Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
*Bab 18 Pil Pahit


__ADS_3

Indra, Damar dan Malik asyik dalam pembicaraan mereka.


"Assalamu alaikum," seru Fattah yang baru datang.


"Wa alaikum salam ..." sahut Indra Damar dan Malik.


"Wieh ... makin bersinar saja dia Ndra ... khasiat dari daun muda ya?" Tanya Malik


Fattah tersenyum mendengar pertanyaan teman masa kecil nya itu.


"Ndra. Masih ada nggak stok Daun muda, kali aja … ada anak OB di kantor kamu kek," rengek Damar.


"Kalian ini. .." lirih Fattah.


Fattah duduk bergabung bersama teman teman dan kakak nya.


"Eh Fattah ... gimana sih rasa nya daun muda???" Tanya Malik penasaran.


"Sebenar nya aku pengen angkat 8 jempol ... tapi sayang jempol tangan aku cuma2," jawab Fattah.


"Aku penasaran ... gimana sih rasanya membongkar keperawanan cewek ... secara aku masih nggak laku," rengek Damar.


"Hem ... heshhht ... LUAR BIASA!!! bakal nagih terus kamu Damar!! Apalgi kalau dalemnya??? herrrrr...!!!!,


serasa?" Goda Fattah, exprsi Fattah membuat Damar merinding.


"Kamu Fattah ... ngga jaga perasaan jomblo baper ih ..." sahut Damar.


"Yah ... kok aku? Kan kamu yang nanya!!!" Seru Fattah.


"Cepet banget kamu bikin bunting anak orang, kamu hajar tanpa ampun dia?" Tanya Malik.


"Hem ... mumbadzir rezeki di depan mata nggak di makan ... istri ku kan lagi bunting, Vitamin aku ngga kepakai dulu, kasian bayi aku kalo aku tusuk terus.


Neh Vitamin aku dulu," seru Fattah melempar bungkusan kecil kemeja.


Indra dan Malik rebutan.


Fattah tertawa terbahak melihat kakanya dan Malik rebutan.


"Kamu nggak mau Damar?" Tanya Malik karena kalah cepat sama Indra.


"Kemana aku nidurinnya? kalo aku makai itu," sahut Damar lemas


"Gila ...!!! Ini mah vitamin C," teriak Indra membuka plastik yang di lempar Fattah tadi.


Mereka tertawa terbahak bahak. Menyadari Fattah menjahili mereka.


"Kalo ini aku mau ... soalnya aku lagi sariawan," seru Damar merebut vitamin C yang dikira Indra obat kuat.


"Eh kita keluar yuk, lama kita ngga keluar bareng," seru Malik.


"Boleh boleh ..." seru Damar sambil mengunyah vitamin C yang ia ambil tadi.


"Kamu Fattah? Ikut ngga?" Tanya Indra.


"Aku cek Elsa dulu ya. Kasian dia lagi hamil ... kalo dia baik baik aja aku ikut," sahut Fattah.


Fattah segera masuk ke kamar Elsa.


Melihat Fattah yang masuk kekamar di dekat mereka, Indra, Malik dan Damar saling tatap.


Fattah sudah masuk ke kamar Elsa. Indra langsung mengejar.


Fattah melihat Elsa berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Fattah duduk di lantai di samping istri nya yang berbaring di tempat tidur, lalu membelai halus wajah Elsa dan membelai perut buncit Elsa.


Fattah ingin mengecup bibir Istri nya langsung batal ketika mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Indra yang membuka pintu tanpa mengetuk.


"Esshhhhh!!! Kaka kenapa nggak ketok dulu sih," Fattah protes karena ia kaget dan tak jadi mencium istri nya.


"Kok kamu disini?" Tanya Indra pura pura.


"Ini kamar kami sampai Elsa lahiran nanti," sahut Fattah.


"Lho ... Elsa disini?" Tanya Indra pura-pura lagi


"Iya ... dia tidur ... lihat aku gini in aja nggak bangun bangun," seru Fattah sambil menciumi Elsa di hadapan Indra.


Indra lega mengetahui Elsa tidur,


"Hem ... silahkan di lanjut ... aku kira kamu nyimpen selingkuhan disini," seru Indra sambil keluar dari kamar Fattah.


Indra menatap teman teman nya, lalu berkata tanpa Suara "Tidur " sambil memberi isyarat menangkupkan kedua tangan nya dan diletakkan disisi pipi nya.


Malik dan Damar lega. Mereka sungguh menyesal kalau pembicaraan mereka di dengar Elsa.


Fattah langsung mandi, setelah mandi ia sholat dan ganti baju. Ia mencari bik Imah berpesan kalau Elsa mencari nya, ia keluar bersama Indra dan teman teman nya. Setelah menyampaikan pesan kepada Imah, Fattah pergi keluar bersama Indra, Malik dan Damar.


***


Mereka santai di sebuah Cafe. Mereka habiskan untuk saling melepas rindu karena sangat lama tak bertemu. Hangat hangat nya pembicaraan. Seorang wanita berjalan ke arah meja mereka. Damar segera merapikan baju nya untuk menyambut wanita yang datang ke arah meja mereka.


"Hai Fattah ... ingat Aku?" Kata wanita itu.


"Oh ... Bety?" Seru Fattah


Wanita itu mengangguk, dan mengulur kan tangan nya. Fattah berdiri dan menyambut uluran tangan Bety.


"Cup!" kecupan hangat dari bibir Bety mendarat di pipi Fattah. Bety menyender di bahu Fattah.


Fattah merasa risih.


"Bety. Tolong jaga sikap, aku sudah menikah Bety," lirih Fattah


"Mending sama kaka ... kakak masih bujangan," seru Damar mendekati Bety.

__ADS_1


Bety memeluk lengan Fattah, dan menenggelamkan wajah nya di lengan itu, sengaja meninggalkan bekas lipstiknya di lengan kemeja Fattah.


"Kak ... semua aku pamit ... aku paling nggak suka sama wanita yang gak punya muka begini!!" Bentak Fattah sambil mendorong Bety.


Damar mundur, membaca Bety bukan wanita baik baik kalau dilihat dari genit nya.


Bety terpaksa pergi, penolakan Fattah membuat ia hilang muka.


Saat Adzan Magrib berkumandang Fattah singgah di salah satu mesjid dan sholat di sana, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah nya.


Sesampai di rumah ia langsung masuk kamar, ia melihat Elsa tengah sholat duduk di kursi, dan kaki nya menjuntai. Karena Elsa tidak sanggup Sholat dengan Normal.


Melihat Elsa salam Fattah mendekat, menunggu Elsa selesai berdo'a..Setelah Elsa selesai berdo'a Fattah langsung memeluk nya.


Hati Elsa sudah hancur mendengar kata kata Indra tadi sore. Melihat Fattah hanya kebencian yang ada.


"Lepas!!!" bentak Elsa.


"Nggak mau ..." sahut Fattah manja.


"Aku mual cium bau parfum kamu ... bau nya seperti punya wanita!!!" Bentak Elsa, ia mendorong Fattah dan menutup hidung nya.


Fattah ingat Bety yg tadi menempel pada nya,


"Hem ... penciuman bumil kan tajam ...? seperti nya nanti aku harus jaga jarak, kalau nggak mau Elsa salah faham," lirih hati Fattah.


"Duggggg!!!!!" Lagi lagi batin Elsa sesak melihat cap bibir di kemeja Fattah.


"Keluar dari sini!!" Teriak Elsa.


Fattah memandang Elsa meminta jawaban kenapa dia harus keluar.


"Keluar ...!!!!!" Teriak Elsa sangat kencang.


Fattah kaget melihat Elsa berteriak histeris seperti itu. Bik Imah dan Fahri mengetuk kamar Elsa.


"Non ... non ... non kenapa?" Lirih Imah dari luar.


Karena tidak ada jawaban Imah membuka pintu kamar perlahan. Melihat ada Fattah di dalam Imah menutup pintu lagi.


Fattah mendekati Elsa. Melihat Elsa menutup hidung nya Fattah pun berhenti.


"Kamu kenapa sayang?" irih Fattah lembut.


"Aku mohon ... keluar ... aku ingin sendiri ..." lirih Elsa menangis.


Melihat Elsa menangis Fattah terpaksa mengalah dan keluar dari kamar.


"Bik Imah ... Elsa kenapa?" Tanya Fattah melihat Imah dan Fahri berdiri di depan pintu kamar Elsa.


"Tadi baik tuan, non Elsa nggak keluar kamar lagi saat Tuan Indra datang tadi sore," jawab Imah.


"Mungkin bawaan bayi tuan. Emosi bumil kan sulit di tebak," sahut Fahri


Ia duduk di kursi tamu, namun batin nya masih mengganjal, Fattah pun kembali ke kamar Elsa.


Benar saja, ia melihat pemandangan yang memilukan. Elsa menangis histeris dan nampak sangat hancur.


"Sayang ... kamu kenapa? Jangan nangis. Sayang … tolong bilang ada apa? Mas khawatir sayang ..." lirih Fattah. Air mata nya juga ikut tumpah melihat Elsa sekacau ini. Yang membuat sangat khawatir, Elsa tengah hamil.


"Cup cup cup ... Fattah nangis ...? kasian ...." lirih Elsa yang berjalan mendekati Fattah dan membelai wajah Fattah.


Fattah menatap wajah Elsa yang sembab dengan tatapan lemah, hati nya sangat sakit melihat Elsa seperti tertekan seperti ini.


"Apa salah aku? Dari awal perkenalan aku sudah minta kamu untuk menolak jika aku bukan pilhan kamu, jika kamu tidak menginginkan aku, sekarang sudah seperti ini, aku tidak berdaya lagi ... apa salah aku? Kamu berhak menolak sebelumnya. Apa salah aku. Aku nggak mau di kasihani ..." ringis Elsa.


"Sayang ... kamu kenapa ... jangan menyiksa mas seperti ini ..." lirih Fattah.


"Sayang ... hah ..." Elsa tersenyum sambil menangis


Fattah semakin takut melihat istri nya ini.


"Menyiksa ...? Aku yang tersiksa!!!" Teriak Elsa.


"Aku ...!!!!!! Akkkkk .....!!!!! Hekhhhhhh ...." pekikan Elsa. Tangannya memegangi perutnya.


Elsa Ambruk, namun Fattah sempat menangkap nya.


"Pak Fahri!!!! bi Imah!!! Bantu saya..!!!!!" Teriak Fattah.


Fahri dan imah langsung masuk kamar. Melihat Elsa yang tidak sadarkan diri mengenakan mukena di pelukan Fattah, Fahri langsung membantu Fattah mengangkat Elsa sedang Imah langsung meraih kunci mobil Fattah dan membuka kan pintu kamar selebar nya.


Setelah merebah kan Elsa di bagian belakang bersama Imah, Fattah segera melajukan mobil nya menuju rumah sakit. Sedang Fahri kembali kedalam rumah, ia memasukan baju fattah dan Elsa yang tersusun di ruang laundry di rumah itu kedalam tas, lalu mengambil selimut. Fahri juga segera melaju menuju rumah sakit yang biasa di datangi Elsa dan Fattah.


Sampai rumah Sakit Elsa langsung di tangani Dokter yang biasa memeriksa nya.


Dokter selesai memeriksa Elsa.


"Pasien stres, tertekan juga trauma berat, seperti nya harus di rawat," seru Dokter.


Fattah mengangguk. Setelah lama menjalani pemeriksaan lanjutan Elsa kini sudah berada di ruang perawatan. Selang infus sudah menancap di tangan Elsa.


Fattah menunggui istri nya itu. Bi Imah dan Fahri di minta Fattah pulang untuk jaga rumah.


***


Pagi pagi bi Imah dan pak Fahri kerumah sakit membawa makanan, karena sejak tadi malam majikan mereka belum makan.


Elsa mulai sadar, emosi nya meledak lagi melihat Fattah di hadapan nya.


"Pergi ...!!!!" Teriak Elsa,


Para perawat dan Dokter segera ke ruangan Elsa.


Fattah di minta Dokter keluar. Fattah terpaksa keluar, membiarkan tim medis memeriksa Elsa. Setelah Fattah keluar Elsa kembali tenang, Dokter memeriksa kandungan Elsa dan lain nya. Setelah Selesai Dokter memanggil Fattah agar keruangan nya, Fattah segera mengikuti Dokter itu.

__ADS_1


Di ruangan dokter.


"Apakah Ada masalah keluarga?" tanya Dokter.


"Sama sekali tidak Dok," jawab Fattah.


"Emosi nya seketika meledak melihat anda, perasaan nya pun tertekan, tekanan itu sangat buruk akibat nya pada ibu dan bayi nya," terang Dokter.


"Apa yang harus saya lakukan dok ...?" Tanya Fattah.


"Buat dia nyaman, tanya pada nya apa yang membuat nya nyaman ..." jawab dokter.


Fattah langsung keluar dari ruangan Dokter. Perasaan nya sungguh hancur, kenapa Elsa tiba tiba begitu benci pada nya. Fattah masuk ke ruangan Elsa, lagi lagi dia melihat kemarahan dari wajah istri nya itu.


"Jangan begitu ... aku mohon ... aku nggak percaya semua ini bawaan bayi kita. Apa yg kau ingin kan?" Tanya Fattah.


"Aku ingin pulang kerumah bibi," jawab Elsa ketus.


"Baik ... aku antar kamu pulang kerumah bibi ..." ucao Fattah lirih.


"Aku nggak mau kamu antar," ucap Elsa lantang.


Imah kaget mendengar teriakan Elsa.


Fattah semakin sesak melihat kebencian Elsa pada nya. Di antarnya saja tidak mau.


"Baik ... Jika kamu sehat ... Pak Fahri akan antar kamu pulang kerumah bibi Maya, dengan syarat. Kamu makan dulu, bi Imah ... pastikan dia makan," seru Fattah


Imah segera membawa makanan yang ia bawa dari rumah ke Elsa dan kembali pada Fattah, memberikan makanan buat Fattah.


"Pak Fahri ... antar bi imah pulang, bik Imah ... tolong siapkan semua keperluan Elsa untuk pulang," perintah Fattah.


Imah dan Fahri langsung undur diri.


Fattah dan Elsa sama sama menghabiskan makanan mereka. Sedikitpun Elsa tidak melirik Ke arah Fattah.


Selesai makan Fattah keluar meminta Dokter memeriksa Elsa, karena Elsa akan melakukan perjalanan yang agak jauh. dan memastikan keadaannya dan bayi nya.


Dokter tengah memeriksa Elsa. Sedang Fattah menelpon paman Wijaya.


"Assalamu alaikum paman ..." lirih Fattah.


"Wa alaikum salam, ada apa Fattah ... tumben nelpon," seru Wijaya.


"Paman ... Boleh aku negerpotin paman lagi? Elsa merengek minta tinggal sama kalian, mungkin bawaan bayi paman,"


"Ya ampun ... gitu aja minta izin ... kapanpun kalian mau datang ... datang saja, ini juga rumah kalian,"


"Masalah nya cuma Elsa sendiri paman, aku nggak bisa ngantar, banyak kerjaan. Aku takut nanti nenek dan semua nya salah sangka," lirih Fattah.


"Iya nggak apa apa ... mungkin Elsa bosan sendiri di sana, mungkin juga rindu nenek nya. Kamu yang tenang Fattah, kami akan jaga Elsa baik baik disini," sahut Wijaya.


"Titip Elsa paman ... Assalamu alaikum," lirih Fattah.


"Wa alaikum salam," sahut Wijaya.


Panggilan telepon berakhir.


Dokter mengatakan Elsa baik baik saja, Fattah segera menyelesaikan pembayaran rumah sakit.


Kini Elsa duduk di kursi Roda menuju mobil mereka.


"Fattah ... siapa yang sakit?" Sapa seseorang.


"Hei Riani? Yang sakit Istri aku ... ada sedikit masalah, tapi sudah baik kok," sahut Fattah.


Elsa diam, sedikit pun tidak menoleh.


"Istri kamu? ini? hahhh!! Aku kira pembantu kamu," sahut Wanita itu.


Bertambah sakit hati Elsa, pil pahit yang kemarin saja belum hilang, kini ia menelam kembali pil pahit yang baru. Namun dia pura pura tidak menanggapi.


Fattah begitu kesal dengan ucapan teman nya itu,


Segera ia mempercepat langkah nya mendorong kursi roda itu.


"Hem ... malu dia di katain istri seperti pembantu?


Gak usah malu itu realitanya gini mau gimana?" Lirih hati Elsa


Fattah membuka pintu depan mobil. Namun Elsa turun sendiri dan masuk ke bagian belakang.


"Tolong duduk di depan ... aku bukan sopir mu ... aku suami mu," lirih Fattah.


Elsa langsung membanting pintu belakang mobil Fattah dan berjalan menjauh dari mobil Fattah.


"Bumil ....." lirih Fattah pelan.


Fattah terpaksa mengalah dan mengejar Elsa.


"Okey ... duduk lah dimana pun kamu mau ... kamu mau kerumah nenek kan? Pak Fahri sudah siap di rumah," seru Fattah.


Elsa berbalik menuju mobil Fattah dan duduk di belakang, Fattah pasrah mengikuti kemauan Elsa.


Sepanjang perjalanan Elsa hanya diam menatap nanar jalananan yang dilalui dari kaca mobil di samping nya. Fattah terus mengemudi, sesekali melirik Elsa di kaca depan Mata nya.


Sesampai rumah Elsa masuk dan mengambil tas serta ponsel nya. Lalu keluar lagi dan langsung masuk ke mobil pak Fahri.


Melihat Elsa yang sudah di mobil Fattah tak bisa apa apa.


"Pak Fahri ... tolong antar bunda Nazwa," lirih Fattah.


Fahri segera masuk mobil, lalu perlahan melajukan mobil itu. Karena semua perlengkapan sudah selesai di siapkan sedari tadi.


Elsa meninggalkan rumah orang tua Fattah dan menuju ke rumah nenek nya. Membawa perasaan sakit yang luar biasa. Baru mengetahui kalau dirinya dinikahi suaminya karena terpaksa, sebab salah faham antara kaka iparnya dan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2