SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Dating With Tedjo


__ADS_3


...•••...


Sesampainya di Mall. Mereka masuk di area permainan....


"Bukannya lo ngajak gue...."


"Ngedate? Nih."


"Di sini?" tanya Yumi.


"Denger. Di sini kita bisa main sepuasnya. Sepuasnya...."


Yumi menatap Tedjo tajam.


"Ke sana yuk? Anggap aja ini bulan madu kita." kata Tedjo sambil nyengir.


"Emangnya lo anggap ini apa? Kita kan emang lagi bulan madu, ege." balas Yumi geram.


"Ternyata lo suka bulan madu bareng gue ya." goda Tedjo.


"Lo sengaja ngejebak gue? Nggak adil tuh." Yumi kesal.


Yumi diam sebentar, mengamati sekelilingnya.


"Tedjo."


"Hm?"


"Gue nggak kayak jalan sama sugar daddy kan ya?" tanya Yumi blak-blakan.


Tedjo terbelalak. "Maksud lo apaan? Gue masih muda ya."


"Hahahahaha. Becanda doang gue mah. Lo marah ya?"


Mereka kemudian bermain mesin boneka yang di sediakan di dekat pantai.


"Lo tau mainnya?" tanya Yumi.


"Nggak ada yang nggak bisa gue lakuin." jawab Tedjo dengan entengnya.


Yumi tampak meragukan kalimat itu.


"Lo mau boneka yang mana?" tanya Tedjo kemudian.


"Itu tuh! Boneka yang mirip sama lo." Yumi menunjuk salah satu boneka.


"Yang mana sih? Di sini cuman ada boneka penguin doang." kata Tedjo dengan polosnya.


Yumi menahan tawanya.


"Woi, jadi maksud lo? Jalan gue kayak penguin gitu? Kenapa nggak sekalian aja kayak kambing lo bilang?" Tedjo kesal.


"Kambing lo. Hahahaha...."


"Jangan ketawa lo." Tedjo cemberut.


Tedjo memasukkan koin ke dalam mesin boneka dan mulai mengait bonekanya.


"Lo mau yang ini, kan? Gue bakal ngedapetinnya buat lo." kata Tedjo dengan percaya dirinya.


Tapi akhirnya, dia gagal.


"Lo ngomong apaan tadi?" tanya Tedjo tiba-tiba.


"Gue nggak ngomong apa-apa." jawab Yumi bingung.


Tedjo mulai gelisah. Ia takut membuat Yumi kecewa karena dia gagal mendapatkan bonekanya.


"Gue hampir ngedapetin tuh boneka, elah." Tedjo gemas dibuat mesin boneka itu.


Yumi menghela napas. "Lo tuh gimana sih? Itu mah bukannya hampir, tapi nggak dapat sama sekali. Udah deh. Gue tau kalo lo nggak mungkin jago dalam segala hal. Lo tuh pasti ada kekurangannya."


"Gue nggak fokus gegara lo ngomong terus. Gue bisa aja ngedapetin boneka yang lo mau kalo lo diem tadi." elak Tedjo yang masih fokus dengan mesin itu.


"Tadi gue diem aja perasaan." Yumi geram.


"Minggir lo."


"Lo tuh yang minggir. Mepet banget sama gue." celetuk Yumi. "Udah deh, Djo. Main yang lain aja lo. Gue udah tau lo nggak bisa ngambil tuh boneka. Gue tau lo emang tolol." ledeknya.


Yumi pergi begitu saja meninggalkan Tedjo yang sibuk dengan mesin itu.


"Yumyum, lo mau boneka penguin, kan? Nih, woi. Lo mau kemana sih? Dasar bocil."


Tedjo mencoba lagi dan ternyata gagal lagi. Akhirnya, dia menyerah.


"Kalo Yumi mau boneka pinguin, gue bisa kok belinya sendiri. Bikin capek gue aja main ginian." gumam Tedjo, lalu menghampiri Yumi.


"Yumyum! Tungguin, woi!"


Kemudian, mereka beralih bermain permainan meja hoki.


"Mau taruhan nggak lo?" tanya Tedjo.


"Nggak. Taruhan sama lo cuman mendatangkan penderitaan." jawab Yumi.


"Takut kalah kan lo pasti?"


"Gue tau lo mau mancing gue biar kesel." balas Yumi. "Ya udah, gue mau taruhan sama lo."


Mereka pun tanding, dan akhirnya Tedjo kalah.


"Kok lo bisa menang sih? Lo curang ya? Gue mau tanding ulang." kata Tedjo.


"Nggak adil banget sih lo."


"Adil buat gue." Tedjo nyengir.


Dan benar, Tedjo pun akhirnya menang.

__ADS_1


"Gue menang! Dan lo kalah!" goda Tedjo.


"Gue mau tanding ulang." kata Yumi.


"Curang lo pake tanding ulang segala." ledek Tedjo membuat Yumi kesal.


"Apa lo bilang? Kan gue yang menang di awal." kata Yumi.


"Iya, iya. Lo mau apa? Kecupan sayang?" goda Tedjo.


"Najisss!"


Tedjo pun membelikan Yumi es krim seperti yang gadis itu inginkan di taruhannya. Namun belum sempat Yumi memakan es krimnya, seorang anak kecil menabraknya dan membuat es krimnya jatuh.


Yumi melongo.


Tedjo menahan tawa. "Mau nyoba es krim gue?"


"Nggak usah, makasih. Gue nggak suka rasa stroberi." tolak Yumi.


"Tapi, yang ini rasanya beda."


"Emangnya rasa apa?" tanya Yumi.


"Rasa bibirku." jawab Tedjo sambil tersenyum lebar.


"Dasar alien!"


"Hahaha...."


Setelah menghabiskan waktu untuk bermain game, Tedjo dan Yumi pun ke bioskop.


"Lo yakin nggak salah beli?" tanya Tedjo yang terkejut saat melihat berondong jagung milik Yumi.



"Mereka yang jual kok. Ya gue belilah." kata Yumi sambil memakan berondong jagungnya.


"Oh iya, kalo lo takut sama filmnya, kasih tau gue." kata Tedjo sedikit berbisik.


"Takut apaan? Ini kan cuman film dokumenter."


"Hah? Kenapa lo beli tiket film dokumenter? Gue pikir lo bakal pilih film horor atau paling nggak pas kencan begini kita nonton film romantis." Tedjo frustasi menghadapi Yumi.


"Lo bisa keluar kalo nggak suka filmnya. Gue denger-denger nilai pelajaran sejarah lo merah semua." balas Yumi enteng.


Tedjo tak habis pikir.


"Keluar lo kalo nggak suka. Filmnya udah mau mulai nih." kata Yumi membuat Tedjo ingin mencekiknya kuat-kuat.


Satu jam kemudian, mereka akhirnya keluar dari gedung bioskop.


"Apa gue bilang. Seru, kan? Gue paling suka adegan pas dia motong rumput." kata Tedjo memulai.


"Nggak ada adegan motong rumput perasaan."


Tedjo gelagapan mencari kalimat selanjutnya.


"Woi, Tedjo! Gue tau lo cuman tidur sepanjang film di putar. Sok-sokan nonton orang nyukur alis lo." kata Yumi gemas.


"Itu tadi tuh gue bukannya tidur. Gue lagi berdoa biar kencan pertama kita berjalan dengan lancar."


"Panjang amat doa lo sampe filmnya abis baru selesai."


...•••...


"Yumyum, gue mau beli makanan. Lo nggak usah ya? Kalo nggak lo aja yang beli, gue yang milih." kata Tedjo.


Yumi hanya diam.


"Gue mau itu! Itu juga tuh! Wah, enak tuh kayaknya. Gue mau yang itu ya? Itu tuh, Yum! Itu, Yum, enak." kata Tedjo sambil menunjukkan makanan yang ia mau.


Yumi mengambil makanan itu tanpa bicara sepatah kata pun. Tumben sekali, gadis itu menjadi penurut.


"Apaan tuh? Beli yuk!" kata Tedjo lagi dengan bersemangat.


Yumi membelinya.


"Lo nggak beli juga, Yum? Lo nggak bawa uang? Kalo gitu gue traktir lo deh. Lo bisa beli makanan yang lo mau di sini." kata Tedjo sambil tersenyum lebar.


Namun, Yumi diam saja sambil tersenyum simpul. Membuat Tedjo kebingungan.


Setelah membeli banyak makanan, mereka pun duduk di bangku taman itu.


"Sini makanan gue." Tedjo meminta Yumi memberikan makanannya.


Tapi, Yumi malah memakan sendiri makanan yang Tedjo mau.


"Kenapa lo makan makanan gue? Kalo lo mau, gue bisa bagi." Tedjo bingung.


"Itu sate gue, Yum." kata Tedjo lagi sambil mengambil setusuk sate.


"Kenapa lo ngambil sate gue?" tanya Yumi balik.


"Hah? Wah, nggak tau malu lo. Ini semua makanan gue. Gue yang nyuruh lo beli pake duit gue." balas Tedjo tak terima.


"Sejak kapan gue iyain perintah lo? Gue beli buat diri gue sendiri. Awas aja kalo sampe lo makan." Yumi langsung merampas setusuk sate itu dari tangan Tedjo.


Tedjo melongo.


"Jadi, semuanya buat lo?" tanya Tedjo membuat Yumi mengangguk. "Terus, kenapa lo beli semua makanan yang gue mau, hah?"


"Emangnya nggak boleh? Emang ada yang ngelarang kalo seseorang meniru keinginan makan orang lain bakalan di penjara? Nggak, kan? Ya udah." balas Yumi sambil terus makan.


Tedjo meneguk ludah saat melihat Yumi memakan semuanya sendirian.


"Lo nggak tau apa kalo makan terlalu banyak itu nggak sehat? Mending lo kasih gue sedikit biar lo nggak sakit." bujuk Tedjo.


"Peduli lo sama gue?"


"Ya Allah, Yumi. Gue ada buat lo kesel ya? Gue minta maaf deh kalo gitu." rengek Tedjo karena sudah kelaparan.

__ADS_1


"Wah... ternyata makanan bisa ngerubah sifat jahat orang ya." kata Yumi takjub, bermaksud meledek Tedjo.


Yumi meniup jagung bakarnya yang panas, Tedjo pun ikut meniupnya dari jauh.


"Ngapain lo?" tanya Yumi gusar, yang sadar tingkah laku Tedjo.


"Panas tuh. Gue bantu niupin." kata Tedjo seadanya.


Yumi kemudian memakan jagung bakarnya perlahan, begitu juga dengan Tedjo. Mulut Tedjo juga ikut merasakan kelezatan jagung bakarnya dari jauh.


"Mau lo?" tanya Yumi membuat Tedjo mengangguk.


"Beli sendiri."


Tedjo lesu.


"Enak ya?" tanya Tedjo saat melihat Yumi terus mengunyah.


"Ya, gitu deh."


"Lo tau nggak kalo makanan tuh bisa jadi musuh buat kita. Maksud gue, ada orang yang meninggal gara-gara makan terlalu banyak." Tedjo menakut-nakuti.


"Lo pikir gue bakal percaya, gitu?"


Tedjo mencari cara. "Gue denger tuh orang dibawa ambulans setelah pertolongan pertama gagal."


"Gue percaya. Makan deh lo."


"Hah?"


"Makan, gue bilang. Gue nyuruh lo makan. Gue nggak mungkin ngabisin semuanya sendiri." kata Yumi.


Tedjo tersenyum senang. Dan akhirnya, mereka menyantap semua makanan itu sampai habis.


"Gampang banget ternyata ngebegoin elo. Lo takut gegara cerita orang yang dibawa sama ambulans, kan?" tanya Tedjo.


"Muka lo tuh muka-muka menyedihkan. Kasian gue nggak ngasih lo makan. Ntar dikira gue emak tiri, lagi."


"Padahal lo kan istri gue ya." goda Tedjo membuat Yumi merengut.


...•••...


Sore harinya, mereka turun mendekati bibir pantai....


"Fotoin gue dong." kata Yumi.


"Sini hape lo."


"Yang bagus, ya?"


"Emang apa imbalannya kalo hasil foto gue bagus?" tanya Tedjo berusaha memancing Yumi.


"Nggak ada."


"Yumiiiiiiii...." rengek Tedjo. "Gimana kalo nonton Sopo-Jarwo dari episode satu sampe akhir?"


"Terserah lo. Yang penting fotonya bagus, ya?"


"Siip!" sahut Tedjo bersemangat.


Tedjo kemudian mengambil gambar Yumi.


"Gue mau liat hasilnya dulu."


"Nanti aja. Hasilnya bagus kok. Tedjo gitu, lho."


Yumi hanya mengangguk mengiyakan.


"Lo nggak mau foto sama gue, Yum?" tanya Tedjo.


"Kenapa? Emangnya wajah lo bakal luntur kalo gue nggak ngajak lo foto?" tanya Yumi balik.


"Lo gimana sih? Kata orang kalo ada yang suka ngeledekin kita berarti dia suka cuman gengsi buat ngakuinnya. Lo suka sama gue makanya lo sering ngeledekin gue?" tanya Tedjo tapi tak digubris Yumi. "Ayo foto sama gue sebelum kegantengan gue semakin terekspos."


"Hahaha... terekspos apaan? Ada-ada aja lo, Tedjo." kata Yumi sambil tertawa geli. "Ya udah, deh. Ayo foto berdua."


Tedjo meletakkan kameranya ke kayu penyangga di pantai, lalu mengatur waktu foto diambil otomatis.


"Gaya dong lo. Kaku amat." kata Tedjo sambil merangkul Yumi. "Grogi ya gue rangkul?"


"Jangan sentuh gue!" pekik Yumi sambil menepis tangan Tedjo di pundaknya.


"Apa salahnya sig? Gue kan nyentuh istri gue."


"Nggak usah manggil gue begitu, bisa nggak sih?!"


"Nggak bisa."


Tiba-tiba, gambar tertangkap.


"Hah? Udah kefoto ya? Gue belum siap, woi!" kata Yumi kesal.


"Nggak apa-apa. Yang penting muka gue cakep di sini." goda Tedjo sambil melihat hasil fotonya.


Tedjo berlalu membawa kamera itu pergi.


"Tedjo! Siniin! Gue mau hapus tuh foto!" Yumi mengejar Tedjo.


"Hahaha...."


Tedjo kemudian mendekati Yumi dan menjitak pelan kepalanya.


"Woi!"


Yumi langsung menarik bahu Tedjo yang lebih tinggi darinya, lalu menarik telinga Tedjo. Tapi, dengan cepat Tedjo menarik balik telinga Yumi.


"Aouw!!!"


"Hahaha... gajah ngengkang."


...•••...

__ADS_1



__ADS_2