Suami Buat Elsa

Suami Buat Elsa
*Bab 20 Becermin


__ADS_3

Pemeriksaan terakhir Elsa sebelum pulang tengah dilakukan Dokter.


Maya, Marni dan Fattah sangat antusias melihat layar monitor USG 2D, yang tengah memperlihat kan gerakan gerakan yang tidak mereka mengerti. Dokter sengaja tidak menjelaskan demi kesehatan mental ibu nya.


"Nah ... semua nya baik, ini masuk bulan ke 8, jangan stres lagi ya bu ... kasian baby nya kalo moms nya stres," kata Dokter.


"Dok ... kenapa jika saat bergerak, gerakannya itu rasa menyeluruh?" Tanya Elsa.


"Janin ibu sehat dan bahagia, wajar dia bergerak semaunya," terang Dokter


"Bulan ke 8, wah ... 1 bulan lagi emak jadi datuk," seru Maya.


"Oh ya Dok ... itu masih aman Dok kalo kepala gundul bapak nya nyeruduk?" Tanya Maya iseng.


Dokter tersenyum dan menggeleng mendengar pertanyaan Maya.


Pukkk!!! Pukulan Marni di bahu Maya.


"Awh ... emak ..." lirih Maya.


"Aman bu ... nggak ada masalah sama kandungan ibu Elsa, Mereka bisa berhubungan namun hati hati, ya batas aman lah.." seru Dokter.


"Hem ... tenang Fattah masih bisa kok," seru Maya menggoda Fattah.


"Bibi pikiran nya jelek!!! Pasti bibi nggak bisa pisah sama kepala buntung nya paman," balas Elsa.


"Em ... ngebales ..." rengek Maya.


Elsa bangun dan membersihkan sisa gel yang memenuhi perut buncit nya.


Sedang Fattah dan Dokter sedang berbicara di meja kerja Dokter.


Setelah semua pembayaran selesai, mereka semua segera pulang. Elsa duduk di kursi roda yang di dorong oleh Fattah. Marni dan Maya hanya menonton kemesraan mereka.


****


Kini Elsa dan semua nya sudah berada di rumah Maya.


Elsa heran melihat Fattah nampak gusar berbicara di telepon.


"Wanda ... aku nggak bisa masuk cepat, istri aku di rumah sakit.


"Saya tahu pak ... tapi klien meminta rapat secepat nya," Sahut Wanda Sekretaris Fattah.


"Baik lah ... Atur rapat nya, besok aku masuk," seru Fattah.


Fattah sangat kesal. Namun kekesalan nya padam melihat Elsa yang terus memandangi nya.


"Kenapa mas?" Tanya Elsa.


"Mas harus secepat nya masuk kerja sayang ..." sahut Fattah lemas.


Fattah menghempaskan tubuh nya di samping Elsa.


"Kita pulang ya ..." Fattah memelas.


"Terserah mas," sahut Elsa pasrah


"baru jam 10, kita pulang sekarang ya ... aku beresin barang kamu," seru Fattah,


Fattah beranjak meninggalkan Elsa.


"Nenek ... bi Maya ... aku harus kerja besok bi ... jadi aku mau bawa Elsa pulang," lirih Fattah.


"Sekarang?" Tanya Maya.


"Iya bi ... Maaf ya kami ngerepotin kalian semua," lirih Fattah


"Enggak sama sekali ... nanti kapan kapan ada waktu luang kalian kemari lagi," Seru Maya.


Fattah masuk ke kamar Elsa untuk membereskan barang barang Elsa. Sedang Elsa, Marni dan Maya berpelukan karena akan berpisah lagi.


Setelah selesai memasukan barang Elsa ke mobil, Fattah dan Elsa pamit pada Maya dan Marni. Mereka meninggalkan rumah Maya.


Di perjalanan Elsa dan Fattah. Mobil Fattah membelah jalanan yang nampak lengang.


"Sayang ... kita mampir ya ... mas laper," lirih Fattah.


"Terserah mas," sahut Elsa.


Mobil Fattah memasuki parkiran sebuah Restoran. Dia segera turun dan lari membuka kan pintu mobil Elsa dan membantu Elsa yang kesulitan untuk turun. Dengan telaten Fattah membantu Elsa berjalan dengan menopang tubuh Elsa ke badan nya.


Kini mereka duduk di meja yang mereka rasa pas. Fattah membaca menu yang ada.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Fattah.


"Aku nggak laper mas ... mas saja yang makan," sahut Elsa.

__ADS_1


Fattah memesan makanan yang dia ingin kan.


Fattah dan Elsa tengah menunggu makanan mereka.


Tiga orang wanita cantik dan seksi berjalan bersamaan memasuki Restoran. Mereka Memilih meja yang bersebelahan dengan Fattah.


"Fattah??? Waw ... nggak nyangka ketemu disini," seru seorang wanita cantik.


"Hei ... Dira, Sonia, Sofia ...? Kalian ...? Senang bertemu kalian," seru Fattah, langsung bangkit dan menyalami ketiga nya.


"Kak Fattah lama banget kita nggak ketemu ... kangen ..." lirih Dira menggelayut di lengan Fattah.


Elsa tersenyum melihat wanita wanita cantik mengerumuni suami nya. Namun hati nya sangat menciut, "Wanita-wanita ini mas yang sangat serasi buat mas, bukan wanita seperti ku," lirih hati Elsa.


"Dira ... tolong jaga sikap," lirih Fattah melepaskan lingkaran tangan Dira di lengan nya.


"Tapi Dira kangen ka ..."rengek Dira


"Dira, Sofi, Sonia ... kenalkan ini istri ku, Elsa," seru Fattah memeluk Elsa yang duduk melamun.


Elsa kaget.


"Hai mbak Elsa ... senang bertemu dengan mu," lirih Dira dengan tatapan menghina.


Elsa bersalaman dengan Sofia, Dira dan Sonia.


"Kak Fattah kita gabung ya ..." lirih Sofia.


"Oh iya silahkan ... tapi aku duluan makan ya pesanan kami sudah datang," seru Fattah.


Fattah menyuap makan nya dengan lahap, hati nya begitu bahagia setelah berbaikan dengan Elsa.


"Sayang ... kamu mau?" Tanya Fattah sambil mengarah kan sendok nya ke mulut Elsa.


"Aku mau kak ..." seru Dira menyerobot sendok yang berisi makanan itu.


Fattah mulai marah dengan sikap Dira.


"Sayang ... kita pulang ya, Mas udah nggak nafsu," Lirih Fattah sambil mengambil uang dan meletakan nya di meja.


"kak ... bukan nya kakak bilang kaka suka sama aku..


kenapa kaka dingin gini ..." Rengek Dira memeluk Fattah dari belakang.


"Maaf Dira ... itu dulu ... maaf


"Guys ... Lebih cantikan Dira apa si bunting?" Seru Sofia tiba-tiba.


Hati Elsa semakin ciut mendengar ucapan Sofia.


"Ya Ellah ... ya cantikan Dira lah. Kak Fattah ... kakak kalah judi ya sehingga nikahin ini cewek?" Rengek Sonia.


"Guys ... Jangan gitu ... kali aja Fattah kena guna-gunanya dia. Secara Fattah ...? siapa sih yang ngga kepincut," seru Sofia.


"Kalian ini benar-benar memuak kan," bentak Fattah.


Hingga pengunjung lain kaget dan memperhatikan mereka.


"Sayang ... kita pulang," lirih Fattah sambil membantu Elsa bangkit. Lalu berjalan meninggalkan 3 wanita itu.


"Mas ... apa sih baik nya dia? Cantik juga aku!!!" Rengek Dira.


"Dia jauh lebih baik dari kalian ..." sahut Fattah.


"Guys ... lebih baik si bunting dari aku kata nya," sahut Dira.


Mereka bertiga tertawa terbahak bahak.


"Kak Fattah ... dari mana baik nya dia?, secara cantikan kita kalee ..." seru Sonia.


"Cantik? Cantik aja nggak cukup buat kenyamanan Hati," seru Fattah.


Fattah membawa Elsa pergi dari restoran itu. Mereka kini sudah berada didalam mobil dan mulai meninggalkan Restoran itu.


"Mas ... kenapa wajahnya kusut ..." lirih Elsa.


"Aku ngga suka mereka ngehina kamu," sahut Fattah terus fokos kedepan.


"Ya elah mas ... kata-kata mereka itu benar kali ..." sahut Elsa.


"Aku aja takjub sama penampilan mereka bertiga, aku kira mereka Seleb gitu. Banyak banget mas wanita cantik di sekitar kamu, tapi kenapa kamu malah memilih menikah dengan wanita seperti ku? Jangan-jangan kamu kwalat apa karena jual mahal?" lirih Elsa yang menatap jalanan yang di samping nya.


"Iya memang di sekeliling aku wanita cantik,


mereka semua cantik!!! Karena mata aku normal dan nggak buta. Tapi Mereka tak bisa memberiku perasaan seperti damainya aku sama kamu," Kata Fattah


"Aku melihat mereka aja nggak nyaman ... bagaimana aku bisa nyaman bersama salah satu dari mereka. Cinta itu bukan cantik saja ... tapi sebuah kenyamanan hati," lirih Fattah

__ADS_1


"Sayang ... kita udah sampai," seru Fattah.


Elsa perlahan turun tanpa menunggu Fattah.


"Sayang ... kamu marah?" Tanya Fattah menghampiri Elsa yang turun begitu saja.


"Maaf mas .. aku capek ... aku mau istirahat," sahut Elsa.


Elsa berjalan masuk kedalam rumah. Saat Elsa memasuki pintu Utama.


"Bundaa ...!!!" Teriak Nazwa, Nazwa berlari menuju Elsa


Elsa hanya mencium kepala Nazwa.


"Bunda ... Adek bayi nya mana?" tanya Nazwa.


"Maaf Sayang. Bentar lagi ya?" sahut Elsa.


"Bunda ... kangen ..." rengek Nazwa.


"Iya bunda juga kangen Nazwa. Nenek mana sayang?" Lirih Elsa.


"Nenek makan bunda," sahut Nazwa.


"Kita ketemu nenek dulu ... baru kita lepas kangen ya ..." Seru Elsa.


"Okey bunda ..." sahut Nazwa.


"Elsa ... ibu senang kamu pulang sayang ... udah lepas kangen sama nenek di sana?" Tanya Wahda yang tidak mengetahui masalah sebenar nya.


"Alhamdulillah ... sudah bu ... maaf ya bu aku ngerepotin semua orang," lirih Elsa.


"Enggak ... nggak sama sekali, sudah makan sayang?" Tanya ibu.


"Sudah bu. Aku kekamar dulu ya ..." lirih Elsa.


"Iya sayang ..." sahut ibu Fattah


"Nazwa sudah bobo siang?" Tanya Elsa.


"Belum bunda ..." sahut Nazwa.


"Bobo sama bunda di kamar ini yuk ...." lirih Elsa.


"Emang boleh bunda?" Tanya Nazwa.


"Tentu ... ayoo sayang!" Seru Elsa.


Elsa dan Nazwa segera masuk kamar dan berbaring di tempat tidur, mereka berpelukan.


Saat Fattah keluar kamar mandi betapa terkejutnya dia melihat Nazwa tidur berpelukan dengan Elsa. Fattah segera keluar dari kamar Elsa.


"Lho ... kok keluar nggak capek?" Tanya ibu.


"Capek bu ... tapi miss Rusuh mengambil singgasanaku," sahut Fattah.


"Oh ... Nazwa, dia sangat rindu Elsa, wajar dia bobo bersama bundanya," sahut Ibu.


***


Saat makan Malam Elsa begitu dingin pada Fattah. Dia hanya meladeni pertanyaan Nazwa.


Wahda mulai menangkap aura keretakan diantara Elsa dan Fattah. Karena Elsa sangat jauh berubah, lebih pendiam dari sebelum nya.


"Ya Tuhan ... apa terjadi pada rumah tangga anak ku? Jangan biarkan mata tua ini melihat perpisahan lagi," ringis hati Wahda.


Selesai makan malam semua orang masuk.ke kamar mereka masing-masing.


Elsa tengah bersiap untuk tidur, dia sudah mengganti baju nya dengan daster tanpa lengan, karena kegerahan.


"Malam sayang ..." lirih Fattah langsung memeluk Elsa dari belakang.


"Maaf ... aku gerah ..." lirih Elsa.


"Gerah? Kalo gerah ini di lepas," lirih Fattah menarik Dastar yang Elsa kenakan.


Elsa menarik dirinya dari hadapan Fattah. Namun Fattah menahan Elsa, dengan menarik tangan Elsa dan memeluknya kembali. Elsa menarik Nafas panjang, menahan kepiluan hatinya. Fattah mulai ber aksi pada nya.


"Sayang PT.Fattah rindu sama yang di dalam," lirih Fattah, sambil menengelus lembut perut buncit Istri nya. Perlahan Fattah menggiring langkah Elsa, hingga kaki Elsa mentok disisi tempat tidur. Fattah membaringkan Elsa perlahan.


Fattah memulai pergerakan nya, dia mulai olah raga yang lama tidak dia lakukan, secara santai dan menjaga temponya, agar tetap aman.


Tapi Elsa tetap diam tidak menanggapi apapun yang Fattah lakukan pada nya, hingga Fattah selesai Elsa tetap diam. Fattah merebahkan diri nya yang mandi keringat karena olah raga barusan di samping Elsa.


"Sayang ... kenapa kamu berubah ... kamu masih marah?" Lirih Fattah.


"Maaf mas ... semakin ke sini aku semakin becermin, siapa aku? Siapa kamu? Wanita seperti ku memang tepat nya jadi pembantumu bukan istrimu," lirih Elsa menarik selimut dan menutupi sampai bagian dada nya. Dia memejam kan mata.

__ADS_1


"Sayang ..." Fattah tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat Elsa sudah memejamkan mata nya.


__ADS_2