SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Misi Selesai


__ADS_3


...•••...


"Waaah...!" seru Yumi yang tampak senang begitu melihat banyak stand makanan di hadapannya.


"Tetap fokus lo, Yum. Kita ke sini bukan buat jajan, tapi buat ngikutin Bang Tedjo pacaran." kata Baruna yang duduk di kursi pengemudi.


Benar. Mereka sampai ke Pasar Tanah Abang untuk membuntuti Tedjo dengan motor Baruna.


"Hah? Jadi, kita ke sini nggak jajan? Kenapa lo ngelewatin kesempatan kayak begini?!" tanya Yumi tak habis pikir.


"Kita bakal makan kalo misinya udah selesai. Gimana?" tanya Baruna balik.


"Oh... jadi begitu maksud lo. Ya udah, ayo. Lama bener sih lo, Run. Makanan udah nungguin lo tuh."


Baruna hanya menggelengkan kepalanya pasrah.


Saat ini Baruna dan Yumi sedang mengikuti Tedjo dan Arum secara diam-diam. Kadang mereka bersembunyi di balik tembok, menjadi patung di etalase atau menutup wajah dengan koran.


"Koran lo, Run!" seru Yumi geram begitu melihat ke arah Baruna.


"Koran gue nggak kebalik kok." jawab Baruna yang yakin jika korannya tidak terbalik.


"Koran lo emang nggak kebalik, tapi lo nggak nutupin muka lo ama koran." Habis sudah kesabaran dan ketekunan Yumi pada Baruna.


"Hehe...."


Yumi kemudian beralih pada stand es krim yang ada di dekatnya.


"Kayaknya es krim rasa coklat enak tuh, Run." gumam Yumi sambil melihat seseorang sedang menjilat es krimnya.


Seperti tersihir, Yumi seolah dapat merasakan kelembutan dan rasa dari es krim itu. Ia meneguk ludah perlahan. Tangannya juga seolah ingin meraih es krim itu, namun tidak bisa.


"Woi, Yumi. Kenapa lo? Sadar, woi. Kesambet lo?" Baruna menepuk-nepuk pipi Yumi dengan pelan.


"Gue mau es krim rasa coklat, Run! Kasih ke gue! Gue mau beli!"


"Tahan diri lo, Yum!" Baruna menarik Yumi agar menjauh dari stand es krim itu.


"TIDAAAAAK! GUE UDAH NGGAK TAHAN LAGI! GUE MAU ES KRIM!" seru Yumi dramatis.


Baruna seperti sedang mencegah anak perempuannya untuk tidak membeli es krim rasa coklat itu. Kasihan sekali.


"Woi, Yum, sadar!" kata Baruna cemas sambil mengguncangkan tubuh Yumi pelan.


Yumi akhirnya tersadar.


"Hah? Apa? Lo lagi apa sih? Ngapain lo ngerengek depan gue begitu? Lain kali jangan begitu lagi ya. Malu-maluin aja lo." kata Yumi berbanding terbalik dengan keadaan sebenarnya.


"Kenapa jadi gue?" Baruna mengacak rambutnya frustasi.


Setelah menahan untuk tidak membeli makanan, akhirnya Baruna menuruti keinginan Yumi. Dan saat ini, mereka pun sedang sibuk membeli makanan di salah satu stand.


"Ini, yang itu tuh. Itu noh. Ya, tambahin lagi. Ya, yang itu tuh." ujar Yumi kepalang senang.


"Lo yakin mau makan sebanyak itu?" tanya Baruna yang heran melihat jajanan Yumi begitu banyak.


"Iya dong. Lo nggak mau makan emang? Kalo lo nggak mau, ya udah, gue aja yang ngabisin." jawab Yumi dengan entengnya.


"Masa iya gue tolak rezeki. Ayo pesan yang banyak." Baruna yang sedari tadi menahan godaan untuk makan nanti saja, akhirnya menyerah.


"Ya, lo buat keputusan yang bijak, Yum. Cakep." Yumi lalu memesan banyak jajanan yang ada di stand itu. "Bu, tolong tambahin yang ini juga ya."


"Yang ono kayaknya enak noh. Ayo beli!" ajak Baruna dengan senyum sumringahnya, membuat Yumi ikut tersenyum senang.


"Tapi, tangan gue cuman dua. Ya kali gue semua yang megang jajan lo." omel Yumi yang kesusahan dengan jajanannya.


"Lah? Sejak kapan jajan lo jadi banyak begitu? Woi, Yumi. Ini tuh belum apa-apa. Kita kudu nyoba yang lain juga. Di sono noh, katanya yang paling enak dan laris manis." kata Baruna.


"Ya, ya, ya. Beli aja semuanya. Gue bisa kok nanganinnya." kata Yumi sambil tersenyum puas.


Baruna dan Yumi benar-benar melupakan tujuan mereka. Alhasil, mereka kehilangan jejak Tedjo dan Arum.


"Bang Tedjo sama Arum kemana ya?" tanya Baruna dengan tampang beloon sambil terus mengunyah makanannya.


"Iya, ya. Kemana tuh dua orang?" tanya Yumi balik yang juga sibuk mengunyah makanannya.


"Kalo gue tau, mana mungkin gue nanya sama lo." Baruna putus asa. "Kayaknya kita kehilangan mereka deh."


"Nggak. Mereka yang kehilangan kita."


"Tapi, kita ke sini kan buat ngikutin mereka." kata Baruna geram.


"Iya juga sih. Benar yang lo bilang." balas Yumi dengan polosnya.


Baruna mendengus.


"Kita makan aja dulu, Mas Baruna." goda Yumi membuat Baruna menyunggingkan senyumannya.


...•••...


Super Market, pukul 20:28....


Setelah berhasil menemukan Tedjo dan Arum, Baruna dan Yumi pun kembali mengikuti mereka dengan mata yang sudah mengantuk karena kekenyangan.


"Sok kegantengan banget sih Bang Tedjo. Meskipun emang ganteng sih. Iya kan, Yum? Gue nyium bau-bau modus." kata Baruna berfirasat.


"Cowo ganteng emang selalu gitu. Nggak setia." gerutu Yumi.


"Tapi, gue nggak ak begitu. Gue ganteng dan gue setia." Baruna menyengir.


Yumi menghela napas lelah. "Betah banget sih si Tedjo sama tuh cewek?" kata Yumi sebal sambil bersembunyi di balik manekin.


"Mungkin Bang Tedjo emang pacaran kali sama si Arum? Tapi, kenapa nggak ngasih tau ya?" gumam Baruna bingung.


Yumi menghela napas lagi. "Lagian ngapain kita ngikutin mereka? Buang-buang waktu sama tenaga aja, tau nggak. Gue udah ngantuk banget ini." kata Yumi sambil menguap lucu.


Baruna segera melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya pada Yumi.


"Baruna, gue ini tuh ngantuk bukan kedinginan."


"Lo tuh kekenyangan, terus kena AC, makanya jadi ngantuk." jelas Baruna.


Tapi tiba-tiba saja....


"Hah? Kok mereka berhenti? Mereka cuman mau liatin baju di manekinnya, kan?" tanya Yumi beruntun.


"Pertanyaan lo harusnya 'mereka liat ke kita, kan? Baru bisa gue jawab 'iya'." jawab Baruna.


"Gimana nih, Run?"


"Udah. Serahin aja semuanya sama gue." kata Baruna enteng.


"Ngapain lo berdua di sini?" tanya Tedjo setelah menghampiri Baruna dan Yumi.


"Bang Tedjo juga di sini." cengir Baruna.


"Gue ke sini karena mau nemenin Arum beli sesuatu." kata Tedjo.


"Beli apaan emangnya?" tanya Yumi.


"Perlengkapan bayi." Kali ini yang menjawab bukan Tedjo melainkan Arum. Gadis itu tersenyum bangga.


"Buat apaan?" tanya Baruna.


"Ya buat bayilah." jawab Tedjo dan Arum bersamaan.


"Kompak banget sih. Cocok lo berdua." cengir Baruna lagi.


"Lo ini...." Tedjo terkekeh sambil menarik telinga Baruna.


"Jangan gitu dong lo, Bang!" rengek Baruna.


Tapi, lain halnya dengan Yumi. Dia tampak kesal.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, Run. Ngapain kalian di sini?" tanya Tedjo masih penasaran.


"Bang Tedjo kayak nggak tau aja. Ya kita lagi ngedatelah. Abang kayak nggak pernah muda aja." jawab Baruna dengan santai membuat Yumi terbelalak kaget.


"Ung? Ngomong apa sih si Baruna? Mati gue." batin Yumi.


"Hah? Ngedate? Lo berdua pacaran?" tanya Tedjo ikut kaget.


"Iyalah, Bang. Gue sama Yumi kan remaja normal. Sama kayak Abang." cengir Baruna lagi.


"Mati gue, mati gue!!!" batin Yumi.


"Lo bahkan ngasih jaket lo ke Yumi. Baik banget sih lo." kata Tedjo mulai sewot.


"Iya dong, Bang. Namanya juga gue sayang sama Yumi." balas Baruna sambil tersenyum lebar.


Sepertinya niat Baruna ingin membantu Yumi untuk memancing Tedjo apa benar Arum itu pacarnya. Tapi, sepertinya caranya salah menurut Yumi. Karena bagaimana pun juga ia dan Tedjo sudah menikah.


"Ada tips buat lo, Bar." kata Tedjo dengan tatapan mengintimidasi.


"Apa tuh, Bang?"


"Jangan pernah nyari gara-gara sama Yumi. Kalo lo nggak mau dikubur hidup-hidup." Tedjo mengakhiri kalimatnya dengan senyuman kecut.


Yumi menatap ke arah lain untuk menghindari kontak mata dengan Tedjo. Mata alien hijau itu sangat tajam saat ini.

__ADS_1


"Bang Tedjo kayak nggak tau Yumi aja sih. Yumi tuh sayang banget sama gue, Bang. Mana mungkin dia ngelakuin itu ke pacarnya. Iya kan, pacar?" tanya Baruna pada Yumi.


"Pa-pa-pa-pa-pa..." Yumi gugup.


"Bukan papa, tapi pacar. Ya udah, ketimbang manggil Papa mending manggil pacar lo ini Daddy." kata Baruna membuat Tedjo naik pitam.


"Ya udah, Daddy. Ketimbang nunjukin kemesraan lo berduadepan gue dan Arum, mending kita makan dulu." ajak Tedjo sambil terpaksa tersenyum. Padahal emosinya akan segera meledak Jika ia tidak pandai mengendalikannya.


"Ayo, pengki." Baruna tersenyum menang.


Tedjo dan Arum berjalan lebih dulu, meninggalkan Baruna dan Yumi di belakang.


"Maksud lo apaan manggil Tedjo pengki?" bisik Yumi penasaran.


"Pengki tuh pengkhianat." jawab Baruna seadanya.


"Kedengerannya nggak nyambung."


"Emang iya?"


"Ada huruf H di kata pengkhianat kalo lo lupa."


"Iya. Anggap aja gue lupa biar tuh panggilan nyambung." balas Baruna membuat Yumi sebal.


"Bang Tedjo, tungguin dua remaja yang lagi pacaran ini dong!" seru Baruna semakin membuat Tedjo panas.


"Tedjo, tolong tahan sampai akhir!" batin Tedjo bergejolak.


...•••...


Area Food Court...


Tedjo hanya bisa menatap tajam ke arah Baruna dan Yumi yang sedang bersuapan-ria di depannya. Rasanya ingin sekali ia membuang Baruna ke laut.


"Pacar gue nih suka makan ternyata." kata Baruna berniat memancing Tedjo.


"Semua orang juga suka makan." komentar Tedjo.


"Kayak ada yang ngomong? Tapi, siapa ya?" kata Yumi membuat Tedjo mendelik malas.


"Sayang, kayaknya ada sesuatu di bibir gue." Baruna memajukan bibirnya sedikit.


"Hah?" Yumi terbelalak. Ia tampak bingung.


Baruna kemudian mengode agar Yumi membersihkan mulutnya yang sengaja ditempelkan nasi.


Yumi yang mengerti maksud Baruna langsung mengambil tisu di dekat Tedjo, tapi tiba-tiba saja Tedjo mencegahnya.


Dan kemudian, Tedjolah yang membersihkan mulut Baruna dengan perasaan geram. Dia sangat geram melihat kelakuan Baruna yang sangat aneh malam ini.


"Makanya makan tuh jangan kayak anak kecil. Jadi belepotan begini, kan?" Tedjo menggeram.


"Bang Tedjo ganggu aja sih." dengus Baruna kesal.


"Jadi, gitu gaya pacaran lo berdua?" tanya Tedjo tak tahan dengan kelakuan Baruna.


"Emangnya gimana gaya pacaran orang dewasa kayak lo berdua hah, Bang?" balas Baruna.


"Hah?" Tedjo membeku. Jelas sekali kalau Baruna melontarkan pertanyaan itu padanya dan juga Arum.


"Ya, nggak kayak gitulah. Gaya pacaran orang dewasa cenderung rileks dan santai. Nggak menggebu-gebu kayak lo berdua tadi." kata Arum sambil memperlihatkan senyuman ramahnya.


"Kedengerannya bosenin. Mending apa adanya aja." Yumi membuka mulut sambil menatap Arum dengan tatapan tajam.


"Udahlah. Yang benar tuh jangan pacaran, tapi langsung nikah aja." kata Tedjo kemudian.


"Bagus juga sarannya, Bang. Gimana, istriku?" tanya Baruna pada Yumi.


Tedjo, Yumi dan Arum yang mendengarnya langsung terbelalak kaget.


"Istriku?" tanya Arum bingung.


Yumi hanya tersenyum canggung karena malu.


"Iya. Bentar lagi kita berdua mau nikah. Jadi, gue mau Yumi terbiasa dengernya." jawab Baruna dengan senang hati.


"Kaget ya gue manggil lo begitu." Baruna merangkul Yumi agar lebih mendekat padanya.


Tedjo menghela napas panjang dan dalam.


Sebal! Tedjo terus menggerutu dalam hati. Melihat Baruna dan Yumi saling melempar canda di depannya membuatnya semakin tidak selera untuk makan.


Sampai tiba di suatu momen....


"Cuci piring tuh ampe bersih! Masih ada aja orang yang nggak mau bayar kayak lu pada!" kata pemilik food court itu dengan kesal.


Bencana! Tedjo ternyata lupa membawa dompet, sedangkan Baruna sudah kehabisan uang akibat makan sebelumnya dengan Yumi. Dan apalagi dengan Yumi dan Arum, mereka juga tidak membawa uang sama sekali.


"Anggap aja ini simulasi berumah tangga sama gue, Yum" kata Baruna pada Yumi.


"Gue juga punya black card, Yum. Pink card sama yellow card juga ada." timpal Baruna.


"Sama aja kalo nggak bisa digunain sekarang." kata Yumi.


Arum hanya terkekeh mendengar perdebatan mereka.


Dasar! Mereka itu aneh!


"Ntar lo pulang sama gue." Suara Tedjo terdengar dingin saat berbicara pada Yumi.


"Mana bisa gitu, Bang. Yumi kan ke sini sama gue. Lagian Arum gimana? Lo mau ninggalin Arum di sini, Bang?" celah Baruna.


"Gue bakal ngantar tuh cewek dua. Jadi, lo langsung pulang aja. Nggak baik kelinci bahenol kayak lo keluyuran malam-malam begini." kata Tedjo.


"Iya, iya. Lo yang antar deh, Bang. Antar juga noh pemilik warung tadi." Baruna akhirnya mengalah.


"Kesel lo ya? Hahaha...." Tedjo mengusap rambut Baruna dengan tangan yang masih ada sisa sabun.


"Woi, Bang! Tangan lo kan kotor!" protes Baruna.


"Hahaha.... Maaf, Bar."


Mereka berempat menghabiskan malam itu dengan cuci piring.


...•••...


Tedjo, Yumi dan Arum sampai di pelataran parkir. Sementara Baruna sudah pulang setelah Tedjo memaksanya pulang terlebih dahulu.


"Gue aja yang duduk di belakang." kata Yumi mengalah tanpa diminta.


"Nggak. Lo duduk di samping gue." kata Tedjo masih terdengar dingin. "Rum, lo duduk di belakang ya?"


"Oke."


Suasana begitu canggung di dalam mobil, begitu Arum selesai diantar ke rumahnya.  Tidak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan.


Yumi melirik sedikit ke arah Tedjo. Dia sedang membayangkan, apa yang akan dilakukan Tedjo setelah kejadian tadi. Marah? Sebal? Atau mengomelinya sepanjang malam? Hm... sepertinya Yumi tidak peduli, lebih tepatnya pasrah.


Sesampainya di rumah, Yumi langsung melesat masuk tanpa menunggu Tedjo.


Tedjo hanya diam sambil menatap Yumi tajam.


Dan sekarang Pak Selamet, Pak Udin, Bu Titin, Embun, Tedjo dan Yumi sudah berkumpul di ruang keluarga.


Mereka semua menatap heran melihat penyakit diam Tedjo dan Yumi kumat.


"Ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi? Siapa yang mau bicara terlebih dahulu?" tanya Pak Selamet sambil menatap ke arah Tedjo dan Yumi secara bergantian.


Tedjo dan Yumi saling melirik dengan tatapan tajam, lalu seketika membuang muka.


"Mas yang nyari gara-gara duluan ya?" tanya Embun terus-terang.


"Kalo lo nanya begitu berarti lo yang mau nyari gara-gara sama gue, Mbun." balas Tedjo.


"Aa, Neng. Kalian baik-baik aja?" tanya Bu Titin khawatir.


"Mak... kalo pun kita berantem, kita nggak nyampe mau bacok kok." jawab Tedjo jengah.


"Woi, Yumi! Ngapa diem doang lu? Ceritain ada apa! Diem mulu lu!" omel Pak Udin dengan kepala yang tidak bisa diam.


"Tanya aja sama tuh alien kepala kotak." kata Yumi.


"Hah? Emang siapa yang kepalanya kotak?" tanya Pak Selamet dengan tampang kebingungan.


"Tedjo, ceritain ke kita ada apa sama lu berdua?" tanya Pak Udin pada Tedjo.


"Oh.... Tedjo ternyata." gumam Pak Selamet.


"Kepalanya emang agak kotak waktu aku ngelahirinnya, sayang." kata Bu Titin pada Pak Selamet.


"Tedjo cuman mau ngajak dia tidur, tapi dia nggak mau." jawab Tedjo kemudian.


"Hah?! Tidur?! Tidur yang kayak gimana nih?!" Pak Udin kaget.


Spontan Bu Titin menutup telinga Embun. Anak-anak yang belum menikah tidak boleh mendengarkan hal itu, meskipun Embun tidak sekecil itu.


"Tedjo sama Yumi mau tidur, Beh. Ini udah malam. Emangnya kalian semua nggak ngantuk?" tanya Tedjo berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum ngantuk tuh! Jadi, buru lo ngomong ceritanya begimana?" tanya Pak Udin bersikeras.


"Tedjo kesel sama Yumi. Yumi bikin Tedjo darah tinggi." jawab Tedjo.

__ADS_1


"Bener begitu, Yum?" tanya Pak Udin.


"Aye bercanda doang kok." bela Yumi tanpa menoleh ke arah Tedjo dan Pak Udin.


"Bercanda apaan? Itu tuh berlebihan, tau." Tedjo berdecak sebal.


"Tapi, itu nggak mungkin terjadi kalo lo nggak buat gue kesakitan, keperihan, kepedihan, keperihan, kesakitan!" seru Yumi.


"Emangnya apa yang gue lakuin ke elo?! Sebegitu fatalnya sampe lo bercanda kelewat batas begitu? Nggak kayak gitu juga dong Yum." kata Tedjo.


Tedjo memang sengaja tidak mau mengatakan masalahnya di depan keluarganya. Ia hanya tidak mau mereka salah paham pada Yumi.


"Tedjo ada benernya juga, Yum." kata Pak Udin menengahi. "Harusnya lu kudu sopan sama laki lu, Yum. Tega bener lu ama laki sendiri begitu becandaannya. Meskipun Tedjo tuh brengsek tapi dia tetap laki lu, Yum."


Tedjo mendengus mendengar perkataan Pak Udin, tapi ia bersyukur karena sudah di bela.


"Sekarang minta maaf lu ama laki lu." perintah Pak Udin.


"Hah?!" Yumi tak terima.


"Buru. Atau lo nggak bakal ngeliat gua lagi di sini." Ancam Pak Udin serius.


"Emangnya Babeh mau kemana?" tanya Yumi.


"Surabaya. Gua mau balik aja ke sono. Tempat lahir enyak lu."


"Ya udah. Pergi aja." tantang Yumi.


"Woi, Yumi!"


"Iya, iya."


Karena Yumi tidak mau memperpanjang masalah ini apalagi di depan Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun akhirnya ia memilih mengalah.


"Ya, ya, ya. Gue salah dia bener. Minta maap yak." kata Yumi dengan geram.


"Tunjukin rasa bersalah lu dan cinta lu sebagai bini dong, Yum. Gimana sih lu?" perintah Pak Udin lagi.


"Ya, ya, ya. Sayangku, cintaku, pribadiku, negaraku padamu... tolong maafkan kesalahanku ya. Aku khilaf." Yumi tersenyum terpaksa.


"Jangan ngebantah laki lu lagi, Yum. Denger lu?" Nasihat Pak Udin membuat Yumi mendelik geli.


"Ya, ya, ya...." gumam Yumi membuat semua orang memandangnya.


"Yumi! Yang serius lu!"


"Ya, ya, ya...." gumam Yumi lagi, membuat Pak Udin kesal, lalu pura-pura memukul kepala Yumi padahal yang ia pukul tangannya sendiri.


"Jangan ngomong lu sebelum gua nyuruh lo ngomong." Pak Udin mulai geram pada Yumi.


Yumi merengut sebal.


"Maapin Yumi ya, Djo. Dia emang agak kekanakan ama keras kepala dikit. Tapi asal lo tau aja, dia begitu tuh karena mau nyari perhatian lu doang kok." jelas Pak Udin.


"Kagak. Aye—"


Belum sempat Yumi bicara, tapi Pak Udin malah menutup mulutnya dengan tangannya.


Yumi kemudian menggigit tangan ayahnya dengan sebal.


"Aduh!"


"Dari aye kecil, Babeh emang suka manjain aye, makanya aye jadi kekanakan begini. Babehlah yang paling dewasa dan nggak kekanakan." kata Yumi pura-pura tersenyum.


"Tedjo, hukum aja nih si Yumi kalo nggak mau dengerin omongan lu. Lu bisa nyuruh dia nyuci pakaian lu atau bersihin udara pagi yang terkena polusi." usul Pak Udin bercanda.


Yumi memelototi Pak Udin dengan perasaan geram. "Babeh...."


"Apa? Lu nggak mau nurut ama laki lu sendiri? Woi, Yum. Lu bakal dapat banyak pahala kalo lu jadi istri yang nurut."


"Oke deh. Tedjo bakal ngehukum Yumi dengan cara Tedjo sendiri." Tedjo membuat semua orang menahan napas.


"Lebih baik jangan bicarakan hal seperti itu di sini. Ada adikmu kalo kamu lupa ya, Djo." saran Pak Selamet takut kalau-kalau Tedjo berbicara aneh.


"Emang apaan? Aku kira aku udah cukup dewasa." ujar Embun bingung.


"Mana ada orang dewasa yang masih suka nonton Dora The Explorer." ledek Tedjo.


"Nggak ada hubungannya kali. Mas aja masih suka pake ****** ***** Angry Bird." balas Embun sengit.


"Enak aja lo!"


"Sebaiknya kita juga dengerin penjelasan Neng Yumi juga, Bang Udin." kata Bu Titin dengan lembut. "Neng kok bisa bercanda kelewat batas gitu? Kenapa atuh, Neng? "


Yumi diam sesaat.


"Tedjo ngamilin teman sekelasnya." Yumi berhasil membuat semuanya tercengang termasuk Tedjo.


"HAH?!!"


"Aye ngeliat pake mata kepala aye sendiri! Alien hijau ini tuh pergi ke dokter kandungan bareng teman sekelasnya. Alien hijau ini tuh juga pernah bilang ke temannya itu kalo bakal tanggung jawab!" kata Yumi teramat sebal.


"Heh, Yum! Yang bener kalo ngomong!" protes Tedjo panik.


"Kenapa?! Gue ngasih tau ke keluarga lo juga demi kebaikan lo! Semua tuh ada konsekuensinya!" seru Yumi.


"Demi kebaikan gue apa?! Lo bahkan nggak tau apa-apa! Jangan asal ngomong! Lancip bener tuh mulut!"


"Gue udah liat semuanya! Gue bicara fakta bukan omong kosong doang! Mau ngelak juga lo, hah?!"


"Udah, udah, udah. Kalian nggak bisa serius apa? Gantian ngomongnya, jangan langsung dipotong. Kalian ini bukan anak kecil lagi." Pak Selamet menengahi. "Tedjo, apa yang sebenarnya terjadi? Tolong ceritakan pada kami."


"Tedjo... Tedjo bakal tanggungjawab." kata Tedjo sambil menunduk.


Semuanya membeku. Mereka begitu kaget mendengar pengakuan Tedjo. Selama ini mereka pikir Tedjo adalah anak yang baik. Tapi, kenapa anak baik berani mengecewakan orang tuanya?


"Tedjo!" seru Pak Udin tak terima jika putrinya diduakan.


"Tapi... Tedjo bisa jelasin." lanjut Tedjo.


Tedjo mulai menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi. Cerita Yumi tidaklah benar. Ada beberapa hal yang tidak dilihat Yumi sehingga membuatnya salah paham.


Hari itu, Tedjo dan Arum sedang berada di bangunan kosong belakang sekolah mereka. Entah apa yang sedang lakukan, tapi sepertinya sangat penting dan serius.


"Makanan ini bagus buat bumil." kata Tedjo.


"Lo beli ini dimana?" tanya Arum saat melihat kotak makanan untuk ibu hamil. "Bayinya nggak apa-apa kalo nyokap gue makan makanan ini?" tanya Arum.


"Kalo nyokap lo nggak punya alergi sama kacang-kacangan, bayinya juga bakal baik-baik aja." jawab Tedjo.


"Tapi kalo bayinya kenapa-napa, lo tanggungjawab ya? Gue nggak mau nyokap sama calon adik gue kenapa-napa." kata Arum cemas.


"Iya. Gue bakal tanggungjawab." Tedjo tersenyum manis.


"Arum, gimana kalo besok lo dan nyokap lo pergi ke dokter kandungan? Gue tau kalo nyokap lo masih terpukul atas kepergian bokap lo, tapi calon adik lo harus diperiksa rutin. Mungkin aja setelah adik lo lahir, nyokap lo bisa semangat hidup lagi." saran Tedjo.


Arum terdiam. Sejak ayahnya meninggal dunia, ibunya jadi tidak semangat untuk melakukan aktivitas apapun. Bahkan ibunya tidak peduli lagi dengan kandungannya yang sudah menginjak usia delapan bulan. Arum benar-benar khawatir.


"Tedjo, lo mau nggak nemenin gue sama nyokap ke rumah sakit besok? Gue minta tolong sekali ini aja. Plis...." Arum memohon.


"Oke, boleh. Gue bakal nemenin lo ke dokter kandungan." Tedjo tersenyum.


"Makasih ya, Djo. Lo emang temen gue yang paling ganteng."


"Bisa ae lu."


Semalam kutahan, kutahan semalam~ Lama-lama rindu tak mampu kutahan~


Tedjo dan Arum terbelalak kaget terlebih karena panik.


"Siapa tuh, woi?!" seru Tedjo untuk memastikan ada seseorang di sana atau tidak.


"Gimana nih, Djo? Gimana kalo ada yang liat kita di sini? Mereka pasti salah paham."


"Udahlah, nggak apa-apa. Lagian kita nggak aneh-aneh. Ayo pergi dari sini."


Arum mengangguk.


Cerita Tedjo selesai.


"Cita-cita gue dari dulu mau jadi dokter kandungan. Jadi, Arum minta tolong sama gue buat nyokapnya yang lagi ngandung delapan bulan. Gimana pun juga gue pernah belajar dikit soal kesehatan ibu dan anak. Tapi, gue rasa cita-cita gue udah berubah setelah kejadian ini." jelas Tedjo pada Yumi.


"Jadi, cita-cita Mas apa?" tanya Embun.


"Pengen jadi sniper." Tedjo menatap Yumi tajam sambil menampilkan seringainya. "Biar gue bisa nembak pengkhianat dari kejauhan."


Yumi meneguk ludah perlahan.


"Ya udah. Karena masalahnya udah selesai. Ayo masuk ke kamar. Ini sudah malam. Waktunya tidur ya." perintah Pak Selamet mengakhiri pembicaraan malam itu.


"Iya."


"Selamat malam...."


Mereka pun melesat ke kamar masing-masing.


"Sssut! Istri.... Nih malem jangan lupa sama tugas lo ya?" goda Tedjo dengan cengirannya yang khas.


Yumi melengos begitu saja.


"Dasar cewek... nggak bisa diajak kerjasama."

__ADS_1


...•••...



__ADS_2