
Sore hari balkon Rumah yang di kamar nya dan Fattah teduh. Karena matahari tenggelam ke arah yang sebalik nya. Dan disaat pagi Balkon itu panas, karena Matahari terbit tepat sejajar dengan Balkon yang menghadap ke Timur itu.
Elsa berjalan perlahan ke kamar Fattah.
Ia mengambil bantal ponsel serta Earphone.
Lalu kembali lagi ke balkon, sambil rebahan di bangku panjang yg ada di balkon itu. Dia pasangkan kabel Earphone ke ponsel ia menyetel lagu. "Terdiam Sepi " Nazia Marwiana
πΆπΆπΆπ΅π΅π΅π΅
***Terlambat sudah aku menyadari
Setelah hatiku kini terluka
Hatiku yang tulus selalu mencintai
Dan menyayangimu segenap jiwa
Kini kucoba untuk merenungi
Dalam hati ini kucoba bertanya
Apakah salahku hingga dirimu pergi?
Cintaku menjadi harapku sia-sia
Dalam diam kuterpaku mengingat kisah kita
Sedih hatiku tiada berbicara
Lemah diriku sungguh tidak berdaya
Kepergianmu membuatku tersiksa
Andaikan waktu bisa kuputar kembali
Kuingin dirimu tetap ada di sini
Melewati kisah cinta yang kita jalani
'Ku tak mampu bila dirimu pergi
Terdiam kutenggelam meniti sepi malam
'Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan
Mengalir air mata membasahi pipi
Kutepiskan semua dengan ikhlas hati
Andaikan waktu bisa kuputar kembali
Kuingin dirimu tetap ada di sini
Melewati kisah cinta yang kita jalani
'Ku tak mampu bila dirimu pergi
Terdiam kutenggelam meniti sepi malam
'Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan
Mengalir air mata membasahi pipi
Kutepiskan semua dengan ikhlas hati
Kuikhlaskan engkau pergi
Dalam hatiku pun sudah rela
Jika nanti kau kembali
Pintu hatiku selalu terbuka
__ADS_1
πΆπΆπΆπΆπΆπΆ***
Elsa sungguh menghayati lagu itu.
Dan kini lagu berganti dengan lagu "Cut Zuhra ' Mengalah "
Sampai pada lirik potongan lagu ini, hati Elsa begitu perih. Seakan diri nya duri dalam hidup Fattah.
πΆπΆπΆ
Mungkin kah takdir ku slalu dalam kesedihan,
yg ku harap menjadi kenyataan,sia sia ku korban kan
cinta dengan dengan perasaan,tapi sakit yg kini engkau berikan.
Cukuplah sudah aku ini kau sakiti,biarkan ku pergi
agar tak menjadi duri di dalam cintamu..
harusnya aku dari mula dulu menyadari,
bahwa diriku bukanlah yg terbaik untukmu,
perih nya hati ini tiada siapa yg tahu
cintamu bagaikan angin berlalu..
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Elsa mengelus perut nya sambil menghayati lagu tersebut.
"Sayang ... bunda harus apa sayang. Bunda nggak mau jadi beban ayah kamu. Bunda juga nggak bisa berpisah sama kamu ... sama ka Nazwa," lirih Elsa.
**Di bawah,
Fattah baru pulang kerja, dia langsung ke kamar Elsa untuk mengetahui sedang apa Elsa. Namun tidak menemukan Elsa di kamar nya. Fattah segera ke kamar ibu nya.
"Assalamu alaikum bu," lirih Fattah langsung salim pada ibu nya.
"Elsa mana buu?" Tanya Fattah.
"Dia tidak disini ... mungkin di dapur dengan bik Imah dan bi Siti," Sahut Ibu.
"Ya udah bu ... aku juga mau mandi dulu," lirih Fattah, dia keluar dari kamar ibu dan begegas berjalan ke dapur.
"Eh tuan ... tuan perlu apa?" Sapa Imah
"Bunda Nazwa mana bi?" Tanya Fattah langsung.
"Enggak kemari tuan," sahut Imah.
Fattah mulai panik. Dia ingin naik mencari di kamar Nazwa, namun ia hampir menabrak Nadia yang mengendong Nazwa.
"Ibu mana Nad?" Tanya Fattah
"Enggak tau tuan ... kami main cuma main berdua sama Nazwa di kamar atas," sahut Nadia.
Fattah semakin panik.
"Elsa ... jangan nekad Sa ..." lirih Fattah frustasi.
"Bi imah ... cari ibu di sudut rumah, bi Siti ... cari di luar, aku sama pak Fahri cari di jalan," seru Fattah.
Mereka segera berpencar sesuai Arahan Fattah. Baru beberapa langkah Fattah melangkah dari dapur. Ia merasakan nyeri di dada kiri nya.
"Akhhhh," pekik Fattah. Tangan nya memegang dada nya yang terasa nyeri.
"Bruggghh!!!" Fattah Ambruk di lantai.
"Ayah ..." pekik Nazwa yang minta turun dari gendongan Nadia. Nazwa menagis memeluk ayahnya yang tidak sadarkan diri.
"Cepat Telepon Dokter Syamsul," pinta Imah.
__ADS_1
Nadia segera menelpon Dokter Syamsul . Namun Fattah mulai sadar.
"Tuan ..." lirih Imah.
"Bik ... pinta pak Fahri bantu saya ke kamar atas bi.." pinta Fattah.
Siti keluar memanggil pak Fahri. Pak Fahri memapah Fattah meniti tangga menuju kamar atas. Perlahan Fattah di bantu Fahri berbaring.
Di bawah Dokter Syamsul baru datang
"Fattah?" tanya Syamsul
"Sudah di kamar Dok," sahut Imah.
"Bawa kan Air putih hangat," pinta Dokter.
Siti berlari mengambil gelas untuk menyediakan Air putih hangat. Segera Imah membawa nya mengikuti langkah kaki Dokter. Menyusuri tangga menuju kamar di atas.
"Ayah ..." Ringis Nazwa.
"Ayah ngantuk berat sayang ... maka nya ayah minta bobo ... kita main di luar yuk," bujuk Nadia. Nazwa bersedia.
Di kamar Fattah.
Syamsul sedang memeriksa Fattah.
"Jangan terlalu stres ... jantung kamu ini jauh lebih baik lo sejak Nazwa lahir," seru Dokter sambil menjentikan jari ke jarum suntik yang akan di suntikan ke Fattah.
Elsa di balkon merasa heran ada suara suara dari Arah kamar. Ia bangkit, lalu berjalan menyeret bantal masuk kekamar perlahan. Suara orang bicar pun semakin jelas.
"Kenapa bisa gini Fattah?" Tanya Syamsul sambil menggeser stetoskop di dada Fattah.
"Saya ...! Dokter Syamsul cepat!!! Saya ingin lanjutkan cari istri saya," seru Fattah terburu buru berusaha bangkit.
"Sabar ..." lirih Syamsul
"Nanti istri saya terlanjur jauh Dok ... saya nggak mau kehilangan istri saya!!!" Teriak Fattah.
Betapa terkejutnya Elsa melihat Fattah yang sangat pucat, berteriak mencari diri nya.
"Sayang ..." lirih Fattah yang melihat Elsa yang muncul dari arah balkon, dia bangun dan berjalan cepat ke arah Elsa
"Sayang ... kamu kemana aja ... mas takut," lirih Fattah membenamkan wajah Elsa kedada nya.
Elsa menarik diri dari pelukan Fattah.
"Maaf ... tadi aku santai di balkon," lirih Elsa
"Ketakutan anda berlebihan Fattah, istri mu ada dirumah. Lain kali kontrol emosi mu, bahaya bagi jantung mu kalau kamu terlalu panik dan khawatir yang berlebihan seperti ini," lirih Dokter sambil memberikan kertas resep obat
"Makasih Dok ... saya sudah lebih baik," lirih Fattah.
Fattah duduk karena dokter Syamsul menyuntiknya. Elsa menatap sayu wajah suaminya.
Imah, Fahri, dan Dokter Syamsul keluar dari kamar Fattah. Elsa masih menatap lekat wajah Fattah yang pucat. Hatinya sangat takut saat mengetahui Fattah ada masalah dengan jantungnya. takut
"Kamu kenapa?" Lirih Elsa ingin tahu lebih jelasnya.
"Aku nggak kenapa napa ... aku cuma takut kehilangan kamu, aku panik karena kamu ngga ada di kamar bawah, nggak ada di kamar ibu. Juga nggak ada di kamar Nazwa. Jangan pergi sayang ..." lirih Fattah menarik Elsa lagi kedalam pelukan nya.
"Mas takut banget kamu pergi ... bagaimana aku dan Nazwa dan mas tanpa kamu...." lirih Fattah.
Elsa dapat melihat cinta yang begitu besar dari Fattah buat nya.
"Maafin aku ... aku cuma takut jauh dari kamu, aku sudah biasa hidup sama kamu," ringis Elsa.
"Sethhstsss ..."
" Ngga akan sayang ..."lirih Fattah.
"Maafin aku ..." lirih Elsa.
"Maafin mas juga," sahut Fattah.
__ADS_1
Elsa mengangguk, dan menenggelamkan wajah nya ke dalam dada Fattah. Fattah merasa sangat bahagia, Elsa yang suka bermanja padanya kembali lagi.