Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
Bab 9 *Pernikahan


__ADS_3

Kedua belah pihak keluarga telah setuju dengan hari pernikahan yang di tetapkan.


Sepakat. Akad Nikah di KUA dan resepsi sederhana di rumah Wijaha.


Hari menuju pernikahan pun semakin dekat.


aktivitas di rumah Maya semakin ramai.


Keluarga legkap berkumpul, hanya Ardi saja yang belum datang. Ardi akan datang pas hari H nya saja. Dia tidak bisa libur terlalu lama.


Ardi sudah kelas 12 SMK, tak mungkin baginya terlalu lama izin,hanya membuatnya tertinggal banyak mata pelajaran.


Hari yang paling di tunggu pun tiba.


Semua persiapan sudah Rampung, tenda tenda berdiri, pelamiman juga siap untuk di tempati kedua mempelai.


Elsa tengah di rias oleh MUA yang sebelumnya meriasnya waktu tunangan. Elsa terlihat sangat cantik, dengan balutan kebaya panjang berwarna putih. Wangi bunga melati memenuhi ruangan itu. Juntaian melati di kepala Elsa dengan beberapa Aksesori semakin menambah cantik pengantin ini.


Elsa berjalan ditemani Maya dan Wijaya.


Karena pagi ini Elsa Nenek dan Wijaya mengantar Elsa Ke KUA, untuk prosesi ijab kabul di sana. Elsa Melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah siap mengantarnya ke KUA.


Elsa memandangi tenda-tenda yang berdiri, kursi dan meja yang berjejer. Hidangan juga mulai tersusun di meja saji. Matanya memandang ke arah pelaminan. Tatapannya Kosong. Ia bingung, bahagia atau bersedih.


Kini langkah Elsa sudah sampai ke mobil yang akan mengantarnya. Setelah Elsa masuk, kini Marni dan Wijaya, serta Ardi masuk juga kemobil. Menemani Elsa yang akan melangsungkan Akad nikah. Mobil perlahan melaju meninggalkan rumah Wijaya, menuju kantor KUA.


Hanya bekendara sebentar Elsa sudah sampai di KUA. Di sana keluarga besar Fattah sudah menunggu. Mata Elsa tengah mencari seseorang yang dirasa kurang dari jejeran orang yang menyambutnya.


Istri Indra dan istri Rahman segera menyambut Elsa dan neneknya. Mereka segera Masuk untuk bergabung dengan ibu Fattah, dan keluarga perempuan lainnya.


Wijaya dan Ardi juga langsung bergabung dengan Indra, dan kakak-kakaknya.


Baru duduk, seorang pegawai KUA meminta mempelai Wanita mengikutinya. Elsa pun segera mengikuti pegawai KUA itu. Elsa sampai di suatu Ruangan, Ia ber wali pada seorang yang akan menikahkannya.


Selesai berwali pada seorang yang disebut Wali hakim, Elsa berjalan bersama penghulu menuju Ruang akad nikah. Tapi, Elsa di minta menunggu di luar ruangan.


"Setelah selesai Akad silahkan bawa mempelai wanita masuk keruangan," kata Penghulu. Mereka semua mengangguk.


Semua orang memasuki ruang Akad nikah, hanya Elsa dan istri Indra yang menunggu di luar. Semua sudah siap pada posisi masing-masing. Setelah Do'a pembuka dan lainya, Penghulu mulai ancang ancang bersiap melakukan ijab kabul.


"Saksi siap?" Tanya penghulu.


"Siap!" sahut kedua saksi.


"Pengantin pria siap?" Tanya penghulu.


"Insyha Allah siap," sahut Fattah.


Suara penghulu pun jelas terdengar.


Kemudian di sambung Suara Fattah yang begitu lantang mengucap Akad Nikahnya.


satu kali sentakkan kata ''SAH !!!" terucap dari mulut kedua saksi.


"Alhamdulillah ...." Gemuruh suara yang ada di ruangan itu.


Elsa menggenggam jari-jemarinya. kini ia menjadi seorang istri, dan juga ibu sambung bagi Nazwa putri Fattah.


Istri Rahman datang mengahampiri Elsa, mereka berjalan memasuki ruangan akad. Elsa di apit oleh istri-istri kakak Fattah.


Fattah tengah membacakan sighat Taqlik pernikahan. Tiba-tiba Elsa duduk di sampingnya.


Entah kenapa darahnya langsung mendidih melihat wanita yang sudah sah menjadi istri nya itu. Suara Fattah yang tadi lantang pun menjadi bergetar. Namun ia tetap meneruskan membaca semua isi sighat Taqlik pernikahan itu. Selesai mengucap Sighat taqlik, kini penghulu memimpin do'a.


Para pegawai KUA dan lainya, selain anggota keluarga menyantap makanan yang sudah disiapkan keluarga Fattah. Sedang Fattah dan Elsa berserta keluarga yang ada melakukan sesi foto-foto bersama.


Foto pertama dilakukan Elsa dan Fattah.


Elsa mencium tangan Fattah, setelahnya Fattah menyerahkan mas kawin, lalu memakai kan cincin Pernikahan di Jari Elsa. Mereka terus berfoto dengan Anggota keluarga lainnya.


Selesai di KUA Elsa dan rombongan keluarga Fattah segera menuju ke rumah Wijaya, untuk melangsungkan Resepsi. Sesampainya di rumah Wijaya, tamu-tamu undangan antusias menyambut pasangan pengantin yang baru turun dari mobil. Semua mata memandangi Elsa dan Fattah.


Pasangan pengantin pun langsung menuju pelaminan. Elsa hanya mengenakan Baju kebaya panjang yang ia kenakan pagi tadi.


Sengaja ia hanya memilih 1 baju, karena resepsi ini hanya sampai jam 12 siang saja.


Elsa dan Fattah duduk di pelaminan, di temani Wijaya dan Maya, serta Ibu Fattah dan Rahman. Para tamu pun mulai naik ke pelaminan mengucapkan selamat kepada pengantin itu.


Sesekali Elsa memandangi neneknya yang duduk dekat pelaminan itu. Marni pun tak mengalihkan pandangannya dari memandang cucunya yang tengah bersanding di pelaminan itu. Elsa selalu melempar senyumnya pada neneknya. Fattah begitu bahagia melihat senyuman lepas Elsa, buat neneknya itu.


Hari semakin siang, para tamu mulai ber angsur pulang. Keadaan tenda pun mulai lengang. Elsa segera turun, mendekati neneknya.


Setelah sampai di dekat sang nenek, Elsa langsung memeluk neneknya, yang sangat ia sayangi. Elsa meraih kursi lain, dan duduk di samping neneknya. Marni membelai wajah cucunya yang semakin cantik dengan riasan itu.


Elsa menumpahkan semua rasa yang tidak menentu di hatinya, sambil bersandar di pundak neneknya. Ia benar-benar tidak tahu, langkah apa yang akan ia tempuh setelah menikah ini. Dari pelaminan fattah mengabadikan Momen Elsa bersandar pada neneknya, dengan kamera ponselnya.


Keadaan benar-benar sepi, karena hampir tengah hari. Sebelum pulang Keluarga Fattah foto bersama, setelah selesai foto-foto semua anggota keluarga Fattah pun juga undur diri.


kini pesta pun sudah usai.


Kini para pegawai penyewaan tenda yang sibuk membongkar tenda di depan rumah.


juga para buruh perias pengantin membongkar pelaminan. Suara riuh sorak sorai para pekerja pun sangat ramai terdengar.


Melihat keseruan itu Fattah yang sudah mengenakan baju santai, segera ikut bergabung dengan warga dan para pekerja lain nya.


"Hei pengantin ... mending bongkar bongkar punya istri saja dari pada bongkar tenda ...." seru salah satu Warga.


Suara gemuruh tawa para warga terdengar menggemuruh, Fattah hanya tersenyum menanggapi mereka, dia tetap membantu Paman Wijaya dan lainnya.


Setelah tugas dzuhur, Elsa segera mencari neneknya, di kamar sang nenek.


Marni kaget, melihat kedatangan cucunya.


"Lho kesini Sa ... mending temani suami kamu sana," pinta Marni.


"Dia lagi di luar, sama paman Wijaya dan warga lain," sahut Elsa.


Marni duduk, meluruskan kakinya di tempat tidur, sambil memijat kakinya.


"Nenek capek? Sini Elsa pijit," serunya,


ia duduk di samping neneknya,dan mulai memijat kaki neneknya.


Marni tersenyum melihat cucunya yang begitu perhatian padanya.


Semuanya kini sudah beres. Rumah wijaya kembali rapi. Sudah dua kali Fattah masuk ke kamar Elsa, namun ia belum melihat batang hidung Elsa setelah mereka turun dari pelaminan tadi.


Elsa sengaja menghabiskan waktu dengan berbaring di kamar neneknya, sambil memeluk tubuh neneknya. Sebenarnya ia menghindari bertatap muka dengan Fattah.


"Apa yang akan aku lakukan, jika berduaan di kamar dengan suamiku?" Batin Elsa.


Elsa Faham betul, seperti apa tugas istri.


Ia lebih memilih sembunyi di kamar sang nenek. Fattah sendirian rehat di kamar istri lnya itu. Alasan Elsa keluar, hanya karena kamarnya tidak muat jika Sholat bersama di sana. Karena kamarnya yang sempit , belum lagi, Maya mengganti tempat tidur Elsa dengan ukuran yang lebih besar, dari sebelumnya. Semakin membuat kamar Elsa sempit.


Malam menggantikan siang ...


Sang Surya yang seharian menerangi bumi sudah tenggelam di ujung senja. Saat Fattah lewat mengambil Wudhu, Elsa segera masuk kekamarnya mengambil handuk dan baju ganti,.ia belum mandi sore. Setelah mengambil keperluannya, Elsa kembali lagi kekamar sang nenek.


"Lah ... kok kembali?" Tanya Marni, saat melihat Elsa masuk lagi ke kamarnya


"Anu nek ... kamar Elsa sempit! Susah sholat, kalau Elsa sholat di kamar, kasian suami Elsa, ia pasti ngga enak istirahat di kamar, jika Elsa sholat di sana. Elsa di sini sampai isya ya nek ...." Alalasan yang sama, Elsa utarakan, semata untuk menghindar dari Fattah.


"Kamu menghindari suami kamu? Dosa lho Sa!" Seru Marni.


"Enggak ... nenek curigaan banget si ...."sahut Elsa.


"T**api emang benar sih nek, kalau aku menghidari Fattah, kalau perlu aku tidur sama nenek," lirih harti Elsa.


Setelah sholat magrib Elsa membantu bibinya di dapur. Selesai masak-masak, Adzan Isya pun berkumandang. Segera Elsa wudhu lebih dulu. Dia sangat malas bertatap wajah dengan Fattah.

__ADS_1


Rumah wijaya hanya punya 1 kamar mandi.


Di sekitar kamar mandi itulah tempat Wudhu dan Wc.


"Ya ampun ... buru-buru banget sholat isyanya, sudah kebelet Sa?" ledek Maya.


"Puas-puasin aja bi ... Entar bibi nyesel jahilin Elsa terus!" Rengek Elsa.


Elsa mempercepat langkahnya, Namun kali ini ia bertatap muka dengan Fattah. Elsa hanya menunduk dan langsung masuk ke kamar neneknya.


" Huh ... ini dia ... aku kira dia kabur! Dari tadi siang tak kelihatan batang hidungnya," lirih hati Fattah.


Selesai sholat Isya, Elsa segera menyajikan makanan di meja makan. Wijaya, Dzikri, Maya dan nenek sudah datang ke meja makan.


Sedang Ardi anak pertama Wijaya sudah pulang sejak sore tadi ke kost an nya.


"Sa ... panggil Fattah ajak makan malam." pinta Maya.


"Dzikri ganteng ... panggilin kaka Fattah dong ...." lirih Elsa meminta Dzikri.


"Elsa ...." lirih Marni.


"Iya nek ...." sahut Elsa. Elsa segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya memanggil Fattah.


Elsa mengetok pintu dua kali, lalu ia membuka pintu kamar itu, perlahan. Terlihat Fattah sedang duduk di tepi tempat tidur memainkan ponselnya.


"Makan malam ... semuanya sudah menunggu anda," lirih Elsa.


Fattah segera berdiri, ia letakkan ponselnya, lalu ia berjalan menuju Elsa. Elsa juga segera keluar dari kamar, melihat Fattah mulai berjalan ke arahnya. Elsa dan Fattah bergabung di meja makan dengan yang lainnya.


Semua orang menikmati makanan mereka.


tidak ada yang bicara, karena masih merasa canggung dengan anggota keluarga baru.


Selesai makan Malam, Wijaya mengajak Fattah duduk santai di ruang tamu.


sedang Dzikri langsung menyerbu Tv untuk nonton acara Favorite nya.


"Sudah ... kamu kekamar saja istirahat, temani suami kamu," lirih Maya.


"Tapi bi ...." lirih Elsa.


"Nggak ada tapi tapi ... hus es es ... sana!" Usir Maya.


Elsa meninggalkan dapur. Ia masuk kekamar neneknya.


"Kenapa lagi kamu kesini," seru Marni melihat cucunya masuk ke kamarnya.


"Mau melepas rindu sama nenek." jawab Elsa.


"Sudah! Nggak berlaku lagi alasan kamu," seru Marni.


"Ih ... kenapa sih ngga ada lagi yang sayang sama Elsa ... jangan-jangan kalian udah bosan ya sama Elsa ... jangan-jangan kalian nikahin Elsa, karena malas lihat wajah Elsa. Bibi ngusir nenek ngusir, aku ke sini ngambil mukena sama sajadah aku nek ...." gerutu Elsa. Membela diri.


"Bukan gitu sayang ... tapi kewajiban kamu sekarang, suami kamu Elsa ...." seru Marni.


"Iya tau ...Elsa cuma bercanda," Sahut Elsa


ia pun segera keluar dari kamar neneknya.


Elsa sangat sebal, dia tidak bisa menghindari Fattah lagi. Terpaksa ia melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya. Baru sampai di depan pintu kamar, terdengar suara tawa dari Arah ruang tamu . Ia intip sedikit, terlihat, Fattah sedang mengobrol dengan Wijaya.


Segera Elsa masuk ke kamarnya, lalu melepaskerudungny, dan langsung berbaring di tempat tidurnya.


Di ruang tamu...


"Fattah ... kini kamu sudah jadi suami Elsa, tolong jaga dia, bimbing dia, nasehati jika dia salah ... dia memang bukan anakku, tapi sedari kecil kami mengurus nya," lirih Wijaya.


"Insya Allah paman, saya akan menjaganya dan membahagiakan nya semampu saya.


Saya juga mohon bimbingannya paman," sahut Fattah.


"Sudah malam neh ... selamat istirahat Fattah ... soalnya aku besok kerja," seru Wijaya.


"Selamat malam paman," sahut Fattah.


Wijaya segera mematikan lampu terang dan menyalakan lampu redup, lalu ia lebih dulu masuk ke kamarnya. Fattah juga harus masuk ke kamar istrinya.


Fattah membuka pintu kamar perlahan, terlihat Elsa sudah berbaring di tempat tidur. Fattah pun duduk di sisi tempat tidur yang kosong. Hasratnya sangat ingin memyentuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Namun takut dan Malu.


Mengingat, rumah Wijaya hanya punya datu kamar mandi yang di pakai semua anggota.


Rasa canggung dan malu Fattah, kian besar, kalau harus terlihat mandi basah pagi nanti.


Anggota rumah pasti maklum, tapi tetap malu. Padahal hal ini Lumrah di lakukan oleh pengantin baru.


Fattah menatap lekat Elsa yang berbaring, tanpa memakai kerudung lagi. Merasa tidak nyaman, Elsa perlahan membuka matanya.


Fattah kaget, saat melihat Elsa membuka matanya.


"Maaf ... aku tidur lebih dulu, tadi ku lihat anda asyik bicara sama paman," lirih Elsa.


Elsa langsung bangun, dia duduk bersandar di kepala ranjangnya.


"Maaf, jika aku membangunkanmu,"


Fattah memandang wajah Elsa..Degupan Jantung keduanya seakan lomba lari maraton. Lagi-lagi Fattah terbayang, bagaimana pagi nanti jika menyentuh istrinya ini.


"Tidurlah ... kamu pasti lelah, aku juga sudah mengantuk," ucap Fattah mengusir ke inginan syahwatnya.


"Huuh ... lega ...." batin Elsa.


Elsa kembali berbaring. Malam itu pun berlalu dengan mimpi masing-masing.


***


Adzan subuh belum berkumandang. Elsa sudah bangun dan mandi. Pagi-pagi buta dia juga sudah memasak untuk sarapan nanti.


Suara kajian dari corong Mushalla dekat rumah sudah memecah sunyinya pagi.


Fattah membuka matanya, namun tak terlihat sosok wanita yang sudah menyandang status istrinya itu. Fattah segera bangun untuk mandi, menyegarkan tubuhnya untuk Sholat subuh.


Fattah melihat Elsa berjibaku di dapur sendirian. Saat Elsa menatapnya ia hanya tersenyum dan langsung masuk ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Elsa sudah tak ada lagi di dapur.


Fattah segera kembali ke kamar untuk menunaikan sholat subuh. Sebelum masuk kekamar, terlihat bayangan dari ruang tamu. Fattah melangkahakan kaki kearah ruang tamu, untuk memeriksa, Ternyata Elsa tengah sholat subuh di ruang tamu. Fattah segera kembali ke kamar dan menunaikan sholat subuh.


Maya tersenyum, melihat pagi-pagi sarapan sudah tertata di meja, "Elsa ...." gumamnya.


Semua orang menunaikan tugas subuh masing-masing.


Hari mulai siang, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Elsa datang ke meja makan bersama Fattah.


"Sa ... masak jam berapa?" Tanya Maya.


"Ngga lihat jam bi ... tapi pas masuk subuh Elsa sudah selesai," sahut Elsa.


"Pasti kamu ngga tidur semalaman ya ...." goda Maya.


Fattah yang tengah makan tersedak, mendengar kata-kata Maya barusan. Elsa langsung memberikan air minum pada Fattah.


"Sudah ... makannya pelan-pelan, kalau masih penasaran dan kurang puas, nanti kan, bisa di ulang ...." goda Maya lagi.


"Maya!" Bentak Marni, matanya melirik Dzikri


"Maaf mak ...." sahut Maya.


Mereka meneruskan sarapan pagi mareka. Selesai sarapan Wijaya langsung berangkat ke kantor, sedang Maya mengantar Dzikri Sekolah. Elsa kembali melakukan rutinitas di rumah, seperti biasanya. Elsa mencuci baju semua orang, ia sengaja lama mencuci agar tak bertemu Fattah.


Elsa tengah menjemur cuciannya, sedang Fattah santai di teras rumah Wijaya.


Sesekali Fattah curi-curi pandang melirik Elsa yang sibuk menjemur semua cuciannya. Selesai dengan cuciannya, Elsa kembali masuk kedalam rumah. Ia melihat Fattah tengah santai di teras rumah.

__ADS_1


Perasaan Elsa sangat lega, karena Fattah tak di kamar, Elsa masuk segera ke kamarnya untuk ganti baju. Di luar rumah Fattah merasa bosan, ia kembali kedalam rumah, langsung menuju kamar, niatnya untuk mengambil ponselnya.


Fattah perlahan membuka pintu kamar, tersuguh pemandangan pagi yang indah, melihat Elsa hanya mengenakan dalaman, dia tengah memakai baju. Fattah mengurungkan niatnya. Dia keluar, dan duduk di ruang tamu.


Setelah elesai ganti baju, Elsa segera ke kamar neneknya. Setelah sampai di kamar neneknya, terlihat Marni tengah tidur. Pura-pura tidur tepatnya, agar Elsa tak lagi bersembunyi di kamarnya.


Elsa bingung harus apa. Kalau ia kembali kekamar ia takut Fattah meminta haknya. Elsa melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Elsa kaget, melihat Fattah duduk santai di sana.


Fattah melempar senyumnya pada Elsa. "Aku cuma bisa dua hari di sini, sebaiknya, nanti malam kamu mulai beberes," seru Fattah.


Elsa menganggukak kepalanya.


Pasangan pengantin baru itu masih merasa canggung, Elsa masih dalam posisi berdiri, dia tersenyum melihat bibinya sudah kembali, membawa banyak belanjaan.


Maya tersenyum melihat Elsa dan Fatth. "Enakan santai di kamar lho dari pada di luar." seru Maya.


Elsa menatap tajam bibinya. bibirnya mayun. Sedang Fattah hanya menanggapi ucapan Maya, dengan senyuman.


Elsa langsung mengikuti Maya, dia segera membantu bibinya di dapur untuk memasak makan siang nanti.


"Jangan ngusir aku! Sebentar lagi bibi bakal puas sendirian, setelah aku pergi!" Seru Elsa.


ketiak melihat Maya mulai membuka mulutnya, ingin bicara.


Maya pasrah, dia membiarkan Elsa membantunya memasak.


*


Hanya kecanggungan yang di rasakan sepanjang siang. Kini semua orang berkumpul di meja makan, menikmati makan malam mereka. Setelah selesai makan malam, Fattah mulai menyampaikan maksudnya.


"Saya mohon izin bi, paman, nenek. Besok saya harus membawa Elsa, karena waktu libur keja saya sudah habis." ucap Fattah.


"Iya, Fattah, kami titip Elsa ya, bimbing dia, dia masih kecil, masih belum mengerti akan tugas-tugasnya." Sahut Marni.


Hening, keadaan sungguh hening, kesedihan menyelimuti hati setiap orang.


*


Mentari kembali menyinari bumi lagi. Jam sudah menunjukan jam 9 pagi.


Elsa menangis memeluk sang nenek. Maya juga menagis melihat ini. Mereka tahu Elsa akan pergi, jika dia menikah. Tapi mereka tak menyangka, akan seberat ini berpisah dengan Elsa.


Setelah Elsa dan Fattah berpamitan, mereka berdua memasuki mobil Fattah dan mulai meninggalkan tempat tinggal Elsa.


Fattah melihat wajah kesedihan yang masih betah di wajah istrinya itu.


"Kalau aku libur ... aku janji ... kita akan nginep lagi di rumah paman Wijaya," seru Fattah mencoba menghibur istrinya.


Elsa mengangguk sambil berusaha tersenyum.


Mereka berkendara lumayan lama. Hingga mobil yang dilemudikan Fattah memasuki sebuah komplek perumahan.


"Di mana ini?" Tanya Elsa.


"Rumahku," sahut Fattah.


Mobil mulai memasuki sebuah halaman.


Melihat Fattah turun, Elsa juga turun.


Fattah membuka bagasi, sedang Elsa berdiri di sampingnya.


"Ngapain kamu?" Tanya Fattah.


"Bantu kamu angkat barang aku," sahut Elsa.


"Nggak usah ... ini berat ... kamu buka pintu saja." sahut Fattah, sambil menyerahkan kunci rumahnya pada Elsa.


Elsa segera membukakan pintu rumah itu, Fattah masuk membawa kopernya dan tas milik Elsa.


"Kamu ikut aku," pinta Fattah.


Elsa mengikuti Fattah. Hingga ia sampai di sebuah kamar di lantai 2 rumah itu. Elsa mengagumi kamar itu, jauh lebih luas dari kamarnya. Kekaguman Elsa buyar, saat mendengar Fattah memanggilnya.


"Elsa ... kamu susun baju-baju kamu di ruangan ini, ini ruang ganti baju, jadi susun aja di mana menurut kamu nyaman," kata Fattah.


Elsa mengangguk. Segera Elsa menyusun baju-bajunya yang masih tersusun dalam tas, dan menyusunnya di ruangan yang di tunjuk Fattah tadi. Entah berapa lama ia menghabiskan waktu menyusun semua barang yang ia bawa.


Elsa mengahampiri Fattah yang sedang duduk di sofa dekat tempat tidur.


"Di mana tempat cuci baju?" Tanya Elsa.


"Kamu mau cuci sekarang?" Tanya Fattah.


"Tidak ... biar aku tau saja," sahut Elsa.


Fattah membawa Elsa keliling rumahnya dan memberitahu tata letak ruangan yang ada di rumah itu.


________


Elsa tengah menyiap kan makan siang yang mereka beli di perjalanan tadi. Setelah selesai menata Elsa pun segera memanggil Fattah.


"Makan siangnya sudah siap," Kata Elsa.


Fattah yang tadi tengah santai di ruang tamu, segera berjalan mengikuti Elsa menuju meja makan.


Fattah baru sadar, kalau Elsa tak menggunakan kerudung. Rambut Elsa yang tergerai menambah cantik penampilannya. Fattah memandangi Elsa yang tengah mengikat Rambutnya, Fattah semakin terpesona dengan remaja yang baru ia nikahi ini. Entah kenapa sejak mengikrarkan akad nikah, Elsa mulai menghuni hatinya.


Elsa mengambilkan makanan buat Fattah, lalu mengambil makanan buatnya.


Mereka menikmati makan siang mereka.


Selesai makan, Fattah langsung kembali pada laptopnya untuk bekerja. Sedang Elsa membersihkan meja makan dan mencuci semua bekas makan mereka.


Selesai pekerjaannya, Elsa mendekati Fattah. "Maaf, bagaimana arah kiblat?" Tanya Elsa.


Fattah berdiri, lalu memberi tahu arah kiblat, dengan isyarat tangannya dan tubuhnya. Elsa mengerti. dia segera naik ke kamar untuk menunaikan tugas zuhurnya.


Fattah menunaikan tugas Dzuhur di kamar tamu.


Setelah selesai tugas Zduhur, Elsa menghabiskan waktunya di kamar atas. Sedang Fattah menghabiskan waktu di ruang tamu dengan menyelesaikan semua pekerjaannya.


Setelah Sholat Ashar, Elsa turun berjalan ke arah dapur untuk memasak. Elsa bingung, saat membuka lemari es, tak ada satupun bahan makanan di jumpai. Bahkan beras pun tak ada. Elsa berjalan menemui Fattah.


"Apa yang akan ku masak? Beras atau telor dan lainnya tidak ada," lirih Elsa.


Fattah teraenyum, "Untuk malam ini dan pagi besok, kita beli saja, maaf ini rumah orang bujang. Mana ada stok itu. Biasanya ada tapi kedua pembantuku sedang pulang kampung." sahut Fattah.


Elsa mengangguk, ia kembali ke kamar.


Fattah bangkit, dia meraih kunci mobilnya untuk keluar. Ia ingin membeli makanan, untuk makan malam nanti dan beberapa cemilan.


Setelah sampai rumah, Fattah segera meletakkan semua yang ia beli di meja makan. Ia langsung naik ke atas, karena Elsa pasti di kamar atas. Perlahan Fattah membuka pintu. Benar saja ada seorang wanita yang rebahan di tempat tidurnya.


Melihat Fattah masuk ke kamar Elsa langsung bagun dari rebahan santainya dan berdiri.


Fattah berjalan mendekati Elsa. "Makan malamnya sudah aku beli, oh ya kalau kamu pengen cemilan, itu ada juga aku beli cemilan," seru Fattah.


Lagi-lagi Elsa mengangguk saja.


Fattah duduk di sofa kamar itu, sedang Elsa duduk di sisi tempat tidur. Mereka hanya saling diam, karena bingung harus bicara apa.


***


Selesai sholat isya, Elsa menyiapkan makan malam. Sedang Fattah sudah menunggu di meja makan. Setelah semua makanan siap, mereka mengisi perut mereka yang sudah kelaparan itu. Sungguh ketegangan ini membuat perut semakin cepat lapar.


Selesai makan malam, Fattah naik ke kamarnya, sedang Elsa membersihkan meja makan dan mencuci piring dan gelas. Setelah selesai ia melangkahkan kakinya meniti anak tangga, naik ke atas untuk kembali ke kamar.


Perlahan Elsa membuka pintu kamar, langkah kakinya mulai memasuki kamar, terlihat hanya lampu temaran saja yang menyala, sedang Fattah sudah berbaring di tempat tidur. Elsa merasa lega, karena Fattah sudah tidur. Perlahan Elsa merebahkan dirinya di samping Fattah. Mereka sama sama berlabuh ke alam mimpi masing-masing.


TFattah hanya pura-pura tidur. Ia memikirkan cara, bagaimana mendekati istrinya, dan menjalankan tugas batiniah seorang suami. Namun Fattah bingung. Dia memejamkan matanya, membawa ketegangan yang dia rasa ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2