
Marni dan Maya menanti kedatangan Elsa. Setelah mendapat kabar dari Wijaya, kalau Elsa akan pulang dan menginap. Tidak berapa lama Sebuah mobil masuk pekarangan rumah Wijaya. Senyum Marni dan Maya mengambang.
Maya segera berlari ke mobil itu menyambut Elsa.
Elsa turun di bantu Maya. Perut nya yang besar membuat nya mulai susah berjalan. Elsa langsung duduk di samping nenek nya.
Fahri sudah selesai menurunkan semua barang Elsa.
"Non ... sudah selesai ... bapak permisi," lirih Fahri.
"Makasih pak," lirih Elsa.
Fahri mengangguk. Dan langsung berjalan menuju mobil nya. Fahri segera mengemudikan mobil nya meninggalkan Pekarangan rumah bibi Elsa. Setelah agak Jauh Fahri menepi untuk mengabari Fattah, kalau Elsa sudah sampai dirumah nenek nya. Fattah lega mendengar Elsa sudah sampai.
Dirumah Maya.
Elsa tengah berbaring di samping nenek nya dan Maya. karena Maya menggelar kasur tipis di ruang tamu.
"Sa ... kok tiba tiba pulang ...?, berantem sama Fattah?" Tanya Marni.
"Kalian nggak suka aku disini ...? Karena aku hamil? Kalo aku hamil gini kan cuma nambah beban kalian, ya udah ... aku pergi," rengek Elsa menangis.
"Bukan gitu sayang ... Nenek senang Elsa disini, nenek cuma takut Elsa berantem sama Fattah," sahut Marni.
Hati Elsa sesak mendengar nama Fattah di sebut.
"Elsa mau ke kamar," lirih Elsa.
Maya langsung membantu Elsa bangun, Elsa berbaring di tempat tidur di kamarnya dan menghabiskan waktu dikamar saja.
Maya keluar mengambil koper Elsa yang masih di luar.
"Eh Maya ... Elsa pulang?" Tanya tetangga.
"Iya ... nama nya orang hamil, mungkin ngidam pengen disini," sahut Maya.
"Kok di antar supir? Laki nya mana?" Tanya tetangga.
"Fattah sibuk, makanya dia minta supir yang antar," sahut Maya.
"Banyak banget bawa barang ... perang dunia ke tiga may?" Seru tetangga.
"Ya ampun bu ... negatif bener ... apa salah kalo Elsa pulang? Elsa juga kangen sama nenek nya," sahut Maya kesal.
Maya segera masuk kedalam rumah. Maya menarik koper Elsa kedalam kamar nya, tidak sengaja ia melihat Elsa menangis, sambil mengelus perut nya.
"Sa ... bibi emang bukan mama kamu ... tapi kamu itu anak bibi ... perasaan orang tua itu tajam Sa ...
Cerita sama bibi," lirih Maya.
Elsa terus menangis, lalu dia bangun dan duduk di tempat tidur nya lalu memeluk Maya yang juga duduk disisi tempat tidur nya.
"Ya sudah ... kalau ngga bisa cerita nggak apa-apa,
kamu istirahat saja," seru Maya.
Elsa kembali berbaring.
***
Seminggu sudah Elsa di rumah Maya. Elsa hanya mengurung diri di kamar nya jika dia tak lagi ada keperluan di luar.
Semua orang di rumah enggan menanyakan kabar Fattah, karena hanya mendapatkan jawaban air mata dari Elsa.
Entah kenapa Sore ini Elsa sangat ingin pergi ke lapangan, tempat ia menghabiskan waktu sore dulu.
Elsa minta izin ke nenek dan bibi nya pergi ke lapangan bersama Dzikri.
Pikiran nya tentang Fattah hilang, saat ia melihat kekonyolan Dzikri bermain dengan anak anak lain di lapangan.
Sepasang mata menatap Elsa dari kejauhan,
"Kak Alvin ... melamun apa?" Tanya wanita yang bersamanya.
"Itu Elsa? Seperti nya hamil," seru Alvin.
"Iya itu Elsa ... sudah seminggu ia disini," sahut wanita di samping Alvin.
Elsa sungguh menikmati sore yang indah ini, Matanya memandangi sejauh mana lapangan itu. Sungguh sangat banyak orang orang bermain di lapangan itu. Namun pandangan nya terhenti saat mata nya beradu pandang dengan sosok yang dia kenali. Orang itu berjalan ke arah nya.
"Dzikri ... pulang yukk udah sore," teriak Elsa.
Dzikri berlari pada Elsa, segera Elsa pulang dari lapangan itu. Langkah kaki Alvin terhenti, melihat Elsa menjauhi nya.
Sesampai di rumah Elsa mandi, Ia berjalan menuju teras rumah bibi nya.
"Berat Sa?" Tanya Marni melihat Elsa berjalan.
"Iya nek ..." sahut Elsa.
"Nikmati sayang ... ini adalah anugrah terindah bagi perempuan," seru Marni.
"Iya nek ..." sahut Elsa.
"Sa ... besok resepsinya Radit keponakan paman, ikut ya," lirih Maya.
"Enggak bi ... aku sekarang mudah capek, nggak mau ngerepotin orang orang di sana, lebih baik aku di rumah," sahut Elsa.
"Kalau gitu Maya juga nggak ikut mak, Maya nggak tenang ninggalin Elsa," lirih Maya.
"Ya ampun bibi ... rumah bibi ini di tengah keramaian, bukan di hutan bi ..." seru Elsa.
"Tapi ...." lirih Maya.
"Nggak usah tapi tapi. Aku baik baik aja disini, bibi tenang aja," sahut Elsa.
***
Dirumah Fattah. Pagi hari suasana tampak lengang.
Setiap waktu Nazwa selalu merengek mencari bunda nya. Nadia terpaksa bohong, dengan mengatakan kalau bunda nya sedang pergi menjemput adik bayi yang bisa nangis dan bisa pup buat Nazwa. Hanya kalimat itu yang di ulang untuk membuat Nazwa tenang.
Nazwa kini sakit. Wahda ibu Fattah bingung harus apa, Karena Fattah bilang Elsa ngidam pengen tinggal di tempat bibi.
Fattah dan Indra tengah duduk santai di ruang tamu.
"Kamu kenapa Fattah? Kangen istri? Sudah susulin sana, ntar balik lagi, rumah Wijaya juga ngga terlalu jauh kok," seru Indra.
"Nggak bisa kak, entah kenapa Elsa benci banget lihat Aku, sampai sampai ia dirawat dirumah sakit, nah pas pulang kumpul kumpul sama Damar dan Malik itu aku bawa Elsa kerumah sakit," seru Fattah.
"Astaga ... Jangan-jangan?" Lirih Indra.
"Jangan-jangan apa?" Seru Fattah.
Indra menceritakan pembicaraan mereka tempo hari.
"Akhrhhhhhh kakak!!! Bicara hal itu kok dirumah sih!! Siapa aja sakit kaka dengar nya!!! Akhhh kakak ...." pekik Fattah.
"Maaf Fattah ... aku waktu itu benar benar lupa... kalau kamar Elsa sekarang di bawah," lirih Indra.
"Akhhrgggrrr ... sekarang aku mau susul Elsa," lirih Fattah.
Fattah lari ke kamar atas,ia mengambil baju nya, untuk persiapan bermalam di rumah Wijaya.
Kunci mobil nya terlempar ke keranjang baju kotor.
"Arggg ...." teriak Fattah melihat cap bibir di lengan kemeja nya waktu itu, yang belum ia keluarkan dari kamar.
"Elsa ... pantas saja kamu marah banget sama mas ..." lirih Fattah.
Fattah pergi tanpa pamit.
Di kediaman Maya.
Pagi pagi Maya, Wijaya, Marni dan Dzikri di jemput mobil yang membawa rombongan keluarga lain.
__ADS_1
Elsa melepas kepergian semua orang, berdiri di teras dan melambaikan tangan nya. Mobil pun melaju ke arah tujuan mereka.
Belum hilang senyuman di wajah nya, gerobak bubur ayam lewat.
"Mang ... bubur!!!" Teriak Elsa.
Gerobak berhenti di halaman rumah bibi nya.
"Mang ... tunggu ya saya ambil mangkok dulu," seru Elsa
Elsa masuk ke dalam mengambil Mangkok dan dompet nya. Dia begitu semangat berjalan ke luar.
Lama sekali ia tak pernah jajan seperti ini. Setelah tak lagi mengantar dan menunggui Nazwa, dia tidak pernah lagi belanja makan makan hal seperti ini.
Senyumnya langsung hilang, saat melihat gerobak bubur ayam nya sudah tak ada lagi.
"Yah ... kita nggak jadi makan bubur ayam sayang ...
pasti paman nya kelamaan nunggu," lirih Elsa mengelus perut buncit nya.
"Jadi kok ... ini sudah ayah bungkus ... ayah juga belum makan dari tadi malam ..." lirih Fattah berdiri di hadapan Elsa.
Hati nya merasa senang melihat Fattah, namun rasa marah nya juga meledak. Tapi melihat kondisi Fattah yang kacau Elsa juga kasian.
"Bunda ... kita makan sama sama ya ... Ayah kangen sama bunda," lirih Fattah.
Fattah ingin memeluk Elsa, Elsa langsungmundur menjauh dari nya, Fattah berusaha memasang senyum di wajah nya walau mendapat penolakan dari Elsa.
Elsa tidak menghiraukan Fattah, dia masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju meja makan.
"Sayang ... kamu duduk saja, biar mas yang siapkan," seru Fattah.
Elsa tetap diam, dia raih satu bungkus bubur yang ada di meja, lalu memasukan ke mangkok yang sedari tadi ia bawa. Lalu duduk dan melahap nya santai.
Fattah tersenyum, dia mengambil mangkok buat nya dan melahap bubur yang dia beli tadi.
"Hem ... nikmat banget sayang ..." lirih Fattah.
Elsa tetap diam
"Kamu mau minum apa sayang?" Lirih Fattah.
Elsa sedang menuang air putih kegelas dan meminum nya
"Mas juga mau sayang," lirih Fattah berusaha membuat Elsa bicara.
Elsa menyodorkan gelas kosong dan teko kaca yang ber isi Air. Fattah pasrah, dia menuangkan air buat nya sendiri.
Mereka selesai menyantap bubur yang di beli tadi.
"Sayang ... pulang ya ... mas kangen kamu," lirih Fattah.
"Maaf ... aku nggak punya rumah! Pulang kemana? Disini juga aku numpang," seru Elsa.
"Sayang ... pulang ya ... Nazwa terus merengek cariin kamu ..." lirih Fattah.
Hati Elsa sedih mendengar Nazwa, karena dia juga sangat sayang pada Nazwa.
"Sayang ... pulang ya ... Nazwa sakit ... dia rindu sama bunda nya," lirih Fattah.
"Bawa saja pada bundanya yang baru," ucap Elsa.
Sambil menahan emosi nya.
"Sayang ... pulang ya ... mas nggak bisa tanpa kamu sayang ... mas tersiksa jauh dari kamu sayang ..." lirih Fattah.
Elsa langsung berdiri.
"Tersiksa ...? siapa yang tersiksa!!! Aku apa kamu!!!" Teriak Elsa.
(Maya saat berangkat memang ragu untuk pergi, akhirnya Maya turun dari mobil, dan berjalan kaki kembali kerumah nya. Sesampai di halaman, senyum Maya lebar, melihat mobil Fattah terparkir di halaman nya, Maya pun mempercepat langkah nya.)
"Gelghhh!!!!" Maya kaget mendengar teriakan Elsa barusan. Namun ia tetap bersembunyi.
"Lihat wanita itu!!!" Teriak Elsa sambil menunjuk ke arah cermin yang memantulkan bayangan diri nya dan Fattah.
"Kalau kamu terpaksa ... kenapa kamu buat aku begini ... Sudah begini aku bisa apa ...?" Pekik Elsa. Tangis Elsa pecah, namun berusaha dia tahan.
Hati nya sangat Sakit mengingat Fattah terpaksa menikahi nya. Hanya karena malas berantem dengan kakak nya.
"Aku kira kau menikahiku karena ke inginan mu, Karena kau sangat baik pada ku, pada keluarga ku.
Tapi ternyata ... kau tak pernah ingin pernikahan ini ... maaf ... gara gara aku setuju semua ini terjadi. Andai aku menolak. Pasti kamu bahagia bukan ...?
maaf ... aku tidak punya kuasa untuk menolak waktu itu. Maaf aku jadi beban buat mu sekarang, aku juga pasti menjadi penghalang bagimu,," pekik Elsa.
"Sayang ... Maaf, okey ... memang benar aku setuju menikah karena malas berdebat dengan kak Indra.
Tapi ..."
"Heggghhhh ....." pekik Elsa memegangi perut nya.
"Bibi!!!! Nenek!!!" Pekik teriakan Elsa memegangi perutnya yang Semakin sakit.
Maya yang tadi sembunyi segera berlari ke arah Elsa. Fattah sangat terkejut dengan kehadiran Maya.
"Pantas saja perasaan ku tidak enak sedari tadi. Tolong ... bawa dia kerumah sakit," pekik Maa.
Fattah langsung menggendong Elsa, di ikuti Maya yang sama sama berusaha cepat cepat menuju mobil.
Elsa yang tidak sadarkan dipangkuan Maya di bagian belakang, sedang Fattah fokos mengemudi menuju Rumah sakit terdekat.
Maya terus menangis sambil membelai kerudung Elsa.
Sesampai di Rumah Sakit. Tim Medis langsung menangani Elsa. Maya dan Fattah sama sama diam, menanti Dokter keluar.
"Suami ibu Elsa," seru perawat.
Fattah berlari ke arah perawat. "Saya sus," lirih Fattah.
"Bapak di tunggu Dokter di ruangan nya," kata perawat sambil menunjuk arah ruang Dokter.
Fattah berjalan cepat ke arah ruangan Dokter itu.
"Aku ikut," lirih Maya.
Fattah mengangguk.
Maya dan Fattah berada di ruangan Dokter.
"Anda sudah tau kan, tidak baik tekanan pada ibu hamil, ini parah ... ibu hamil anak pertama, terus dia masih dini," seru Dokter.
"Hanya kesalah Fahaman Dok, tak ada masalah serius," sahut Fattah.
"Iya ... tapi ibu hamil itu emosi nya meningkat, harusnya anda membuatnya lebih nyaman, bukan lebih tertekan, akibat tekanan itu sangat buruk bagi ibu dan bayi. Bahkan bisa menyebabkan kematian kedua nya," lirih Dokter.
Air mata Fattah dan Maya sama sama tumpah.
"Untuk saat ini masih bisa di tolong, hanya saja dia harus di rawat," seru Dokter.
"Lakukan yang terbaik buat istri saya dok ..." lirih Fattah.
"Kami akan berusaha semampu kami," sahut dokter.
Kini Elsa berada di ruang perawatan Maya sangat kasihan pada Fattah yang sangat nampak terpukul.
"Kalau kamu memang terpaksa menikahi Elsa, kembalikan saja ia pada kami ... kami siap menerima nya kembali dengan anak nya," lirih Maya.
"Iya aku terpaksa awal nya, tapi saat aku mengucapkan ijab kabul saat menikah, aku benar-benar mencintai istri ku bi ..." lirih Fattah.
"Jika Elsa benar benar tidak mau kembali pada ku, sangat terpaksa aku membiarkan nya tinggal dengan kalian, demi kebaikan nya dan kebaikan bayi kami," lirih Fattah.
"Bii ... aku duluan Sholat dzuhur bi ... nanti kita gantian," lirih Fattah.
"Iya ..." Sahut Maya.
__ADS_1
Fattah pergi menuju mushalla rumah sakit itu.
.........
"Maya ... Elsa kenapa?" Lirih Marni yang baru datang.
"Elsa stres, juga sakit hati, tadi dia berantem sama Fattah di rumah," sahut Maya.
Marni menagis sejadi jadi nya.
"Berantem apa Maya ..." ringis Marni.
"Elsa sakit hati, mengetahui Fattah terpaksa menikahi nya. Dia tertekan dengan rasa bersalah, karena merasa bersalah membuat Fattah terjun dalam hubungan mereka," sahut Maya.
"Cucu ku ..." ringis Marni.
Di ruang perawatan Elsa sudah Ada Dzikri, Wijaya, Maya dan Marni. Fattah baru kembali dengan membawa bungkusan makanan.
Wajah Fattah sangat terlihat kacau. Baju nya juga acak acakan.
"Ini makan siang buat semuanya, maaf saya cuma bisa beli ini," lirih Fattah.
"Kamu makan saja Fattah ..." lirih Marni.
"Nggak laper nek ..." lirih Fattah berusaha tersenyum
"Makan Fattah ... demi anak kamu ..."lirih Marni membujuk Fattah.
Fattah meraih satu mika makanan dan berusaha menyuap nya. Namun air mata nya terus bercucuran melihat Elsa.
"Dia akan baik baik saja ..." lirih Marni menguatkan Fattah. Fattah meletakan makanannya karena tidak sanggup untuk memakan nya.
"Nek ... maafin Fattah udah buat cucu nenek begini.." Ringis Fattah.
"Sudah ... dia cuma salah Faham saja Ayo makan ..." seru Marni.
"Suami ibu Elsa," seru perawat yang datang.
"Iya saya," sahut Fattah mendatangi perawat
"Ini resep obat dan vitamin buat ibu Elsa, silahkan di tebus pak," seru perawat.
Fattah mengangguk, dia pamit pada semua untuk ke apotik rumah sakit tersebut.
"Maya, Wijaya, Dzikri, Sudah sholat?" Seru Marni
"Belum mak ..." sahut mereka bersamaan.
"Sana kalian Sholat, biar emak jaga Elsa ..." lirih Marni.
Maya, suami dan anak nya pun meninggalkan ruangan Elsa.
Marni duduk di kursi yang ada di samping ranjang Elsa.
"Elsa ... kenapa begini si ... kamu tahu nenek bahagia ... banget kamu nikah sama Fattah. Sulit mencari suami seperti Fattah di zaman sekarang. Dia sosok yg penuh tanggung jawab dan penyayang. Kenapa seperti ini Elsa ... kalau kalian sampai bercerai, nenek yang paling sakit hati sayang, lebih baik nenek mati duluan daripada melihat kalian bercerai," ringis Marni.
Marni menghapus Air mata nya, tanpa dia sadar Elsa sudah sadar dan mendengar semua nya
"Lho ... nenek sendirian ... yang lain mana nek?" Tanya Fattah.
"Yang lain lagi sholat. Ayo lanjutkan makan kamu ..." seru Marni.
"Tidak nek ... aku ngga nafsu," lirih Fattah.
"Ya sudah kamu harus makan, nenek suapi," seru Marni.
Fattah terpaksa makan karena Marni terus memaksa nya, karena sangat asyik nya mereka, mereka tidak melihat Elsa yang sudah membuka matanya melihat Marni yang menyuapi Fattah.
Elsa begitu tenang melihat kebahagiaan nenek nya bersama Fattah, hatinya berkecamuk dengan perkataan nenek nya barusan.
"Hei Sa, syukurlah kamu sadar," seru Maya.
Fattah dan Marni menoleh ke arah Elsa.
Fattah langsung bangkit untuk mendekati Elsa.
tapi Elsa membuang wajah nya saat Fattah mendekat. Fattah pun mundur.
Maya dan Marni mendekati nya, Elsa tersenyum kepada nenek dan bibi nya itu. Namun senyum Elsa mendadak hilang jika dia melihat Fattah. Fattah tidak bisa apa-apa, karena Elsa sangat terlanjur membenci nya.
"Fattah ... kemari sayang," lirih Marni.
Melihat wajah Elsa yang muram saat Fattah mendekat hati Marni sangat sakit. Elsa menangkap raut kesedihan di wajah nenek nya dengan sikap nya ini.
"Bolehkan aku bicara berdua saja dengan istri ku?" Lirih Fattah.
"Dzikri ... bawa makanan itu keluar ayoo kita makan di kantin, biar ada minuman dingin. Ayoo mak," seru Maya.
Kini tinggal Elsa dan Fattah di ruangan itu.
"Sayang ... memang benar aku terpaksa menikahi kamu ... tapi Saat kamu sah menjadi istri ku, aku benar benar jatuh cinta sama kamu. Andai aku tahu kamu membuat hidup ku sangat bewarna seperti ini, aku sendiri yang datang melamarmu tanpa bantuan siapa siapa. Ini memang takdir yang mempertemukan kita dengan jalan seperti ini.
Mas benar benar cinta kamu Sa. Baiklah ... kalau kamu memang tidak ingin kembali pada mas. Mas akan kembalikan kamu pada nenek. Tapi jika hal itu terjadi. Bayi ini akan mengalami hal yang sama seperti Elsa kecil dan Nazwa kecil, yang hidup tanpa orang tua lengkap," lirih Fattah.
Elsa mencerna kata-kata Fattah sambil membayangkan masa kecilnya yang merindukan sosok ibu dan ayah.
"Sayang ... pulang ya ... kita mulai dari awal, kalo perlu kita ulang lamaran kita dan kita ulang pernikahan dan resepsi kita. Karena mas benar benar cinta sama kamu sayang ..."
"Kembali sama mas ... mas mohon sayang. Demi Nazwa. Demi ibu, demi bibi. Demi nenek. Demi bayi kita. Demi cinta kita," lirih Fattah.
Elsa berpikir...
Jika dia keras tidak bisa memaafkan Fattah, maka nasib anak nya juga akan sama seperti nya. Masa kecil yang sedih tanpa ayah ibu, hanya nenek yang jadi pelita dihidup nya. Apakah dia sekuat nenek nya untuk anak nya? Walau pun kuat Elsa juga tidak mau anaknya terpisah dari nya atau dari Fattah dan mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
Elsa menarik nafas dalam dan membuang perlahan.
"Maafin aku juga mas. Maafin aku ... aku juga salah ... aku menerima pernikahan ini juga tidak ikhlas, aku menerima pernikahan ini demi kebahagiaan nenek. Maafin aku mas ..." pekik Elsa.
Fattah tersenyum dia langsung naik ke ranjang rumah sakit dan memeluk Elsa.
"Kamu nggak salah sayang ... mas yang salah, lihat perbuatan mas sama kamu ... buat perut kamu bengkak sebesar ini," lirih Fattah.
Elsa tertawa.
"Mas rindu tawa ini ... makasih sayang," lirih Fattah menciumi istri nya.
"Aku sangat takut mas ... aku sudah terlanjur sayang sama kamu. Aku jelek, sedang wanita wanita di sekitar mu luar biasa cantik," lirih Elsa.
"Cinta bukan ukuran Fisik, tapi sebuah kenyamanan hati. Kamu ... tempat ternyaman buat mas.
Tetaplah disisi mas ya sayang ..." lirih Fattah.
Elsa mengangguk.
Fattah mulai gemas dengan wajah Istrinya yang semakin chubby, Fattah melahap bibir istri nya itu dengan lembut.
"Sa kamu mau makan Ap ... pa ..." lirih Maya terhenti melihat pemandangan di depan mata nya.
Fattah dan Elsa langsung berhenti dengan Aksi nya.
"Maaf ... silahkan di lanjut ..." lirih Maya.
"Bi ... udah masuk sini temani Elsa, Aku mau cari makanan buat Elsa ... kamu mau makan apa sayang ...?" Lirih Fattah. Fattah langsung turun dari ranjang Elsa.
"Soto sama bakso," rengek Elsa.
"Okey ... di tunggu sayang ..." lirih Fattah.
"Cup!" kecupan halus mendarat di dahi Elsa. Fattah tidak perduli dengan tatapan bibi nya.
"Titip Elsa ya bi ..." lirih Fattah.
Fattah pergi dengan perasaan bahagia.
Setelah Fattah kembali dengan makanan pesanan nya, Elsa langsung makan dengan lahap nya di suapi Fattah. Fattah sangat bahagia melihat Elsa bisa menerima dirinya kembali.
__ADS_1
Marni memandangi cucunya, senyumnya terus terukir di wajah tua nya.
Elsa membalas senyuman neneknya sambil menikmati makanan yang Fattah suapkan.