
...•••...
Kamar hotel, pukul 22:30....
"Ngapain lo?" tanya Tedjo begitu melihat Yumi senyum-senyum di depan ponselnya.
"Lagi ngupload foto di ig. Ngapa emang? Nggak senang lo?" balas Yumi masih fokus ke layar ponsel. "Oh iya, lo nggak upload foto lo juga di ig?"
"Males. Gue nggak norak kayak lo. Alay lo." kata Tedjo membuat Yumi menatapnya tajam.
"Apa lo bilang? Nih, liat! Baru beberapa detik aja, foto gue udah banyak yang nyukain." kata Yumi.
💬 29.922 komentar.
babeh_kece Gua bantu buangin.
awang.awang Gue dapet ignya bray @_ishax @karma_genius_ @baruna_k
_ishax Cantik banget sih, Neng.
baruna_k Follback gue dong, Yum.
karma_genius_ Napa lo nandain gue sih? @awang.awang
yumihim1 Kita kompak ye, Beh. kalo urusan buang-membuang @babeh_kece
yumihim1 Hai gaess @_ishax @karma_genius_ @baruna_k
"Terus gue harus bilang bacot, gitu?" sahut Tedjo seadanya.
Yumi mendengus. "Lo iri, kan? Atau jangan-jangan lo emang nggak punya ig?"
"Punyalah, ya kali nggak. Lo begini biar bisa dapetin ig gue nggak pake nanya-nanya, kan?" tuduh Tedjo.
"Ngapain juga gue begitu. Gue bisa tanya langsung kok ke elo. Minta ig lo, buru." perintah Yumi tanpa basa-basi.
"Lo nanya ig gue...? G-gue nggak punya namanya." jawab Tedjo terbata-bata.
"Jadi, lo nggak punya ig?" tanya Yumi serius karena dia pikir Tedjo hanya bercanda.
"Punyalah, ya kali nggak."
"Heh! Yang mana yang bener?! Lo punya ig apa nggak?!" tanya Yumi tak sabaran.
"Punya gue. T-tapi...."
"Kenapa lo gugup begitu? Ya udah, kasih tau ke gue nama akun ig lo."
"Keluarga Selamet." jawab Tedjo pasrah.
"Keluarga Selamet? Perasaan gue jadi nggak enak."
Yumi mengetik nama akunnya di pencarian. Dan....
"Hahaha... ini ig keluarga lo? Lucu banget. Pasti adminnya Bapak ya? Hahaha..." goda Yumi.
"Jangan ketawa lo. Dosa ngetawain orang tua."
"Hahaha...."
Tedjo mendengus kesal.
"Kalo gitu gue bakal buatin lo ig sendiri. Siniin hape lo. Gue pinjem." kata Yumi.
"Nggak usah." Tedjo memegang erat ponselnya.
"Lo kenapa sih? Emangnya di hape lo ada apaan sampe lo setakut itu gue minjem?" Yumi mengambil paksa ponsel milik Tedjo.
Tedjo menepuk jidatnya.
Dan, lagi-lagi....
"Wallpaper hape lo foto Embun?" tanya Yumi menahan tawa.
"Emangnya gue nggak boleh masang wallpaper muka adik sendiri? Aneh lo." jawab Tedjo.
"Pfffttt... bukan gitu maksud gue. Tapi, kenapa harus foto yang begini sih? Kalo Embun tau, dia pasti marah banget sama lo. Hahaha...."
Di layar ponsel Tedjo ternyata sudah terpampang jelas foto editan Embun dengan badan Dora The Explorer yang lucu.
Tedjo pun akhirnya ikut tertawa.
"Ya Allah, Mbun. Aurora lo keliatan. Hahaha..." ledek Tedjo pada foto Embun di ponselnya.
"Hahaha.... Ngomong-ngomong muka Embun mirip banget ya sama Bang Karma? Hahaha...." ujar Yumi asal.
"Mungkin tuh bocah dua saudara kembar di kehidupan sebelumnya." jawab Tedjo melantur.
"Bisa jadi sih."
Yumi kemudian membuat akun Instagram Tedjo.
"Siap. Sekarang lo udah punya ig." kata Yumi sambil mengembalikan ponsel Tedjo.
"Apa-apaan nih?! Kenapa foto gue yang begini lo posting?" tanya Tedjo geram.
"Emangnya kenapa? Tiap orang kan punya seleranya masing-masing. Alay lo."
"Yumiiiiii!"
"Hahaha..."
💬 10.708 komentar.
baruna_k Sejak kapan lo punya ig, Bang? Di Mars udah ada signal?
awang.awang Ini mah bukan Tedjo. Kepalanya kan kosong. Ini kok ada isinya?
karma_genius_ Lo bikin ig buat jualan online?
_ishax Lo nggak sekolah gegara nyukur rambut ampe botak ya, Djo. Gila.
awang.awang Gue bisa nyukur, btw. @tedjo_uwu
baruna_k Nyukur rambut atas aja lo, Bang?
_keluargaselamet Tedjo, kamu udah punya ig sendiri? Apa mau bapak keluarkan dari wa keluarga juga?
baruna_k Keluarin aja om @_keluargaselamet. Cuman beban ini.
awang.awang Cuman ngabisin beras di rumah doang awokawok.
"Tuh bocah pada ngira gue jualan online, terus pala gue botak. Terus Bapak mau ngeluarin gue dari wa keluarga." gumam Tedjo pasrah. "Gegara Yumi nih."
Tiba-tiba, ponsel Tedjo berdering.
Ternyata panggilan dari Pak Selamet.
"Ya, Pak. Ada apa?"
"Tedjo, sepupumu yang baru menikah itu juga bulan madu di pulau Bintan." kata Pak Selamet di telepon.
"Terus kenapa, Pak?"
"Mereka bilang mau menginap sementara sama kamu dan Yumi. Mereka kemaleman pas udah sampe sana."
"Kenapa nggak langsung mesan kamar hotel aja sih?" tanya Tedjo sebal karena itu artinya ia tidak punya kesempatan untuk berduaan dengan Yumi.
__ADS_1
"Mereka bakal mesan kamar kalo udah pagi. Kamu izinin aja dulu mereka nginap di kamarmu ya, Djo." jawab Pak Selamat dengan logat khas Jawanya.
"Tapi, Pak.... Ya udah deh."
"Oh iya, nama ig kamu bagus juga."
Panggilan terputus.
"Pasti Bapak iri, gue udah punya ig sendiri." gumam Tedjo. "Iyalah. Istri gue yang bikin."
"Kenapa, woi?" tanya Yumi.
"Sepupu gue mau numpang tidur di sini." jawab Tedjo.
"Hah? Maksud lo apaan?" tanya Yumi lagi.
"Lo budek? Mereka mau numpang tidur di sini." balas Tedjo.
"Kenapa lo mau-mau aja?"
"Ya, mau gimana lagi? Gue harus baiklah sama sepupu gue."
"Gue tau. Ini pasti cuman akal-akalan lo aja, kan? Biar kita bisa tidur bareng?" tanya Yumi curiga.
Pada awalnya, Tedjo tidak sampai memikirkannya sampai ke sana. Tapi setelah mendengar ocehan Yumi, Tedjo jadi semakin yakin untuk menerima sepupunya itu untuk menumpang tidur di kamarnya.
Tedjo tersenyum sambil menurun-naikkan alisnya.
"Mesum lo!" seru Yumi.
"Kenapa harus malu begitu sih?" goda Tedjo. "Lo bakal terbiasa ngeliatnya, Yum."
"Diem lo, sum."
"Apaan, sum?"
"Lo mesum!"
...•••...
Bel berbunyi membuat Tedjo dan Yumi saling pandang.
"Siapa tuh?" tanya Yumi pada Tedjo.
"Mana gue tau. Gue aja di sini bareng lo." jawab Tedjo enteng.
"Pergi sono lu liat siapa yang dateng." perintah Yumi.
"Kenapa harus gue?" tanya Tedjo.
"Emangnya siapa lagi kalo bukan lo."
"Oh... karena gue suami lo, kan?" goda Tedjo.
"Kalo gue bilang karena lo suami gue, lo mau gitu bukain pintu?" tanya Yumi sudah jengah.
"Iyalah." Tedjo tersenyum manis.
"Biar gue yang bukain pintu." Yumi pergi meninggalkan Tedjo yang melongo.
"Yumyum!" rengek Tedjo.
Krek.... Yumi membuka pintu.
"Ya?"
"Woah!!!" Orang yang mengetuk pintu tadi tersentak kaget. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas Yumi sambil tersenyum kikuk. "Cari siapa ya?"
"Gue lagi nyari kamar sepupu gue." jawab salah satunya.
"Emangnya nama sepupu lo siapa ya?" tanya Yumi.
"I-itu... biarin kita masuk dulu ya." Mereka kemudian masuk tanpa menunggu izin dari Yumi.
Tedjo tiba-tiba muncul di samping Yumi.
"Udah datang aja kalian. Masuk, yuk. Yumyum, kenapa lo mempersulit sepupu gue buat masuk sih?" Tedjo dengan ramahnya mengajak dua orang itu masuk.
Yumi menatap Tedjo jengkel. "Dasar tuh cowok...."
Mereka pun duduk di sofa.
"Maaf ngeganggu kalian malam-malam. Oh iya ngomong-omong, nama sepupu gue ini siapa sih?" tanya laki-laki itu ada Tedjo.
"Gue Tedjo. Dan ini istri gue, Yumi Yumyum. Kita baru nikah tiga hari yang lalu." jawab Tedjo ramah.
"Wah. Istri lo cantik banget." puji laki-laki itu.
"Ayang, emangnya aku nggak cantik?" kata perempuan yang ada di sampingnya.
"Cantik dong. Kamu tuh cantik ngelebihin apapun. Makanya aku nikah sama kamu, Yang."
"Terus, nama lo berdua siapa?" tanya Tedjo balik.
"Gue Beno. Dan ini istri gue yang baru gue nikahin setengah hari yang lalu. Namanya Rinda." kata Beno.
"Hai, gaess." sapa Rinda terlalu ramah.
"Kalo boleh tau lo berdua nikah gegara di jodohin, nggak?" tanya Yumi di luar pembahasan.
"Di jodohin? Emangnya ini zaman apaan? Kita nggak suka di jodoh-jodohin. Kita ketemu di toilet sekolah, terus saling jatuh cinta." jelas Beno gamblang.
"Toilet sekolah? Yang salah masuk toilet siapa?" tanya Yumi mulai penasaran.
"Jadi gini ceritanya, waktu itu Rinda nggak sengaja masuk ke toilet cowok dan dia liat semuanya. Makanya gue langsung nikahin dia." jawab Beno.
"Semuanya? Maksud lo?" Tedjo ikut penasaran.
"Maksud gue... dia liat pas gue makan di toilet. Gue takut dia ngebocorin kebiasaan gue yang suka makan di toilet entuh. Jadi, gue ajak aja dia pacaran dan langsung nikah." jelas Beno lagi.
Tedjo dan Yumi saling berpandangan, tak habis pikir.
"Gampang banget nikahnya." gumam Yumi, tapi masih bisa di dengar semua orang.
"Hidup bakal lebih gampang kalo udah nemu orang yang tepat, Yum." kata Rinda pada Yumi.
"Tedjo, lo yakin mereka itu sepupu lo?" Yumi berbisik pada Tedjo.
"Gue lebih kenal sepupu gue daripada lo."
"Kayaknya lo nggak kenal deh." Yumi ragu pada Tedjo. "Namanya sepupu lo aja lo nggak tau. Nggak kenal kan lo sama sepupu sendiri?"
"Ini pertama kali gue ketemu sama dia. Ya, wajarlah." Tedjo berusaha yakin dengan perkataannya.
"Terus, kenapa lo bisa seyakin ini?" tanya Yumi.
"Ikatan tali persaudaraan, mungkin."
"Tali pusar lo tuh diiket." balas Yumi kesal. "Ya udah deh. Biar gue yang nanya tuh bocah dua."
"Lo mau nanya apa, woi?"
"Ehem. Maaf sebelumnya. Lo kenal sama keluarga Tedjo, nggak?" tanya Yumi pada Beno.
"Kenallah. Gue kenal sama Bulik Titin." jawab salah satunya.
"Apa gue bilang. Beno tuh sepupu gue. Kita tuh sepupu yang udah kepisah lama banget." bisik Tedjo dramatis pada Yumi.
"Gue tetap nggak yakin." kata Yumi bersi-keras.
__ADS_1
"Nggak ada yang nyuruh lo yakin." balas Tedjo geram.
"Awas aja kalo ada apa-apa." kata Yumi terdengar khawatir.
...•••...
Pukul 00:45....
"Main trut or der, yuk?" ajak Beno tiba-tiba.
"Hah?" Yumi tak habis pikir.
"Mending tidur aja nggak sih gais? Lu berdua nggak capek apa abis dari perjalanan jauh?" tanya Tedjo heran.
"Terus, kalian nggak mau main gitu?" tanya Rinda.
Tedjo dan Yumi saling berpandangan.
Akhirnya, mereka pun bermain meski sudah larut malam.
"Lo pilih jujur atau tantangan, No?" tanya Tedjo pada Beno.
"Gue pilih tantangan." jawab Beno.
"Kalo gitu ngomong ke bini lo kalo lo sayang sama dia." perintah Tedjo.
"Suka gue kalo begini nih." kata Rinda.
"Ai lop yu pul, ayang Rinda. Mana mungkin aku bisa hidup tanpa kamu, Yang." ujar Beno sungguh-sungguh meski terdengar berlebihan.
"Ai lop yu tu, ayang Beno." balas Rinda sambil tersenyum sumringah.
Mereka berpelukan membuat Tedjo dan Yumi mendelik geli.
"Sekarang giliran kalian, ya? Yumi, lo pilih trut apa der?" tanya Rinda.
"Gue mending pilih tidur. Eh, maksud gue, gue pilih jujur aja." kata Yumi setengah mengantuk.
"Oke. Pertanyaannya, apa yang buat lo bisa jatuh cinta sama Tedjo?" tanya Rinda.
"Apaan? Pertanyaan macam apa tuh? Gue nggak mau jawab." celetuk Yumi.
"Mana bisa gitu. Lo harus jawab." kata Beno.
"Yaelah, jawab aja napa sih? Pertanyaannya gampang gitu kok." kata Tedjo.
"Ganti deh. Gue pilih der." kata Yumi.
"Jangan curang lagi lo ya? Janji dulu lo." perintah Rinda pada Yumi.
"Iya, iya." Yumi tersenyum terpaksa.
"Jadi, gue mau nantang lo buat nyium Tedjo hihi." kata Rinda gemas sendiri.
"Hah? Apa-apaan?! Kenapa harus gue?" tanya Yumi membuat Beno dan Rinda keheranan. Memang apa salahnya? Tedjo dan Yumi kan sudah menikah?
"Emangnya siapa lagi? Ya kali gue nyuruh Beno nyium laki lo. Kalian kayak sama siapa aja." kata Rinda.
"Lakuin aja deh, Yum. Udah ngantuk nih gue." Tedjo menaik-turunkan alisnya.
"G-gue harus cium apanya?" tanya Yumi ragu.
"Kenapa pake ditanya segala? Lo berdua nggak pernah..." Yumi berhenti bicara.
"Pernahlah. Tedjo, lo mau gue cium ubun-ubun lo, kan?" Yumk memberi kode agar Tedjo menolongnya agar terbebas dari tantangan itu.
"Hah?" Tedjo sadar dengan sikap Yumi. "Lo berdua bisa ngadep belakang dulu nggak sih? Yumi malu kalo ada yang liat."
"Santai aja! Cium deh cium!" kata Beno dan Rinda bersemangat.
Yumi kemudian mencubit pipi Tedjo. "Makasih...."
Tedjo serasa melayang. Tidak apa jika tidak mendapat ciuman, ini sudah lebih dari cukup.
"Udah nyiumnya?" tanya Rinda setelah ia dan Beno berbalik badan lagi menghadap ke Tedjo dan Yumi.
Tedjo dan Yumi hanya tersenyum canggung.
"Udah selesai kan mainnya? Gue tidur duluan, ya? Ngantuk banget gue." kata Yumi kemudian.
"Masih jam dua kok." kata Beno sambil melihat jam tangannya.
"Masih jam dua lo bilang? Woi! Ini emang masih jam 2, tapi apa lo pada nggak butuh tidur? Serah deh kalo nggak mau tidur sampe subuh." kata Yumi yang sudah mengantuk berat.
"Tedjo, yuk kita tidur." Yumi mengajak Tedjo.
"Tapi, gue tidur dimana?" tanya Tedjo polos.
"Yuk kita tidur, itu berarti lo tidur seranjang sama gue." jelas Yumi.
Tedjo tersenyum senang. "Asiiik!"
Yumi dan Tedjo pun langsung beranjak untuk tidur di satu ranjang yang sama.
"Lho? Kok kita ditinggal?" tanya Beno bingung.
"Ayang, aku udah ngantuk nih. Kita tidur juga, yuk?" ajak Rinda.
"Ya ampun, Yang. Kamu udah ngantuk juga ternyata. Ya udah, yuk tidur. Aku bakal meluk kamu sampe kamu tidur, ya?" ucap Beno begitu lembut dan manis.
"Jangan begitu dong, Yang. Aku jadi malu."
"Kenapa malu sih, Yang? Sama suami sendiri juga."
...•••...
"Tedjo?" kata Yumi.
"Hm?" gumam Tedjo.
"Lo bisa geser dikit, nggak?"
"Nggak bisa. Lo harus meluk gue biar lo nggak jatuh." goda Tedjo.
"Gue harap cepet subuh deh."
Harapan Yumi sangat indah, bukan?
Mereka tidur seranjang karena Beno dan Rinda tidur di ranjang yang satunya.
Tedjo dan Yumi bersembunyi di balik selimut.
"Tedjo, Yumi, kalian nggak ngapa-ngapain, kan? Kita ada di sini soalnya." goda Beno sekaligus memperingatkan pasutri itu.
"Tedjo, coba lo pura-pura ngorok." suruh Yumi dengan bicara berbisik.
"Buat apaan dah?" tanya Tedjo.
"Biar tuh orang ngira kita udah tidur." jawab Yumi.
"Kan wajar-wajar aja kalo kita gituan. Ngapa ribet banget sih?"
"Ngorok aja deh lo. Kalo lo ngorok, gue bakal meluk lo."
Tedjo akhirnya pura-pura mendengkur.
"Cepet banget tuh laki-bini tidurnya." gumam Beno.
"Yum, lo kekencengan meluk gue. Gue nggak bisa napas nih." kata Tedjo engap-engapan.
"Serba salah gue. Mau lo apa sih?" tanya Yumi kesal.
"Kesel lo ya?"
"Nggak."
__ADS_1
...•••...