Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
Tidak Fokos


__ADS_3

Memang saat ini Elsa mau ikut pulang bersama nya. Namun Jiwa Elsa tidak ikut bersama tubuh nya. Elsa yang ada sangat beda dengan Elsa satu bulan yang lalu. Rasa sakit Elsa mengetahui Fattah yang terpaksa menikahi nya membuat hati wanita itu diselimuti ketakutan dan tidak percaya diri lagi.


Fattah menarik kasar Nafasnya dan membuang nya sekeras nya. Sambil memandangi Foto Elsa, diri nya dan Nazwa yang tertawa lepas.


"Kemana lagi aku Sa harus mencari senyuman yang tulus dan lepas seperti ini," lirih Fattah sambil mengelus Foto Elsa yang ada di meja kerja nya. Dengusan Nafas itu sungguh sangat jelas terdengar. Menampakan yang punya diri sedang gusar.


Entah kenapa tumpukan map yang ada di meja seperti makanan basi yang enggan untuk Fattah sentuh. Padahal siang ini ia harus rapat bersama klien perusahaan nya.


Kepala nya mumet, tidak bisa untuk Fokos bekerja. Karena tujuan Fattah bekerja untuk kebahagiaan anak istri nya. Namun Istri nya kini jelas tidak bahagia.


"Kenapa kamu?" tanya Sobri yang tiba tiba langsung duduk di kursi depan meja kerja Fattah.


"Biasa ... miss komonikasi sama istri, maklum Bumil," sahut Fattah.


"Masalah serius? Kalo masalah sama Bumil itu harus diselesaikan segera," kata Sobri.


"Huh ... gimana ya ... nggak salah Elsa juga ... Hem ... dia dengar langsung cerita kak Indra sama teman nya, yah ... cerita awal nikah kemaren. Dia sakit hati banget saat ia tahu aku nikahin dia bukan karena aku milih dia, tapi karena malas berantem sama kak Indra sehingga pernikahan ini terjadi," sahut Fattah.

__ADS_1


"Emm perempuan ... emang merasa paling benar, lah ... dia juga menikah sama kamu karena nenek nya yang suka sama kamu bukan dia, itu kan cerita kamu dulu," sahut Sobri.


"Iya ... tapi semua itu udah lewat, kita menjalani nya juga dengan senang hati dan bahagia, bukti nya tuh yang di perut," lirih Fattah.


"Aku nggak yakin itu aja yang buat bini kamu gegana, pasti ada yang lain lagi " seru Sobri.


"Gegana ...? lagu kali ah!!!.Tapi iya sih ... sebelum perang dingin itu, dia lihat cap bibir di kemeja ku, di tambah pas baru damai dikit eh ... Sofi, Sonia sama Ratu Sosialita itu goda aku di depan dia, aku sudah yakinin dia, kalau dia itu lebih berharga dari trio ular keket itu," jawab Fattah.


"Gila ya ... aku kira trio ular keket itu nggak ada lagi ... em gini aja ... kamu buat istri kamu percaya Kalau dirinya itu benar benar berharga bagimu. Nggak perlu ucapan, pebuatan men ...!" Seru Sobri.


"Okey ... aku coba Sob ... thank ya ..." sahut Fattah.


"Ah kamu ... udah sana kerja ... aku juga mau lanjut," Seru Fattah.


Sobri pergi dari meja Fattah.


"Bagaimana Sa yakinin kamu ... kalau kamu itu sangat istimewa buat ku," lirih hati Fattah.

__ADS_1


Fattah segera bangkit, dia harus rapat segera.


***


Di Rumah.


Elsa mulai bosan, setelah Sholat Ashar tak ada aktivitas apapun lagi. Hanya para pembantu yang riuh di dapur sedang mempersiapakan makan malam. Ibu Fattah juga masih di kamar beliau.


Elsa memandangi lantai atas rumah ibu.


Rumah nampak sepi, karena semua pembantu sudah selesai diruang utama rumah ini. Elsa melangkah kan kaki nya meniti anak tangga.


Setelah sampai di atas. Elsa duduk di kursi yang ada di Balkon sambil meng elus perut besar nya. Ia meratapi nasib nya. Hati nya terlanjur menyayangi Fattah dan Nazwa. Sedang dia merasa Fattah itu terlalu istimewa buat nya.


"Nenek ... kenapa nenek memberikan suami seperti Fattah. Apa aku pantas Nek ..." ringis Elsa.


"Andai aku tidak hamil, dengan ikhlas aku mundur di kehidupan kamu mas Fattah ... tapi aku hamil ... harus apa aku?" Ringis Elsa.

__ADS_1


Dia menghabiskan waktu Sore nya di balkon rumah.


__ADS_2