung.


*****


***untung saja Fattah ingat membuang air yang bercampur obat itu.


Andai fattah lupa membuang...


Apa yang terjadi pada Elsa?


Ia sendirian di rumah, sedang Fattah bekerja di kantor.

__ADS_1


Kekhawatiran Fattah sungguh tepat.


kalau yang Elsa minum tadi air yang sama dengan tadi malam yang ia minum, sungguh kasihan nasib Elsa***.


__ADS_2