SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Lily Api


__ADS_3


...•••...


"Mau kemana lo?" tanya Tedjo begitu melihat Yumi bersiap-siap.


"Keluar." jawab Yumi singkat.


"Sama siapa?" tanya Tedjo lagi.


"Penting banget gue jawab?" tanya Yumi balik.


"Ya, iyalah. Gue kan suami lo kalo lo lupa." balas Tedjo sebal.


"Oh iya, gue lupa." Yumi berdecak sebal.


"Dasar...." Tedjo mendengus.


Yumi kemudian melengos pergi tanpa berpamitan pada Tedjo.


"Woi, Yum! Mau kemana sih lo?" tanya Tedjo agak frustasi.


"Gue cuman keluar sebentar. Ah elah!" jawab Yumi.


"Gue ikut!"


"Hah?!" Yumi kaget mendengar ucapan Tedjo.


"Apa?" tantang Tedjo.


"Gue juga pengen keluar asal lo tau. Emangnya lo aja yang mau keluar. Gue juga mau senang-senang, bukan lo doang." kata Tedjo geram.


"Awas aja kalo lo sampe ngikutin gue." kata Yumi membuat Tedjo bergidik ngeri.


Yumi pun bergegas pergi setelah mengancam Tedjo.


"Iwis iji kili li simpi ngikitin giwi. Emangnya siapa yang mau ngikutin lo sih? Geer amat." gerutu Tedjo sambil melihat Yumi yang sudah menjauh.


"Yang bener aja. Gue nggak mungkin biarin lo pergi sendirian. Gue emang mau ngikutin lo asal lo tau." Tedjo tak tinggal diam. Ia akhirnya diam-diam mengikuti kemana Yumi pergi.


Tedjo mengendap-endap sambil memperhatikan Yumi dari kejauhan.


"Mereka berdua mau pergi tanpa gue? Mau kemana dah tuh bocah? Ada yang nggak beres kayaknya nih." gumam Tedjo begitu melihat Yumi bertemu dengan Baruna di depan gang rumahnya.


Tedjo terus membuntuti Baruna dan Yumi, namun tiba-tiba Tedjo kehilangan jejak.


"Mana tuh anak perginya? Bukannya ke sini ya? Nggak dah kayaknya. Mana sih?" Tedjo mulai putus asa.


Sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk pundak Tedjo.


"Ngapain lo di sini?" tanya seseorang itu.


"Uahlah. Jangan ganggu gue. Gue lagi buntutin orang. Diem lo di situ." jawab Tedjo tanpa menoleh.


"Orangnya Baruna sama Yumi ya, Bang?" tanya salah seseorang itu lagi.


"He-eh. Makanya, lo diem dulu di situ. Jangan-"


Ketika Tedjo menoleh, bersamaan itu ia dibuat terbelalak begitu tahu siapa orang yang mengajaknya mengobrol.


"Allahu Akbar!" seru Tedjo.


"Ngapain lo, Bang?" tanya Baruna.


Tedjo kaget bukan main. Di hadapannya sudah ada Baruna dan Yumi dengan tatapan penuh tanya.


"Ngapain lo di sini? Lo ngikutin gue?" tanya Yumi kesal.


"Lo ngajak Bang Tedjo, Yum?" tanya Baruna bingung.


"Oh... jadi sekarang lo berdua nggak mau ngajak gue main bareng?" tanya Tedjo tak kalah kesal.


"Bukan gitu, Bang. Tapi, gue sama Yumi mau ngedate ini." jawab Baruna membuat Yumi memalingkan wajahnya.


Tedjo mendengus.


"Oh ya? Emang mana pacar lo?" tantang Tedjo karena sudah tahu kebenarannya.


"Lo lupa, Bang? Pacar gue kan Yumi." jawab Baruna tak peduli bagaimana reaksi Tedjo.


Tedjo geregetan melihat tingkah Baruna.


"Bukannya kalian udah putus?" tanya Tedjo yang ikut ke dalam permainan Baruna.


"Siapa bilang?" tanya Baruna balik.


"Yumi sendiri yang bilang ke gue." jawab Tedjo.


"Waktu itu kita lagi berantem kecil. Biasalah... cewek kan suka bilang putus, tapi nggak benar-benar serius. Bang Tedjo gitu aja masa nggak tau. Gimana sih lo? Ternyata bener ya apa yang dibilang Bang Karma." kata Baruna.


"Apaan yang udah dibilang kulkas sepuluh pintu tuh sama elo?" tanya Tedjo penasaran.


"Bang Tedjo tuh bego kalo urusan asmara. Kalo ada waktu luang lo, Bang, gue bakal ngajarin lo cara ngedate yang baik dan benar." Baruna tersenyum menang.


"Gue nggak butuh! Urusin aja pacar lo yang bawel noh!" kata Tedjo sambil melirik ke arah Yumi.


Yumi hanya menatap Tedjo dengan tajam.


"Jangan gitu dong, Bang, sama pacar gue. Yumi tuh bukan bawel tapi peduli." kata Baruna.


Yumi tersenyum menang karena merasa dibela.


"Udahlah. Pergi sono lu pada." kata Tedjo tambah kesal.


"Hah? Lo nggak jadi ikut?" tanya Yumi heran melihat perubahan sikap Tedjo.


"Siapa bilang gue mau ikut sama lo berdua? Gue nggak mau jadi nyamuk di tengah-tengah lo berdua. Gue nggak mau!" tolak Tedjo, sok jual mahal.


"Ya udah deh, Bang. Kita jalan dulu ya." Baruna menyunggingkan senyumannya seolah sedang meledek Tedjo.


Tanpa aba-aba lagi, Baruna dan Yumi pun melesat pergi.


"Ganteng doang. Jemput cewek depan gang!" seru Tedjo.


...•••...


Bohong! Saat ini, Tedjo mengikuti Baruna dan Yumi dari belakang dengan jarak yang cukup dekat.


"Gue nggak mungkin ngebiarin istri gue pergi sama lo, Bar!" Tedjo menggeram.


"Woi, Tedjo! Lo kenapa sih, hah?!" seru Yumi saat berbalik ke arah Tedjo.


"Lo bilang lo nggak mau ikut tadi? Terus kenapa lo ngikutin kita mulu?" tanya Yumi mulai kesal.


"Gue ngikutin lo pada? Siapa bilang? Rencananya gue emang mau ke sini, tapi nggak sengaja ketemu lo pada." Tedjo mengelak.


"Oh gitu ternyata. Ya udah, Bang Tedjo di sini aja. Kita pergi dulu." kata Baruna.


"Lah?!! Emangnya... lo berdua mau kemana sih?" tanya Tedjo malu-malu.


"Mau ngedatelah, Bang." jawab Baruna.


"Gue... gue...." kata Tedjo gugup.


"Kenapa lo, Bang?" tanya Baruna.


"Gue boleh ikut, nggak?" tanya Tedjo ragu.


Baruna dan Yumi saling pandang karena merasa aneh dengan kelakuan Tedjo.


"T-tapi, bukan berarti tadi gue ngikutin lo berdua ya. Gue lagi free aja, makanya mau ikut." Tedjo beralasan.


"Kalo lo lagi free, kenapa nggak ke rumah Bang Awang aja?" tanya Yumi membuat Tedjo berpikir keras.


"Gue maunya main sama lo pada. Boleh ya? Ya?" kata Tedjo dengan muka memelas.


"Boleh aja sih, Bang, tapi tolong beliin kita makanan ya." Baruna tersenyum puas.


"Emang nggak ada cara lain buat ngerjain gue, Bar?" tanya Tedjo lesu.


"Itu udah paling keren, Bang. Jiwa dermawan lo keluar." Baruna menampilkan seringainya.


"Beliin makanan yang enak ya." kata Yumi sambil tersenyum manis.


"Hm!" Tedjo benar-benar kesal.


"Ngapa gue ngikutin mereka sih?! Mending gue tidur aja tadi sambil pargoy di atap rumah. Tapi... gue nggak mau Baruna sama Yumi dekat-dekatan. Bisa berabe ntar." gumam Tedjo.


"Woi, Beb! Tungguin gue!" seru Tedjo saat Baruna dan Yumi sudah lebih dulu berjalan.


...•••...


Tedjo memandangi Jungkook dan Yumi yang sedang bernyanyi-ria di tempat karaoke.


"Dih! Nyesek banget jadi gue." batin Tedjo. "Harusnya aku yang di sana~ dampingimu~ dan bukan dia~"


Tedjo manggut-manggut sambil mendengar nyanyian mereka yang tidak syahdu. Sebenarnya syahdu, tapi Tedjo saja yang iri hati.


Baruna mulai bernyanyi.


"Asomasow, asomasow, asomasow~ Emeresker, emeresker, emeresker eh masken~ Asken asken atchu~ Chu enesken esken atchu de~"


"Wah! Baruna keren!"


"Gue juga keren kok! Cuman gitu doang, bisalah gue!" Tedjo bersemangat mengalahkan Baruna.


Baruna memberikan mikrofon itu pada Tedjo.


Tedjo mulai bernyanyi sambil menutup matanya. Ia mencoba bernyanyi  dengan penuh penghayatan.


"I might, i might kill my ex~ Not the best idea~ His new boyfriend's next~ How'd I get here? I might kill my ex~ Dari orang tuamu~" Tedjo memandang ke arah Yumi yang sudah kesal melihatnya.


Yumi hanya menghela napas melihat kelakuan si botak kembar tak seiras itu.


Kemudian tanpa aba-aba, Tedjo mengguncangkan tubuh Baruna ke kanan ke kiri, bermaksud mengajaknya menari bersama.


"Woi, Bang! Stop! Lo bikin organ dalam gue gelundungan!" seru Baruna tapi Tedjo tak mempedulikannya.


Tedjo sangat menikmati lagunya.


Sepertinya mimpi buruk, jika mengajak Tedjo kencan. Cowok itu benar-benar memikirkan hal yang tidak terpikirkan oleh orang normal.


Begitu mereka keluar dari tempat karaoke, Yumi tak henti-hentinya menatap Tedjo kesal sambil sesekali memukul lengannya.


"Suara gue bagus, kan?" tanya Tedjo sambil nyengir.


"Bagus pala lu kotak. Berisik, woi." kata Yumi sebal.


"Ngapa gue doang yang lo marahin? Baruna noh yang berisik. Ngapa nggak lo marahin? Suaranya jelek banget." kata Tedjo.


"Jadi, maksud lo nyanyi tuh gimana? Nggak pake suara?" Yumi membela Baruna.


"Bar, besok-besok lo nyanyinya nggak usah pake suara." kata Tedjo asal.


"Udahlah. Berantem mulu dah. Heran gue. Mending sekarang kita nonton film. Gimana? Mau nggak?" Baruna melerai mereka.


"Boleh juga saran lo. Ayo dah!" seru Tedjo bersemangat.

__ADS_1


"Lo tuh nggak diajak." kata Yumi sambil menatap Tedjo tajam.


"Ayolah, Yum. Gue janji bakal bersikap manis." Tedjo memasang wajah memelas.


"Awas aja kalo lo ngeselin lagi." ancam Yumi.


...•••...


"Mending kita nonton film horor aja." saran Tedjo.


"Bang Tedjo berani emang?" tanya Baruna.


"Ayolah, Bar. Dimana jiwa muda lo? Lo nggak mau dapat pelukan gratis?" kata Tedjo sambil menaik-turunkan alisnya.


"Woi! Gue denger ya!" seru Yumi.


"Lah? Kok dia denger? Dasar tukang nguping!" gerutu Tedjo.


Setelah membeli popcorn berukuran jumbo, mereka pun menonton film.


Belum apa-apa, Tedjo sudah merusuh dengan mengambil popcorn Baruna.


"Popcorn lo kan belum abis sih, Bang." kata Baruna dengan geram. "Serakah bener."


"Jangan berisik dalam bioskop." Tedjo mencoba tidak menghiraukan kata-kata Baruna.


Baruna hanya bisa mendengus menghadapi kelakuan Tedjo.


"Filmnya udah mulai." kata Yumi sambil memposisikan duduknya dengan nyaman.



Sagara sebagai putra mahkota kerajaan.





Kamandanu sebagai pangeran dari kerajaan tetangga.





Hiranya sebagai putri dari kerajaan tetangga. Sekaligus sahabat Sagara dan Kamandanu sejak kecil.





Akarsena sebagai sahabat Kamandanu dan teman latihan pedang Hiranya.





Orion sebagai kakak tiri Sagara yang berambisi menjadi raja.




Pernah tidak... kau mengalami cinta bertepuk sebelah tangan? Aku rasa... terlalu berbahaya untuk cinta yang dibuat sendirian.


"Harusnya ini tak akan jadi masalah, tapi... masalahnya muncul ketika aku jatuh cinta pada Hiranya." - Sagara.


"Setidaknya ini tidak akan terjadi... jika aku terus memendam rasa cintaku pada Hiranya." - Kamandanu.


Dalam kisah ini, terdapat pihak yang tersakiti. Namun sayangnya bukan hanya satu pihak, melainkan lebih.


Seorang gadis sedang berlatih pedang di tengah padang rumput. Tampak juga seorang laki-laki tampan yang sedang memperhatikannya sambil sesekali tersenyum kotak saat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Sagara?!" teriak gadis itu karena jaraknya dengan lawan bicaranya agak jauh.


"Ya!"


"Aku ingin berlatih pedang!" seru Hiranya dengan senyuman manisnya.


"Untuk apa kau melakukan itu?!" tanya Sagara dengan tampang beloonnya.



Hiranya kemudian menghentikan latihannya dan menghampiri Sagara yang sedang duduk di rumput.


"Untuk pengkhianat. Aku akan melenyapkannya jika aku berhasil menangkapnya." jawab Hiranya.


"Wah... menakjubkan." Mata Sagara tampak berbinar.


"Itu juga berlaku untukmu, Sagara. Jika kau berkhianat di belakangku, aku tak segan-segan untuk menikam jantungmu dengan pedangku." ujar Hiranya.


"Ahh... tepat mengenai jantungku." ujar Sagara sambil memegang dadanya.


Hiranya hanya mendengus. "Dasar, kau ini... aku bahkan belum tahu, kau itu pengkhianat atau bukan."


"Hiranya?"


"Ya."


"Kau ingin apa saat kembali dari latihan pedangmu nanti?" tanya Sagara.


"Ayolah. Aku sedang serius."


"Hm... aku ingin bunga. Bunga lily."


"Itu sangat mudah. Aku akan mengambilkannya untukmu."


"Tapi, bunga lily api."


"Hah?!! Kau gila! Bunga itu sangat langka!" Sagara frustasi.


"Aku hanya menjawab pertanyaanmu. Jika tidak bisa menemukannya, ya sudah. Aku juga tidak terlalu berharap. Jangan mencarinya jika kau kesulitan." ujar Hiranya.


"Aku akan mencarikannya untukmu." Sagara tersenyum penuh arti.


Hiranya menatap Sagara dengan tatapan selidik.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu." ujar Hiranya lagi.


"Iya. Dasar cerewet!"


"Hei! Kau yang lebih cerewet, tahu! Kau saja selalu protes saat aku menggantungkan celana dalammu di teras rumah." goda Hiranya.


"Aku tidak akan cerewet jika kau tidak menggantungkannya di teras rumah tetangga!" balas Sagara.


"Hahaha.... Jika diingat lagi itu sangat lucu. Wajahmu memerah saat itu seperti orang yang sedang jatuh cinta."


Namun satu hari sebelum keberangkatan Hiranya untuk berlatih pedang, Sagara tak sengaja mendengar pembicaraan gadis itu dengan Kamandanu.


"Aku mencintaimu, Hiranya...." kata Kamandanu pada Hiranya.


Sagara mendengarnya. Pernyataan cinta Kamandanu pada Hiranya.


"Aku juga mencintaimu." jawab Hiranya tanpa ragu.


Seketika, air mata Sagara jatuh.


Bagaimana mungkin mereka bisa mencintai orang yang sama? Bukankah ini akan menjadi lebih sulit? Tapi, sepertinya tidak. Ini pasti jauh lebih mudah. Karena gadis itu sepertinya hanya mencintai satu orang saja.


Mereka tidak melihat ke arah Sagara, karena laki-laki tampan itu berhasil bersembunyi.


Saat Hiranya sudah pergi meninggalkan Kamandanu, saat itulah kesempatan Sagara untuk bicara pada Kamandanu.


Sagara menangkap pundak Kamandanu untuk memaksanya berbalik ke arahnya.


Kamandanu yang kaget, spontan memberikan serangannya pada Sagara. Namun tiba-tiba dia hanya bisa termangu saat mengetahui kalau Sagaralah yang menjadi lawannya sekarang.


"Kanda Sagara...?" gumam Kamandanu kemudian.


"Aku ingin tahu seberapa kuat kau untuk melindunginya." ujar Sagara dengan tatapan tajam.



"Tapi, kau temanku, Kanda...."


"Aku bukan temanmu lagi! Cepat lakukan dengan benar. Atau kau akan mati...." tegas Sagara, namun suaranya terdengar lirih.


Sagara yang kalap tiba-tiba menyerang Kamandanu tanpa ampun. Meskipun Sagara tak begitu menguasai bela diri seperti Kamandanu, namun emosinya cukup untuk membuat Kamandanu kewalahan menangkisnya.


Kamandanu tak melawan. Ia hanya mencoba menghindari serangan Sagara.


"Lawan aku!" seru Sagara.


Ditatapnya Sagara dengan baik-baik. Mata indah Sagara seolah menyiratkan rasa sakit dan kecewa dalam waktu yang bersamaan.


Berkali-kali Kamandanu harus menangkis serangan Sagara. Namun kali ini, ia tidak bisa membiarkannya lagi. Ia tidak mau berada di dalam keadaan seperti ini. Ia harus menghentikan Sagara.


Tepat pada saat itulah, Kamandanu akhirnya balas menyerang Sagara-meskipun tidak sanggup membalas serangannya.


Kamandanu mengeluarkan jurus bela dirinya dan melawan Sagara dengan seberhati-hati mungkin.


Dan tanpa kesengajaan, serangan Kamandanu telak mengenai dada Sagara. Membuatnya seketika mundur beberapa langkah.


"Aku tidak bisa berdiri lebih lama lagi.... Ayo selesaikan semua ini dengan cepat!!!" Sagara berteriak, lalu kembali menyerang Kamandanu secara agresif.


"Kanda! Hentikan! Jika seperti ini, kau akan terluka!" seru Kamandanu yang sedang menangkis serangan Sagara.


"Lalu, apa hubungannya denganmu?! Hanya diriku yang terluka!" balas Sagara membuat Kamandanu menatap ke arahnya dengan nanar.


"Tapi... itu juga melukai hatiku! Kau temanku, Kanda Sagara! Jika kau sakit, aku juga ikut sakit!" seru Kamandanu dengan suara serak.


Sagara berhenti menyerang sambil menatap Kamandanu nanar. Air matanya sudah menggenang di matanya.


"Karena hal itu pula, kita bisa mencintai orang yang sama, kan?!" seru Sagara akhirnya.


"Apa... Kanda...."


Tanpa Kamandanu sadari, air matanya sudah jatuh.


"Dia hanya mencintaimu, Kamandanu. Karena itu... aku ingin mengakhirinya dengan caraku sendiri.... Siapa yang berhasil menjatuhkan lawan, dialah pemenangnya." isak Sagara.


"Tapi, aku tidak mau melakukannya...."


Tanpa Sagara duga, Kamandanu menghampirinya dan menariknya ke dalam pelukan.


Saat ini, Sagara dan Kamandanu sedang duduk di padang rumput. Rumput yang di atasnya dipenuhi daun gugur.


Sagara dan Kamandanu terdiam cukup lama, sampai akhirnya Kamandanu membuka mulut.


"Aku melukaimu, Kanda Sagara...."

__ADS_1


Sagara tersenyum miris. "Luka ini tidak terlalu dalam. Kau sangat payah. Bagaimana bisa kau membunuh seseorang yang akan membahayakan Hiranya kelak?"


"Tidak. Aku sudah melukai hatimu, Kanda Sagara...."


Sagara mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau air matanya jatuh di depan Kamandanu lagi.


"Hiranya hanya mencintai satu orang, tapi kenapa aku merumitkannya?" gumam Sagara.


"Kanda Sagara.... Tak apa jika kau ingin aku pergi dari Hiranya." ujar Kamandanu membuat jantung Sagara seperti disayat.


"Kau harus bersamanya." ujar Sagara terdengar lirih sambil menampilkan senyum manisnya.


Melihat senyuman itu, membuat Kamandanu tersenyum getir.


"Kau tetap di sini. Aku akan kembali."


Setelah mengatakan itu, Sagara tiba-tiba pergi entah kemana. Meninggalkan Kamandanu sendirian.


Sagara memang kembali, namun....


"Kamandanu...."


Kamandanu menoleh ke arah itu berasal, lalu tiba-tiba matanya terbelalak kaget.


Kenapa Sagara bersama...?


Hari demi hari berlalu, Hiranya yang masih fokus berlatih pedang, tiba-tiba mendapatkan kabar tak terduga dari Akarsena, teman seperguruannya.


"Hiranya, kau tidak pulang?" tanya Akarsena tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Hiranya mengernyit heran.


"Kamandanu sudah... meninggal."


Jantung Hiranya terasa seperti mencelus. Perlahan, air matanya mengalir.


"Kau... kau bilang apa barusan?" Suara Hiranya tercekat karena sedang menahan tangis.


"Apa kau bercanda?!!" Hiranya meninggikan suaranya saat air matanya semakin deras mengalir. "Jangan bercanda seperti itu! Aku tidak suka mendengarnya!"


"Kamandanu dihukum mati... karena dituduh sebagai pemberontak."


Begitu mendengar penjelasan Akarsena, air mata Hiranya tak berhenti mengalir.


"Akan kubunuh pengkhianat itu dengan tanganku sendiri." ujar Hiranya dengan suara lirih dan tatapan yang tampak menyakitkan.


Sekarang, di sinilah Hiranya-tempat dimana Kamandanu disemayamkan.


Dengan langkah ragu, Hiranya menghampiri tempat peristirahatan terakhir Kamandanu. Gadis itu berjongkok, lalu meletakkan bunga di depan nisan.


Sebisa mungkin Hiranya menahan air matanya dan itu membuat tenggorokannya terasa sakit.


"Kamandanu...." gumam Hiranya lirih.


"Kau... ingin tahu siapa pelakunya?"


Hiranya menoleh ke sumber suara itu.


"Sagara."


Nama itu berhasil membuat seluruh tubuh Hiranya bergetar. Air matanya yang sedari tadi sudah menggenang, akhirnya jatuh seketika.


Sampai akhirnya, Hiranya menemui Sagara dengan pedang yang ada ditangannya.


"Hiranya...." gumam Sagara terkejut melihat kehadiran Hiranya.


Hiranya hanya menatap Sagara dengan emosi yang tidak terkendali. Tatapannya begitu menghujam meski air matanya sudah menggenang. Ia benar-benar kalang-kabut saat melihat Sagara di hadapannya.


Sagara tersenyum kecil.


"Kau sudah pulang? Bagaimana latihan pedangmu? Apa kau sudah mahir?" tanya Sagara sambil menatap Hiranya ngeri.


Hiranya menyunggingkan senyumannya samar. Tampak menyakitkan di mata Sagara.


"Kau tahu kan, alasanku berlatih pedang?" tanya Hiranya dengan menatap Sagara nanar.


"Ya, aku tahu. Kau ingin melenyapkan seorang pengkhianat, kan?" jawab Sagara setenang mungkin.


"Ya. Dan sekarang, aku sudah menangkapnya." ujar Hiranya dingin.


Sagara terhenyak. Ia hanya bisa memperhatikan mata Hiranya yang tampak sembab dan memerah.


Tiba-tiba, Hiranya menyerang Sagara dengan pedangnya yang berhasil dihindari Sagara.


Lalu setelahnya, Sagara dengan cekatan mengambil pedang yang tak jauh darinya.


Hiranya terus memberikan serangan dan Sagara berhasil menahan dengan pedangnya.


Saat pedang keduanya bertaut, Sagara menatap mata Hiranya. Tatapan gadis itu menyiratkan kebencian dan juga kekecewaan yang mendalam.


Di detik berikutnya, Hiranya segera menghunuskan pedangnya ke arah jantung Sagara.


"M-maafkan aku, Hiranya... yang tak bisa mencegah mereka." ujar Sagara dengan mulut yang sudah mengeluarkan banyak darah.


Untuk sejenak, Hiranya hanya bungkam. Ia mengernyit bingung begitu mendengar ucapan Sagara.


Sagara menceritakan tragedi yang merenggut nyawa sahabat karibnya, Kamandanu. Jadi, ketika itu....


"Kau tetap di sini. Aku akan kembali." ujar Sagara.


Setelah mengatakan itu, Sagara tiba-tiba pergi entah kemana. Meninggalkan Kamandanu sendirian.


Sagara memang kembali, namun....


"Kamandanu...."


Kamandanu menoleh ke arah itu berasal, lalu tiba-tiba matanya terbelalak kaget.


Kenapa Sagara bersama... para pengawalnya...?


Saat ini, Kamandanu sudah diikat dan bersiap akan dihukum mati oleh algojo kerajaan.


Sementara Sagara, wajahnya penuh dengan luka lebam dan tangannya juga diikat. Sehingga ia tidak bisa melakukan apapun.


Sagara tertunduk lemah dengan mata yang terasa memanas dan memerah.


"Kanda Sagara...." gumam Kamandanu begitu lirih.


Sagara kemudian menatap Kamandanu dan beralih menatap nyalang ke arah semua orang yang sedang menantikan hukuman itu.


"Kamandanu bukan pemberontak! Ini kesalahan! Kenapa kalian termakan hasutan Orion?!" seru Sagara sambil mencegah tindakan algojo itu untuk mencambuk Kamandanu.


Kamandanu hanya mengamati Sagara sambil tersenyum getir ke arahnya.


Sagara yang melihatnya pun terisak karena senyuman Kamandanu tampak menyakitkan di matanya.


"Tolong dengarkan aku! Kamandanu bukan pemberontak!" teriak Sagara dengan segala emosinya.


Sagara menangis semakin keras, begitu melihat Kamandanu dicambuk tanpa ampun.


"KAMANDANU!!! TIDAK!!!" Sagara meraung sejadi-jadinya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Pengawal itu terus mencengkeram pundak dan tak membiarkannya untuk menyelamatkan Kamandanu.


"KAMANDANU!!!" pekiknya. "TOLONG SIAPAPUN, DENGARKAN AKU!!!"


Sekarang, Sagara di dera perasaan bersalah.


Karena Kamandanu sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


"KAMANDANU!!!" pekik Sagara tampak kacau. Ia terus meraung tapi tak ada satupun yang mau mendengarnya.


Begitulah kejadian yang sebenarnya.


"Maafkan aku...." ujar Sagara dengan sisa kekuatannya.


Pedang yang ada di tangan Hiranya pun terjatuh. Kata-kata itu seolah menyambar Hiranya.


Gadis itu tahu. Ia pasti akan menyesal setelah ini. Ia sudah membunuh orang yang tak bersalah dari awal.


"Arghhhhhh!!" teriak Hiranya histeris sambil menarik rambutnya sendiri penuh kekecewaan. Bahkan ia sudah meraung-raung, menyesali perbuatannya.


Hiranya menangis sejadi-jadinya. Ia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Di amatinya bunga lily api yang sudah tergeletak dengan vas yang sudah pecah karena pertikaian tadi.


Sagara sudah menepati janjinya.


"Terima kasih, Hiranya. Karena kau, aku tidak perlu mengotori tanganku untuk melenyapkannya. Karena kau, akulah satu-satunya yang akan menjadi raja."


Suara itu membuat Hiranya terperanjat. Hiranya berbalik ke arah seseorang yang sedang bicara itu.


"Tindakanmu terpuji sekali karena sudah membantuku tanpa imbalan apapun." lanjut Orion, membuat mata Hiranya memanas.


"Imbalannya cukup dengan nyawamu...." gumam Hiranya dengan tatapan mata nyalang.


Amat perlahan Hiranya mengambil pedangnya yang sempat terjatuh dari tangannya, kemudian menyerang Orion secara brutal.


Namun saat akan menghunuskan pedangnya ke arah Orion, mata Hiranya membulat kaget.


Karena pedang Orionlah yang terlebih dahulu menghunus ke jantungnya.


Seketika darah keluar dari jantung dan mulut Hiranya, membuat Sagara yang masih bertahan hanya bisa meneteskan air matanya.


Hiranya tergeletak dengan darah yang semakin deras mengalir. Dalam kondisi itu, ia hanya bisa menatap Sagara yang tersenyum lirih ke arahnya. Seolah mengatakan....


"Kau sudah menepati janjimu untuk membunuh pengkhianat itu. Jadi, jangan merasa bersalah."


Hiranya meneteskan air mata.


"Maafkan aku...."


Air mata Hiranya mengalir semakin deras begitu mengingat hari-harinya bersama Sagara dan Kamandanu.


"Kita bukan takdir. Namun, aku tidak apa-apa karena dialah yang kau cintai sekalipun itu membuatku menderita." - Sagara.



"Kau sudah membuatku bahagia, meskipun aku pemeran pendukung dalam kisah ini." - Kamandanu.



Tamat.


Selesai menonton film, tiba-tiba Tedjo keluar dari gedung bioskop dengan air mata yang sudah mengalir.


"Lebih horor ternyata filmnya. Huweeeee...."


"Udah gue bilang lo tuh nggak usah ikut. Nyusahin aja, tau nggak." omel Yumi.


"Hahaha.... Ntar kita beli es krim ya, Bang." kata Baruna, menghibur Tedjo.


Tedjo hanya mengangguk untuk membalas tawaran Baruna.


"Yumi galak." gumam Tedjo.


"Heh!"


"Bebeb, ayo kita pulang!"


"Jangan manggil gue begitu, woi!"

__ADS_1


...•••...



__ADS_2