
...•••...
Hari Minggu, pukul 09.17....
Saat ini, Yumi sedang mengamati dua makhluk hidup yang asik haha-hihi dari kejauhan. Ia mengikuti Tedjo dan Arum secara diam-diam.
"Ngapain tuh dua orang pacaran rumah sakit? Dih, nggak modal banget." gumam Yumi geram. "Tedjo brengsek! Lo cemburu, ya? Lo pikir gue cemburu! Kayaknya iya sih!"
"Lihat aja ntar lo ya, Djo. Gue bakal ngebongkar kebusukan lo ke orang rumah." lanjut Yumi sambil menampilkan seringainya.
"Kali nih pasti berhasil. Gue udah nyamar gini." Monolog Yumi lagi sambil merapikan kumis palsunya.
"Kumis lo agak miring. Sini, biar gue rapiin." kata seseorang yang baru saja datang, tapi Yumi belum menyadari siapa seseorang itu karena pikirannya masih berkutat dengan kencan Tedjo.
"Makasih." kata Yumi masih belum sadar.
"Lo punya lem, nggak? Kumisnya udah nggak bisa nempel nih. Susah." kata seseorang itu.
"Lo ini niat nolong atau nggak sih? Lo tuh—" kalimat Yumi terhenti begitu tau lawan bicaranya siapa.
"Astaghfirullah!" Yumi tersentak kaget.
"Ngapain lo di sini?" tanya Yumi pada seseorang yang tak lain tak bukan adalah Baruna.
"Ngerapiin kumis lo. Ya gue ke sini mau bantuin lo lah! Lo lupa kalo gue udah janji mau bantuin lo sampe selesai? Tapi, kenapa lo yang lupa? Aneh banget." jawab Baruna agak sebal.
"Terus, ngapain lo pake kostum kelinci begini? Aaaa lucu banget~" tanya Yumi sambil memukul pelan bagian kepala kelinci itu.
"Ini penyamaran gue. Keren, kan?" jawab Baruna bersemangat.
"Ternyata bener yang dibilang tuh alien hijau. Lo emang kelinci bahenol. Tloook!" Yumi berdecak kagum sambil membunyikan lidahnya.
"Ya Allah, Yum. Udah gue bilang jangan panggil gue begitu."
"Emangnya kenapa? Gue suka kok." Yumi mencibir.
"Ya udah, panggil aja sesuka lo."
"Mas Baruna emang anak baik." Yumi tersenyum senang, lalu mengusap rambut Baruna dengan lembut.
Seperti tersihir, Baruna tiba-tiba tersenyum.
"Lo begitu... kumis lo nggak kenapa-napa?" tanya Baruna ragu.
"Hah? Emangnya kenapa? Gue kan lagi nyamar jadi Om Adam."
"Bukan, maksud gue tuh... EMANGNYA OM-OM MANA YANG PAKE GAUN?"
Ung?
Yumi bengong sesaat, lalu mengamati penampilannya yang sedari tadi tidak disadarinya.
"Lo mau jadi om-om, tapi malah pake gaun sama high heels? Emangnya ada om-om begitu?" tanya Baruna frustasi.
"Hehe...." Yumi hanya menyengir sambil melepaskan kumis palsunya.
Baruna geleng-geleng putus asa.
"Sekarang kita mau ngapain, Run?" tanya Yumi.
"Kalo ceritanya udah kayak gini, ikutin aja insting lo. Mereka tuh benar-benar pacaran atau nggak. Tapi, kalo diliat dari dekat begini, mereka kayaknya pacaran deh. Insting gue soalnya kuat." kata Baruna dengan entengnya.
"Kalo bener begitu, mereka sama sekali nggak cocok." Yumi berjalan lebih dulu dengan emosi yang tersulut. "Ayo, Run!"
"Woi, Yum! Tunggu!" Baruna mengejar Yumi dengan susah payah akibat kostum yang ia gunakan. "Nih kostum kenapa montok banget sih?!"
...•••...
Setibanya di pintu masuk rumah sakit....
"Pak, ayolah, Pak. Masa kelinci unyu kayak saya begini nggak dibolehin masuk sih?" keluh Baruna pada satpam rumah sakit.
"Maaf, Mas. Tetap tidak boleh. Ini sudah menjadi peraturan rumah sakit."
"Ini tuh bukan perut asli saya, Pak. Ini tuh cuman kostum. Lagian kenapa kelinci buncit nggak boleh masuk sih? Ini udah termasuk body shaming lho, Pak? Bapak mau saya laporin ke Kak Seto?" Baruna putus asa.
"Kalo ingin masuk, tolong lepaskan kostumnya. Banyak anak-anak di sini. Mas bisa bikin mereka nangis."
"Emangnya kostum saya sehoror itu?" tanya Baruna mulai sebal.
"Kostumnya terlalu vulg*r ya, Pak, ya? Pak... nih kelinci emang nggak pake baju, tapi cuman luarnya doang, Pak. Orang di dalamnya masih pake kok." kata Yumi ikut meyakinkan.
"Tetap tidak boleh. Tolong, taati peraturan di sini."
"Bapak nggak tau kalo ini tuh udah termasuk diskriminasi terhadap kelinci bahenol!" seru Baruna pada satpam itu.
"Saya hanya menjalankan tugas, Mas. Apa Mas mau membiayai kebutuhan istri dan anak saya? Saya dan istri punya dua belas anak yang masih kecil-kecil." balas satpam itu.
Baruna dan Yumi terdiam sesaat.
"Tapi, Pak.... Tolong bantu saya sekali ini aja dong, Pak. Saya lagi nyamar, Pak. Saya cuman pake celana pendek di dalam. Kalo kostumnya saya lepas, masa iya saya koloran di sini, Pak." bujuk Baruna dengan wajah memelas.
"Apa Baruna kudu guling-guling dulu biar Bapak ngasih dia masuk?" tanya Yumi asal yang membuat Baruna membulatkan matanya lucu.
"Jangan kayak gitu juga dong, Yum. Lo nggak tau nih kostum beratnya segede dosa gue ke orang tua gue?" bisik Baruna dengan wajah geram.
"Lo mau masuk, kagak?" tanya Yumi ikut geram.
Baruna hanya mengangguk pasrah.
"Ikutin aja kata gue mah."
"Iya deh, Mas. Guling-guling dulu!" perintah satpam itu sambil menahan senyum.
"Jangan ketawa ya, Pak." Baruna mulai telentang di lantai, lalu berguling-guling seperti semangka.
Yumi dan satpam itu tertawa sejadi-jadinya.
"Orangnya lucu kan, Pak?" Yumi sangat puas melihat Baruna berguling.
"Iya, Mbak. Liat tuh. Pant*tnya montok banget." ujar satpam itu tampak terhibur.
__ADS_1
..."Udah, udah, udah. Sekarang saya boleh masuk kan, Pak?" tanya Baruna tak sabaran....
"Tentu saja. Mas sudah bekerja keras."
"Terima kasih, Pak." kata Baruna dan Yumi.
"Sama-sama, Mas, Mbak." Satpam itu melepaskan topinya sambil membenarkan rambutnya yang agak berantakan.
Yumi berlalu begitu saja, meninggalkan Baruna yang masih tiduran di lantai.
"Yumi! Bantuin gue diri!" seru Baruna lelah. "Mau kabur aja lo."
"Kostum lo noh bawa sial bener. Heran gue." kata Yumi sambil membantu Baruna bangkit.
"Harusnya gue pake kostum Dora tadi." gumam Baruna.
"Udah telat!" seru Yumi.
"Lebih baik terlambat, kan? Dari pada nggak sama sekali?" Baruna mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
Yumi kemudian tampak berpikir.
"Lo sadar nggak sih, Run? Satpam tadi kok mirip sama Bang Awang ya?" tanya Yumi setelah agak jauh dari satpam tadi.
"Ya, iyalah. Tuh bokapnya Bang Awang." jawab Baruna seadanya.
Baruna dan Yumi kemudian melanjutkan pengintaian. Namun, langkah keduanya terhenti begitu melihat Tedjo dan Arum masuk ke ruang dokter spesialis kandungan.
"Ngapain mereka masuk ke sana?" Jantung Yumi serasa berhenti berdetak.
Baruna hanya memperhatikan raut wajah Yumi yang berubah kesal tanpa berkomentar apapun.
"Ini nyata nggak sih, Run?" tanya Yumi sambil mencubit pipi Baruna.
"Aouw! Kenapa lo nyubit pipi gue?" tanya Baruna heran.
"Gue mau mastiin kalo ini bukan mimpi." jawab Yumi tanpa merasa bersalah.
"Emang bukan mimpi!" balas Baruna kesal.
"Mereka benar-benar pacaran ya, Run? Tapi, kenapa sampe tahap begini? Terus... kenapa Tedjo nggak ngasih tau gue?" gumam Yumi. Tampaknya kali ini ia benar-benar sedih. "Gue kan sahabatnya."
"Bang Tedjo emang begitu. Gue juga sahabatnya, tapi nggak dikasih tau ama dia. Lagian mana mungkin sih, Yum. Gue percaya sama Bang Tedjo seratus persen. Lo juga percaya, kan?" Baruna berusaha menenangkan Yumi.
"Awalnya gue percaya aja sih. Tapi, setelah ngeliat ini semua, rasanya sulit buat dipercaya." Yumi masih menatap kosong ruangan yang Tedjo dan Arum masuki tadi.
"Misalnya dugaan mereka pacaran itu emang bener, bukan berarti dugaan kita kalo mereka ke dokter kandungan juga bener, kan? Tenang aja, Yum. Pengintaian kita belum berakhir. Gue bakal tetap ngebantuin lo nyelidikin pacar sahabat lo itu. Bang Tedjo kan juga sahabat gue. Gue juga nggak mau Bang Tedjo salah milih cewek." kata Baruna panjang lebar sambil tersenyum manis.
"Jangan senyum-senyum doang lo. Ketawa juga dong. Hahaha...." Yumi pura-pura tertawa.
"Cringe lo. Hahaha...."
"Hahaha... kelinci montok gue ini~ Woi, Run? Lo udah daftarin asuransi buat ****** montok lo ini?" goda Yumi sambil memukul-mukul bokong kostum yang dipakai Baruna itu.
"Heh! Ini bukan ****** asli gue, tau!"
"Ngaku aja lo. Gue udah kegoda sejak pandangan pertama."
"Ya Allah, Yum! Sadar lu! Gue bilangin ke Bapak lo ya!"
"Gimana nih? Kita bakal keliatan." Yumi panik.
"Ayo." Baruna menarik tangan Yumi lembut, lalu mengajaknya duduk di atas brankar.
"Kenapa gue yang duduk?" tanya Yumi.
"Pura-pura aja lo lagi sakit." jawab Baruna.
"Nggak mau! Gue nggak mau sakit!" tolak Yumi.
"Cuman pura-pura ini."
"Kalo gitu, lo aja."
Baruna hanya pasrah, lalu menidurkan dirinya di atas brankar.
Setelah itu Baruna dan Yumi siap untuk berakting.
"Siapapun, tolong! Kelinciku ingin melahirkan! Huweee... hiks croot~ hiks hiks croooooooot!" seru Yumi heboh sambil pura-pura menangis.
Baruna menghela napas dengan kasar. "Aduh! Sakit! Sakit banget! Ini udah kontraksi!"
Tak butuh waktu lama, akhirnya semua orang termasuk suster dan beberapa dokter pun mengerubungi mereka.
"Kenapa kalian diem aja?! Kelinciku ini udah mengandung selama tujuh belas tahun! Sekarang dia mau melahirkan!" seru Yumi.
Tedjo dan Arum yang sudah keluar dari ruangan itu pun kaget melihat kehebohan itu, tapi mereka tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi karena kerumunan itu menghalangi pandangan mereka.
"Permisi, suster. Di sana lagi kenapa, ya?" tanya Tedjo pada seorang suster.
"Ada kelinci yang mau melahirkan, tapi bukan kelinci betina. Dia ribut banget." jawab suster itu seadanya.
Tedjo dan Arum ber-O ria.
"Kelinci apaan gede banget." gumam Tedjo.
"Ya udah, Djo. Ayo kita pergi." ucap Arum.
"Ayo."
Melihat Tedjo dan Arum sudah pergi dari rumah sakit, Yumi yang pura-pura menangis tadi akhirnya bersikap seolah tak terjadi apapun.
"HAH? KAMU CUMAN MAU BERRY, NCI? YA UDAH, AYO KITA PULANG." ajak Yumi sambil membantu Baruna turun dari brankar.
(fyi: berry sama dengan ee)
"Permisi, permisi." Baruna dan Yumi berlalu begitu saja, meninggalkan orang-orang yang sudah geram dibuatnya.
"Kejar mereka!" seru satpam yang geram melihat ulah Baruna dan Yumi.
"Lari!!!" Baruna menggandeng tangan Yumi.
Baruna dan Yumi berhenti berlari, setelah memastikan tidak ada siapapun yang mengejarnya lagi.
__ADS_1
"Lo mau lagi?" tanya Baruna dengan napas ngos-ngosan.
"Gila lo! Untung aja lo masih bisa lari pake tuh kostum. Mana pant*tnya ikut ke sana-kemari."
"Stop ngomong kayak gitu! Atau gue bakal suka sama lo!"
"Hah?"
"Apa? Gue bilang apa?"
Yumi bingung. "Bahenol! Baruna bahenol!"
"Enak aja!"
"ANJING!"
"Hah? Kenapa lo ngomong kasar ke gue?" Baruna kaget saat mendengar ucapan Yumi.
"ANJING!"
"Woi, Yum. Lo kenapa sih?"
"ANJING! ADA ANJING DI BELAKANG LO! LARI!"
Mereka pun berlari sekencangnya untuk menghindari anjing galak yang sedang mengejar mereka.
"INI SEMUA SALAH LO, TAU NGGAK!" seru Yumi masih berlari.
"BAGUSLAH!" sahut Baruna asal.
"Hahahahahahaha...." Entah kenapa Yumi bahagia saat bersama dengan Baruna.
"YUMI?!"
"PAAN?!"
"LO PERCAYA SAMA GUE, NGGAK?!" tanya Baruna masih berlari.
"KAGAK!"
"KALO GITU, GUE AJA YANG BAKAL SELAMAT!" pekik Baruna menakut-nakuti.
"IYA DAH! PERCAYA GUE!" jawab Yumi pasrah.
"KALO GUE BILANG LOMPAT, LO LOMPAT YA?!"
"OKE!"
"TIGA, DUA, SATU! LOMPAT!"
Dengan pasrah, Yumi mengikuti perintah Baruna.
Byuuurrrrrrr!
Baruna dan Yumi melompat ke danau sekitaran rumah sakit.
"Astaghfirullah, Run! Ngapain nyebur di sini sih?!"
"Cuman ini satu-satunya cara biar nggak digigit ANJING!"
Yumi kemudian berjalan ke daratan—takut jadi Mermaid Man and Barnecle Boy, ceunah.
"Huweeee... bau banget." Yumi mencibir, mengeluh gaunnya bau dan kotor.
"Woi, Yum! Bantuin gue. Kostumnya jadi berat di air."
"Kayak ada yang ngomong." goda Yumi seolah tidak mendengar Baruna.
"Woi, Yumi! Lo nggak kasian sama nasib gue?" tanya Baruna pasrah.
Tak sampai hati, Yumi akhirnya membantu Baruna keluar dari danau itu.
Mereka pun jalan kaki untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Gue nggak mau jadi detektif lagi." gumam Yumi sambil berjalan gontai.
"Gue juga nggak mau pake kostum sial ini lagi." gumam Baruna dengan tatapan kosong.
Baruna dan Yumi sibuk dengan pikiran masing-masing, tanpa mempedulikan orang sekitar yang sedang memperhatikan keadaan mereka.
"Jangan liatin gue begitu dong, Pak." kata Baruna sambil berjalan terhuyung-huyung seolah sedang mabuk.
"Jangan begitu lo! Gue mau ketawa jadinya. Hahaha...." Yumi terkekeh.
"Hahaha.... Woi, Yum? Lo tendang coba ****** nih kostum. Tuh air ngumpul di situ, bikin nih kostum berat."
"Siap, laksanakan!"
Yumi menendang bokong kostum kelinci itu dengan puas. Ia seperti sedang melampiaskan semua emosinya sekarang.
"Aduh!"
Sepertinya, Baruna dan Yumi benar-benar frustasi.
"Woi, Yum... kayaknya kita kudu ganti baju dulu dah. Kaki gue rasanya udah ciut gegara airnya masih ngegenang di dalam." kata Baruna.
"Hah? Lo masih mau lanjut?"
Baruna mengangguk. "Ya, iyalah. Gue masih penasaran. Lo nggak penasaran?"
"Wah... ternyata lo kepo juga ya. Ya udah, gue mah ikut lo aja."
"Lo yakin? Lo mau ngikutin gue ganti baju?"
"Heh! Bukan gitu! Maksud gue, gue bakal ngikutin lo dalam melanjutkan misi!" jelas Yumi.
"Siip. Kita ketemu di titik ini ya, Yum?"
"Oghey." Yumi mengangguk mantap, begitu juga dengan Baruna.
Mereka pun berlari ke arah yang berbeda untuk pulang.
...•••...
__ADS_1