
pagi-pagi sekali Elsa sudah hilang dari kamar nya, Fattah yang baru keluar dari kamar mandi kaget melihat Elsa tidak ada lagi di kamar nya. Padahal sebelum ia ke kamar mandi Elsa masih duduk di sofa kamar itu. Fattah segera berlari ke dapur, keruang keluarga, ke kamar Nazwa, tapi tidak juga menemukan Elsa.
"Bi ... bunda Nazwa mana?" tanya Fattah.
"Oh ... ibu di halaman olah raga jalan kata nya," sahut Imah.
Fattah segera ke luar rumah.
Terlihat Elsa berjalan santai mengitari bangku taman. Di bangku taman itu terlihat Wahda duduk sambil mengobrol dengan Elsa. Fattah melipat kedua tangan nya kedadanya dan menyandarkan tubuh nya disisi pintu utama rumah ibu. Memandangi Elsa yang Asyik bicara dengan ibu.
"Sudah sayang ... jangan terlalu capek!" Pinta Wahda.
"Iya bu," sahut Elsa. Elsa duduk di samping ibu Fattah.
"Sayang ... kamu berantem sama Fattah?" Tanya Ibu.
"Enggak bu," sahut Elsa.
"Ibu melihat jarak diatara kalian ... ibu jadi takut, kalau-kalau bayi ini akan bernasib sama dengan kakaknya, Nazwa," lirih Wahda sambil mengelus perut Elsa.
Elsa membuang wajah nya, karena air mata keluar, segera ia hapus. Agar Wahda tidak melihat air mata itu. Namun Fattah melihat Elsa menghapus air mata nya itu. Hati Fattah terasa perih melihat Istri nya menangis.
"Bu ... Fattah sangat baik bu, Fattah luar biasa dan sangat baik. Aku rasa mimpi punya suami yang luar biasa baik. Aku mulai takut bangun bu. Mimpi ini sangat indah," lirih Elsa mengukir senyuman di wajah nya.
"Ini bukan mimpi sayang, Fattah memang di gariskan Allah menjadi SUAMI BUAT ELSA. Kamu juga baik, sebab itu Allah memberimu suami yang baik juga,"
Elsa menyandarkan kepala di bahu mertua nya.
"Bu ... semoga ibu panjang umur, sehat terus.Bantu Elsa mendidik anak Elsa agar seperti anak-anak ibu yang luar biasa. Kak Rahman, Kak Faisal dan Kak Indra. Juga Suami Elsa."
__ADS_1
"Kamu juga bisa walau tanpa ibu ... tapi ibu juga berharap bisa melihat semua cucu ibu tubuh besar dan menikah. Mau nya Ibu sih melihat kamu dan Fattah tetap bersama hingga jadi nenek," Seru Wahda sambil menyentil hidung Elsa.
"Ibu luar biasa ... melahirkan dan mendidik anak-anak yang luar biasa juga," lirih Elsa.
Wahda tersenyum.
Pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan mobil Indra. Indra lega. Melihat Elsa ada dirumah dan sedang menggelayut manja di badan ibu.
"Bu ..." sapa Indra turun dari mobil langsung menghampiri Ibu dan Elsa.
"Bunda ... nenek ... kita sarapan, nanti Nazwa telat," rengek Nazwa yang juga menghampiri mereka.
"Iya sayang ..." sahut Wahda.
"Sini bunda ... ayah bantu bangun," lirih Fattah yang berjalan mendekat pada mereka.
"Hem ... sekarang Nazwa kuat nggak ya?" Kata Elsa.
"Coba tes, bantu bunda bangun," seru Elsa.
Nazwa langsung mendekati Elsa. Elsa bangkit dari duduknya dengan usahanya, tangannya yang satu memegang tangan Nazwa untuk menghibur Nazwa.
"Wah ... anak bunda kuat.... sekarang bantu bunda jalan ke dalam? Bunda juga lapar," seru Elsa.
Dengan girang Nazwa berjalan bersama Elsa masuk kedalam meninggalkan ibu, Indra dan Fattah.
Indra merasa bersalah melihat Fattah yang tidak ditanggapi Elsa. Sikap Elsa sangat terlihat dingin pada Fattah.
Mereka sekarang sarapan bersama. Selesai sarapan, Wahda langsung ke kamar nya karena kebelet, sedang Nazwa dan pengasuh nya Nadia segera berangkat ke sekolah. Fattah tengah bersiap kerja dan sedang ganti baju di kamar atas.
__ADS_1
Tinggal Elsa dan Indra di meja makan.
Elsa merasa aman bergerak karena Fattah tak ada.
"Kak ... aku permisi ya.." lirih Elsa.
"Sini aku bantu sayang," seru Fattah yang segera berlari menghampiri Elsa.
Fattah hampir sampai mendekat pada Elsa.
Namun Elsa mengangkat telapak tangannya Isyarat "Tidak usah" Fattah berhenti di dekat Elsa dan membiarkan Elsa bangkit sendiri.
"Makasih ... aku bisa sendiri," sahut Elsa.
Elsa segera melangkahkan kaki nya perlahan menuju kamar. Namun langkah nya terhenti karena Fattah berdiri di hadapan nya menahan nya.
"Kamu mendengar semua pembicaraan kak Indra dan teman teman nya tempo hari?" Tanya Fattah.
Indra jadi tegang, karena kata-katanya dan kata-kata temannya waktu itu sangat menyakitkan bagi yang mendengar.
"Kak Indra nggak salah. Teman teman nya juga nggak salah ... kamu juga nggak salah ... aku yang salah!!! Kamu hanya tidak ingin hubunganmu dan kakak mu renggang karena penolakanmu, sudah lah ... jalani saja, anggap aku pembantumu atau pengasuh Nazwa, aku ikhlas. Aku nggak pantes jadi istri kamu. Apa untung nya cuma usia muda? Lihat wanita-wanita di sekitar mu yang menanti cintamu, yang menunggu kamu untuk melamar salah satu dari mereka," kata Elsa.
Fattah mendengus, sangat sesak dengan kata-kata Elsa barusan. Sedang Indra semakin merasa bersalah, andai waktu dapat di putar, Indra tidak akan membawa teman teman nya kerumah ibu waktu itu.
"Sayang ..." lirih Fattah.
"Nggak usah sayang-sayang mas, kalau cuma kasian pada ku, maaf ... aku permisi ..."
"Sayang ... jangan gini kasian anak kita ..." lirih Fattah.
__ADS_1
"Anak kita? Hehh ... aku takut suatu hari nanti Nazwa dan Anak ini malu punya ibu seperti aku, sudah ... izinkan aku kekamar ... kumohon ... aku lelah," rengek Elsa.
Fattah membiarkan Elsa melakukan ke inginan nya, dia dan indra langsung berangkat kerja. Walau hatinya sangat berat meninggalkan Elsa.