SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Adudu


__ADS_3


...•••...


Pagi-pagi buta sekali Yumi sudah bangun tidur, sementara Tedjo masih tidur.


"Pagi, sayang." sapa Tedjo dengan suara serak khas bangun tidur di pagi hari yang cerah.


Tak ada sahutan.


"Kalo kayak gini terus, gue nggak bakalan dapet ciuman." Tedjo memukul bantal guling dengan geramnya.


"Ngetawain gue lo, hah?! Anjim! Siapa sih yang ngeletakin lo deket gue?! Kenapa selalu lo yang gue peluk?! Kenapa nggak Yumi, hah!!" seru Tedjo pada bantal guling yang tidak bersalah.


"ALLAHU AKBAR!" Tedjo tiba-tiba tersentak kaget begitu Yumi muncul dengan penampilan yang mencolok.


"Ngapain lo make seragam lama lo?" tanya Tedjo sambil melongo.


"...."


"Woi! Kalo suami nanya tuh di jawab!" seru Tedjo.


"Gue mau pindah ke sekolah lama gue lagi! Gue nggak mau satu sekolah sama lo! Lo udah bikin gue malu!"


"Lo masih bahas soal itu? Heh, lo juga ikut-andil dalam mempermalukan diri lo sendiri."


"Terus, lo mau gue nyalahin diri gue sendiri?"


"Hah?" Tedjo mendekatkan telinganya ke bibir Yumi.


"Hah, heh, hoh, hah, heh, hoh!" kata Yumi geram. "Udah deh! Gue muak liat tampang lo!"


"Lo abis makan siang apa sih? Lo doang yang muak liat muka gue! Lo doang, tau nggak!"


"Gue bahkan belum sarapan! Ngapain lo nanyain makan siang gue, hah?! Mau gue makan lo?!" balas Yumi sengit.


Tedjo tiba-tiba menyunggingkan senyumannya.


"Iya, Yumyum. Gue pengen berduaan sama lo." kata Tedjo dengan suara seraknya membuat pipi Yumi memerah.


"Heh! Apa-apaan sih lo!"


"Yumyum...." Tedjo mulai mendekati Yumi.


"WOI! SUTEDJO!"


Yumi mendorong tubuh Tedjo membuat Tedjo mundur beberapa langkah.


"Lo mau ngapain, hah?" Napas Yumi memburu.


"Gue cuman mau ngelakuin tugas gue."


"Tugas apa?!" Yumi mulai kesal. "Tugas bohongin gue?!"


"Hah? Maksud lo apa sih?"


"Kalo lo mau makan malam sama gue, terus kenapa lo ketemuan sama Arum semalam?!!"


"Hah? Lo liat? Itu berarti lo sempat datang ke sana? Heh, woi. Kenapa lo nggak langsung nemuin gue sih?" geram Tedjo.


"Tanya aja sama diri lo sendiri!"


"Oh.... Jadi, lo cemburu sama Arum?"


"...."


"Mau denger cerita lucu, nggak?"


"Bercanda lo? Gue lagi kesel!" seru Yumi.


"Ehem. Pada suatu hari ada seorang putri yang sangat keras kepala sedang memarahi sang pangeran yang tampannya tidak ketulungan." Tedjo tersenyum bangga.


"Cuih!" Yumi mendengus.


"Tapi bukannya mendengar penjelasan dari pangeran tampan itu, sang putri malah terus mengomelinya. Kasihan sekali." lanjut Tedjo.


"Emangnya ada pangeran tukang bohong kayak lo?" balas Yumi.


"Ya Allah, Yum. Arum tuh numpang lewat doang."


"Numpang lewat gimana?" Yumi mengernyit.


Jadi, ketika itu Yumi tidak benar-benar melihat semuanya dengan jelas. Yumi yang sudah kepalang kesal, segera pergi tanpa melihat semua kejadiannya.


Yumi tercekat melihat sosok yang ada tak berapa jauh darinya sekarang. Awalnya ia ingin menghampiri orang itu, tapi segera di urungkannya begitu seorang gadis muncul di depannya.


"Hah? Lo ternyata, Djo? Lo juga di sini? Ngapain lo?" tanya Arum sambil mendekati Tedjo.


"Hai, Rum. Gue lagi nungguin seseorang ." jawab Tedjo dengan senyumnya.


"Udah lama nunggunya?" tanya Arum pada Tedjo.


"Nggak sih. Gue juga baru nyampe. Oh iya, lo ke sini bareng siapa?" Tedjo tersenyum manis.


"Bareng pacar guelah. Pacar lo mana, Djo?"


"Hah?"


"Ya kali lo ke sini nggak bareng pacar. Seseorang yang lagi lo tungguin tuh pacar lo kan?"


"Gue lagi nungguin bini gue." kata Tedjo.


Arum terkekeh. "Ada-ada aja lo. Ya udah, gue ke sana dulu ya."


"Oke. Senang-senang ya lo." Tedjo terkekeh. "Arum?"


"Ya? Kenapa, Djo?"


"Jika kau tanya tempat, tanyakan peta." cengir Tedjo. "Gunung... lautan... rumah nenek~ gunung... lautan... rumah nenek~"


Arum hampir tertawa sejadi-jadinya, jika ia tidak menahannya.


"Siip." Arum segera berlalu.


Begitulah ceritanya versi Tedjo.


"Gue pikir Baruna yang ngajak gue makan malam bareng. Malu-maluin gue aja lo. Tengsin nih gue." sesal Yumi.


"Makan malam aja sono sama Shaun The Sheep, jangan sama Baruna." Tedjo memandang Yumi dengan keki.


"Huh!" Yumi mendengus kesal.


"Eh, bentar. Jadi, lo ketemuan sama Baruna?" tanya Tedjo sambil terbelalak.


Yumi mengangguk pasrah.


"Hiiih." Tedjo menarik pelan rambut Yumi.


"Aouw! Apa-apaan sih lo?! Ini termasuk kekerasan dalam rumah tangga, tau nggak!"


"Lo pantas ngedapatinnya. Bisa-bisanya lo ketemuan sama Baruna tanpa sepengetahuan gue. Lo nggak tau kalo gue udah nungguin lo hampir empat jam?" Tedjo mulai kesal.


"Kenapa lo jadi nyalahin gue? Gue juga kan nggak tau gegara lo buat gue salah paham." kata Yumi merasa bersalah.


Tedjo menghela napas. "Udah, udah, udah. Kesel gue ngingetnya."


"Terus gue gimana dong, Djo?"


"Udah. Udah gue maafin."


"Bukan itu maksud gue."


"Lah, terus?"

__ADS_1


"Gue malu ketemu sama Baruna."


"Udahlah... santai aja lo. Baruna tuh nggak bakal mikirin. Dia juga sering buat malu depan umum, tapi dia nggak pernah tuh minta maaf sama gue." kata Tedjo dengan entengnya.


"Omongan lo kali ini bener, nggak?"


Tedjo mengangguk meyakinkan.


"Ya, benerlah. Waktu itu dia numpahin minumannya ke celana gue, tapi bukannya minta maaf dia malah ngasih gue petuah. Emang dasar tuh buntelan kelinci." Tedjo mengarang.


Sesaat kemudian, muncul di pikiran Tedjo memori ketika ia menumpahkan minuman ke celana Baruna.


"Udahlah. Ayo berangkat ke sekolah, tapi ganti dulu seragam lo tuh." perintah Tedjo.


"Yakin lo mau berangkat sekarang?" tanya Yumi.


"Iyalah. Emangnya kenapa sih? Masih malu lo sama Baruna? Ya Allah, Yum. Gue kan udah bilang kalo—"


"Gue malu sama lo!" potong Yumi. "Lo mau ke sekolah pake tuh cancut Angry Bird?!"


"Arrgghhhh!" Tedjo langsung melesat ke kamar mandi.


"Cih! Mending gue diem aja tadi." gumam Yumi sambil menahan senyumnya.


...•••...


Yumi mengendap-endap masuk ke kelasnya. Bukannya apa-apa, ia hanya tidak mau bertemu Baruna untuk saat ini.


"Baruna oh Baruna... semalam lo ngetawain gue abis-abisan, kan?" gumam Yumi dalam hati. "Baruna oh Baruna... kenapa kau panggil hujan? Macam mana aku tak panggil—"


"Yumi!"


"Whoa!!" seru Yumi.


Baruna muncul dari belakang Yumi sambil terkekeh-kekeh.


"Malam!" sapa Baruna sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


"Lo coba ngingetin gue soal kejadian semalam?" Yumi frustasi. "Lo lupain aja dong, Run! Malu gue!"


Baruna menyunggingkan senyumannya.


Yumi kemudian duduk di bangku urutan ketiga dan di susul Baruna yang duduk di belakangnya. Tempat duduk Sang Legenda.


"Gue bingung liat lo." kata Baruna yang sudah menghampiri Yumi di mejanya.


"Ngapain lo bingung liat gue?" tanya Yumi balik. "Tinggal pake mata doang, ribet amat."


"Lo nggak ada ngerasa aneh, gitu?"


"Kenapa sih?"


"Gue liat-liat lo peduli banget sih sama Bang Tedjo?"


"Ya... nggak apa-apa dong. Namanya juga saling bantu." jawab Yumi gugup.


"Beneran cuman bantuin doang?"


"He-eh. Gue kan udah bilang kalo Tedjo tuh sahabat gue. Gue udah kenal dia tuh sejak masih jadi zigot."


"Wuih... keren." Baruna takjub.


"Jadi, lo mau nggak jadi detektif lagi?" tanya Yumi.


"Iyalah! Kita nggak boleh buang-buang waktu lagi. Ayo, Yum. Gue bakal bantuin lo ngungkap misteri soal Bang Tedjo." kata Baruna bersemangat.


Yumi menghela napas lelah.


"Cerita aja ke gue kalo lo mau cerita. Gue siap dengerin kok. Tapi tolong, jangan cerita soal kegantengan gue." canda Baruna.


Yumi tersenyum miring. "Di sekitar sini ada kapak, nggak?"


"Kapak? Kayaknya ada di tas gue deh." jawab Baruna sedang bercanda.


"Jangan anarkis sama Bang Tedjo, Yum. Kasian."


"Pala lo yang mau gue penggal."


"Udahlah, Yum. Jangan nyimpan dendam sama siapapun. Lebih baik di ceritain aja." Baruna memelas.


Yumi menghela napas panjang dan dalam. "Apa gue bisa percayain lo?"


"Ya, nggaklah. Hehehe.... Tapi, gue ini pendengar yang baik. Waktu itu tuh ya, ada pengemis tua lagi sakit. Kasihan banget gue liatnya." kata Baruna dengan wajah sedih.


"Terus, apa yang lo lakuin? Lo jadi pendengar yang baik buat dia? Atau lo ngangkat dia jadi bapak lo? Atau ngasih bantuan?" tanya Yumi dengan ekspresi wajah yang serius.


"Karena gue kasian, gue kasih aja uang ke dia, tapi gue bilang dulu 'nungguin ya?'." canda Baruna garing.


Yumi mendengus sambil terkekeh pelan mendengar lelucon Baruna.


"Udah... cerita sini cerita." ujar Baruna sambil mendekat.


Yumi menghela napas sejenak.


"Jadi gini... gue kesel banget sama si A gegara dia begitu sama si B. Terus si A begini, terus si B begitu. Nah, terusnya lagi nih, si A sama si B begitu tuh depan mata kepala gue. Argh! Kesel banget gue ngeliat tuh orang dua." kata Yumi dengan muka kesal.


Baruna tampak berpikir keras.


"Pokoknya... gue kesel dah." lanjut Yumi.


"Maksud lo yang si A tuh begitu sama si B, apa sih? Atau si B tuh yang begitu sama si A, gitu?"


"Gini, Run. Dengerin gue. Pasang indra pendengaran lo baik-baik. Si B tuh katanya begitu sama si A. Terus, si A tuh begitu sama si B. Dan si B begitu sama si A tuh."


"Bisa diulang sekali lagi, nggak?"


Yumi menghela napas kasar. "Lo ngerti nggak sih, Run? Jadi, si B tuh begitu sama si A. Si B tuh... begitu tuh sama si A. Si A mah kayaknya begitu juga deh."


"Terus? Si B tuh ngapain sama si A? Makanya lo ngomong begitu tuh? Ya Allah, Yum! Maksud gue si A sama B begitu tuh apa sih? Saling suka, gitu?" tanya Baruna putus asa karena masih tidak mengerti maksud dari kalimat Yumi.


"Gue kagak ngarti, Ya Allah." Baruna benar-benar frustasi.


"Si B tuh begitu sama si A." ulang Yumi merasa bersalah karena Baruna tida mengerti ucapannya.


Baruna dengan seksama mencerna kata demi kata.


"Iya, gue ngerti di bagian itu. Tapi, si B tuh begitunya sama si A begitu yang apa...?" tanya Baruna gregetan.


"Lo gue dorong aja ke jurang, mau nggak?!" Yumi geram. "Udah deh, Run! Lupain! Mumet gue!"


"Harusnya gue yang mumet. Cerita lo nanggung, tau nggak. Mana gue udah pusing duluan sama jalan cerita lo. Jelasin lagi dong, Yum." bujuk Baruna pada Yumi.


"Lo cuman perlu fokus. F-O-K-U-S. FOKUS!"


"Udah... bilang aja sama gue siapa orangnya. Siapa tau gue kenal, kan? Bang Awang suka sama Caca?"


"Bukan tuh orang."


"Bang Tedjo suka sama Arum?"


"Hah? Emang bener? M-maksud gue, bukan si Tedjo!" Yumi gelagapan.


Baruna tersenyum simpul sambil menatap Yumi curiga.


Yumi mengalihkan pandangannya.


"Ngapain ngomongin Tedjo sih?" elak Yumi kentara.


Baruna terkekeh. Yumi terlihat menggemaskan saat ini di matanya.


"Ya anggap aja Bang Tedjo, biar gue ngerti." kata Baruna kemudian. "Bilang aja sama si A tuh begini... 'Di umur lo yang sekarang jangan terlalu banyak tebar pesona. Lo nggak mau dicap om-om genit, kan?'. Gue kesel liat Bang Tedjo ketawa. Kayak ngeledekin gue tuh anak."


"Kayaknya menarik kalo gue ngomong ke dia sambil ngelempar batu ke mukanya." kata Yumi geram.

__ADS_1


"Jangan gitu juga dong, Yum." cegah Baruna.


"Lah? Kok lo ngebela dia sih? Lagian gue mau ngelemparin muka dia pake batu kerikil bukan batu alam." jelas Yumi.


"Tetap aja. Dia bakal ngehipnotis lo pake tatapan matanya yang tajam." kata Baruna seperti sedang memberi petuah.


"Lo terlalu ngekhawatirin gue, Run. Gue udah kebal sama tuh playboy."


"Jadi, bener kita lagi bahas Bang Tedjo?" tanya Baruna lagi.


"Hah?" Yumi mengernyit.


Baruna diam, menunggu perkataan Yumi selanjutnya.


Yumi tiba-tiba tertawa garing. "Ya, nggaklah. Kan tadi lo bilang anggap aja si Tedjo yang lagi kita bicarain biar lo ngerti. Masa lo lupa sih? Hehehe...."


Baruna manggut-manggut. "Emang lo tau dari mana, kalo Bang Tedjo suka sama Arum?"


"Bang Awang yang ngomong." Yumi keceplosan.


Baruna tersenyum begitu mendengar jawaban Yumi. Saat ini, Yumi sudah tertangkap basah.


"Ehem." Yumi tidak berani menatap Baruna lagi. Ia benar-benar malu.


"Pokoknya lo jangan sampe lupa bilang sama Bang Awang kalo dia tuh terlalu suka tebar pesona." kata Baruna.


"Tedjo, maksud lo?" tanya Yumi, tak menyadari kalau itu jebakan Baruna.


Baruna tersenyum lagi.


"Ah, udah deh. Ntar gue bilang sama si Awang jangan temenan sama lo." tukas Yumi.


Baruna terkekeh.


"Nurut aja sama Mas Baruna, Neng manis." kata Baruna sambil mengusap lembut kepala Yumi. "Utututututu~"


...Yumi seolah tersengat lebah. Jantungnya berdegup dengan kencang....


"Lo yang terbaik, Yum!" seru Baruna sambil mengacungkan jempolnya.


Yumi tersipu malu.


"Kok lo jadi blushing gitu?" tanya Baruna bingung.


Bersamaan dengan itu, Yumi langsung memukul lengan Baruna saking gemasnya dengan tingkah kelinci buntal itu.


Baruna segera melesat, melarikan diri dari amukan Yumi.


Yumi akhirnya melempar Baruna dengan sepatunya, namun gagal karena Barunalah yang berhasil menangkap sepatunya.


"Woi! Balikin sepatu gue, kelinci buntal!" seru Yumi sambil berjalan jingkat.


"Kagak!"


"Mau lo jual ya?!"


"Hahahahaha...."


...•••...


"Yumi!" sapa Awang dengan senyuman renyah khasnya.


Yumi langsung mengembangkan senyumnya, membalas Awang.


Tapi ketika pandangan Yumi ke arah Awang, matanya seketika terbelalak. Yumi terhenyak begitu melihat adegan romantis yang ada tak jauh di belakang Awang.


"Lo mau paha ayam nggak, Yum? Baru gue beli tadi. Kenapa gue beli? Ya karena kata penjualnya nih paha ayam empuk banget, gila. Lo mau liat? Pahanya gondal-gandul noh." kata Awang panjang lebar, tapi tidak didengar Yumi.


"Tapi, lo jangan kasih tau Bang Ishak kalo kita makan paha ayam. Ntar dia marah—"


"Woi, Bang! Pala lo noh! Singkirin dulu!" kata Yumi sambil mendorong Awang ke samping.


Awang limbung hingga akhirnya jatuh terduduk.


"Aduh!"


Yumi yang menyadari Awang jatuh, akhirnya membantunya berdiri.


"Jangan nangis lu." bujuk Yumi.


"Lo pikir gue bocah kemaren!" Awang mencibir.


"Tuh, kan! Gue bilang jangan nangis ya jangan nangis! Cengeng lu!"


Yumi kemudian memapah Awang untuk berjalan menuju kelas.


"Aduh... duh... hehehe...."


"Jangan ketawa. Gue kesel dengarnya."


Setelah menyelesaikan tanggungjawabnya pada Awang, Yumi segera mencari keberadaan Tedjo—terdakwa yang baru saja beradegan mesra dengan Arum.


Tedjo menatap Yumi dengan tampang beloonnya.


"Enak?" tanya Yumi sambil pura-pura tersenyum manis.


"Enak." jawab Tedjo dengan polosnya. Ia pikir Yumi sedang menanyakan semangka goreng yang baru saja ia makan.


"Keliatannya lo sangat menikmatinya ya, sampe-sampe lo nggak sadar kalo di belakang celana lo tuh kotor!"


"Hah? Kok kotor sih? Gue kan cuman makan siang doang sama Arum."


"Nggak sadar kan lo saking asiknya. Cup... cup.... Kasian banget si sahabat aku yang satu ini. Sini, gue bersihin lo!" Yumi tiba-tiba mengeluarkan sapu yang ia sembunyikan di belakangnya, kemudian memukul bokong Tedjo dengan geramnya.


"Adug! Woi, Yum! Ngapain lo mukul ****** gue?! Nggak bisa lo nunggu pas pulang ntar?"


"Nggak bisa!"


"Woi! Duh! Yumyum! Kalo lo nggak berhenti, gue bakal ngehukum lo ya!"


"Lo pikir gue takut!"


Raut wajah Tedjo seketika berubah dengan menampilkan seringainya dan menatap Yumi dengan tatapan tajam.


"Lo yakin?" tanya Tedjo terdengar serius.


Yumi berhenti memukul. "Heh! Nggak usah lo liat-liat gue begitu!"


"Kenapa berhenti? Lo takut gue hukum?" goda Tedjo.


"Kagak! Gue cuman nggak mau nyari gara-gara sama lo!" Yumi menyangkal.


Tedjo terkekeh pelan. "Emang lo udah tau hukuman gue apa?"


"Apaan?"


"Cium...."


Yumi diam. Jantungnya terasa mencelos.


"Lo cemburu, ya?" tanya Tedjo kemudian.


Yumi menatap Tedjo dengan sinisnya, lalu menampilkan senyuman manisnya.


"Brengsek lo." geram Yumi, lalu sepersekian detik wajahnya berubah cemberut dan itu terlihat menggemaskan bagi Tedjo.


Yumi berlalu begitu saja. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil memijatnya dengan geram.


"Yumyum, istriku sayang~" Tedjo geleng-geleng melihat Yumi yang menghilang dari hadapannya.


...•••...


__ADS_1


__ADS_2