
...•••...
Di jembatan, pukul 20:29....
Baruna dan Yumi berdiri mematung sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang di bawah jembatan. Mereka hanya diam sambil sesekali menghela napas yang panjang dan dalam.
Tiba-tiba, muncul di benak Yumi untuk menjahili Baruna.
"Baruna...?" panggil Yumi sambil menunjuk-nunjuk ke arah kendaraan yang tak ada habisnya di bawah sana dengan mata terbelalak.
Spontan, Baruna menoleh ke arah yang di tunjuk Yumi. Namun, saat melihat kembali ke arah gadis itu, Baruna malah di kagetkan dengan tingkah konyolnya.
"Arghhh!! HAHAHA...."
"Woi!" Baruna tersentak kaget, tapi kemudian dia memasang wajah datar berusaha agar terlihat tenang di depan Yumi.
"Hah? Lo nggak kaget?"
"Nggak."
"Beneran? Kuping lo aja merah gitu. Berarti lo kaget."
"Sejak kapan kuping merah jadi tolak ukur kekagetan seseorang?" tanya Baruna.
"Dasar buntelan kelinci."
"Jangan manggil gue kayak Bang Tedjo begitu. Itu tuh nggak keren."
"Namanya lucu sih buat elo." balas Yumi.
"Kecuali lo, jangan manggil gue kayak gitu."
"Kenapa?"
"Udah gue bilang, itu tuh kedengeran nggak keren." Baruna frustasi.
"Tapi, lo keren kok. Mau di panggil begimana pun, tetap keren." kata Yumi seadanya tapi berhasil membuat Baruna salah tingkah.
"Baruna?"
"Hm...." gumam Baruna sambil menatap Yumi.
"Lo pernah denger cerita soal hantu air, nggak?" tanya Yumi dengan ekspresi serius.
"Itu cerita emang udah populer dari dulu. Lo pernah denger nggak, cerita hantu air dari sungai dekat sini? Warga sekitar udah ngelarang keras buat nggak terlalu dekat sama sungai, kalo lo nggak mau ditarik sama sesuatu yang nyeramin di bawah sana." kata Baruna.
"Lo... pernah kepikiran buat lompat dari atas jembatan, nggak?" tanya Yumi tiba-tiba beralih ke percakapan yang lain.
"Lo cemasin gue, Yum?"
"Hahaha... emangnya kenapa? Gue cuman nanya doang kok. Gue penasaran soalnya."
"Boleh sih nanya, tapi jangan nanya soal begitu. Lo bisa aja bangunin sesuatu."
"Hah? Bangunin apa?"
"Bukan bangunin apa, tapi bangunin siapa. Kata-kata lo kedengeran ambigu, tau nggak." Baruna terkekeh.
"Astaghfirullah, Run! Gue nggak mau begitu ya!"
"Emangnya mau ngapain, coba? Maksud gue tuh, lo bangunin bulu kuduk gue."
Baruna dan Yumi menghela napas dalam diam. Terkadang Baruna tersenyum manis saat Yumi melihat ke arahnya.
"Yumi?"
"Hm...."
"Lo harus inget gimana rasanya lo pertama kali jatuh cinta. Lo nggak rindu apa, masakan enyak lo?"
"Sekarang lo yang kenapa? Lo pengen gue nanya begitu, kan?"
"Nggak. Gue cuman ngingat kata-kata yang pernah gue baca di buku. Orang-orang yang meninggal karena bunuh diri, kenapa nggak mikirin hal itu, ya?" tanya Baruna terlihat pundung.
"Mau nyoba, nggak?"
"Ya Allah, Yum... jangan begitu lo. Lo masih muda. Sebegitunya emang pengaruh Bang Tedjo buat lo?"
"Hah?!" Yumi terbelalak.
"Kita pasti temuin solusinya. Gue bakal bantuin lo. Jadi, jangan sampe lo ngelakuin sesuatu yang dibenci Allah. Jangan lompat pokoknya."
"Emang gue kelinci kayak elo, suka lompat-lompat? Gue tuh kodok. Yang lompat-lompat karena bahagia." kata Yumi sambil tersenyum manis.
"Kodok bahagia? Jangan bohong lo. Setau gue kodok tuh suka bohong."
"Emang lo pernah jadi kodok sebelumnya? Jangan-jangan... lo pangeran kodok, ya?"
"Bukan. Gue ini sebenarnya... Mimi Peri yang lagi nyamar." bisik Baruna kemudian menampilkan senyuman konyol.
"HAHAHAHAHA!" Yumi tertawa sampai-sampai air matanya keluar saking lucunya Baruna.
"Yumi?"
"Ya?"
"Masih ada gue di sini buat lo. Gue juga ganteng asal lo tau. Akibatnya bisa celaka kalo gue ngasih liat muka gue di khalayak ramai. Bisa celaka, tau." canda Baruna untuk menghibur Yumi.
Yumi pura-pura merasa mual. "Asal lo tau aja ya, gue tuh nyari pria seksi."
"Dan asal lo tau aja, Yum. Gue juga pria terseksi di dunia."
"Tapi, lo nggak hot."
"Kok gitu sih?"
"Karena gue juga nyari pria hot."
"Jadi, lo mau gue ngasih liatnya di sini?"
"Woi, Baruna! Otak lo dangkal apa gimana?!" seru Yumi sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
"Woi, Yum! Gue cuman mau ngasih lo ini." Baruna tersenyum manis sambil memperlihatkan gantungan kunci berbentuk b*kong kelinci.
"Wah... lucu banget!"
"Nih, buat lo."
"Makasih, Baruna." Yumi tersenyum melihat gantungan kunci itu. "Ini lebih hot ketimbang elo ternyata, Run." goda gadis itu.
"Lo suka sama tuh b*kong kelinci? Kagak! Kagak ada yang boleh buat lo suka, kecuali gue."
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Yumi bingung.
"Kagak." kata Baruna, lalu bergegas ingin pergi. "Lo tunggu di sini bentar ya. Gue bakal balik kok."
"Emang lo mau ke mana?"
"Tenang aja. Gue nggak bakal ninggalin lo."
"Woi, Run!" panggil Yumi sambil menatap Baruna yang sudah berlari menjauh.
Setelah cukup lama menunggu Baruna, akhirnya laki-laki tampan itu kembali.
"Maaf udah buat lo nunggu." kata Baruna sambil duduk di samping Yumi yang sudah terduduk lelah.
"Lo buat gue terharu aja. Tapi, hari ini bukan hari ulang tahun gue, Run." kata Yumi begitu melihat kue dengan lilin di atasnya.
"Eh, nggak gitu. Gue beli kue ini cuman buat dimakan. Nggak ada perayaan khusus." goda Baruna membuat Yumi mendengus kesal.
"Huh...."
"Bercanda doang gue. Maksud gue tuh... sekarang kita kan udah ceesan nih, jadi gue pengen ngerayain bareng lo."
"Baik bener lo." kata Yumi dengan mata yang berbinar.
Baruna tersenyum sambil memandang Yumi dengan tatapan dalam.
"Yumi."
"Ya."
"Makasih udah ngajakin gue makan malam, meskipun jadinya kita cuman nongkrong di jembatan." kata Baruna membuat Yumi terbelalak.
Ung? Bukannya Baruna yang mengajak Yumi makan malam terlebih dahulu?
"Lo lagi ngigo ya, Run? Kok omongan lo ngelantur gitu?" tanya Yumi heran.
"Gue aja belum tidur. Masa iya gue udah ngigo aja di sini."
"Denger. Lo nggak perlu malu buat ngaku. Wajar aja kalo lo pengen ngajak cewek buat makan malam bareng. Itu nggak bakal buat harga diri lo jatuh kok." Yumi mulai gugup.
"Hah? Maksud lo apa sih, Yum? Bukannya lo yang ngajak gue makan malam berdua?" tanya Baruna turut bingung.
"Hah? T-tapi... bukannya lo yang ngechatin gue biar kita makan malam berdua?"
"Chat? Oh... mungkin itu chat dari Bang Tedjo buat elo. Dia minjam hape gue gegara hapenya mati. Lo nggak tau, Yum? Bang Tedjo nggak ada bilang ke elo?" jelas Baruna membuat Yumi menganga lebar.
Baruna pun mulai menceritakan kronologi yang terjadi pada malam dimana Tedjo meminjam ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Yumi.
Baruna dan Awang sedang bermain game, sedangkan Tedjo menyemangati mereka berdua.
"Bar." panggil Tedjo.
"Hm.... Paan, Bang?" sahut Baruna tanpa beralih dari layar televisi.
"Gue minjem hape lo bentaran, ya?" tanya Tedjo.
"Buat apa sih?" tanya Baruna balik. "Jangan buat yang aneh-aneh, Bang."
"Ya kali. Gue mau chat-in orang doang kok. Gue pinjem yak?"
"Iya dah. Tapi, lo bayar sewanya ya." canda Baruna.
"Ya udah. Berapa harga sewa lo?" balas Tedjo.
"Jangan nodai Baruna dong, Djo." timpal Awang sambil terkekeh.
Tedjo hanya tertawa melihat Baruna yang kebingungan.
"Emang maksudnya Bang Tedjo, apa sih, Wang?" tanya Baruna pada Awang.
"Woi! Kenapa lo nggak manggil gue Abang juga, hah?!" amuk Awang dengan mata melotot.
"Indomie gue udah mateng kayaknya. Gue ke dapur dulu ya." elak Baruna, lalu pergi ke dapur.
"Woi, Baruna!"
"Udahlah, Wang. Nggak baik marah-marah di umur lo yang sekarang." goda Tedjo.
"Bisa gila gue ngadepin lo berdua. Bang Karma... tolongin gue dong, Bang." rengek Awang dengan suara malaikatnya.
Tedjo terkekeh melihat tingkah Awang. Kemudian ia meraih ponsel Baruna dan mengetik pesannya.
@baruna_k: Besok gue mau ngedate. Lo mau ikut, nggak?
Begitulah kronologi yang sebenarnya.
Saat ini, Yumi langsung memeriksa ponselnya.
"Kenapa gue nggak ngeh kalo dia manggil gue 'Yumyum'?" geram Yumi.
Yumi meneguk ludahnya perlahan. Saat ini, ia benar-benar merasa malu. Mau di taruh dimana wajahnya? Yumi bahkan tidak berani menatap Baruna.
"Ya udah. Ayo kita pulang." ajak Yumi.
"Buru-buru banget sih, Yum? Lo nggak mau makan nih kue dulu?" tanya Baruna.
"Lain kali aja deh. Pas lo yang benar-benar ngajakin gue."
"Tapi...."
"Baruna, plis...." Yumi memasang muka memelasnya.
Baruna menatap Yumi dengan curiga. "Lo malu sama gue ya, Yum? Nggak apa-apa kok. Setiap orang pasti pernah salah paham." Baruna berusaha menenangkan.
Seketika pipi Yumi memerah.
"Gue mau pulang aja ya, Run. Ayo pulang sama-sama." Yumi menarik tangan Baruna pelan.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Bersamaan dengan itu, di tempat lain....
Sudah hampir tiga jam Tedjo menunggu kedatangan Yumi, tapi sepertinya hal itu sia-sia. Yumi tidak akan pernah datang.
"Kenapa tuh cewek belum dateng-dateng juga sih? Padahal gue mau minta maaf sama dia. Argh! Tapi, salah gue apa sih sebenernya? Dasar cewek.... Nggak bisa di tebak." gerutu Tedjo.
Tedjo kemudian menelepon Yumi.
"Assalamu'alaikum! Woi, Yum?! Kenapa lo nggak dateng, hah?! Gue udah nungguin lo dari tadi, tau nggak!" lontar Tedjo.
"Heh! Lo ngapain nggak ngangkat telpon dari gue?!"
Tedjo benar-benar frustasi. Ternyata, Yumi belum mengangkat teleponnya sama sekali.
__ADS_1
"Makan pecel aja dah gua." gumam Tedjo putus asa.
Tedjo akhirnya memesan makanannya dan makan malam seorang diri.
...•••...
Pukul 00:49....
Tedjo pulang ke rumah dengan muka lesunya, lalu masuk ke kamar dan menyalakan lampu yang sedari tadi mati.
"Allahu Akbar!!!" Tedjo tersentak kaget begitu melihat Yumi yang sedang duduk di sofa kamarnya dengan memakai piyama berwarna putih.
"Ngapain lo diem di situ? Bikin kaget aja." Tedjo mengelus dadanya.
Sementara, Yumi hanya menatap Tedjo dengan tajam tanpa meresponnya.
"Gue tanya kenapa? Lo jawab dong. Kalo lo kesel sama gue, tolong kasih tau gue. Kelakuan gue yang mana yang bikin lo kesel?" tanya Tedjo mulai frustasi.
Yumi masih diam.
Tedjo menghela napas, lalu menjambak rambutnya sendiri saking gemasnya dengan Yumi yang tidak mau menjawabnya.
"Yumi."
"Tedjo."
panggil Tedjo dan Yumi bersamaan.
"Gue duluan." kata Yumi.
"Gue...." Tedjo menggeram.
"Gue." Yumi menggeram.
"Ya udah, lo duluan." Tedjo akhirnya mengalah, terlebih ngeri karena Yumi sudah melotot.
"Semalam lo yang ngechat gue pake hape Baruna?" tanya Yumi mencoba menahan kesalnya.
"Hm...." gumam Tedjo.
"Yang bener dong jawabnya."
"Iya. Tadi gue nungguin lo di Kafe Pulu-pulu, tapi kenapa lo nggak dateng? Segitunya ya kesalahan gue sampe lo nggak mau maafin gue?"
"Terus kenapa lo ngechat gue pake hapenya Baruna?"
"Ya karena hape gue mati. Gue minta maaf deh kalo itu yang bikin lo kesel." sesal Tedjo. "Lama banget gue nungguin lo, tau nggak. Ampe berjamur ****** gue. Lo nggak baca chat dari gue apa gimana sih? Gue pikir lo bakal dateng."
Yumi terdiam saat Tedjo mengatakan kalau sudah menunggu hampir empat jam. Yumi merasa bersalah.
"Maaf...." kata Yumi mulai melunak. "Eh, nggak! Ini bukan salah gue! Ini salah lo! Argh! Lo udah bikin gue malu, tau nggak!"
Yumi makin kesal.
"Hah? Bikin lo malu? Emangnya gue ngelakuin apa ke elo?"
"Pokoknya lo udah bikin gue malu!"
"Kalo gue udah bikin lo malu, kenapa gue nggak ingat sama sekali?"
"Lain kali jangan chat gue pake hape orang lain!" sungut Yumi geram.
"Tapi, kenapa? Gue kan nggak tau kalo hape gue bakal mati." balas Tedjo masih tak mengerti.
"Lo kan bisa ngomong langsung ke gue."
"Gimana gue bisa ngomong langsung, kalo lo nggak mau ngomong sama gue."
"Udah deh. Jangan ngomong ke gue sebelum gue ngomong duluan sama lo!" Yumi melengos pergi.
"Tuh kan! Woi, Yum! Jangan kayak gitu napa sih!"
Tedjo bergegas menghampiri Yumi untuk membujuknya.
"Lo masih kesel sama gue, Yum?" tanya Tedjo dengan suara yang diimut-imutkan.
"...."
"Kok lo diem aja sih? Sekarang di depan lo udah ada cowok ganteng. Ini kesempatan lo buat ngobrol panjang lebar sama gue. Atau seenggaknya lo bisa izinin gue nyium pipi lo."
"Cium aja sono sama Shaun The Sheep." cetus Yumi.
"Kejam banget lo jadi bini."
Yumi mendengus.
"Yumyum, lo mau liat kupu-kupu nggak?" tanya Tedjo sambil menampilkan seringainya.
"Maksud lo apaan?! Gue masih SMA ya?!"
"Jadi, lo mau gue nunggu sampe lulus SMA? Setelah lulus berarti kita bisa kan... ngelakuin... itu...?"
"Lo ngomong apa sih?!"
Tedjo tertawa renyah. "Lo mau punya anak berapa, Yum?"
"Becanda lo?"
"Nggak ah. Gue seriusan nanya ke elo. Ya kali kita nikah tapi nggak pernah gituan."
"Diem gue bilang!"
"Hahaha... iya, iya. Gue buatin mie kuah buat lo ya."
"He-eh, tapi jangan masukin saos." gumam Yumi membuat Tedjo tersenyum simpul.
Begitu mie kuah buatan Tedjo selesai, Yumi pun menyantapnya.
"Enak juga mie kuah buatan lo. Bisalah lo jadi pelawak kalo begini." goda Yumi.
"Ngapain lo malsuin identitas gue?" Tedjo mendengus.
"Terus, mau lo apa? Mau jadi superhero, gitu?" tanya Yumi membuat Tedjo kesal.
"Seenggaknya gue nggak ngelak!" Tedjo kemudian melengos pergi.
Yumi bengong.
"Hah? Maksud lo? Ya Allah, Djo. Buat gue bingung aja lo malem-malem." gumam Yumi lalu menyeruput mie kuahnya.
...•••...
__ADS_1