
...•••...
"I love you."
Sret!!!
Sejurus kemudian, Tedjo mulai mendekatkan wajahnya pada seorang gadis yang terlelap tidur.
Tedjo mencium gadis itu?!!
Yumi yang kebetulan lewat di depan kelas Tedjo hanya bisa tertegun melihat kejadian itu dan langsung bergegas pergi.
Yumi masuk ke kelasnya dengan raut wajah kesal. Kemudian ia menendang kursi yang diduduki Awang, membuat Awang terjatuh.
"Yumi!!! Aduh... pantat gue sakit."
Tawa Ishak dan Caca meledak saat melihat Awang jatuh.
Awang menutup wajahnya malu karena ditertawakan Caca.
"Gue nggak jatuh kok, Ca. Gue cuman pengen duduk di lantai." elak Awang.
Kemudian, Ishak dan Caca menghampiri Awang dan Yumi.
"Lo kenapa? Kenapa cemberut begitu?" tanya Ishak perhatian.
"Gue nggak apa-apa, Bang." jawab Awang.
"Bukan lo yang gue tanya, tapi Yumi." kata Ishak sengaja menggoda Awang.
Awang mendengus kesal. "Gue juga bukan jawab pertanyaan lo, Bang."
Ishak tertawa melihat Awang yang menggeram.
"Yumi, lo kenapa? Kayaknya lo lagi kesel ya?" tanya Caca.
"Lo kesel gegara mie bakso Mpok Nunuy abis? Atau jangan-jangan... lo udah liat Tedjo ya? Tapi, kenapa lo lampiasinnya ke gue?" tanya Awang.
Yumi terbelalak. "Lo liat juga, Bang?"
"Semua orang juga liat kali. Kalo gue jadi lo, gue bakal hajar Tedjo sampe babak-belur." kata Awang memprovokasi.
"Itu kan kalo elo yang jadi gue. Kalo gue mah ogah." balas Yumi membuat Awang cemberut.
"Kasih tau ke kita, Yum. Siapa tau Bang Awang bisa bantuin lo." kata Caca dengan entengnya.
"Kenapa cuman gue sih?" protes Awang.
"Ada yang jual pecel di perempatan dekat sekolah. Gue pengen nyoba tuh pecel." jawab Yumi lesu.
"Lo mau nyoba jualan pecel?" tanya Awang dengan wajah polosnya.
Yumi menghela napas berat saat mendengar Awang.
"Kenapa lo nggak langsung beli aja?" tanya Caca penasaran.
"Duit gue abis!" seru Yumi putus asa.
"Beneran ternyata. Nih cewek bisa sesedih enih gegara pecel?" gumam Ishak.
"Kadang urusan perut lebih nyakitin dari pada urusan cinta." kata Awang dengan serius.
"Ngomongin soal cinta, gue jadi ingat sesuatu."
"Ingat apaan, Bang?" tanya Caca pada Ishak.
"Si Awang."
"Ngapain gue di inget-inget, Bang? Gue kan dari tadi di sini bareng lo pada." kata Awang tak mengerti.
"Ini soal kisah cinta lo, ege."
"Woi, Bang! Kenapa lo ngungkit soal cinta-cintaan gue sih?" tanya Awang mulai sewot. "Kurang kerjaan banget."
"Kisah cinta Awang terbilang miris banget. Dia bisa pacaran dan putus di hari yang sama." kata Ishak memulai peng-ghibah-an.
"Beneran, Bang? Hahaha... gue jadi semangat dengerinnya." kata Yumi kembali ceria.
"Heh! Lo kira kisah cinta gue dongeng sebelum tidur apa gimana? Udah deh, Bang. Biar gue aja yang nyeritain. Ntar kalo Abang yang cerita pasti gue kayak orang paling goblok." kata Awang membuat Ishak mengangguk.
"Di suatu pagi yang cerah, hadirlah seorang pangeran mempesona yang membuat semua gadis tergila-gila padanya. Awang Kusuma. Nama pangeran yang mempesona itu." Awang melantur.
"Woi, Bang! Buru cerita sebelum gue buang lo ke sungai!" kata Yumi yang disetujui oleh Ishak dan Caca. Mereka melihat Awang dengan wajah datar bercampur kesal.
"Hehehe...."
Awang pun mulai menceritakan kisah asmaranya.
"Kayaknya kita putus aja ya." kata seorang gadis pada Awang.
Tentu saja perkataan dari gadis itu membuat Awang tersentak.
"Kenapa mendadak begini? Salah gue apa? Apa yang ngebuat lo nggak nyaman sama gue?" tanya Awang.
"Ya, itu. Gue udah nggak nyaman bareng lo."
"Kok lo bisa nggak nyaman sih sama cowok lo sendiri? Kita kan baru jadian dua jam yang lalu." tanya Awang lagi.
Gadis itu tampak gugup. Ia berpikir keras untuk mengakhiri hubungannya dengan Awang.
"Hm... lo terlalu baik buat gue."
Akhirnya, kata-kata itulah yang menjadi solusinya.
"Gue minta lo beliin gue paha ayam, lo malah beliin gue seayam-ayamnya." lanjut gadis itu.
"Ya Allah... sakit banget dada gue." Awang mengusap dadanya.
"Maafin gue ya. Mending gue pergi aja deh dari pada dada lo tambah sakit."
Awang menghadang gadis itu agar tidak pergi.
"Kasih gue kesempatan, plis. Gue janji nggak bakal beliin lo ayam yang utuh lagi."
"Tapi... rasa cinta gue ke elo udah luntur."
"Kayak baju?" tanya Awang meyakinkan.
"Iya. Kayak baju lo yang lagi lo pake sekarang." Gadis itu menunjukkan baju Awang yang luntur.
"Gue nggak sempat neduh tadi pas ke sini." Awang diam sebentar. "Lo begini... apa karena gue nggak keren?"
Gadis itu terhenyak. Baru saja akan membuka mulut untuk bicara, Awang langsung menyela dengan wajah lesu.
"Ya udahlah. Lo boleh pergi. Gue bakal cari pacar baru sekarang."
Gadis itu merasa tidak enak, lalu pergi begitu saja.
Cerita Awang pun berakhir.
"Hahahahaha.... Baju lo beneran luntur, Bang, pas itu?" Yumi tak bisa menahan tawanya.
"Lo pikir gue bego? Baju gue tuh luntur gegara kena hujan." jelas Awang.
"Kenapa lo nggak ganti baju dulu sih? Heran gue sama jalan pikiran lo." tanya Ishak.
__ADS_1
"Mana mungkin gue pulang ke rumah lagi." jawab Awang lesu.
"Kan bisa beli baju dulu bentaran." usul Caca meski sudah terlambat.
"Bener juga. Kalo aja lo ngomong begitu sebelumnya, Ca. Pasti gue keliatan keren depan dia. Seandainya lo hadir di hidup gue lebih dulu. Caca oh Caca...."
Yumi dan Ishak merasa mual saat mendengar kata-kata Awang.
"Jangan sok mesra lo berdua depan gue sama Yumi." kata Ishak.
"Bilang aja lu iri kan, Bang?" ledek Awang.
"Kok bisa sih tuh cewek suka sama lo, Bang?" tanya Yumi penasaran.
"Mungkin karena gue karismatik." jawab Awang seadanya.
"Bohong mulu lo." goda Ishak membuat Awang merengut.
"Maksud lo apa, Bang? Gue ngomong jujur ya. Kalo nggak percaya, liat ubun-ubun gue. Nggak tambah panjang, kan?" tanya Awang asal.
"Hahahahaha... lawak lo. Emang ubun-ubun lo bakal panjang kalo lo bohong? Kenapa nggak sekalian yang itu aja noh yang panjang. Biar berguna dikit." ledek Ishak bersemangat.
"Ketawa lo!" balas Awang kesal
"Oh iya, Yum. Gue ngeliat lo sama Baruna waktu itu." kata Caca sambil tersipu malu saat nama Baruna terucap.
"Kenapa emangnya? Lo nggak pernah liat satu cewek sama satu cowok secara bersamaan?" tanya Awang dengan wajah julidnya.
"Bukan begitu. Tapi, ada satu hal yang menarik di mata gue." jawab Caca.
"Apaan?" tanya Ishak mulai mendekat pertanda ingin mendengarkan cerita Caca lebih dalam.
Mereka semua kemudian mendekatkan telinganya pada Caca yang sengaja memperlambat ucapannya.
"Gue... liat..."
"Buru dong, Ca. Gue mau denger nih." kata Awang tidak sabaran.
"Kayaknya ada yang kesel gegara nggak di ajak."
Ung?
"Gue liat pake mata kepala gue sendiri. Waktu Baruna ngelus rambut si Yumi, Bang Tedjo sembunyi sambil ngeliatin lo berdua dari jauh. Apalagi waktu itu Bang Tedjo lagi makan roti buaya yang kecil. Kasihan banget gue ngeliatnya. Kayak adegan-adegan dalam drama, tau nggak." jelas Caca.
"Terus, lo ngapain di situ? Lo ikut nonton juga?" tanya Ishak.
"Ya, iyalah. Gue mau nemenin Bang Tedjo yang lagi merana. Terus, kita makan deh roti buayanya sama-sama." jawab Caca dengan polosnya.
"Bilang aja lo mau ikut makan tuh roti." Ishak mendengus.
"Caca?" Yumi terlihat serius.
"Iya, Yum?"
"Terus reaksi Tedjo, gimana?"
"Ya pasti sedih campur marahlah. Itu berarti Tedjo cemburu, kan?" kata Awang sok tau.
"Nggak kok. Bang Tedjo malah ngebuat lelucon soal Yumi sama Baruna. Seolah-olah dia kayak pengisi suara mereka." jelas Caca lagi.
Caca kemudian menceritakan kronologi kejadian.
"Bang Tedjo, ya?"
Tedjo terperanjat. "Eh!"
"Kenapa Bang Tedjo makan sambil jongkok? Terus kenapa makannya sembunyi-sembunyi? Bang Tedjo takut makanannya diambil Bang Ishak sama Bang Awang, ya?" tanya Caca.
"Untuk semua pertanyaan lo itu, lo salah. Udahlah... gue tau lo ngincar roti buaya gue. Ayo temenin gue dulu di sini. Ntar bakal gue kasih lo roti sekalian buaya-buayanya." kata Tedjo.
Caca kemudian ikut bersembunyi dengan Tedjo.
"Kagak, Bang. Mana bisa gue dengerin yang mereka omongin dari sini. Jauh banget, Bang." jawab Caca.
"Ya udah. Sini gue kasih tau ke elo apa yang mereka omongin."
"Emang Bang Tedjo denger?"
"Kagak. Tapi, gue tau dari gerak bibir tuh anak dua. Lo mau gue kasih tau, nggak?" tanya Tedjo dengan wajah serius. "Banyak nanya banget lo kayak kenek angkot."
Caca mengangguk mantap. "Ya maulah."
"Sini deketin kuping lo."
"Deketin ke mana?"
"Ke muncung guelah."
"Jangan kena ya, Bang. Ntar bau jigong lo."
"Iya dah, buset. Gue bakal jauh-jauh dah."
"Oke."
Caca mendengarkan Tedjo dengan wajah serius.
"Bar, lo tau nggak kalo Tedjo tuh ganteng banget?" Tedjo mengimutkan suaranya saat menirukan suara Yumi.
"Iya, Yum. Bang Tedjo emang ganteng sih. Gue aja sampe pangling liat pesona dia." Tedjo kemudian menirukan suara Baruna. "Dia juga jenius. Bener-bener dah. Karismatik bener tuh anak. Keren dan mempesona. Tuh cowok nggak bosan apa sama muka gantengnya?"
Caca mengernyitkan dahinya.
"Udah deh, Bang Tedjo. Stop muji diri sendiri. Kenapa itu mulu sih yang di omongin?" tanya Caca geram.
"Emang begitu yang di omongin kok."
"Gue nggak percaya."
"Gue juga nggak percaya, tapi itu adanya. Kenapa tuh anak dua ngomongin gue dari belakang sih?" Tedjo beralasan. Padahal sebenarnya ia cemburu melihat kedekatan Yumi dengan Baruna.
"Jadi karena itu Bang Tedjo sembunyi di sini?" tanya Caca.
Tedjo mengangguk sambil memperlihatkan senyumannya.
Caca selesai bercerita.
"Pantes aja gue ngeliat lo sama Tedjo sama-sama mencurigakan." timpal Yumi membuat Caca nyengir.
"Emangnya ada apa lagi?" tanya Ishak makin penasaran.
"Tuh bocah dua ngagetin gue sama Baruna." Yumi berhenti bicara.
"Gimana, gimana?" tanya Awang.
Yumi mulai dengan ceritanya.
Yumi dan Baruna mulai menyadari jika ada seseorang yang sedang bersembunyi dibalik semak-semak.
Dan....
"Woi!!!"
"Whoaaaa!!!!! Allahu Akbar!!!"
"Caca?"
"Bang Tedjo?"
__ADS_1
"Ngapain kalian di situ?"
"Kalian ngintipin kita?" tanya Yumi.
Caca hanya nyengir, sedangkan Tedjo sudah cegukan akibat terlalu kaget.
Ceritanya pun selesai.
"Hahahahaha... kocak banget." kata Ishak. "Harusnya lo jorokin aja, Yum, si Tedjo sama si Caca."
"Tenang, tenang. Itu nggak sempat kejadian kok." kata Yumi.
"Hah?!!"
"Mau beneran ternyata." gumam Ishak.
Mereka kaget mendengar ucapan Yumi.
...•••...
"Yumi! Lo cantik banget!"
Yumi berjalan seanggun mungkin di depan orang-orang yang menganguminya. Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke telinga dengan gaya sok cantik.
"Itu Yumi kan, ya? Wah... cantik banget kalo di lihat secara langsung."
Sesekali Yumi melambaikan tangan seperti Miss Indonesia. Dia sangat bangga atas apa yang sudah Tuhan berikan padanya. Ya. Pemberian Tuhan yang tidak bisa di tiru adalah wajahnya.
"Wah... si Yumi tuh! Gue dengar-dengar dia cewek yang paling cantik di sekolah! Wow!"
"Manis banget sih lo, Yum!"
"Yumi! Jadilah ibu dari anak-anak gue! Gue duda anak sebelas!"
"Tapi, Arum lebih cantik ketimbang Yumi."
Langkah Yumi terhenti.
Seketika raut wajah Yumi yang tadinya senyam-senyum berubah cemberut akibat nama itu.
Rasanya Yumi ingin sekali menanyakan produk skincare yang digunakan Arum. Tidak. Yumi tidak akan berkelahi dengan Arum hanya karena laki-laki. Itu bukan gayanya.
"Yumi."
Sepertinya ada seseorang yang memanggilnya dari dunia lain.
"Yumi, bangun woi! Air liur lo tuh kemana-mana."
"Apa?" tanya Yumi tak mengerti.
Arrrrgggghhhh!!!
YUMI JATUH DARI TANGGA.
Zap!
Yumi melihat ke kanan-kiri. Kenapa dia malah ada di kelas? Lalu, kenapa ada pria tampan di depannya?
Yumi mengerjapkan matanya.
"Baruna?"
"Kenapa lo tidur di meja gue?"
"Hah? Gue tidur?"
Berarti tadi hanya mimpi. Arghhh! Di mimpi saja Yumi sudah kalah telak dengan Arum.
"Baruna?"
"Hm?"
Yumi menatap Baruna lekat-lekat.
"Lo tau kan, kedamaian dunia tuh harus di pertahanin."
"Kedengerannya bagus. Lo baru nonton film apaan?"
"Tapi, ini bukan tentang film. Ini suatu kehormatan buat gue kalo lo mau bantuin gue."
"Oke. Gue mau bantuin lo. Tapi, bantuin apaan?"
"Kenapa kau jahat sekali. Aku bahkan tidak makan tadi. Hatiku sangat sensitif hari ini. Hiks... crooot~" Sohyun pura-pura menangis.
"Mwo? Kau belum makan? Tunggu. Ini terjadi begitu cepat. Aku butuh waktu untuk mencerna ini." Jungkook berpikir keras.
Yumi menatap lurus dengan wajah lesu.
"Lo tidur di kelas, belum makan dan hati sensitif.... Lo kayak begini gegara Bang Tedjo ya?"
"Hah? Siapa bilang? Gue emang kayak gini, tau."
"Udahlah. Lo nggak usah pura-pura. Sekarang kita kan udah temenan. Teman tuh harus bisa ngehibur temannya yang lagi patah hari."
"Gue nggak lagi patah hati kok. Tapi kalo di pikir-pikir, Tedjo tuh parah banget. Bisa-bisanya dia buat gue kesel. Hiks... crooot~"
Baruna menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan Yumi.
"Ck... ck... ck... jadi bener? Lo begini karena tuh laki? Lo kesel gegara tuh laki nyium cewek depan mata lo? Lo kesal gegara dia bersikap seolah nggak kejadian apa-apa?"
"Udahlah. Gue kesel kalo ingat tuh orang."
"Parah banget sih Bang Tedjo. Bisa-bisanya dia begitu. Sok kecakepan emang."
Yumi mengangguk mengiyakan.
"Bilang aja apa yang lo mau, Yum. Gue bakal kasih Bang Tedjo pelajaran yang setimpal pokoknya." kata Baruna sambil meninju udah di sekitarnya. "Lo mau bagian mana? Dada? Sayap? Pala, lutut, kaki, lutut, kaki?"
"Paha. Pasti kenyal." kata Yumi asal.
"Lo udah nggak kesal lagi?" tanya Baruna.
"Hibur gue dong, Mas Baruna." kata Yumi sambil menahan tawa karena geli memanggil Baruna seperti itu.
Baruna menarik napas panjang, lalu berkata. "CUP-CUP SAYANG! JANGAN SEDIH DONG LO!"
Yumi tertawa. "WAH... BAIK BANGET LO MAU NGEHIBUR GUE! MAKASIH, BEDEBAH!!!"
"ALWAYS, BABY! ALWAYS!"
Mereka tertawa karena merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Baiklah! Demi kedamaian dunia!" Yumi memantapkan hatinya.
"Bendera perang sudah dikibarkan!" kata Baruna dan Yumi sambil naik di atas bangku.
Semangat mereka sangat menggebu-gebu.
Misi dimulai.
"Hiks... crooot~" Baruna pura-pura menangis.
"Kenapa lo?"
"Lo nginjak kaki gue."
"Baruna~" kata Yumi gemas melihat tingkah Baruna.
__ADS_1
...•••...