
...•••...
"Bang Awang, cepet lo ke rumah gue. Kita udah nungguin lo dari tadi. Kenapa lo mulu sih, Bang, yang selalu ngaret. Heran gue!"
"Kayak lo nggak pernah ngaret aja, Bar. Lo juga sering, ege." balas Awang pada Baruna yang sedang mengomelinya di telepon.
"Iya, iya. Cepetan ya, Bang." Baruna langsung memutuskan sambungan telepon itu.
To the point sekali mereka.
Ting!
"Hah? Siapa yang ngirimin gue chat?" Awang membuka pesan yang baru saja muncul di notifikasinya.
Ekspresi wajah Awang berubah dingin, begitu melihat isi pesan itu.
...•••...
Di kediaman Baruna....
"Maksud lo apa, Bang Karma?!!!" Awang muncul dengan raut muka yang penuh amarah setelah membuka pintu rumah Baruna dengan kasar.
Apa-apaan ini?! Kenapa Awang terlihat sangat marah?
"Emangnya ada apa sih?" balas Karma dengan tenang.
"Kenapa Abang nusuk gue dari belakang, hah?!!" Awang lalu menghampiri Karma.
"Dari tadi gue diem doang perasaan." kata Karma.
"Semuanya udah jelas ya! Gue punya buktinya!"
"Bang Awang kenapa, woi? Kenapa jadi ribut-ribut begini?" tanya Baruna sambil meletakkan minuman kaleng di atas meja.
"Liat nih! Bang Karma udah pacaran sama Embun!" kata Awang dengan penuh emosi.
...
Mereka diam saat melihat bukti foto yang diberikan Awang....
"Apa lagi yang mau lo bilang, Bang?! Gue nggak mau dengar penjelasan lo! Kenapa lo pake bohongin gue segala, hah?! Lo kan tau gue suka sama Embun, tapi kenapa lo malah ngerebut dia dari gue?!!" tanya Awang kecewa.
"Hahaha... udah gue bilang kan, lo tuh bukan tipenya Embun." ledek Tedjo.
"Lo semua nganggep ini cuman lelucon, apa?! Gue tau kita udah temenan lama, tapi kenapa lo semua ngedukung Bang Karma yang udah bohongin gue, hah?!"
"Lo sama Embun kan belum nikah. Jadi, kalo Bang Karma pacaran sama Embun, ya nggak apa-apa dong." kata Ishak senyum-senyum sendiri karena melihat Awang yang marah-marah seperti anak kecil.
"Tapi, gue suka sama Embun, Bang Is! Masa lo nggak ngerti perasaan gue sih, Bang!" rengek Awang.
"Bentar lagi pasti nangis nih anak." kekeh Karma.
"Mana ada gue nangis." Bersamaan dengan perkataannya itu, Awang menangis.
Semua orang tertawa.
"Awang Kusuma." panggil Karma datar.
"Apa, Bang? Apa lagi, hah? Gue nggak mau ngomong sama lo!"
"Lo yakin nggak mau ngomong sama gue? Padahal ada yang mau gue kasih tau ke elo."
"Hah? Maksud Bang Karma apa?" tanya Awang berhenti menangis.
Karma menghela napas panjang dan dalam. "Ini foto... editan."
Awang terbelalak kaget terlebih karena malu.
"Nggak mungkinlah! Ya kali editan!" pekik Awang.
Semua orang tertawa sambil tepuk tangan. Dan kemudian....
Pak Selamet dan Pak Udin keluar dari kamar Baruna sambil membawa kue ulang tahun untuk Awang.
"Selamat ulang tahun~ Selamat ulang tahun~ Awang Kusuma yang cengeng~ Selamat ulang tahun~"
"Pak Selamet yang ngasih kuenya." kata Ishak.
"Apa-apaan nih?" tanya Awang tak percaya.
"Tiup lilin enih dulu. Baru lo nanya." kata Pak Udin.
"Tiup lilinnya, ege." kata Tedjo sambil merangkul Awang.
"Tuh kue kita beli dari Babeh Udin. Jadi, dapat diskon." ujar Ishak.
"Selamat ulang tahun ya, Nak Awang." ucap Pak Selamet.
"Peluk Awang dong, Pak." goda Ishak.
"Nih kue gua sendiri yang bikin khusus buat elu." kata Pak Udin dengan bangganya. "Lama kagak ketemu. Padahal dulu lu masih sekecil tomat pas gua dateng ke rumah Bro Selamet."
Karena Pak Udin bersahabat dengan Pak Selamet, Pak Udin jadi mengenal Awang dan kawan-kawan. Mereka selalu datang ke rumah Pak Selamet untuk mengajak Tedjo bermain. Ternyata lima sekawan itu sudah dekat sejak kecil.
Dan hari ini, tepat perayaan ulangtahun Awang, Pak Selamet dan Pak Udin datang ke rumah Baruna untuk ikut serta.
"Katanya yang di sana kurang besar~" Karma tiba-tiba menggoda Awang dengan menyanyikan lagu yang sering Awang putar saat sendirian.
"Apanya?" sahut semua orang.
"Pengorbanannya~ Perhatiannya~ Dan semua, mua, mua, mua, mua, mua~"
"Hahahahaha...."
"Lu baru aja dijailin tadi. Kalo gua jadi lu, udah nangis kejer gua pasti." ledek Pak Udin.
"Yang ngedit tuh foto, gue. Sengaja biar lo nangis kejer. Hahaha...." ledek Tedjo sambil tertawa geli melihat mata Awang yang sudah berair. "Cepetan nangis lo, Wang. Nggak seru lo." perintahnya.
Awang pun menangis. Dia sangat malu karena sudah marah-marah pada Karma.
"Lah... nangis beneran lo, Wang?" Ishak kemudian memeluk Awang dari belakang.
"Lagi terhura nih anak gaes." goda Tedjo sambil ikut memeluk Awang dari belakang.
"Tadi tuh kita cuman becanda, Bang. Lo lupa hari nih ulang tahun lo?" Baruna ikut memeluk.
"Besok-besok gue nggak usah ultah lagi deh. Kesel gue sama lo pada." ujar Awang.
"Ntar nggak seru dong, ege!" rengek Tedjo.
Awang menarik jaket Karma, menyuruhnya untuk ikut memeluk.
Mereka berpelukan.
"Lo semua masih pada mau pelukan begini? Perut gue udah bunyi nih. Udah dugem cacing di perut gue." kata Karma.
Mereka tertawa.
__ADS_1
"Gue juga lapar. Tapi, sengaja tadi gue tahan-tahan gegara ada abang-abang nangis tadi." Baruna tertawa melihat Awang yang sudah cemberut.
"Sembarangan aja congor lo, Bar." balas Awang.
"Bang, peluk gue sekali lagi dong." rengek Tedjo pada Karma.
"Nggak."
"Ayo dong, Bang. Sekali aja."
Karma diam.
"Bang Karma~"
...
Tedjo berusaha memeluk Karma, tapi Karma menolaknya....
Namun karena Karma sudah malas menahan Tedjo lagi, akhirnya Tedjo berhasil memeluk Karma.
Setelah itu, mereka pun langsung berhambur mengambil makanannya masing-masing. Sesekali mereka melempar canda satu sama lain dan membuat yang lainnya menahan malu karena terus di goda. Awang, misalnya.
...
"Jangan kayak gitu, woi. Muka Bang Awang udah blushing gitu, noh." bela Baruna tapi terdengar meledek....
"Sama aja lo, Bar." balas Awang.
"Oh... kayak gitu ucapan makasih lo, Bang?!" omel Baruna pada Awang.
"Udahlah, Bar. Stop jailin si Awang. Lo lupa tadi ada cowok yang nangis kejer?" goda Tedjo membuat Awang tersenyum malu.
"Awang bakal stop nangis kalo babehnya dateng dimari." goda Pak Udin.
"Beneran? Oh iya, bener! Babeh lo dateng, Wang." goda Karma.
"Bohongan itu, Nak Awang." Pak Selamet terkekeh melihat tingkah mereka yang masih saja menjahili Awang.
"Wah... HAHAHA... gluuek!"
Karma tertawa saat melihat Ishak yang kaget dengan wajah lucunya.
"Lo ngapain sih, Is?" tanya Karma masih tertawa.
"Pukul punggung gue dong, Bang! Gue ketelan paha!" Ishak mengadu pada Karma membuat semua orang tertawa.
"Paha siapa sih yang Abang makan?" goda Tedjo.
"Paha lu." Karma yang menjawabnya.
"HAHAHA~"
Mereka semua tak henti-hentinya melempar candaan.
"Makasih gaes...!"
Setelah selesai makan, mereka sibuk dengan kegiatan lain.
Baruna dan Awang bermain game, sedangkan Tedjo menyemangati mereka berdua.
"Kok lo mulu sih yang kalah, Wang?!" tanya Tedjo pada Awang.
"Baru awal-awal ini mah. Biasanya kan jagoan yang pertama kalah."
"Nggak. Tetap aja gue yang kalah."
Tedjo dan Baruna tertawa mendengar lelucon Awang.
"Seperti mati lampu ya sayang~ seperti mati lampuuuuuuu~ cintaku tanpamu ya sayang.. seperti malam tiada berlaluuu~" Karma bernyanyi dengan hebohnya.
Sedangkan Ishak, dia sedang tertawa sampai berguling-guling di lantai. Entah merasa takjub atau apa, Ishak tak henti-hentinya tepuk tangan melihat Karma bernyanyi.
Setelah merasa kehabisan tenaga, Karma merangkak lucu dengan bantuan Ishak.
...•••...
Ting!!!
Notifikasi dari Instagram.
Yumi membuka ponselnya, mengetuk-ngetuk layar dengan malas, lalu terbelalak kaget melihat isi pesannya.
@baruna_k: Besok gue mau ngedate. Lo mau ikut, nggak?
"Whoaaaa!!!!" jerit Yumi dalam hati.
Mimpi apa Yumi semalam? Apa ini Baruna sungguhan?
"Mau dong! Nggak, nggak. Jangan kayak gitu. Gampang bener gue diajak ngedate. Ya meskipun gue mau banget ngedate sama Baruna, tapi kan gue harus sok jual mahal dulu gitu." gumam Yumi.
...
Yumi menghapus kembali pesan yang baru diketiknya....
"Terus gue harus balas gimana? Kenapa tiba-tiba otak gue jadi ngelag begini ?!!" Yumi frustasi.
@yumihim1: Kebetulan besok gue juga mau ngedate. Gue ikut lo ya?
@baruna_k: Gue tunggu di Kafe Pulu-pulu. Sampe ketemu besok, Yumyum.
Tapi tiba-tiba saja, ponsel Yumi mati karena kehabisan baterai.
"Arrrrgggghhhh!!!! Kenapa hape gue mati pas begini sih?!!" jerit Yumi dalam hati.
...•••...
Pintu kamar terbuka. Satu-satunya orang yang masuk tanpa permisi adalah Tedjo.
"Tuh cewek udah tidur belum, ya?" tanya Tedjo pada dirinya sendiri.
Tedjo menghampiri Yumi.
"Kok bisa sih dia tidur pas maskeran gini?"
Tedjo berniat melepaskan masker wajah Yumi. Namun saat ia mengulurkan tangannya, Yumi tiba-tiba membuka matanya membuat Tedjo kaget.
"Jangan sesekali lo lepasin masker gue tanpa izin." kata Yumi.
"Serem amat tidur pake masker." dengus Tedjo tak habis pikir.
"Kalo itu bisa buat lo diem, gue iyain." balas Yumi karena masih kesal dengan Tedjo.
"Yumyum, ada yang mau gue bilang ke elo." Tedjo mulai serius.
"Gue mau tidur dan gue nggak suka kalo ada yang ngajak gue ngomong pas gue ngantuk." Yumi pun bergegas tidur.
__ADS_1
"Nih cewek masih marah sama gue apa gimana sih?" gumam Tedjo.
...•••...
Jam pelajaran pertama hari ini adalah Fisika. Entah karena terlalu bersemangat atau apa, beliau tidak sadar jika pelajarannya sudah berakhir dan berganti dengan jam istirahat.
"Kenapa nggak ada yang gerak, Bang?" tanya Awang pada Ishak dengan suara pelan.
"Emangnya bel udah bunyi?" tanya Ishak.
Awang mengangguk, kemudian menelusuri pandangan ke sekeliling ruangannya. Ia melihat teman-teman sekelasnya yang tidak terlihat gelisah seperti biasanya.
Biasanya kalau sudah bel berbunyi tapi guru belum keluar kelas, mereka akan gelisah karena tidak sabar istirahat dan makan di kantin, tapi apa ini?!!
"Lo tau nggak Bang, apa yang lagi gue pikirin?" tanya Awang sambil menatap Ishak lekat-lekat dan menaik-turunkan alisnya.
Ishak ikut menaik-turunkan alisnya dengan wajah bingung.
Awang pun ikut bingung melihat kelakuan Ishak.
"Lo kok ngikutin gerakan alis gue sih, Bang? Lo ngerti kagak maksud gue?" tanya Awang geram.
"Hm. Gue udah tau."
"Bener nih? Setelah sekian lama kita temenan, akhirnya kita bisa gunain telepati."
"Bener banget, Wang. Ayo kita ambil jam dinding tuh diem-diem, terus balikin lagi waktunya ke jam pelajaran." kata Ishak.
"Hah? Maksud Bang Is, apa sih?"
"Lo mau ngatur tuh jam biar waktunya lebih lambat dari sebelumnya, kan?" jawab Ishak dengan santainya.
"Ya Allah, Bang Ishak. Kenapa lo mau lambatin waktu di saat semua orang mau mempercepat waktu?" tanya Awang tak habis pikir.
"Gue pikir telepati kita udah bener. Kecewa gue."
"Harusnya gue yang kecewa, Bang. Udahlah. Nggak ada cara lain lagi."
"Lo mau ngapain, Wang?" tanya Ishak cemas.
"Cuman ada dua pilihan, Bang. Tetap di sini dan kelas berikutnya bakal dimulai atau keluar tiba-tiba dari kelas ini. Dan gue pilih jalan kedua." kata Awang bertekad.
"Jangan, Wang. Jangan lakuin ituuu~"
Gerakan waktu seakan melambat saat adegan dramatis itu dimulai.
Dengan amat perlahan Baruna, Yumi dan Caca melihat ke arah Awang.
"Bang Awang ngapain tuh?" gumam Baruna.
Awang berdiri dari bangkunya kemudian menghampiri guru Fisika itu. Tapi belum sempat Awang bicara, tiba-tiba bel berbunyi dengan keras.
Teeeeet... teeeeeet... teeeeeeet!!!
"Baiklah. Kelas berakhir sampai di sini." kata guru Fisika itu begitu menyudahi kegiatan menulisnya di papan tulis. "Awang Kusuma. Ngapain kamu berdiri di situ? Seingat Saya, Saya nggak ada menghukum kamu hari ini?"
"Saya rabun jauh, Pak. Jadi, Saya ke depan buat liat tulisan di papan tulis." elak Awang dengan menahan malu.
"Oh, begitu. Baiklah, lanjutkan catatan kalian. Sampai jumpa di Minggu depan." Guru Fisika itu pergi meninggalkan kelas mereka.
"Akhirnya, gue bisa keluar sekarang! Mie bakso, tunggu gue!!!" seru Awang senang.
Belum lama Awang merasakan kemenangannya, tiba-tiba...
Teeeeet... teeeeeet... teeeeeeet!!!
"Wah... parah lo, Wang. Lo bohongin semua anak-anak kelas. Lo berdosa banget. Tadi lo bilang udah bel istirahat, padahal tuh bel baru bunyi." tuduh Ishak.
"Kalo yang gue denger tadi bukan bunyi bel, terus bunyi apaan dong?" tanya Awang ikut bingung.
"Hehe... itu bunyi notifikasi hape gue, Bang." cengir Baruna.
"BARUNA!!!" seru Awang geram. "Udahlah. Nggak penting lagi itu mah. Yang penting itu gue ke kantin dan makan siang sepuasnya!"
Bersamaan dengan langkah kaki Awang yang bersiap untuk ke kantin, guru Matematika langsung melesat masuk ke kelas.
"Baiklah, hari ini kita ulangan."
Kata-kata itu berhasil membuat Awang tercengang.
"KENAPA?!! KENAPA?!!" Awang frustasi.
Ternyata bel istirahat sudah bunyi dari tadi dan bel yang baru saja berbunyi itu adalah bel tanda pergantian kelas.
Awang duduk kembali di bangkunya dengan malas.
"Gue ngelewatin jam istirahatnya, Bang. Mie bakso Mpok Nunuy pasti udah sold out." gumam Awang tak berdaya.
"Gue udah bilang ke elo kalo tadi tuh udah jam istirahat, tapi lo malah kagak percaya." kata Ishak sambil tertawa lucu melihat ekspresi wajah Awang.
"Lo tadi nggak ada bilang apa-apa ya, Bang!"
...•••...
"Baruna?" Yumi menghampiri Baruna yang sedang menuju kantin.
"Ya. Apaan, Yum?"
"Nggak jadi deh."
"Jangan begitu dong. Gue jadi penasaran nih. Kayaknya ada sesuatu yang mau lo bilang ke gue, ya?" tebak Baruna membuat Yumi gugup.
"Nggak kok. Tapi kalo gue boleh tau, kenapa cara lo ngajak gue ngedate aneh banget?"
"Hah? Maksud lo apaan?"
"Lo bilang lo mau ngedate sama gue, tapi kedengarannya lo mau gue temenin lo ngedate sama orang lain."
"Oh, i-itu... gue pengen...."
"Besok gue mau ngedate. Lo mau ikut, nggak?" kata Yumi sambil mengatakan pesan yang di terimanya semalam. "Kenapa lo nggak bilang aja 'Besok kita ngedate yuk, Yum. Lo mau, kan?' Lo nggak bisa ngomong kayak gitu?"
"Lo pikir gue takut ngajak lo ngedate?" tanya Baruna.
"He-eh."
"Ya udah deh. Ngedate sama gue yuk, Yum."
"Dengan terpaksa, gue mau." jawab Yumi sambil berlari menjauh dari Baruna.
"Hueh...!" Baruna mengejar Yumi, lalu menjitak pelan kepala Yumi pelan.
Yumi langsung membalas Baruna dengan menarik telinganya, lalu Baruna mengacak rambut Yumi dengan gemas. Tentu saja hal itu membuat Yumi bergeming.
Baruna mengusap rambut Yumi? Aouw~
Baruna tersenyum tipis sambil melihat ke arah Yumi dengan tatapan yang dalam.
Tanpa di sadari Baruna dan Yumi, dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka.
...•••...
__ADS_1