SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Pacaran Setelah Menikah


__ADS_3


...•••...


Pesta pernikahannya pun berakhir, pukul 22:30....


"Tedjo, sekarang lu udah bisa manggil gue Babeh. Entuh pun kalo lu mau." goda Pak Udin sambil memukul pelan pundak Tedjo.


"Iya, Babeh~" jawab Tedjo ikut menggoda dengan suara yang mendayu.


"Good boy."


"Yumi bakal aman kalo sama Tedjo, Beh. Iya kan, Yumyum?" kata Tedjo.


"Ya kan emang gitu harusnya. Awas aja lo macem-macem ke gue. Gue nggak segan-segan teriak depan umum." jawab Yumi.


"Ngapain gue macem-macem sama lo depan umum. Ya gue cari tempat yang sepilah. Kan udah nikah kita." Tedjo menaik-turunkan alisnya.


Yumi mendengus.


"Oh iya, Djo Ingat ya, kamu sama Yumi tuh masih sekolah. Jadi, jangan yang aneh-aneh dulu sebelum waktunya ya?" kata Pak Selamet terus-terang.


"Maksud Bapak gimana?" tanya Tedjo bingung.


"Bapak yakin kalo kamu bisa dipercaya." kata Pak Selamet.


"Percaya apanya ya, Pakde?" tanya Yumi ikut bingung.


Tedjo melirik Yumi begitu ia mengerti maksud Pak Selamet.


"Tedjo kan udah nikah sama cewe knalpot racing enih, ya jadi bebas dong Tedjo mau ngelakuin apa aja." kata Tedjo enteng.


"Oi, Djo! Lu berdua pan masih sekolah! Jangan macem-macem dulu deh!" seru Pak Udin.


"Pokoknya Tedjo nggak peduli, Beh. Tedjo bebas aja dong ngelakuin apapun sama bini Tedjo. Lo mau kan, Yum?" goda Tedjo sambil merangkul Yumi.


Yumi yang risih langsung menepisnya.


Tedjo kembali merangkul Yumi sambil nyengir.


Yumi hanya bisa melototi Tedjo.


"Aa emang suka becanda. Jadi, kalian nggak usah khawatir." kata Bu Titin pada Pak Udin dan Pak Selamet.


"Tedjo nggak becanda kok, Mak." goda Tedjo usil.


"Hah?" Bu Titin melongo. "Pokoknya kamu jangan macem-macem ya, A." Bu Titin memperingatkan anak laki-lakinya.


"Macem-macem gimana?" tanya Yumi polos.


"Bude nggak bisa bilang, Neng. Ntar Eneng juga ngerti." kata Bu Titin gugup.


Yumi makin bingung.


"Udah deh, jangan terlalu dipikirin. Oh iya, Neng. Mulai sekarang Eneng harus manggil Bude 'Emak' ya?" kata Bu Titin.


"Iya, Mak."


"Embun seneng banget karena Mbak Yumi udah jadi bagian dari keluarga kita. Oh iya, Mas Tedjo sering ngigo kalo lagi tidur. Jadi, Mbak Yumi hati-hati aja sih." kata Embun.


"Oh ya? Wah... kalo gitu gue emang harus hati-hati nih. Makasih ya, Embun, udah dibilangin." ujar Yumi.


"Kalo mau ghibah jangan depan orangnya langsung. Ngerasa nih gue." celetuk Tedjo.


"Kan emang bagus gitu. Biar orangnya langsung nyadar." balas Yumi.


Tedjo mendengus.


Semua orang tertawa.


"Aye permisi ke toilet dulu ya."


"Iya."


Yumi pergi meninggalkan mereka semua.


"Akhirnya, kite udeh besanan aja nih, Bro Selamet." kata Pak Udin sambil merangkul senang Pak Selamet.


"Iya, Bang Udin. Akhirnya, Yumi mau nikah sama Tedjo." kata Pak Selamet ikut senang.


"Ya walaupun kite kudu boongin Yumi soal utang entuh. Gua ngerasa udah jadi Babeh yang jahat buat dia. Tapi, untung aja semua berjalan lancar ye, Bro. Seneng kan lu, Djo?" tanya Pak Udin.


"Ya iyalah, Beh." Tedjo tersenyum sumringah.


"Apa-apaan nih?"


Mereka semua menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Yumi sudah kembali dari toilet dan mendengar kebohongan itu.


Yumi pergi dengan rasa kecewa.


"Yumyum!" panggil Tedjo, tapi tak digubris Yumi.


"Tedjo susulin ya, Beh." kata Tedjo pada Pak Udin.


"Iya, iya. Pergi deh lu." Pak Udin tampak cemas.


...•••...


Di taman bermain....


Tedjo menemukan Yumi sedang naik ayunan dan gadis itu masih memakai gaun pernikahannya.


"Gue bilang jangan ganggu gue! Lo budek apa gimana sih?" kata Yumi.


"Lo nggak ada ngomong begitu ya. Lagian gue ke sini bukan mau gangguin lo kok. Gue cuman mau nemenin lo." ujar Tedjo.


"Gue nggak mempan dibujuk-bujuk. Gue nggak bakalan pulang." kata Yumi sebal.


"Bener-bener lu ye. Lu mau tidur dimari?" tanya Tedjo ikut sebal.


"Udah gue bilang jangan peduliin gue! Lo ngerti nggak sih?!"


"Tapi, sekarang gue udah jadi suami lo."


"Jangan ngomong kayak gitu!"


"Emangnya kenapa? Gue kan emang suami lo. Apa kuping lo bakal kepanasan kalo gue ngomong begitu?"


"Iya! Mau muntah gue dengernya!" seru Yumi.


"Kenapa lo mau muntah? Gue kan belum ngelakuin itu ke elo? Kita baru aja nikah 12 jam yang lalu. Udah mual-mual aja lo." goda Tedjo.


"Bisa diem nggak sih?!"


"Kalo gue nggak mau, gimana?" Tedjo kemudian menggendong paksa Yumi.


"Woi! Turunin gue! Woi!"


Tedjo segera menurunkan Yumi yang berontak.


"Lo yakin mau tidur di sini?" tanya Tedjo.


"Ya udah. Tapi, awas aja kalo gue pulang karena liat penampakan setan. Gue denger-denger, di sini angker banget. Hihihi~ Yumyum~ hihihi~" goda Tedjo.


"Apa-apaan sih lo! Lo pikir gue bakalan takut?!"


Tedjo kemudian berlari meninggalkan Yumi.


Yumi yang termakan omongan Tedjo pun ikut berlari tak karuan karena ketakutan.


"Tedjo! Tungguin gue! Aduhh!"


Yumi terjatuh.


Tedjo menghampirinya.


"Sakit banget ya?" tanya Tedjo saat melihat Yumi memegang kaki kanannya.


"Ya sakitlah!" jawab Yumi sebal.


Tedjo mengangguk. "Iya sih. Keliatan dari muka lo."


"Terus gimana gue pulangnya kalo begini? Kaki gue sakit banget pas digerakin." kata Yumi mengeluh.


"Yumyum?" Tedjo menatap Yumi baik-baik.


"Apa?"


"Gue tau caranya." kata Tedjo kemudian.


"Cara apaan?"


"Gue bakal ngegendong lo sampe rumah."


"Gila aja! Kagak mau gue!" tolak Yumi cepat.


"Kalo gitu lo harus siap-siap tidur di sini. Gue bakal bawain bantal sama selimut buat lo." canda Tedjo.


"Lo tega sama gue?"


"Tega-tega aja gue." Tedjo nyengir.


"Ya udah deh. Gue mau digendong." kata Yumi terpaksa.

__ADS_1


"Tapi, ada syaratnya." kata Tedjo.


"Apa lagi sih? Pake syarat segala lu." tanya Yumi menahan kesal.


"Lo harus bilang 'ayo suamiku, gendong aku.'"


"Mau gue tambal congor lo, hah?"


"Buru ngomong. Atau tawaran ini akan segera hangus. Tiga... dua... satu...."


"Iya, iya!" Yumi diam sejenak untuk menyiapkan mental. "Ayo suamiku, gendong aku~"


Yumi terdengar terpaksa.


"Bukan kayak gitu. Ulangin lagi." kata Tedjo.


"Ayo suamiku! Gendong aku!" teriak Yumi tertekan.


"Hahaha.... ayo deh, Neng. Udah lama nggak ayo."


Tedjo kemudian menggendong Yumi pulang ke rumah.


"Lo pasti seneng banget nikah sama gue, kan?" tanya Tedjo.


"Sembarangan lo ngefitnah gue." balas Yumi.


"Gue ngegendong istri gue pulang ke rumah!" seru Tedjo.


"Woi, diem. Mau lo disiram air." kata Yumi kesal melihat kelakuan suaminya itu.


"Kalo gue disiram, lo juga ikutan disiramlah. Gue kan lagi gendong elo." balas Tedjo dengan intonasi menggoda.


"Emang laki kampret lo."


"Cieee... laki ceunah."


"Tedjo... pas lo ijab kabul tadi, lo serius nggak ya?" tanya Yumi penasaran.


"Ya seriuslah. Ya kali pernikahan dibuat candaan." jawab Tedjo sungguh-sungguh. "Maafin gue ya, Yum. Dari awal gue nggak jujur sama lo kalo keluarga gue sama Babeh lo mau ngejodohin kita." sesalnya.


"Terus?"


"Gue mana mau nikah sama lo biar utang Babeh lo lunas. Emang nikah kayak beli ketoprak apa. Nikah tuh seumur hidup kalo kata Lesti." omel Tedjo.


"Gue curiga sama lo."


"Apa lagi sih yang lo curigain dari gue, Yang?"


"Yang, Yang, pala lu peyang."


"Dosa lo sama laki begitu." omel Tedjo.


"Berisik!"


...•••...


Di Bandara Soekarno-Hatta, pukul 17:01....


Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun mengantarkan Tedjo dan Yumi untuk pergi berbulan madu.


"Lu bedua liburan 5 hari doang. Jadi, gunain waktunya baik-baik ye?" kata Pak Udin.


"Kabarin kalo udah nyampe ya, Nak?" kata Pak Selamet.


"Jaga diri kalian baik-baik di sana ya A, Neng." kata Bu Titin.


"Mas Tedjo, Mbak Yumi. Jangan lupa bawa oleh-oleh ya." kata Embun.


"Oke~"


"Senang-senang ya, Nak." kata Pak Selamet.


Yumi membungkuk sedikit untuk memberi hormat.


"Nggak usah khawatirin Yumi. Santai aja, oke. Selama ada Tedjo Nugraha, Yumi pasti seneng." kata Tedjo.


"Jangan fitnah gue ya lo." gumam Yumi geram.


"Hati-hati di jalan. Dadah...."


"Dadah.... Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Tedjo dan Yumi pun pergi.


...•••...

__ADS_1



__ADS_2