Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
*Bab 7 Perkenalan


__ADS_3

Malam menjelang ...


Semua anggota sudah menyelesaikan tugas dan kewajiban masing masing.


Tiba saat nya waktu makan malam.


Suasana hening pun menyelimuti meja makan hanya suara sendok dan sesekali rengekan Dzikri yang terdengar


Setelah selesai makan Marni meminta semua nya tetap di meja makan. Hanya Dzikri yang boleh meninggalkan meja makan. Dia masih kecil dan belum mengerti dan juga karena Dzikri sangat ngebet ingin nonton tv acara kesayangan nya.


"Wijaya ... kamu sudah beri tahu tentang Elsa pada keluarga Fattah?" Tanya Marni.


Mendengar hal ini Elsa begitu kaget, namun ia berusaha untuk pura pura diam terus menunduk menatap piring yang kosong bekas makan nya


"Suudah mak ... mereka gak keberatan setelah tahu semua tentang Elsa," jawab Wijaya.


"Bagus lah ... karena Elsa juga sudah setuju nak" jawab Marni.


"Syukur lah ... setidak nya aku bisa kasih kabar secepat nya ke keluarga Indra mak." jawab Wijaya.


"Sebelum semua ini jauh lebih serius setidaknya minta Fattah datang kemari untuk mengenal Elsa langsung. Biarkan Fattah dan Elsa saling mengenal lebih dalam kan mereka yang akan mengarungi bahtera rumah tangga mereka," seru Marni.


"Ide bagus mak ... aku juga setuju " jawab Wijaya.


Obrolan pun berakhir.


Elsa membersihkan dapur sedang yang lain nya ada yang ke kamar ada yang ke ruang tamu nonton tv.


Elsa hanya diam ... apalagi yang dia bisa.


membuat neneknya bahagia itu sudah lebih dari segalanya.


Selesai semua pekerjaannya Elsa langsung masuk kamar nya, baginya tidur akan membuatnya lupa sejenak segala beban yamg menindih hati dan pundak nya. Elsa pun larut dalam tertidur.


Wijaya langsung menelpon Indra, mengabarkan kalau semua nya setuju dengan lamaran Fattah. Juga menyampaikan ke inginan mertuanya agar Fattah datang berkunjung untuk menemui Elsa.


Wijaya memberikan nomer ponsel Elsa pada Indra. Indra memberikan no ponsel Fattah pada Wijaya. Obrolan Wijaya dan Indra pun ber akhir.


Indra mengirim pesan pada Fattah, mengirim nomer ponsel Elsa, meminta Fattah secepat nya silaturrahmi ke rumah calon istri nya itu.


___________


pagi hari ...


Seperti biasa Elsa melakukan tugas-tugas rumah nya. Matahari pun mulai meninggi, karena hari semakin siang. Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Wijaya dan parkir di halaman itu. Elsa melihat dari dalam rumah mencoba menebak siapa itu.


Sesosok laki-laki yang sepertinya dia kenali berjalan santai menuju rumah paman nya.


"Hei ... bukan kah dia laki-laki ceroboh yang kehilangan Anak nya malam itu?" Lirih Elsa saat melihat jelas sosok laki-laki yang semakin dekat dengan rumah paman nya.


Marni heran melihat Elsa mematung memandang ke arah luar, dia pun bangkit dari kursi kesayangan nya itu. Saat ia melihat siapa yang berdiri di depan teras rumah nya, Marni begitu kegirangan ternyata itu calon suami cucu nya.


"Assalamu alaikum nak fattah ... lama kita tidak ketemu," seru Marni menyambut Fattah.


Fattah kaget melihat wanita tua yang sering bertemu dengannya di mesjid


"loh emak ...? mak disini ...? "Fattah keheranan.


"Bukan emak ... tapi nenek ... karena kamu calon suami cucuku ..." lirih Marni.


Fattah tersenyum.


Elsa yang sedari tadi berdiri memandangi dan mendengari kejadian barusan makin bengong. Dia sungguh tidak menyangka calon suaminya adalah laki-laki yang dia ingat sebagai laki-laki ceroboh.


"Ya Allah ... apakah tidak ada laki-laki lain ... kenapa harus laki-laki ceroboh ini, nenek suka banget lagi sama dia, hiks hiks hiks ..." Elsa menangis dalam hatinya.


"Elsa ..." teriak Marni


Elsa tersadar dari lamunan nya.


"Iya nek ...." jawab Elsa dan langsung menghampiri nenek nya.


"Elsa ... nak Fattah ini... calon suami kamu," seru Marni.


Elsa bingung tidak tahu harus apa dia hanya menunduk.


Marni sangat bahagia melihat Elsa yang malu malu.


"Elsa ... tolong buatkan minum buat nak Fattah " pinta Marni.


Elsa mengangguk dan segera undur diri pergi ke dapur.


"Ayo nak Fattah ... masuk ..." seru Marni.


Fattah melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah calon istri nya. Dia duduk di kursi panjang dekat Marni.


Tidak lama Elsa datang membawa 3 gelas teh hangat dan setoples cemilan.


Elsa dan Fattah sama sama diam. Entah canggung atau malu.


Marni bicara santai dengan Fattah. Setelah lama basa basi, teh hangat di gelas pun mulai menyusut. Fattah mengutarakan maksud nya, untuk mengajak Elsa keluar.


Tentu Marni sangat setuju.


Setelah mendengar ajakan Fattah dan izin dari nenek nya, Elsa meminta waktu untuk mengganti baju.


Selesai ganti baju, Elsa menyeret kaki nya yang terasa sangat berat untuk pergi. Elsa berdiri di samping sang nenek.


Fattah memandangi Esa yang kini mengenakan baju syar'i dia sungguh kagum.


"Subhanallah ... ada ya anak perawan yang mau sama aku yang duda gini dalam hati nya."


Elsa dan Fattah pamit pada Marni,


sebelum pergi mereka salim pada Marni.


Marni begitu bahagia melepas kepergian cucu nya bersama calon suami nya. Setidaknya beban hidup nya lepas jika Elsa menikah dengan laki-laki yang baik. Dia akan mati dengan bahagia pikirnya.


Di perjalanan.


Selama perjalanan Elsa dan Fattah tidak saling bicara. Elsa hanya memandangi jalanan dan Fattah fokos menyetir.


Entah berapa jauh roda mobil ini berputar, akhir nya Fattah singgah di sebuah kedai. Mereka berdua melangkahkan kaki memasuki kedai, setelah duduk di kedai jus Fattah memesan minuman dan cemilan.


"Elsa ... kamu gak sekolah ...?" Tanya Fattah


"Udah enggak ... setelah tamat SMP aku ngga nerusin sekolah lagi," jawab Elsa.


"Kenapa ngga melanjutkan ke jenjang selanjut nya ...? pendidikan itu penting lho," lirih Fattah.

__ADS_1


"Kasian sama paman ... yang kerja cuma paman ... sudah untung paman dan bibi menyayangiku seperti orang tua ku sendiri, aku tidak mau meminta lebih lagi " jawab Elsa.


"Ohh ... gitu ... aku kira kamu kebelet nikah ...!" jawab Fattah dingin.


Mendengar kata kata Fattah kemarahan Elsa memuncak. Entah seperti di telanjangi saja rasa nya bagi Elsa. Melihat raut kemarahan di wajah Elsa Fattah merasa bersalah, kata kata nya memang cenderung menghina. Elsa pasti ingin sekolah, hanya keadaan tidak mendukung nya.


"Maaf ... aku cuma bercanda ..." lirih Fattah


Namun tidak sedikit pun mengurangi kemarahan di hati Elsa.


"Apa kamu ngga keberatan nikah sama aku ... aku lebih 30 lho ... duda ... punya anak lagi ..."seru Fattah.


Elsa menarik nafas nya mulai mengumpulkan keberanian nya.


"Kalau anda memang keberatan Nikah sama saya ... anda berhak membatalkan, ini kan cuma baru rencana! Aku tidak mau menjadi beban anda di masa depan ... jika anda menikahi ku karena di paksa atau kasian. Tolong menikahlah karena anda memilih orang itu. Anda punya kuasa untuk menolak, sedang aku ... aku tidak punya keberanian untuk menolak. Jangan pikirkan aku ..."


"Oh ... pertanyaan anda barusan hanya mengingatkan aku kalau aku tidak pantas bersama anda, itu tidak berhasil!


Bagi ku ... apa beda nya bujang sama duda?


punya anak? gak masalah ...! secara kehidupan rumah tangga sudah komplet tanpa sulit sulit untuk hamil,


sudah dapat Anak, jadi ... jika anda menolak tolong tolak sekarang, jangan menungguku untuk menolak!" Seru Elsa panjang lebar.


mendengar jawaban Elsa Fattah kagum.


"Hem ... dewasa sekali pemikiran nya " gumam hati Fattah.


"Terpakasa ...? di paksa ...? apa kau menerima lamaran ku karena di paksa ...?" Tanya Fattah.


"Tidak ... Aku menerima karena nenek sangat yakin pada anda, menurut Nenek ... Anda laki-laki yang baik, bukan di paksa atau terpaksa, tapi aku tidak di beri kesempatan untuk menolak," jawab Elsa.


"Kenapa kamu memakai ukuran penilaian nenek mu ...? Kamu juga punya ukuran menurut pandangan mata dan hati mu bukan?" Seru Fattah.


"Penilai an ku ...? Aku masih anak anak bukan ... mana mengerti aku tentang rumah tangga, sebab itu juga aku tidak di beri kesempatan untuk bersuara. Makanya aku sangat percaya dengan penilaian nenekku dan pasrah dengan semua keputusannya," jawab Elsa.


"Anak anak ...?


Anak anak yang kebelet menikah ..." lirih Fattah


"Hei ... jangan marah ... aku benar benar bercanda" seru Fattah.


"Kamu sudah selesai minum ...?


kalo selesai ayo ikut aku ..." ajak Fattah.


"Kemana ...? "Tanya Elsa.


"Nanti kamu juga tahu ..." seru Fattah.


Fattah Mengajak Elsa kesebuah pusat perbelanjaan. Mereka pun berjalan ber iringan, Fattah tidak perduli dengan mata yang lain memandangi mereka berdua.


Fattah berusaha menawarkan bermacam hal dan menanyakan apa yang ingin Elsa beli, namun Elsa menolak dan tidak ingin membeli apapun.


Fattah pun inisiatif membeli beberapa pakaian buat Elsa. dari set syar'i, baju santai dan baju tidur.


Elsa hanya bengong melihat Fattah yang begitu pandai belanja dan memilih baju buat Elsa.


"Ini cowok tulen apa campuran sih...? batin Elsa "


Melihat Fattah yang memilih beberapa pakaian mini, Elsa langsung menyambar dan merebut pakaian itu dan menggantung nya kembali.


Fattah tersenyum.


"Ini bahan kaos ... enak lo di pakai tidur, Ini buat kamu tidur ... bukan buat kamu joging," seru Fattah.


Mendengar jawaban Fattah Elsa hanya diam.


Berulang kali Elsa meminta Fattah berhenti belanja buat nya, Namun tidak di hirau kan Fattah.


"Ku mohon ... berhenti lah ... lihat tangan anda sudah banyak kantong ... tolong ... berhentilah ... jangan buat aku malu ..." lirih Elsa.


"Aku akan berhenti belanja buat mu ... jika kamu mau belanja dengan keinginanmu sendiri bukan dari yang aku Pilih," jawab Fattah.


Elsa secepat mungkin memutar otak nya beli apa. Mata nya tertuju pada counter mainan.


"Benarkah ... anda akan berhenti belanja jika aku belanja barang yang aku inginkan ...?" Tanya Elsa.


Fattah mengangguk.


"Boleh kah kita beli mainan?" Tanya Elsa.


"Mainan ... kau akan segera menikah... malah beli mainan ... apa masa kecil mu kurang bahagia?" Goda Fattah, entah kenapa dia mulai merasa nyaman dengan Elsa.


"bukan buatku ... tapi buat Dzikri dan anak anda ... siapa nama nya ...?" Tanya Elsa.


"Nazwa " jawab Fattah.


Akhir nya mereka membeli 2 mainan.


1 mainan buat Dzikri dan 1 mainan buat Nazwa.


Fattag menepati janji nya, setelah membayar semua nya Elsa dan Fattah pun beranjak menuju keluar untuk pulang.


"Hei ... kamu ingin makan apa Elsa ..." tanya Fattah.


"Aku tak ingin makan ..." jawab Elsa.


"Heh ... ku memang tidak punya perasaan ... aku ingin bungkus ... bukan makan di sini. Aku ingin makan siang bersama keluarga mu," seru Fattah.


Fattah berjalan sendiri ke counter makanan dan membeli beberapa makanan.


Elsa juga mulai mengagumi sosok laki-laki ceroboh itu.


"hem ... dia sangat perhatian pada keluarga," lirih hati Elsa.


Lamunan nya tersentak ketika mendengar suara Fattah yang mengajaknya pulang. Mereka pun masuk ke mobil. Mobil mulai meninggalkan area pusat perbelanjaan itu.


"Siapa yang menjaga Nazwa sekarang ...?" Tanya Elsa.


"Nazwa di rumah ibu, dia di jaga beberapa pembantu di sana... hei terimakasih sudah membantu Nazwa malam itu," kata Fattah.


Elsa tersenyum


"Apakah anda tidak serumah sama Nazwa?" Tanya Elsa.


"Aku sangat sibuk, kasian Nazwa kalau tinggal bersamaku. kadang sesekali aku nginep di rumah ibu untuk melepas rindu pada Nazwa, aku punya rumah sendiri, hampir 2 tahun ini aku tinggal di rumah ku." terang Fattah.


Keadaan pun hening kembali. Elsa membuka hp nya, kadang hanya melihat jalan jalan yang dilalui.

__ADS_1


"Elsa ... kamu sudah punya nomer aku...?" tanya Fattah


"Belum ..." jawab Elsa.


Fattah menepikan mobil nya, lalu meraih ponsel nya dan menelpon Elsa, karena tadi malam Indra memberikan nomer Elsa pada nya.


"Simpan ... itu nomer ku ..." seru Fattah ketika melihat panggilan nya sudah terlihat di layar ponsel Elsa.


Segera Elsa menyimpan no yang baru masuk tadi. Sedang Fattah kembali melajukan mobilnya.


"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Fattah santai


"Enggak boleh pacaran sama nenek." jawab Elsa.


keadaan hening kembali.


Hingga mereka sampai di rumah Wijaya.


Di rumah Maya dan Marni sama sama menunggu kedatangan Elsa.


Sesampai di rumah Wijaya fattah mengeluarkan belanjaan yang dia beli buat Elsa. Elsa membantu membawa apa yang tidak bisa di bawa oleh Fattah, karena belanjaannya tidak sedikit.


Melihat pemandangan itu para tetangga pada melotot, mereka berfikir ini bahan gosip terbaru dan terhangat.


Fattah melihat para tetangga Elsa pada memandangi nya. Fattah hanya senyum dan mengangguk kepala tanda menyapa dan menghormati orang-orang yang memandangi nya.


"Waduh ... ada yg ngeborong pasar apa ngerampok neh ... bisa bisa bangkrut sebelum menikah ini," kata Maya menggoda Elsa.


"Tu kan ... aku lagi ..." rengek Elsa.


"Bi ... kasian ... itu masih anak-anak loh ..." seru Fattah.


Elsa diam melawan pun percuma 2 lawan 1


"Cucu ku ngerepotin kamu Fattah ...?" Tanya Marni.


"Enggak sama sekali nek ... malah seperti jalan sama siput nek ... dia diem ... aja ... apa batrai nya ketinggalan nek ...?" Goda Fattah.


Mereka bertiga menertawakan Elsa.


Elsa membawa semua kantong belanjaan buat nya, sedang Fattah memberikan kantong belanja yang berisi makanan pada bibi Maya.


Mereka makan siang bersama.


menyantap makanan yang di belikan Fattah buat semua.


______


Telepon Maya berdering.


ternyata Wijaya yang menelpon.


"May ... maaf ... aku sudah berusaha lebih 1 bulan ini mencari di mana kedua orang tua Elsa. Maaf May ... tak ada yang tahu di mana mereka," lirih Wijaya.


"Terus ... siapa yang menjadi wali nikah Elsa nanti ...? " Tanya Maya.


"Tenang Maya ... Elsa akan nikah dengan Wali Hakim" jawab Wijaya.


Telepon pun ber akhir.


Setelah menerima telepon barusan wajah Maya tidak lagi ceria.


"Kenapa may ...?" Tanya Marni


"Bapak Dzikri tidak bisa menemukan di mana ayah dan ibu Elsa " jawab Maya lemas.


Wajah Marni seketika berubah muram, jika mengingat kedua orang tua Elsa.


"Kamu keberatan kalau nak Fattah menikahi Elsa nanti dengan wali hakim?" Tanya Marni


"Saya tidak keberatan sama sekali nek ... Asalkan benar dan sah di mata hukum negara dan agama," jawab Fattah.


Marni lega dan tersenyum bahagia.


Elsa ingin membersihkan meja makan, namun di larang Maya.


"Udah ... sana kamu temani calon suami kamu ... Nanti dia ketularan tua kebanyakan ngobrol sama nenek," goda Maya.


"Bibi ..." rengek Elsa.


Fattah Dan Marni membicarakan banyak hal,


terlihat wajah Marni sangat bahagia bicara dengan calon suami cucu nya ini.


Lama juga Fattah di rumah Wijaya. Akhir nya Fattah pun izin pamit pulang. Maya, Marni dan Elsa mengantar Fattah hingga teras rumah mereka.Fattah pun mengucap salam sebelum keluar dari rumah itu.


Fattah melajukan mobil nya menuju rumah ibu nya, sekalian melepas rindu pada Nazwa dan memberikan mainan yang di beli Elsa buat Nazwa.


"Ayah ..." teriak Nazwa.


ketika melihat Fattah masuk kerumah.


Fattah segera menghampiri Nazwa dan menggendong nya sebentar, lalu menurunkankan Nazwa.


"Ini mainan Barbie ... Nazwa suka enggak ?" Tanya Fattah.


"Suka ayah ... makasih ..." seru Nazwa..


"Mbak Nadia ... temani Nazwa main ...! "Teriak Nazwa.


Nadia segera menemani Nazwa main di ruangan lain.


Wahda Tersenyum.


"Tumben kamu belikan mainan Nazwa ... biasanya mana pernah..." kata Wahda.


"Bukan Fattah bu ... tapi ... am ... Elsa yang beli ..."Lirih Fattah ragu ragu.


"Tu kan ... apa ibu bilang ... Akan ada yang menyayangi Nazwa jika kau menikah ... Ibu senang ... bahagia ... sekali! Terimakasih memberi ibu kebahagiaan di masa tua ini "Lirih Wahda.


Melihat senyum ibu nya yang begitu bahagia fattah memeluk ibu nya.


"Ibu bahagia jika Fattah menikah ...?" Tanya Fattah.


"Tentu saja ... ibu sangat bahagia jika kamu bisa memulai lembaran baru lagi," jawab Wahda.


"Atur lah waktu baik nya bu ... Fattah akan menikahi Elsa ... Fattah ingin ibu lebih merasa bahagia lagi," lirih Fattah.


"Fattah ... nanti bawa Elsa kemari ... ibu juga pengen melihat langsung calon mantu ibu," lirih Wahda.

__ADS_1


"Secepatnya akan Fattah Atur bu ..." jawab Fattah.


__ADS_2