
...•••...
"Yumi? Lo ngapain di sini?"
Cowok yang bertanya itu tak lain tak bukan adalah Awang.
"Hah? Harusnya itu dialog gue, kenapa lo ada di sini?" tanya Yumi tidak mengerti Awang.
"Ya gue mau liburanlah. Emangnya nggak boleh?"
"Sono deh lu, Bang."
Awang mendengus kesal.
"Ikut yok sama gue." ajak Awang tiba-tiba. "Nginep bareng aja kita."
"Lo pikir gue cewek apaan?"
"Nggak. Bukan begitu maksud gue."
"Terus kenapa Abang ngajak gue nginep?" tanya Yumi bingung dengan jalan pikiran Awang.
"Lo lagi ilang, kan? Ketauan banget dari muka-muka frustasi lo." ledek Awang. "Tapi, kenapa lu ngilang sampe dimari? Aneh banget."
"Yeuh. Kalo nggak mau bantuin, nggak usah ngeledek dong!" seru Yumi sebal.
"Justru itu, woi. Gue mau bantuin lo. Lo ikut aja sama gue pulang ke penginapan. Besok kita cari deh keluarga lo." saran Awang.
"Emang lo bisa gue percaya, Bang?" tanya Yumi wanti-wanti.
"Jadi, lo ngira gue penculik?"
Yumi menggeleng dengan cepat.
"Lo ke sini bareng Tedjo ya?" tanya Awang.
Yumi tertegun. "Ya nggaklah. Gue ke sini sama om-om."
"Hah? Gila. Yang bener lo?" Awang terbelalak.
"Nggak kok. Gue becanda doang." Yumi tertawa kikuk.
"Ayo, ikut gue." Awang pun mengajak Yumi bersamanya.
"Lo liburan gini nggak ngajak Bang Is? Nggak setia kawan lo, Bang." kata Yumitengah perjalanan.
"Kalo gue nggak setia kawan, mana mungkin gue bisa tau kalo tuh anak lagi makan malam tapi nggak nunggu-nungguin gue." sungut Awang.
"Terus kenapa lo keluar Maghrib-maghrib begini? Ntar diculik setan, lho." ujar Yumi menakut-nakuti.
"Ya suka-suka guelah. Lagian juga ada untungnya gue keluar Maghrib-maghrib gini. Buktinya gue nemu anak ilang." Awang melirik ke arah Yumi, lalu menertawakannya.
"Diem deh lu, Bang." kata Yumi malu.
"Hahahahaha...."
...•••...
"Assalamu'alaikum, ya calon jenazah!"
Awang dan Yumi masuk ke penginapan.
"Lho?! Yumi?!" kata Ishak yang kaget begitu melihat kedatangan Yumi.
"Gue bisa jelasin." kata Karma yang menahan malu karena Yumi sudah melihat dirinya dan Ishak yang sedang memakai masker kecantikan. Mau ditaruh dimana kejantanan dua laki-laki itu?
"Wajar-wajar aja kok, Bang." komentar Yumi menahan bengek.
"Lo kok ada di sini sih, Yum? Lo ngikutin kita liburan dimari ya?" tanya Ishak.
"Ya kali. Gue juga liburan di sinilah, Bang." jawab Yumi.
"Kebetulan banget berarti. Ya udah, sini lo makan malem bareng kita." ajak Ishak.
"Gue nggak diajak nih, Bang?" tanya Awang dengan wajah memelas.
"Lo kan udah makan tadi." kata Karma bermaksud mempermainkan Awang.
"Kalo gitu nasi lemak ini punya gue doang." Awang memperlihatkan nasi lemak yang tadi ia beli di luar.
"Enak aja lo. Itu kan nasi lemak pesanan gue. Gitu doang ngambek lo." ujar Karma.
Ishak tertawa sambil tepuk tangan melihat Karma dan Awang yang berebut seperti anak kecil.
Saat mereka sedang sibuk menghabiskan makanannya, tiba-tiba seseorang datang.
Yumi kaget begitu melihat siapa yang datang.
"Bang, gue pinjam cancut lo satu—"
Seseorang itu berhenti bicara setelah sorotan matanya terhenti pada Yumi.
Yumi terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya Allah, Bar. Pake dulu noh baju lo. Ada cewek juga dimari." Awang kemudian melemparkan baju yang tergeletak di dekatnya.
Baruna menangkap baju yang dilempar Awang dan langsung memakainya. Baruna tersenyum kikuk.
"Eh, ada Yumi ternyata. Hehehe...." kata Baruna.
"Lo udah kenal sama Yumi?" tanya Ishak.
Baruna dan Yumi hanya nyengir.
"Gila. Gimana kenalannya lo bedua? Gue kok nggak tau ya." tanya Awang penasaran.
"Ya lo kenapa cuman nanya gue doang, Bang? Noh, Bang Karma juga kenal, kan? Tanya dia jugalah." elak Baruna.
"Ya, bagus deh. Kita jadi nggak capek-capek ngenalin Yumi sama lo pada." kata Awang pada Baruna dan juga Karma.
__ADS_1
Mereka pun mulai menyantap makan malam yang sudah di sediakan oleh orang penginapan.
"Yum, sebenarnya kemaren kita mau ngajak lo ke sini juga." Awang memulai percakapan.
"Terus kenapa lo nggak jadi ngajak gue, Bang? Ngomong doang lo." kata Yumi.
"Lo kan nggak masuk sekolah dua hari. Lagian kita juga nggak punya nomor hape lo, makanya nggak jadi ngajakin lo. Eh, ternyata orangnya liburan dimari juga." jelas Awang.
"Bener tuh. Kita juga mau ngajak Tedjo kemaren. Tapi, katanya dia lagi sibuk. Lagi ada urusan keluarga. Penting banget dah pokoknya." sambung Ishak.
"Jangan-jangan Tedjo mau dinikahin sama bokap-nyokapnya? Hahahahaha...." kata Awang membuat Yumi terbatuk.
"Uhuk... uhuk...."
"Nggak apa-apa lo, Yum?" tanya Baruna sambil menyodorkan air minum pada Yumi.
"Makasih, Run." ucap Yumi.
"Lo kenapa, Yum? Lo ngerasa nggak nyaman ya sama kita?" tanya Karma peduli.
"Nggak kok, Bang. Nyaman-nyaman aja gue." jawab Yumi.
"Maklumin aja, Yum. Nih anak dua emang ributnya udah nggak ketulungan." kata Baruna sedang membicarakan Ishak dan Awang.
Yumi hanya terkekeh.
"Ngomong-ngomong kalo emang bener dinikahin, kenapa Bang Tedjo ngeduluin gue? Kita kan udah sepakat kalo gue yang bakal nikah duluan ketimbang lo semua pada." protes Baruna.
"Wah, jadi lo mau ngelangkahin kita semua? Lo nggak apa-apa kali, Bar, nikahnya yang terakhiran. Lo kan paling bontot dari kita-kita. Iya, nggak?" tanya Ishak.
"Lo nggak sabar banget pengen nikah, Bar? Emang lo udah punya calonnya?" tanya Awang.
"Calonnya ada di samping gue, Bang." ujar Baruna sambil tersenyum ke arah Yumi. Gadis itu pun hanya tertawa dan mengira perkataan Baruna hanyalah candaan. Tanpa Yumi sadari, ia memang diam-diam berharap demikian.
"Kita sogok lo pake susu ultra mimi deh, biar lo mau nungguin kita-kita pada nikah dulu." kata Awang menggoda Baruna.
"Nggak usah ditungguin, Bar. Udah bangkotan duluan tuh anak dua." ledek Karma.
"Wah... nggak sadar umur nih orang tua." canda Awang membuat semuanya tertawa. Apalagi Ishak yang tertawa sambil jungkir-balik.
Mereka pun menghabiskan malam itu dengan canda-tawa.
"Yok dah, Bang, kita tidur. Yum, lo tidurnya sama Baruna aja ya di kamar sebelah." kata Awang seenak jidat.
Baruna dan Yumi kaget. "Hah?!!"
"Ya nggak mungkin dong, kita tidur berlima di satu ranjang. Lagian kan masih ada kamar kosong tuh." jelas Ishak.
"Ya gue kan masih bisa tidur bareng lo-lo pada." Baruna berusaha agar tidak sekamar dengan Yumi. Ia tidak mau Yumi berpikir yang tidak baik padanya.
"Nggak bisa, Bar. Kamarnya sempit banget. Sesek dada gue tidur berempat. Kayak ikan sarden aja ditumpuk-tumpuk." Awang beralasan.
"Gimana, Yum? Lo mau, nggak?" tanya Baruna hati-hati.
"Ya udah deh. Nggak apa-apa. Asal jaga jarak aja." kata Yumi gugup.
"Oke.... Bar, jagain Yumi baik-baik ya." kata Karma yang di angguki Baruna.
"Selamat malam, gais~" ucap Ishak sebelum masuk ke kamar.
"A-ayo, Yum." ajak Baruna ragu.
"I-iya."
Yumi mengikuti Baruna ke kamarnya sambil menahan senyumannya.
"Gue sekamar sama Baruna? Mimpi apa gue semalem?" ujar Yumi dalam hati. Tak dipungkiri ada rasa senang di tengah-tengah rasa canggungnya.
Baruna dan Yumi sudah ada di dalam kamar.
"Lo mau mandi dulu, nggak?" tanya Baruna gugup.
Yumi terkesiap.
"T-tapi, gue nggak bawa baju ganti." jawab Yumi juga sama gugupnya.
"Lo bisa pake baju gue." tawar Baruna.
"Hah?" Yumi melongo.
"Nih." Baruna memberikan bajunya pada Yumi.
"Makasih."
Sambil menunggu Yumi keluar dari kamar mandi, Baruna terus merasa gugup. Beberapa kali ia membenarkan posisi duduknya di tempat tidur.
"Apa yang salah sama gue?" gumam Baruna. "Tuh abang-abang pasti ngetawain gue sekarang. Kan mereka semua tau kalo gue takut sama cewek. Argh!"
Baruna menjambak rambutnya karena kesal.
Tiba-tiba saja, Yumi keluar dari kamar mandi dengan memakai baju Baruna yang kebesaran untuknya.
Baruna terkesiap. "Udah selesai?" tanyanya basa-basi.
"Iya, udah."
Yumi salah tingkah. Sesekali ia merapikan handuknya dan juga kadang hanya menggerakkan kaki dan tangannya karena gugup.
"Ya udah, ayo kita tidur. Eh, nggak. Maksud gue, gue mau tidur dulu. Lo juga mau tidur, kan?" tanya Baruna.
Yumi mengangguk.
"Lo tidur di kasur aja. Kalo gue bisa tidur di mana aja." kata Yumi sambil mengusap-usap lantai.
"Eh, nggak usah, Bar. Lo tidurnya di kasur aja. Lo tau... maksud gue... gue nggak enak sama lo." kata Yumi.
"Nggak usah nggak enakan lo. Lo kan tamu di sini. Bisa-bisa gue digebuk sama tuh abang-abang karena udah biarin lo tidur di lantai. Lo tidur di atas aja, ya. Selamat malam. Gue bakal matiin lampunya." kata Baruna meyakinkan Yumi.
"Oke deh, Bar." Yumi naik ke tempat tidur.
Baruna membentangkan selimut dan tidur di lantai. Kemudian, mematikan lampu utamanya dan menyalakan lampu tidur di kamar itu.
Tapi, Yumi malah tidak bisa tidur.
__ADS_1
"Run, lo udah tidur belum?"
"Belum. Lo nggak bisa tidur gegara lampunya gue matiin ya?" tanya Baruna.
"He-eh." sahut Yumi.
Baruna menyalakan kembali lampu tidurnya.
"Gimana? Lo udah nggak takut lagi, kan?" tanya Baruna.
"Udah kok. Makasih ya, Run."
Baruna hanya tersenyum, kemudian kembali berbaring di lantai.
Mereka pun tidur.
Namun, setelah satu jam mereka tertidur. Tiba-tiba saja, Yumi berteriak.
"Woi!!! Kurang ajar lo ya!!!"
Yumi teriak histeris di tengah malam sehingga membangunkan Baruna dan membuatnya panik.
"Yumi! Sadar woi! Lo kenapa?!" Baruna menepuk pelan pipi Yumi agar gadis itu segera sadar.
Kemudian, Baruna keluar kamar dan buru-buru mengetuk pintu kamar Ishak, Karma dan Awang.
"Kenapa lo? Kenapa muka lo panik begitu?" tanya Ishak begitu membuka pintu kamarnya.
"Yumi, Bang! Lo harus liat dia sekarang!"
Ishak pun membangunkan Karma dan Awang. Mereka pun kemudian menghampiri Yumi di kamarnya.
"Kemana tuh cewek?" tanya Karma.
"Tuh dia!" seru Baruna begitu melihat Yumi sudah berlari keluar dari kamar.
"Yumi! Tunggu, woi! Mau kemana lo?!"
Mereka terus mengejar Yumi yang terus berlari meninggalkan penginapan.
Kemudian, akhirnya Yumi pun berhenti setelah kelelahan berlari cukup jauh.
Semuanya ngos-ngosan. Mereka kemudian menghampiri Yumi yang sudah duduk di tepi jalan.
"Kenapa lo kabur, hah? Lo buat kita lari-lari tengah malam tau nggak." ujar Awang sambil mengatur kembali napasnya.
"Baruna gangguin lo ya tadi?" tanya Ishak memastikan.
"Nggaklah, Bang. Gue mana berani begitu. Tapi, tadi dia sempat ngigo." jelas Baruna.
"Dia bilang apaan?" tanya Karma.
"Tau deh. Gue nggak denger jelas." jawab Baruna sambil mengedikkan pundaknya.
"Nggak apa-apa kali ya, kalo gue ceburin nih cewek ke laut." kata Awang gemas.
"Minta maaf ya semuanya. Gue takut banget tadi. Gue... gue abis mimpi buruk. Mimpinya aneh banget. Gila." kata Yumi merasa bersalah.
"Mimpi apaan lo?" tanya Karma membuat Baruna, Ishak dan Awang mengangguk bersama.
"Gue nggak tau pasti sih. Tapi yang jelas, gue ngeliat hantu di mimpi gue. Hantunya kayak yang di film-film." cerita Yumi.
"Hantunya kayak apaan?" tanya Awang membuat Ishak penasaran tapi takut.
"Cuman ada kepala sama organ dalem doang." jelas Yumi masih takut.
"Kok bisa sih lo mimpi begituan? Lo nggak cuci kaki kali pas mau tidur tadi." kata Ishak yang sudah ketakutan.
"Kepala doang sama organ ya?" Baruna tampak berpikir keras. "Kut*ng? Iya. Kayaknya itu deh nama hantunya. Gue inget banget. Gue pernah tuh nonton filmnya di yutub"
"Kut*ng? Aneh banget gue dengernya." Awang pun ikut berpikir, mencoba mengingat-ingat nama hantu itu.
"Ntar, gue cari dulu di gugel. Penasaran gue namanya." Karma membuka ponselnya, mengetuk layar dan mencari sesuatu dengan kata kunci 'kut*ng'.
Pipi Awang memerah begitu melihat layar ponsel Karma.
"Woi! Bukan kut*ng tapi kuyang! Wah, benar-benar dah lo, Bar! Sejak kapan kuyang jadi kut*ng, hah?! Mana gue percaya aja, lagi." Awang mendengus sebal.
Ishak yang dari tadi ketakutan, tiba-tiba tertawa geli saat melihat layar ponsel Karma.
"Ada-ada aja lo, Bar." komentar Ishak.
"Ya, maap. Gue mana tau." ujar Baruna.
"Ya udah, gais. Ayo balik ke penginapan lagi." ajak Karma.
"Ayo."
"Jangan lari-lari lagi deh lo, Yum. Lo kira hantu di mimpi lo bakal ngejar lo, gitu? Mana kita-kita ngejar lo ampe keringetan begini." kata Awang sambil menyeka bulir-bulir keringat di lehernya.
"Iya, iya. Gue minta maaf. Lain kali cuman lo doang yang gue ajak lari-larian." goda Yumi.
"Enak aja lo." Awang merengut.
"Hahahahaha...."
Ppprrrrrrooooottt...!
"Suara apaan tuh?" tanya Karma.
"Lo kentut ya, Bang!" tanya Baruna pada Awang.
Ishak tertawa sambil mendorong pelan Awang agar menjauh darinya.
Semua orang berlari menjauh dari Awang.
"Woi! Tungguin gue!" seru Awang sambil menahan senyumannya. "Wangi kan, kentut gue?!"
"Persahabatan kita cukup sampe di sini aja, Bang!" canda Baruna.
"Woi, jangan gitu dong!"
...•••...
__ADS_1