
Pagi datang lagi menyapa.
Elsa kembali mengerjakan semua rutinitas tugas dan segala kewajiban nya.
Wijaya sedang menatap layar ponsel nya, dilihat ada foto Elsa bersama Dzikri.
hingga dia akan pakai foto Elsa untuk mencarikan suami buat Elsa dengan memperlihatkan Foto Elsa.
Di belahan lain...
Indra paman si gadis kecil itu menunjukan foto-foto yang dia ambil tadi malam ke pada ibunya yang bernama Wahda, nenek si gadis kecil.
Wahda begitu bahagia melihat putra bungsu nya kembali menemukan pasangan, karena seumur cucunya putranya memilih menduda.
"Ibu tidak perlu khawatir, aku akan cari info gadis ini dan melamarkan nya untuk Fattah." seru Indra.
Wahda mengangguk, senyumnya begitu lebar.
"Nenek ..." teriak gadis kecil itu lari berhambur kepelukan nenek nya.
"Iya Nazwa sayang ..." jawab Wahda memangku cucu kesayangan nya itu.
"Bu ...do'akan Indra ... semoga Indra bisa menemukan kekasih Fattah ini," lirih Indra.
"Pasti sayang ..." jawab Wahda.
Nazwa sekarang sudah masuk sekolah TK kecil.
"Semoga Indra bisa menemukan di mana kekasih Fattah ini ... agar Nazwa bisa memiliki keluarga lengkap," lirih hati Wahda.
***
Flash back perceraian Fattah dan Farida.
Fattah baru pulang dinas dari luar kota,
Tangisan Bayi memecah kesunyian rumah itu.
Namun tidak nampak istri nya untuk menenangkan anak nya. Sedang saat itu Nazwa baru ber umur 5 bln.
Fattah pun membuka pintu kamar nya, betapa terkejut nya dia,melihat istrinya sedang bercinta dengan pria lain di kamar mereka dan membiarkan bayi nya menangis begitu saja.
Fattah sangat marah. Selingkuhan Farida pun ngacir berlari menghindari Amukan Fattah.
Pertengkaran hebat terjadi,
kala itu juga keluar kata TALAQ dari Mulut Fattah. Dia menceraikan istri nya menurut Agama. Dan Fattah segera mengurus percerainan resmi nya, hingga bolak balik ketempat pengadilan untuk sidang cerai dan juga sekaligus sidang hak asuh anak.
Kejadian itu sungguh membuat Fattah patah semangat, hingga dia sengaja tidak mengurus anak yang masih Bayi itu, saat melihat bayi nya apalagi jika bayi itu menangis, Fattah langsung terbayang kelakuan buruk mantan istri nya itu. Hingga dia lebih memilih menyibukkan diri dengan mengurus semua pekerjaan nya.
Itu titik paling menyedihkan bagi Fattah. Dia pun membiarkan ibunya mengurus Nazwa.
sebenarnya hati Wahda juga sanggat hancur, namun dia menguatkan diri untuk Fattah dan putri nya yang baru 5 bulan, Nazwa.
Flash back off.
"Semoga ini jalan kembali nya kebahagiaan mu nak" gumam Wahda sambil memandang Nazwa yang akan berangkat sekolah denga mbak Nadia pengasuhnya.
____________
Di perusahaan,
Wijaya membawa foto Elsa, sedang Indra membawa foto Fattah dan Nazwa, bersama wanita yang tidak dia ketahui nama nya.
Indra berusaha mencari tahu kemana mana, siapa wanita itu, dia bertanya kesana kemari, namun tidak ada yang mengenal wanita di foto itu,
Sedang Wijaya meletak kan foto Elsa, Dzikri, istri nya dan diri nya di meja kerja nya. Berharap ada yang Naksir melihat foto Elsa dan meminang Elsa nanti nya.
___________
Hampir sebulan berlalu pecarian Indra kaka fattah. Namun tidak kunjung menemukan wanita yang pernah bersama adik nya itu.
Sedang fattah tidak bisa di ajak bicara jika itu mengenai pertanyaan perempuan.
Indra hampir putus asa,
usaha nya tidak sedikitpun akan berhasil. Hingga dia memutus kan menuju meja kerja Wijaya.
"Wijaya ... aku hilang semangat ... yang ku cari-cari tidak kunjung ketemu " lirih Indra.
"Sabar dikit ... ntar ketemu ... kata orang kadang dunia ini tidak selebar daun kelor," seru Wijaya menyemangati teman nya itu.
Tak sengaja Indra menyenggol figura yang ada di meja wijaya. Indra membalik foto itu, mata nya terbelalak melihat gadis berkerudung persegi itu.
"Anak mu?" Tanya Indra.
"Ohh ... ponakan aku ... yang aku ceritakan kemaren ... mertua aku minta carikan suami buat cucu nya,nah itu dia orang nya," seru Wijaya.
"Masih kecil ... ga kasian ...? " tanya Indra.
"Lah gimana lagi ... memang baru 18 tahun itu ...tapi mertua aku minta, ya aku bisa apa?" jawab Wijaya.
Indra terdiam.
"Gila ... ini dia orangnya yang selama ini aku cari-cari " gumam hati Indra.
Indra ingin cerita, namun dia urungkan.
Dia ingin bicara pada semua keluarga nya dulu sebelum bicara pada Wijaya.
________
Sepulang dari kantor Indra langsung pergi ke rumah ibunya. Sampai rumah ibunya Indra langsung mencari ibu nya
"Bu ... Indra sudah ketemu sama alamat nya," seru Indra.
"Allhamdulililllah ... terus ...? " Tanya Wahda.
"Tapi usia nya baru 18 tahun ... gimana bu ...? " Tanya Indra.
"Kalo Fattah suka ... kalau Fattah bahagia enggak apa-apa," jawab Wahda.
"Apa dia bisa jadi ibu yang baik buat Nazwa ...?" lirih Indra.
"Jangan pikirkan Nazwa, Nazwa biar ibu ngurus sampai wanita itu dewasa," jawab Wahda.
"Baik bu ..." jawab Indra.
__ADS_1
Tidak berapa lama Fattah datang.
" Fattah ... kaka mau bicara ..." seru Indra.
"Apalagi sih ka ... urusan nikah lagi ...? udahlah kak ... aku capek ..." jawab Fattah.
"Nak ... kaka mu sudah tau dimana wanitamu ... udah enggak usah di tutupi ... bawa dia kemari dan nikahi dia ..." lirih Wanda.
"Wanita ...?" Fattah kaget, karena selama ini dia tidak pernah mendekati wanita.
"Sudah ... jangan pura-pura kamu, aku sudah tahu kekasih kamu, nanti kami akan lamar dia buat kamu," seru Indra.
"Kakak apa-apaan main lamar aja," jawab Fattah, dia tidak mengerti apa arah pembicaraan ini.
"Halah ... gak usah pura-pura!!! ini aku menangkap basah kamu sama pacar kamu!" Seru Indra menyodorkan ponselnya yang berisi foto Fattah malam itu dengan remaja yang menolongnya saat itu.
Fattah bingung menjelaskan dari mana, kalau dia tidak mengenal sama sekali gadis yang ada di foto dengannya itu.
"Alasan apa lagi kamu menghindar untuk segera menikah!!!" Bentak Indra.
Fattah tetap terus mengelak, karena dia benar benar tidak mengenal gadis itu. Namun kaka nya tetap bersikeras menuduh Fattah dan Wanita itu pacaran.
Perdebatan kakak beradik itu sengit. Wahda hanya diam menyaksikan perdebatan kedua anaknya yang sama-sama mengemukakan suara mereka.
"Jangan kamu permainkan anak orang Fattah ... Nazwa perempuan, bagaimana perasaan mu jika ada orang yang mempermainkan perasaan Nazwa nanti " bentak Indra
Fattah berusaha meyakinkan Indra, kalau dia benar benar tidak mengenal gadis itu. Namun Indra tetap kekeh meminta Fattah untuk segera menikahi Gadis itu. Cekcok mulut kaka dan adik itu terus berlanjut.
Hingga Fattah lelah dan menyerah.
"Okey ... terserah kaka ... jika gadis itu bersedia menerima lamaran, nikahkan saja kami," seru Fattah.
"Pasti di tolak juga, mana mau dia sama duda punya anak satu sepertiku," lirih hati Fattah.
Indra dan ibu nya Tersenyum, mendengar pernyataan Fattah.
"Dari tari tadi kek ngaku," jawab Indra.
"Terserah kaka ... silahkan lakukan semua nya, jika itu menurut kaka baik. Oh ya ... kalau nantinya nikah, urusin juga semua nya, karena bulan ini aku sangat sibuk sibuknya dengan semua pekerjaan ku," ucap Fattah.
"Okey ... enggak masalah ... apa juga sekalian paket honeymoon?" Kata Indra.
"Nggak perlu!!!" Jawab Fattah kesal.
Fattah langsung meninggalkan kaka dan ibu nya menuju kamarnya yang ada di lantai atas rumah itu.Namun sebelum masuk ke kamarnya, dia menuju kamar putri nya Nazwa, dan bermain sebentar dengan putrinya.
Nazwa yang melihat ayahnya datang berteriak ke girangan,
"Ayah ...." teriak Nazwa.
Dia pun berlari dan minta gendong.
Fattah menggendong putri nya dan bermain sebentar dengan putri kecilnya itu.
Sedang pembantu yang tadi menjaga nazwa meninggal kan mereka, membiarkan Anak dan Ayah itu bermain bersama. Jika Fattah lelah Fattah bisa memanggil nya untuk menemani Nazwa lagi.
Sedang di lantai bawah. Di ruang tamu,
Wahda dan indra masih bicara tentang wanita yang akan menikah dengan Fattah.
"Aamiinnn, semoga Fattah berjodoh dengan gadis itu," lirih Wahda.
"Bu ... Indra pulang bu ... kasian anak istri Indra pasti nungguin," lirih Indra.
"Iya ... hati hati... titip salam Fira juga buat cucu cucu ibu," lirih Wahda.
Indra pulang ke rumah dengan perasaan lega.
Dia menceritakan kalau ia sudah menemukan wanita yang waktu itu pernah bersama Fattah.
mendengar hal ini Fira mengusul agar Indra membicarakan juga pada 2 kakanya yang lain, Faisal dan Rahman.
"Lewat telepon juga ngga apa apa pah ... lagian mereka pasti ngga bisa pulang secepat nya, setidaknya kabari mereka," usul Fira.
Indra segera menelpon kaka kaka nya,
Keduanya juga tidak keberatan dengan siapa pun yang nanti akan menikah dengan adik bungsu mereka nanti.
Perundingan keluarga Fattah pun selesai.
Tinggal langkah selanjutnya, bagaimana meyakinkan Wijaya untuk menerima lamaran Fattah buat ponakan nya itu.
2 hari kemudian, Keadaan kantor tidak terlalu sibuk, Indra pun menghampiri wijaya,
"Wi ... pulang kantor nanti ke cafe yang di ujung jalan itu ya ..." Ajak Indra.
"Weis ... tumben ngajak ke cafe ..." jawab Wijaya.
"Em ... ada yang perlu di bicarakan ... serius ... gak enak kalau bicaranya di kantor," kata indra.
"Okey ... entar aku ke sana " jawab Wijaya.
Indra kembali ke meja kerjanya.
Kini jam kantor pun berakhir, para karyawan pun ber angsur pulang.
Wijaya dan indra bertemu di cafe yang mereka janjikan.
"Em ... gini Wi ... kamu ingatkan sama adik aku yang duda ...?" Tanya Indra.
"Oh ... si Fattah... yang cerai kasus kemaren...? " Jawab Wijaya.
"Hem ... iya ... ya gitu lah ... kamu juga sekilas kenal sama dia, secara kita kerja di perusahaan yang sama cuma beda cabang. Sesekali kita juga kadang ketemu saat kerja," kata Indra.
"Iya sih ..." jawab Wijaya rada ingat dengan sosok Fattah.
"Terus apa hubungan dengan pembicaraan kita?" Tanya Wijaya.
"Gimana ya ngomong nya ya ...? hemmm ... anu ... oh ... gini ... Kami sekeluarga sudah berunding untuk melamar keponakan kamu buat jadi Istri Fattah. gimana ...? " Tanya Indra.
Wijaya yang mau nyerumput kopi tidak jadi, karena takut keselek air kopi nya karena kaget.
"Wah ... ini benar benar serius ... Aku tidak bisa memutuskan sendiri, aku harus bicara dulu sama mertua, secara dia yang ngebet banget pengen nikahin cucu nya keputusannya juga ada pada Elsa dan emak," jawab Wijaya.
Indra mengerti. Mereka melanjutkan ngopi. Setelah selesai mereka pulang ke rumah masing.
Sebelum pulang wijaya meminta foto Fattah adik indra, agar dia mudah mengenalkan laki-laki yang akan melamar Elsa dan mudah membicara kan semua ini kepada mertuanya,
__ADS_1
Indra langsung mengirimkan foto Fattah ke nomer WhatsApp Wijaya.
"Jangan lupa ... terangkan namanya Fattah... duda ... punya satu anak perempuan berumur 4 thn." seru Indra.
Wijaya hanya tersenyum, dia pun pergi lebih dulu dari Indra.
Sedang Indra tersenyum, merasa usahanya hampir berhasil
________________
Wijaya sedikit terlambat pulang dari biasa nya, karena ia mampir ke cafe bersama Indra tadi.
"Kok bapak pulang nya telat dari biasa...? " Seru Maya, sambil menyambut suami nya yang baru pulang bekerja itu.
"Tadi ada urusan sama teman di luar kantor sebentar," kata wijaya.
"Oh ya bu... nanti sehabis makan malam mama ajak jalan Elsa sama Dzikri, bapak ada yang pengen di bicara kan sama emak." kata Wijaya.
Maya mengerut kan keningnya menanda kan penuh tanya. "Mengenai apa?" Tanya Maya.
"Elsa..." bisik wijaya di telinga istri nya.
Maya faham.
"Oh..." lirih Maya.
Selesai makan malam Maya mengajak Dzikri dan Elsa jalan jalan. Sebenar nya Elsa sangat malas, namun dia tidak berani menolak permintaan bibi nya.
Setelah istri, anak dan ponakan nya pergi
segera Wijaya menghampiri mertua nya.
"Mak ... Wijaya mau bicara serius tentang ..."
tak selesai bicara Marni langsung memotong kata-kata Wijaya.
"Kamu sudah ketemu calon suami buat Elsa?"
"Ada yang pengen melamar Elsa ... namanya Fattah usia nya mungkin 33 tahun ... duda punya anak 1," Terang wijaya.
Wijaya menyodorkan ponselnya pada mertuanya untuk melihat kan foto Fattah dan putri nya.
Melihat foto Fattah Marni tersenyum.
Dia melamun, memikirkan di mana ia bertemu lelaki ini. Karena dia beberapa kali pernah bertemu Fattah .
"Hemm ... sekarang mak ingat ... dia sering ikut pengajian di mesjid. Dia selalu datang ke pengajian jika itu ustadz Dzali yang mengisi tausiah di mesjid itu." kata Marni.
"Laki-laki ini bilang ... dia sangat suka dengan bahan tausiah ustadz Dzali, mak juga pernah beberapa kali bicara dengan laki-laki ini " terang Marni.
Wijaya diam mendengarkan cerita mertuanya.
"Terus ... gimana mak ... lamaran nya buat Elsa?" Tanya Wijaya.
"Mak suka laki-laki itu ... emak yakin ... dia laki-laki yang tepat buat Elsa." seru Marni sangat bersemangat.
"Tapi dia duda ... punya anak 1, dia juga lebih tua dari Elsa mak," lirih Wijaya.
"Nggak apa apa ... mak yakin ... dia baik dan bisa menjaga Elsa. Atur semua nya ... mak nerima lamaran dia ... masalah Elsa itu biar Emak yang ngurus!" Seru Marni.
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara motor masuk halaman rumah. Elsa bersama bibi dan dzikri sudah pulang.
"Kok cepet banget ..." kata Wijaya menyapa Elsa, Maya dan Dzikri.
"Yang kita cari-cari enggak ketemu ..." kata Maya sambil senyum.
" Gimana ...?" Maya berbisik pada suami nya.
"Beres ...! " Jawab Wijaya membalas senyuman istri nya.
_______________
Fattah sangat bingung, dia melakukan sholat istiqharah, minta petunjuk, namun hanya bayangan ibu nya saja dalam mimpi nya. Akhir nya Fattah memutus kan bertanya pada ustadz.
Juga menceritakan mimpi nya setelah sholat Istiqharah.
"Apakah jika kau menikah ibu mu bahagia ...?" Tanya Ustadz.
Fattah mengangguk.
"Apakah kamu punya wanita lain ...? sehingga kamu bingung?" Tanya ustadz.
"tidak ... saya hanya bingung ... menikah ...? atau tidak? Tapi jawaban istqharah saya cuma ibu ustadz " lirih Fattah.
"Kabulkan keinginan ibumu, dia meminta mu menyempurnakan ibadahmu, bukan memintamu untuk maksiat. Bahagiakan ibu mu ... itulah sumber kebahagiaan mu," jawab Ustadz.
Fattah mengangguk.
Beberapa hari ini ia mengutus orang untuk mencari tahu dan menggali Info tentang Elsa, wanita yang akan menikah dengan nya. Dia tidak ingin kesalahan masa lalu dalam memilih istri terulang kembali.
Orang suruhan Fattah pun membawa hasil laporan mereka. bahwa wanita yang di foto itu sangat jarang keluar rumah. Hanya sesekali mengantar jemput sepupu nya sekolah. Mendengar itu pun, fattah sedikit puas dan lega setidak nya wanita itu jauh dari bayangan segala ke khawatiran nya.
____________
Di rumah Wijaya.
Elsa hanya berdua an dengan nenek nya
"Elsa ... lihat ... nenek sudah tua, nenek pengen lihat Elsa nikah," lirih Marni.
Elsa hanya diam, tidak tau harus menjawab apa.
"Jika nenek punya calon ... Elsa siap nek ... terserah nenek ... mau tua, muda, bujang, duda, tidak masalah... Asal nenek bahagia ..." jawab Elsa.
"Kebahagiaan terbesar Elsa hanya melihat nenek bahagia ..." lirih Elsa
"Terus ... apa kebahagia an mu?" Tanya Marni.
"Tidak ada yang lain yang bisa membuat Elsa bahagia selain melihat nenek bahagia." jawab Elsa.
Marni tersenyum sambil menciumi pipi cucu tersayang nya.
"Kebahagiaan nenek ... bisa menikahkan mu dengan laki laki baik yang penyayang dan penuh tanggung jawab," lirih Marni.
"Lakukan apa saja yang membuat nenek bahagia, Elsa siap, apapun itu,"
Elsa memeluk neneknya.
__ADS_1