
...•••...
"Berhembuslah engkau angin malam bawa serta laguku~ Mengitari bumi ini hingga jauh~" Karma menyanyikan lagu Terbang Bersamaku milik Kangen Band dengan penuh jiwa.
"Bang Karma~ Wooooo~" sorak Baruna menyemangati. Dia sangat senang.
"Peluk erat tubuhku~ Sentuhlah jemariku~ Rebahkan sayap-sayap patahmu~ Uwo-uwo~" Karma mengangkat mikrofon ke atas kepalanya karena tidak bisa nada tinggi.
Semua orang tertawa mendengar suara Karma yang bergetar.
"Dan terbanglah bersamaku~ 'Tuk melintasi langit ke tujuh~ Bawalah ku ke alam damaimu~ Uwo-uwo~" Karma mengangkat mikrofonnya sekali lagi menandakan kalau nada tingginya melebihi penyanyi asli.
"Tet teret tet teret tet teret tet teret tet teret tet teret...."
Ishak tertawa terbahak-bahak sambil tepuk tangan.
Sementara Awang sudah tergeletak di lantai saking perutnya sakit karena tertawa. "Udah, Bang, udah. Perut gue sakit, Bang, ngetawain elu."
Mereka sangat terkesan dengan suara Karma.
"Gila lo, Bang. Bagus bener suara lo sampe bikin gue mewek dengernya." ledek Awang.
"Akulah biola yang tak berdawai bila tidak engkau lengkapi~"
"Masih lanjut nyanyi lo, Bang?" tanya Ishak yang sudah tidak sanggup tertawa.
"Hahahaha... kocak." Yumi tertawa yang hampir menangis karena tersentuh oleh lagunya.
"Tinggi banget nadanya. Nggak sanggup gue." kata Karma di sela nyanyiannya.
"Nggak apa-apa. Lanjutin aja." kata Baruna sambil tertawa.
Lagunya pun berakhir. Semua orang tepuk tangan dengan kuat. Entah apa maksudnya.
"Bagus banget! Gila!" sorak Ishak.
Penampilan yang membuat penonton tertawa dan menikmati lagunya.
"Stabil banget nada lo, Bang. Hahahaha...." ledek Awang lagi.
"Makasih." kata Karma dengan tanpa ekspresi.
Setelah itu, ponsel Yumi berbunyi.
"Halo, Assalamu'alaikum?" kata Yumi membuat semua orang memperhatikannya. "Hah? Iya... maap, maap. Gue bakal datengin elo kok. Lo ada dimana sekarang? Ya udah, gue ke sana. Lo tungguin ya? Jangan ninggalin gue lagi lo."
"Kenapa, Yum?" tanya Baruna.
"Gue harus pamit nih. Sepupu gue udah nelponin nih. Gue lupa nelponnya semalam karena hape gue mati." jelas Yumi.
"Ya udah, ayo deh. Kita bakal nganterin lo." kata Karma.
"Eh, nggak usah, Bang. Gue bisa jalan sendiri. Lagian sepupu gue nungguinnya deket-deket sini kok." Yumi beralasan.
"Nggak apa-apa sih, Yum. Kita cuman mau mastiin lo selamat sampe ketemu sama sepupu lo itu." kata Ishak.
Yumi berpikir keras untuk menolak agar mereka tidak bertemu dengan Tedjo.
"Nggak usah, Bang Is. Maksud gue... sepupu gue tuh pemalu banget anaknya. Dia kurang suka bersosialisasi." Yumi berbohong.
"Kalo gitu kita bakal nganterin lo dari jauh aja." usul Baruna.
"Hah?" Yumi kehilangan akal untuk menolaknya lagi.
"Nggak apa-apa, kan?" tanya Baruna.
"Ya udah deh...." kata Yumi terpaksa.
...•••...
Di perjalanan untuk menemui Tedjo....
"Woi?!" panggil Yumi saat menerima telepon dari Tedjo. Gadis itu meninggikan suaranya membuat Baruna, Karma, Ishak dan Awang terheran-heran.
"Sepupu gue agak budek anaknya, Bang. Hehe...." jelas Yumi sebelum mereka bertanya.
"Yumyum! Lo ada dimananya sih?! Gue nggak bisa nemuin lo nih!" seru Tedjo dari telepon.
Pantas saja Yumi teriak. Rupanya Tedjo yang teriak duluan.
"Debby, lo dimana sih?!" Yumi mencari-cari keberadaan Tedjo dan akhirnya berhasil menemukannya.
Tedjo sedang menunggu di bawah pohon rambutan sambil mengaruk-garuk tengkuknya yang gatal.
__ADS_1
"Debby?! Debby siapa?! Ini, gue Tedjo! Buru ke sini lo! Badan gue udah gatel-gatel semua digigitin semut! Eh, tunggu dulu! Gue lagi salah sambung ya?! Wah... malu banget sih gue!" Tedjo frustasi.
"Oh! Lo mau ke salon dulu?! Ya udah, kita ketemuan di sana aja ya, Deb?!" kata Yumi berusaha menutupi kebenarannya.
"Woi! Kapan gue bilang begitu?! Lo kenapa sih, Yum?! Lo ngerjain gue lagi ya?! Udah capek gue, Yum! Ya Allah!" tanya Tedjo kesal.
"Iya! Gue bakal nyamperin lo di salon!"
"Woi! Mana salonnya?! Gue nggak nemu!" Tedjo geram. Dia sudah tidak peduli kalau orang sekitarnya melihatnya karena teriak-teriak.
"Iya! Dadah, Debby!"
Yumi mengakhiri teleponnya.
"Nih anak ngerjain gue apa gimana sih?" gumam Tedjo sambil mencari-cari keberadaan salon yang di maksud Yumi.
"Gimana, Yum? Dimana sepupu lo? Gue pengen nyapa dia." kata Awang, bermaksud ingin tebar pesona.
"Nggak usah deh, Bang. Dia udah di salon. Dia agak sensitif kalo diganggu pas lagi nyalon. Ya udah, gue pergi dulu ya. Kalian pada sampe sini aja nganterin gue. Makasih banyak ya. Sampai ketemu di sekolah." pamit Yumi terburu-buru.
"Iya, dadah~" balas mereka bersamaan.
Yumi berlalu pergi.
"Kita tungguin Yumi bentar lagilah Bang, ya? Curiga gue sama gelagat tuh cewek." kata Baruna pada sahabat-sahabatnya itu.
"Ya udah deh, kalo itu mau lo." jawab Karma membuat Ishak dan Awang mengangguk mengiyakan.
Sementara itu, Yumi yang sudah menghampiri Tedjo....
"Tedjo?" panggil Yumi pelan.
"Dari mana aja lo? Lo ngerjain gue ya? Parah banget tau nggak ampe ninggalin gue sendirian." omel Tedjo.
Yumi segera menarik Tedjo untuk bersembunyi di balik pohon rambutan. Mereka jongkok.
"Jangan protes dulu lo." kata Yumi sambil menyuruh Tedjo mengecilkan suaranya.
"Emangnya kenapa sih? Ada yang ngikutin lo ya?" tanya Tedjo polos.
Yumi mengiyakan supaya Tedjo tak banyak bicara.
"Mana tuh orang?" Tedjo berniat melihat ke belakang.
"Jangan liat ke belakang. Dia ada di situ." kata Yumi sambil menahan kepala Tedjo.
Sementara itu, Baruna, Karma, Ishak dan Awang....
"Curiga banget gue. Entuh beneran sepupunya apa bukan sih? Kok mirip banget sama Bang Tedjo?" kata Baruna.
Kemudian, Yumi pun segera membawa ke salon yang ada di dekat daerah itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Yumi dan Tedjo dari salon itu.
Tedjo cemberut.
"Kenapa cemberut gitu lo?" tanya Yumi.
"Kenapa lo ngajak gue ke salon emak-emak sih? Cape gue dicubitin mulu gegara tuh emak-emak gemes sama gue. Nggak cemburu lo sama laki lo?" tanya Tedjo dengan muka memelas.
"Ya nggaklah. Ya kali cemburu sama emak-emak." Yumi menahan tawa.
"Kalo cewek seksi yang nyubitin gue, lo cemburu nggak, Yum?" tanya Tedjo dengan intonasi menggoda.
"Udah, deh. Anggap aja ini pahala jariyah lo." kata Yumi enteng.
"Pahala jariyah apanya?" tanya Tedjo bingung, tapi Yumi hanya mengabaikannya.
"Cakep juga modelan rambut lo begitu." ledek Yumi sambil menahan tawanya.
"Hah? Yang bener, Yum?!" tanya Tedjo antusias karena baru kali ini Yumi memujinya, meskipun terdengar meledek.
"HAHAHA...."
"Jangan ketawa aja lo. Jawab pertanyaan gue. Gue cakep kalo begini?" tanya Tedjo putus asa.
"Nggak tau gue. Udahlah, ayo makan. Nggak mau makan lo? Ntar mati, lagi." Yumi mengajak Tedjo pergi.
"Lo pikir gue nggak laper nyariin lo dari kemaren?" Tedjo mulai kesal.
"Hahahahaha...."
Di tempat lain....
__ADS_1
"Cakep juga modelan rambut si Debby." puji Awang.
"Kalo suka bilang, Bang." goda Baruna. "Biar gue aduin sama si Embun kalo lo tuh jelalatan."
"Bar, menurut lo Embun bakalan suka nggak ya sama gue?" tanya Awang yang entah kenapa malah cengengesan.
"Wah... kalo itu gue nggak ikut-ikutan deh, Bang. Gue kan timnya Bang Tedjo." kata Baruna dengan wajah polosnya.
"Tim apaan lo sama si Tedjo?" tanya Awang penasaran.
"Tim nggak setuju kalo Embun suka sama lo. Hahahahaha...." jawab Baruna yang sontak membuat Karma dan Ishak ikut tertawa mendengarnya. Sementara Awang hanya merengut akibat ledekan sahabatnya itu.
"Ya udah. Ayo balik lagi ke penginapan." ajak Ishak yang diangguki semua orang.
"Gue kira Debby tadi itu si Tedjo." gumam Baruna.
...•••...
Di restoran, pukul 17:51....
"Tedjo?"
"Apa?"
"Lo kok masih bawa-bawa koper? Emang lo tidur dimana semalem?" tanya Yumi heran.
Tedjo diam sejenak kemudian mengangguk.
"Lo nggak tidur di hotel? Lo terus nyariin gue ya?" tanya Yumi empati.
Tedjo menatap Yumi lama.
"Ya kali gue nyariin lo terus sampe tidur di pinggir jalan. Pulau ini tuh gede. Satu banding seribu kalo lo bisa gue temuin. Lo pikir gue bego apa." Tedjo berbohong tentang semua itu. Nyatanya, ia memang tidur di pinggir jalan sambil terus mencari keberadaan Yumi, istrinya.
"Lagian lo lupa kalo suami lo ini ganteng? Gue punya banyak teman di sini. Jadi, lo nggak usah khawatir." ujar Tedjo.
Yumi mendengus kesal.
"Emang siapa teman lo di sini? Nyamuk? Apa biawak?"
"Sembarangan lo. Gue punya banyak temen cewek di sini. Gue semalem nginap di rumahnya asal lo tau."
Yumi diam sebentar. "Nggak percaya gue."
"Kenapa? Cemburu lo?" tanya Tedjo dengan muka datar.
"Sotoy lu." balas Yumi.
"Mata lu noh beraer. Mau nangis kan lo?" goda Tedjo membuat Yumi semakin sebal.
"Jangan ngomong sama gue deh. Nyebelin banget." kata Yumi geram.
"Lo tuh sering banget sih bohong sama gue. Kalo itu nyakitin lo, bilang sama gue. Bilang kalo lo lagi cemburu." goda Tedjo tak henti-henti. Belum saja Yumi menunjukkan taringnya agar cowok itu bisa menutup mulutnya.
"Kita baru aja nikah sehari yang lalu. Masa iya gue udah cemburu aja sama lo." jawab Yumi tak habis pikir.
"Emang lo butuh berapa lama sih? Lo nggak pernah apa, denger dongeng sang pangeran yang jatuh cinta pada sang putri dalam waktu satu malam?" tanya Tedjo dengan ekspresi serius, berbeda dari sebelumnya.
Yumi berpikir sejenak. Kali ini, ia juga sama seriusnya dengan Tedjo. "Terus lo masih percaya sama dongeng di umur lo yang udah segini? Dongeng tuh cuman kisah tragis yang di ceritain ulang dengan akhir bahagia." jelas Yumi dengan opininya sendiri.
Tedjo menghela napas panjang dan dalam. "Yumyum?"
"Apa?"
"Iya, iya. Nggak usah bahas soal dongeng dulu deh. Maksud gue... apa itu berarti butuh waktu yang lama buat lo ikut ngerasainnya?" tanya Tedjo sambil menatap kedua manik mata Yumi lekat-lekat.
"Lo lagi ngomong apaan sih? Nggak ngerti gue."
Tedjo mendengus kesal. "Lupain aja deh. Ayo ke hotel."
Yumi pun berjalan mendahului Tedjo.
Mereka pun pergi dari restoran.
"Ngomong apaan sih gue tadi? Tuh bini pura-pura bolot apa emang lemot sih otaknya?" gumam Tedjo geram pada Yumi. Rasanya ia ingin mencekik Yumi gadis itu menyadari apa yang di bicarakannya tadi.
"Ngomong apa lo?" Yumi menoleh ke belakang.
"Kagak." Tedjo memasang muka seolah tak terjadi apa-apa.
Tedjo mengomel dalam hati.
...•••...
...
__ADS_1
...