SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Kucing dan Tikus


__ADS_3


...•••...


"Hah?!" Tedjo membelalakkan matanya.


"Pernah ciuman nggak lo?" ulang Yumi.


"Kenapa lo tiba-tiba nanyain begitu? Kepengen lo?" tanya Tedjo balik.


"Apa susahnya sih dijawab doang? Emang gue nggak boleh nanya-nanya ke elo?" Yumi kesal.


"Boleh-boleh aja sih. Lo boleh tanyain soal apapun sama suami lo ini." Tedjo tersenyum bangga.


"Udah deh. Lupain aja."


"Kenapa di lupain sih? Kentang lo kalo nanya. Ini tuh pertanyaan yang gue suka. Kita bisa langsung praktik soalnya." goda Tedjo.


"Gue bilang udah, ya udah. Gue nggak mau denger jawaban lo."


"Yumyum...."


"Tedjo." potong Yumi geram sambil menatap Tedjo tajam.


"Kalo bukan sama lo, siapa lagi coba?" jawab Tedjo kemudian.


"Hah? Maksud lo?"


"Lo kan tadi nanya ke gue. Ya udah, sekarang gue jawab. Lo udah pikun apa grogi sama gue sih?" Tedjo geleng-geleng sambil berdecak.


Yumi membelalakkan matanya menahan kesal. "Berdosa banget lo, udah pernah ciumin anak orang."


"Ya maaf." Tedjo merasa bersalah.


"Ya udah, sono lu minta maaf sama tuh cewek." Yumi diam sebentar. Otaknya sedang mencerna perkataan Tejdo yang sebelumnya. "Apa-apaan lo?! M-maksud lo... ciuman pertama lo tuh gue...? Astaghfirullah!!!"


Tedjo tersenyum kikuk.


"Tapi, sekarang lo tenang aja. Sekarang kalo gue nyium lo udah nggak dosa lagi kok." ujar Tedjo dengan intonasi menggoda. Hal itu sontak saja membuat Yumi bergedik geli membayangkannya.


"Tidur lo! Gue nggak mau ngomong sama lo!" Yumi segera mengatur posisi untuk tidur.


Tedjo pun ikut tidur sambil menggenggam tangan Yumi. "Nanti juga lo terbiasa kok."


"Diem gue bilang!"


...•••...


Pukul 04:09....


Tedjo meraba-raba kasur di sampingnya untuk mencari keberadaan Yumi, tapi gadis itu tidak ada di tempatnya.


Saat akan beranjak dari ranjang, tiba-tiba Tedjo terperanjat. Sosok perempuan berambut panjang yang dibiarkan tergerai di depan keluar dari kamar mandi.


Sosok itu menghampiri Tedjo dengan gaya berjalan yang aneh.


"Whoaaa!!!"


Tedjo terlonjak kaget begitu perempuan itu ada di hadapannya.


"Lo kenapa sih?" tanya perempuan itu sambil menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.


"Siapa lo?! Lo bukan istri gue!" seru Tedjo masih memejamkan kedua matanya karena takut melihat perempuan itu.


Perempuan itu juga ikut kaget saat mendengar perkataan Tedjo.


"Allahu Akbar! Gue benci ngomong gini, tapi gue ini istri lo! Gue lagi pake masker!" kata Yumi yang kesusahan bicara agar masker wajahnya tidak retak.


Yumi menepuk-nepuk pipinya pelan untuk meratakan kembali maskernya.


Tedjo melongo. "Lo kurang kerjaan apa gimana sih, Yum? Ini mau subuh, lo ngapain maskeran?"


"Emang ada larangan kalo maskeran nggak boleh subuh-subuh?" balas Yumi sambil menatap Tedjo tajam.


"Gue yang ngelarang. Bikin kaget aja lo." balas Tedjo geram sambil mencubit pipi Yumi.


"Woi! Masker gue jadi retak nih gara-gara lo! Nyebelin banget!"


Hiks... hiks... hiks....


"Iya, iya. Gue minta maaf. Jangan nangis gitu dong. Gue gemes aja ngeliat lo maskeran subuh-subuh." kata Tedjo.


"Apaan? Gue nggak nangis kok. Kalo gue nangis, makser gue ntar makin retak." jawab Yumi.


"Lah, terus...?" Tedjo dan Yumi terbelalak bersamaan.


"Lo denger juga, kan ya?" tanya Yumi dengan wajah ketakutan.


Tedjo mengangguk perlahan. "Ayo kita lihat."


"Ayo."


"Hah? Lo langsung setuju? Lo nggak takut?" tanya Tedjo karena jawaban Yumi di luar dugaannya. Ia pikir gadis itu akan menolak karena takut.


"Emangnya lo berharap gue bilang apa? Ya udah, ayo kita periksa. Lo pasti butuh ini." kata Yumi sambil memberikan bantal guling yang ada di jangkauannya.


Tedjo meneguk ludahnya, lalu menerima bantal itu.


Mereka melangkah dengan hati-hati sambil mencari-cari sumber suara tangisan itu. Ternyata sumber suaranya ada di bawah tempat tidur mereka.


Hiks... hiks... hiks....


"Kok lo di belakang gue sih? Depanlah, Neng." perintah Tedjo.


"Gue bakal ngelindungin lo dari belakang." Yumi beralasan.


"Kalo ntar gue kentut, jangan salahin ya?" pinta Tedjo.


Suara itu semakin dekat dan jelas.


Dan....


"Whoaaa!!!" seru Tedjo dan Yumi bersamaan.


"Itu hape lo ya?" tanya Yumi begitu melihat ponsel Tedjo yang ada di kolong tempat tidur.

__ADS_1


Tedjo langsung mengambil ponselnya.


"Ya Allah! Jadi, nada dering lo suara begituan?! Yak! Orang gila mana yang masang dering pake suara kunkun?! Lagian kenapa lo pake acara lupa segala sih sama suara hape lo?!" seru Yumi kesal.


"Hahaha... gue baru ganti nada deringnya pas tadi siang. Seru dengerinnya." Tedjo nyengir dengan wajah polosnya.


Yumi mengatur kembali emosinya yang makin meluap-luap. "Terus, siapa yang nelpon subuh-subuh begini?"


"Cuman notif dari operator doang kok." jawab Tedjo dengan entengnya yang membuat Yumi naik pitam.


"Tedjo!!!"


"Hahahahaha... maaf!"


"Nggak bakal gue maafin!"


"Yumyum, gue takut nih. Bolehlah ya gue tidur sambil meluk lo?"


"Lo mau disleding?"


"Di kiss aja."


"Tobat lo, barudak!"


"Hahahahaha... canda atuh, Neng geulis."


...•••...


Pukul 05:39....


Setelah sholat subuh dan kembali tidur kemudian....


"Tedjo...." Yumi berusaha melepaskan diri dari Tedjo yang menindihnya.


"Lo berat banget woi. Lo makan nasi berapa kilo per hari sih? Woi, Tedjo! Lo nindihin kaki gue! Aduuuh!"


Yumi menjauhkan Tedjo dari kakinya.


"Sekarang kenapa gantian tangan lo ke muka gue?! Gue nyesel tidur sama lo!" kata Yumi kesal. "Rusuh banget nih anak...."


"Tedjo, bangun lo! Sampe kapan lo ngorok terus, hah?!" teriak Yumi di telinga Tedjo.


"Ribut banget sih lo." Tedjo terbangun begitu bantal mendarat ke wajah tampannya.


"Woi! Lo nggak sadar, udah ngelakuin apa ke gue tadi subuh?" tanya Yumi membuat mata Tedjo tidak lagi mengantuk.


"Hah?! Emang gue ngelakuin apa ke elo? Kenapa nggak berasa?"


"Bukan itu woi! Kaki lo tuh kemana-mana!" jelas Yumi geram.


Tedjo bernapas lega karena hanya itu yang ia lakukan pada Yumi. "Itu karena lo nendang pantat gue...." balas Tedjo dengan suara serak khas bangun tidur.


"Gue nyesel banget, sumpah. Gue nggak mau tidur sama lo lagi."


"Ya udah, besok lo tidurnya di lantai."


"Kenapa gue? Harusnya elo? Lo yang udah ngelanggar peraturan." elak Yumi tak mau tidur di lantai.


"Kalo gitu gue bakal tidur di lantai sama lo." balas Tedjo.


Satu poin untuk Tedjo.


...•••...


Tedjo yang selesai mandi langsung keluar dari kamar mandi dan tiduran di ranjang.


Yumi kaget melihat Tedjo. Ia sampai melongo.


"Ya Allah, Djo! Lo kenapa sih? Ngapain lo keluar pake begituan? Pake baju yang bener dong lo! Ngaco banget!" kata Yumi tak mau melihat Tedjo, tapi ia melihat sebentar sejenak memastikan yang ia lihat nyata atau tidak.


"Emangnya kenapa sih? Nggak boleh? Gue emang suka begini kalo selesai mandi. Ribet amat lo." goda Tedjo.


"Ya Allah... gue yang malu ngelihat lo begitu! Nggak ada adab lo jadi cowok!"


"Tapi, gue suka kayak gini!" jawab Tedjo membuat Yumi geregetan.


"Keluar deh lo." geram Yumi menahan malu.


"Keluar kemana? Ini hotel. Lo mau permaluin gue?" tanya Tedjo heran.


"Itu makanya! Lo punya kelainan ya? Kenapa lo suka pake kostum putri salju selesai mandi sih?! Allahu Akbar! Gini amat tekanan seumur hidup gue!" Yumi tidak tahan melihat kelakuan di luar nalar Tedjo.



"Hehehe.... Keren kan gue begini? Bangga kan lo punya laki kayak gue?" Tedjo nyengir.


"Pake baju yang lain nggak lo?! Kalo nggak, angkat kaki lo dari sini?!" ancam Yumi sambil menutup pipinya yang memerah.


"Iya, iya. Bawel banget." Tedjo merengut.


Gadis itu melangkah pergi, menjauhi Tedjo.


"Gue begini juga karena gue denger lo suka putri salju!" seru Tedjo sambil memperlihatkan senyum kotaknya.


"Putra salju lo!"


"Gue pangeran! Pangeran salju!" balas Tedjo.


"Nggak cocok!"


...•••...


Tedjo sedang tidur-tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya, sedangkan Yumi sibuk menggelindingkan dirinya di tempat tidur. Gadis itu sangat gabut.


Ting!


Notifikasi pesan masuk dari ponsel Yumi.


"Woi, ai lop yu!"


"Woi, bisa nggak sih lo berhenti gangguin gue? Ini masih pagi ngomong-omong." kata Yumi kesal.


Tedjolah yang mengirimkan pesan singkat itu pada Yumi, padahal mereka berdekatan.


"Emangnya kenapa coba? Kata-kata kayak gitu tuh cocok diucapin pas pagi hari. Kalo lo nggak suka, balas aja 'cuih'." kata Tedjo asal menyarankan.

__ADS_1


"Cuih!" kata Yumi dengan entengnya membuat Tedjo melongo.


"Bukan gitu woi. Maksud gue, lo balas di chat. Bukan ngecuihin gue langsung." balas Tedjo kesal.


"Kalo bisa langsung kenapa harus di chat? Lo pantes dicuihin." kata Yumi.


Tedjo mendengus sebal.


"Lagian lo kan bisa ngomong langsung ke gue. Kenapa ngirim chat segala? Lawak lo, Selamet." komentar Yumi.


"Hah? Jadi, lo mau gue ngomong 'ai lop yu' secara langsung? Kenapa nggak ngomong dari awal aja sih lo? Yumyum, ai lop yu!" kata Tedjo dengan senyum manisnya.


"Gue lebih cinta sama Babeh gue." jawab Yumi.


"Harusnya lo bales 'ai lop yu tu'." kata Tedjo geram.


"Udah deh. Mending lo diem." cetus Yumi membuat Tedjo semakin geram.


"Lo ada benarnya juga sih. Tapi, seenggaknya lo pura-pura kek bilang begitu. Hati gue sakit banget. Nggak deng, jantung gue maksudnya." kata Tedjo sambil mengusap dadanya penuh dramatis.


"Jangan begitu lo." kata Yumi dengan ekspresi cemas.


"Kenapa? Lo khawatir sama gue ya?"


"Lo mau sakit pas kita liburan begini? Jangan jadi beban deh lo."


"Nggak apa-apa sih kalo gue sakit. Kan ada lo yang ngerawat gue." kata Tedjo sambil nyengir.


"Cuih." balas Yumi.


Tedjo terdiam.


"Yumyum, siap-siap gih." kata Tedjo kemudian.


"Hah? Buat apa?"


"Lo mau tiduran doang selama liburan di sini? Kita ini pasangan muda, nggak baik kalo di hotel doang. Meskipun gue mau-mau aja sih." jelas Tedjo.


"Ngomong yang jelas lo!"


"Lo nggak mau jalan-jalan apa?" tanya Tedjo. "Terus ngabisin waktu lo bareng gue?"


"Bareng sama lo tuhlah yang ngebuang waktu gue." balas Yumi.


"Kocak lo. Ayo, buru. Ini kencan pertama kita." Tedjo langsung menarik tangan Yumi pelan untuk mengajaknya jalan-jalan.


...•••...


"Nih, pake." perintah Yumi pada Tedjo untuk memakai sepatu rodanya.


Tedjo diam sesaat. "Nggak jalan kaki aja, Neng?"


"Tempatnya jauh noh di sono. Ntar bisa-bisa kaki lo beranak. Mau lo?" jawab Yumi asal.


"Tapi, kenapa harus pake sepatu roda? Kita kan bisa nyewa sepeda. Dan kenapa malah lo sih yang nentuin tempat kencannya? Kan gue yang ngajak lo jalan-jalan?" tanya Tedjo kesal.


"Udah deh. Ini tuh seru tau."


Tedjo hanya diam sambil memandang sepeda itu dengan frustasi.


"Tunggu. Lo nggak bisa main sepatu roda ya?" tanya Yumu begitu menyadari sikap Tedjo.


Tedjo diam. Dan itu berarti iya.


"Hahaha... lucu lo." ledek Yumi.


Tedjo cemberut. "Kan gue udah nikahin ahlinya." ujar Tedjo sambil nyengir.


Yumi berhenti tertawa. "Hah?"


Akhirnya, Yumi pun mengajari Tedjo bermain sepatu roda.


"Tenang woi, gue megangin lo kok." kata Yumi.


"Tungguin gue woi." Tedjo kesusahan menyeimbangi dirinya.


"Udah? Oke." Yumi menuntun Tedjo perlahan.


"Pegangin dong, Yum!" rengek Tedjo yang hampir jatuh.


"Makanya lo berdiri yang bener biar nggak jatoh. Kenapa nyalahin gue coba?" rutuk Yumi.


Beberapa menit berlalu, tapi Tedjo tetap terjatuh bermain sepatu roda karena tidak seimbang. Yumi sampai berkali-kali menyontohkan cara bermain sepatu roda dengan benar, tapi hasilnya tetap sama.


Karena saking geramnya dan merasa lelah, Yumi pun menendang sepatu roda milik Tedjo yang sudah dilepasnya.


Tedjo melongo.


"Lo gimana sih? Susah banget diajarin. Otak lo cuman pajangan doang ya?" sungut Yumi sambil menghela napas lelah.


"Sembarangan lo. Gue bisa kok main sepatu roda, bahkan lebih jago daripada lo." jawab Tedjo sok-sokan.


"Kalo gitu, buktiin!"


Tedjo langsung memakai kembali sepatu rodanya dan berlatih lagi. Namun, hasilnya tetap saja ia tidak bisa.


"Whoa!"


Tedjo lagi-lagi jatuh.


"Hahaha...." Yumi tertawa melihat tingkah Tedjo. Setelah puas tertawa, Yumi kemudian menolong Tedjo bangkit.


"Lo nangis?" goda Yumi.


"Lo tuh yang nangis. Lo pikir gue anak kecil apa."


Namun beberapa saat kemudian, Tedjo mencibir. Membuat Yumi tersenyum menang.


Setelah itu, mereka pun pergi dengan sepeda sewaan.


"Lop yu...." kata Tedjo sambil mengayuh sepedanya di samping sepeda Yumi.


"Berisik!"


...•••...

__ADS_1



__ADS_2