SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Ditinggal Berdua


__ADS_3


...•••...


"Neng Yumi berangkat ke sekolahnya sendiri dulu ya hari ini. Tedjo masih meriang. Batuknya juga nggak berenti-berenti dari kemaren. Neng tolong permisiin si Tedjo ya." kata Bu Titin sebelum Yumi berangkat sekolah.


"Iya, Bude. Aye pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." kata Yumi.


"Wa'alaikumsalam, Neng. Hati-hati." balas Bu Titin ramah sambil melambaikan tangannya pada Yumi.


...•••...


"Pagi, Yum." sapa Awang tapi diabaikan Yumi. Awang merengut.


"Pagi, Yumi!" sapa Ishak membuat Yumi menoleh. "Telat mulu lo."


"Ya kali." balas Yumi.


"Yum, kenapa lo nggak datang bareng Tedjo? Bukannya kalian sering berangkat bareng ya?" tanya Ishak.


"Nggak usah nanya gue." kata Yumi.


"Emangnya nggak boleh? Gue sama Ishak kan sahabatnya Tedjo." timpal Awang.


"Kalo gitu telpon aja dia. Tanyain langsung kabar sahabat lu berdua." kata Yumi enteng.


Ishak dan Awang menghela napas.


"Lo kayak nggak tau Tedjo aja. Butuh tujuh puluh enam tahun buat dia ngangkat telpon dari kita." kata Awang.


"Bang Is? Bang Awang?" panggil Yumi.


"Kenapa?" jawab mereka serempak.


"Tedjo lagi sakit."


"Apa! Kalo gitu ntar kita mau jenguk dia sepulang sekolah." kata Ishak.


"A-apa? Kenapa dijenguk?" tanya Yumi ragu karena takut ketahuan kalau ia dan Tedjo serumah.


"Namanya juga ada sahabat yang lagi sakit, ya dijenguklah?" jawab Awang.


"Lo ikut jenguk kan, Yum? Oh iya, rumah lo di mana? Lo tetanggaan sama Tedjo?" tanya Ishak.


"Ya, iyalah. Mereka kan sering ke sekolah bareng." kata Awang pada Ishak.


"Kalo gitu lo ikut bareng kita aja, Yum." ajak Ishak.


Yumi tersenyum kikuk, lalu menghela napas.


"Terserah aja deh. Tapi ntar, jangan kaget ya?" kata Yumi.


"Hah?"


Ishak dan Awang saling menatap dengan muka bingung.


...•••...


Setelah pulang sekolah, Ishak dan Awang langsung datang ke rumah Tedjo.


"Tedjo! Huyaaa... muka lo pucet banget kayak pacet nggak dapat jatah. Lemah banget lo. Berarti lo nggak lagi pura-pura ya?" kata Ishak sambil mengusap kasar wajah Tedjo.


Sedangkan Awang tanpa basa-basi langsung melemparkan tubuhnya di atas Tedjo.


"Woi~" kata Tedjo dengan suara melemah.


"Lo mau coklat panas nggak, Djo?" tawar Ishak.


"Nggak usah, Bang. Makasih." tolak Tedjo dengan suara lemah.


"Kenapa lo bawa nih anak dua ke sini sih?" kata Tedjo sedikit kesal melihat kedua sahabatnya itu.


"Emang lo bisa nolak tuh orang dua? Maksa mulu tau nggak lo." jawab Yumi kesal.


"Oi, Djo! Lo tuh kenapa sih? Otak lo ikutan sakit juga? Harusnya lo seneng kita mau jengukin elo." kata Awang sambil duduk di samping Tedjo.


"Nggak usah jadiin gue alasan. Lo ke sini karena pengen ketemu Embun, kan?" tanya Tedjo malas.


"Hehehe... lo kok tau sih, calon ipar? Embunnya mana, Djo?" tanya Awang.


Well, Awang memang menyukai Embun dari pertama kali mereka bertemu . Hanya saja Embun tidak mau tahu dengan perasaan Awang padanya.


"Adek gue lagi nggak ada di rumah." jawab Tedjo.


"Hah?" Awang melongo.


"Kenapa? Lo nyesel udah jenguk gue?" rajuk Tedjo.


"Ya, nggaklah. Lagian lo nggak mau apa punya ipar yang seksi kayak gue?" tanya Awang.


"Jadiin lo sahabat gue aja udah nyusahin. Apalagi ngebiarin lo jadi ipar gue. Tapi yang harus lo tau, lo itu bukan seleranya Embun." kata Tedjo.


"Muncung lo noh yang bikin nggak selera." Awang cemberut.


"Tedjo? Kalo Embun nggak ada di rumah, terus Pakde sama Bude kemana?" tanya Yumi


"Di sekolahannya Embun. Ada acara katanya." jawab Tedjo.


"Nyebelin banget. Babeh pasti ngikut. Berarti gue di tinggal berdua doang dong sama si Tedjo?" batin Yumi geram.


"Lo nggak bosan, Djo? Main game, yuk. Katanya main game bisa bikin demam lo cepet turun." kata Awang asal.


"Mau ikut main, Yum?" tanya Ishak pada Yumi.


"Ayo, Yum. Kalo lo main, gue pasti gampang menangnya." kata Awang menganggap remeh.


...•••...


"Kok gue mulu sih yang kalah? Gue nggak mau main lagi sama lo, Yum!" Awang berguling-guling di lantai karena geram.


"Gue nggak mau main sama lo!" Awang merajuk. "Kok lo jago banget sih, Yum!" serunya.


"Ajarin gue~" rengek Awang dengan jual mahal untuk meminta Yumi mengajarinya.


Dua jam mereka berkutat dengan permainan yang ada di ponsel. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 16:09.


"Lo pada nggak ada niatan buat pulang? Udah malem nih." kata Tedjo.


"Allahu Akbar. Tedjo mah gitu. Mulut kagak ada remnya. Gimana Bang Is? Kita pulang kagak?" tanya Awang.


"Ya kali nginep. Lo pada pulanglah. Makanannya juga udah abis lo bikin." tukas Tedjo.


Awang menatap Tedjo tajam, bermaksud bercanda.


"Apa, hah?" tantang Tedjo.


"Kite pulang dulu yak?" kata Ishak sambil mencium puncak kepala Tedjo.


Tedjo menahan tawanya dan wajahnya memerah.


Ishak hanya terkekeh.


Yumi menatap mereka dengan tatapan jijik begitu melihat momen konyol itu.


Kemudian giliran Awang yang mencium tangan Tedjo.


Tedjo tersenyum kecut dan langsung menghapus bekas ciuman Awang.


"Jangan salah paham lo. Ini tuh ciuman persahabatan. Gue masih normal ya." kata Awang.

__ADS_1


"Pulang sono."


"Oh iya. Yum, yok kita anter. Rumah lo di mananya?" tanya Ishak.


"Nggak usah, Bang. Gue yang bakal nganter dia pulang." Tedjo tersenyum kikuk.


"Hah? Lo yakin? Lo kan masih sakit? Wah... mau modus ya lo?" tanya Ishak curiga.


Tedjo terkekeh sambil menyikut lengan Yumi.


Yumi ikut tersenyum kikuk.


"Ya udah deh. Kita pulang dulu berhubung udah malem. Assalamu'alaikum."


Ishak dan Awang pun akhirnya pulang.


"Akhirnya~" kata Tedjo begitu tinggal dirinya dan Yumi di rumah.


"Maksud lo apaan?" tanya Yumi waspada.


"Apaan? Emang gue nggak boleh bilang 'akhirnya?' Dasar...."


Yumi melengos pergi.


"Mau kemana lo?" tanya Tedjo.


"Lo mau ngintipin gue?"


"Oho... iya. Gue ngerti."


Yumi melengos.


"Dasar cewek."


Setelah menunggu Yumi beberapa saat, akhirnya gadis itu kembali.


Yumi tiduran di sofa sambil memainkannya ponselnya.


"Ngapain lo?" tnya Tedjo yang sedang bosan.


"Nggak liat lo?"


Tedjo menghela napas geram.


"Apa lo?"


"Harusnya lo ngerawat gue. Lo tinggal di sini buat santai-santai doang apa?" kata Tedjo.


"Oh, jadi lo bahas utang?" Yumi geram.


"Kagak. Gue nggak bilang begitu. Sekarang lo ke dapur. Buatin gue makan. Gue laper." kata Tedjo entengnya.


"Mending gue ngasih makan singa dari pada ngasih makan lo!" kata Yumi.


Tedjo menyunggingkan senyumannya. "Bilang aja kalo lo nggak bisa masak."


"Apa lo bilang? Lo ngeremehin kemampuan masak gue?"


"Nggak. Gue cuman ngomong sesuai fakta."


"Kalo gitu gue bakal nunjukin faktanya ke elo. Pasang mata lo baik-baik." kata Yumi geram.


"Masak yang enak ya, Neng!" Tedjo tersenyum menang.


Seusainya memasak, Yumi langsung memberikan hasil masakannya pada Tedjo.


"Mana makanannya, sayang~" kata Tedjo bernada.


"Lo liat tuh diri lo." kata Yumi.


"Kenapa?"


"Lo pikir gue bego apa. Kalo lo pikir begitu, gue juga ada pinternya walaupun dikit." Tedjo nyengir.


Yumi mendengus.


Tedjo akhirnya memakan masakan Yumi.


Tapi, tiba-tiba....


Brukkk!


"Tedjo! Woi! Jangan bercanda lo! Tedjo!" kata Yumi panik sambil menghampiri Tedjo.


Tedjo pingsan.


"Woi? Ngapa lo jadi gini? Apa gegara makanannya ya? Duh, gimana nih? Tedjo! Sadar, woi!"


Yumi menampar-nampar pipi Tedjo dan seketika....


"Aouw!"


Tedjo akhirnya sadar dan langsung mengusap pipinya yang memanas.


"Sakit banget. Luka, nggak?" tanya Tedjo pada Yumi.


Yumi tercengang. "Tedjo?"


"Ya?"


"Kenapa gue peduli sama lo, hah?" tanya Yumi sambil menatap Tedjo lama.


"Apaan sih lo?"


"Harusnya gue biarin aja lo tadi! Ternyata lo becanda doang! Dasar cowok prik!" seru Yumi geram sambil menjambak rambut Tedjo.


"Aouw! Maksud lo yang barusan?" kata Tedjo dengan muka tak bersalah.


"Ya iyalah! Terus lo pikir yang mana, hah?!" seru Yumi.


"Barusan gue emang pingsan. Pala gue pusing. Gue sadar gegara lo nampar gue kekencengan, ege." jelas Tedjo.


"Lo mau balas dendam ke gue ya?" tanya Yumi tiba-tiba.


"Apa yang gue dendamin ke elo?" tanya Tedjo balik.


"Mungkin aja lo masih marah soal cowok yang gue ceritain waktu itu." jawab Yumi.


"Gue nggak marah kok. Tapi, lo jangan ingetin gue lagi soal itu."


Yumi tertawa.


"Jangan ketawa lo."


Yumi tetap tertawa karena melihat pipi Tedjo yang merah.


"Gue bilang, jangan ketawa." kata Tedjo sambil cemberut.


"Perasaan gue nampar lo nggak kenceng-kenceng amat."


"Kalo lo namparnya pelan, nggak mungkin merah begini. Tapi, gue tau cara ngobatinnya dengan cepat dan mudah."


"Heh! Porno maniak! Mesum lo!!!"


"Woi, gue belum ngomong apa-apa." kata Tedjo.


"Tapi, gue udah tau. Lo kan cowok porno."


Tedjo tertawa.

__ADS_1


"Tedjo?"


"Kenapa?" kata Tedjo sambil melanjutkan makannya.


"Sepi banget ya kalo nggak ada Pakde, Bude, Babeh sama Embun."


"Lo jangan ngapa-apain gue ya. Awas aja kalo lo berani. Gue nggak bakal lupa." peringat Tedjo.


"Emang siapa yang tertarik sama lo?"


"Lo kenapa nggak mau ngaku sih? Tapi, setelah gue pikir-pikir kalo lo mau ngelakuinnya juga nggak apa-apa kok. Kita kan bakal nikah. Gimana? Lo mau nggak?" goda Tedjo.


"Bisa diem nggak lo!"


"Gue bakal tanggungjawab. Lo nggak percaya? Kalo gitu ayo. Biar gue tunjukin caranya." goda Taehyung semakin semangat.


"Lo jangan nguji kesabaran gue ya!"


...•••...


Yumi sedang membersihkan rumah tapi ada saja kelakuan Tedjo yang mengganggunya dan membuatnya kesal.


Tedjo dengan santainya membuang sisa makanannya di lantai yang sudah di pel Yumi.


"Sori." kata Tedjo sambil nyengir.


"Lama-lama gerah juga gue ngeliat kelakuan lo. Woi! Lo kenapa sih ganggu gue mulu?! Cari sono kegiatan lain! Dasar lo!" kata Yumi sebal sambil berlalu pergi.


Saat Yumi sedang mencuci baju....


"Lo belum makan?" tanya Tedjo.


"Maksud lo?" Yumi bingung.


"Bukannya di rumah ini lo yang paling banyak makan? Terus kenapa lo kayak nggak ada tenaga gitu merasnya? Cuci yang bener dan pake tangan lo." ujar Tedjo usil.


Yumi menatap Tedjo tajam.


"Woi! Kalo lo bisa nyucinya dengan benar, kenapa nggak lo cuci aja sendiri?!" tanya Yumi kesal. Ia pikir, Tedjo peduli padanya tadi.


"Lo liat gue udah sehat?" tanya Tedjo.


"Iya, iya! Gue tau!" Yumi kemudian melanjutkan cuciannya.


Saat Yumi menjemur pakaian....


"Yumyum!"


"Allahu Akbar!" Yumi tersentak kaget karena Tedjo tiba-tiba muncul dari balik pakaian yang sedang dijemur.


"Tedjo!!! Otak lo dimakan kucing ya?!! Jangan gangguin gue!!!" seru Yumi kesal.


Tedjo hanya terkekeh mendengar omelan Yumi.


"Gue cuman mau manggil lo. Marah-marah mulu. Heran gue." kata Tedjo.


"Jangan panggil gue dan jangan ngomong sama gue. Ngerti?" Yumi melengos pergi meninggalkan Tedjo yang cemberut.


Tak hanya sampai di situ, Tedjo terus mondar-mandir dan mengganggu Yumi membersihkan rumah.


Yumi berusaha mengabaikannya, lalu tiba-tiba melemparkan serbet ke arah wajah Tedjo.


Tedjo hanya pasrah.


"Acara sekolah apa sih sampe sekarang belum pulang-pulang?!! Kenapa tuh orang pada ninggalin gue sama alien ini sih?!" Yumi frustasi.


Tedjo hanya melihat Yumi dengan santainya.


...•••...


Malam pun tiba dan ternyata Yumi ketiduran di depan meja makan saat ia membuat makan malam.


"Lo lagi ngapain?" tanya Yumi saat bangun dari tidur singkatnya.


"Lo nggak liat? Konyol banget." kata Tedjo sambil mengepel lantai.


Yumi mendengus. "Emangnya lo udah sembuh? Istirahat aja lo! Sampe lo sembuh jangan lakuin apapun."


Begitu Yumi menanyakan hal itu, Tedjo langsung pura-pura akan pingsan.


Yumi dengan sigap menghampiri dan menahan tubuh Tedjo.


"Tedjo!" Yumi geram.


Tedjo nyengir.


"Ini bisa buat gue berkeringat." kata Tedjo sambil tersenyum.


"Jangan ngomong gitu."


"Emang kenapa? Lo mikirin apa?" tanya Tedjo sambil menurun-naikkan alisnya.


"Tedjo!"


"Lo tuh kenapa sih? Gue cuman mau bantuin lo. Lagian gue udah ngerasa baikan kok. Apa lo nggak bisa bilang makasih aja?" tanya Tedjo.


Yumi diam sebentar. "Makasih."


"Hm!" Tedjo pura-pura cuek.


"Dih! Sok cakep lu." ledek Yumi.


"Naksir lo?" goda Tedjo tak henti-henti.


"Geer banget."


"Coba bilang makasih lagi. Gue nggak denger tadi." pinta Tedjo.


"Makasih~" kata Yumi sedikit bernada.


Namun tiba-tiba, Yumi merasa deja vu. Saat ia berterima kasih pada Tedjo, lalu Tedjo menciumnya.


"Nggak! Jangan!" Yumi melangkah mundur tanpa sadar.


"Lo kenapa?" tanya Tedjo heran.


"Ihhhhh." Yumi mendelik geli.


Tedjo bingung melihat tingkah gadis itu, tapi kemudian ia ingat dengan apa yang Yumi pikirkan.


"Lo ingat yang itu, kan?" goda Tedjo.


"Berisik lo!"


"Lo mau gue cium lagi?" tanya Tedjo.


"Woi! Lo nggak bisa diem apa?!"


"Ayolah, Yum. Sekali ini aja kok."


"Males!" teriak Yumi.


"Hahahahaha...."


Tiba-tiba saja, bel rumah berbunyi.


...•••...


__ADS_1


__ADS_2