SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Sekolah Baru


__ADS_3


...•••...


"Lo masih ragu ya?" tanya Tedjo.


Yumi menghela napas.


"Tedjo?"


"Ya?"


"Bukannya bokap lo sama bokap gue sahabatan?" tanya Yumi membuat Tedjo bingung.


"Terus kenapa bokap lo tega mau penjarain bokap gue kalo nggak bisa bayar utang?" lanjut Yumi.


Tedjo terdiam.


"Maksud gue, lo mau nikah sama gue cuman karena utang bokap gue, kan? Gue nggak tau seberapa banyak utang bokap gue ke keluarga lo, tapi gue janji bakal ngelunasin tuh utang kalo bokap lo ngasih gue kesempatan."


"Kesempatan apa?" tanya Tedjo.


"Kesempatan... supaya gue nggak perlu nikah sama lo."


Tedjo menunduk sedih.


"Kalo lo nggak mau pake ini!" seru Yumi sambil memperlihatkan sebuah kostum.


Tedjo langsung menatap Yumi tak mengerti.


"Apa-apaan!"


Yumi tersenyum penuh kemenangan. "Gue mau nikah sama lo kalo lo bersedia make kostum ini di acara pertunangan kita."


Yumi memberikan pada Tedjo sebuah kostum badut yang lucu.


"Hah?! Maksud lo sekarang?! Kagaklah! Kenapa cuman gue yang make nih kostum?!!! Elunya kagak gitu?!"


Tedjo merengek.


"Heh! Gue cuman mau bikin malam ini berkesan buat lo!" balas Yumi memaksa.


"Ya ampun. Tega banget lo Yumyum sama calon laki lo!" teriak Tedjo.


Yumi memasang muka memelas.


"Oke deh!" Tedjo pasrah.


Yumi melompat-lompat kegirangan.


"Yes!!! Makasih, Tedjo." kata Yumi sambil tersenyum sumringah dan menatap Tedjo dengan tatapan mengejek.


"Nggak usah ngeliat gue begitu juga!"


Tedjo dengan muka lucunya pura-pura menangis dan berhasil membuat Yumi tertawa tanpa henti.


...•••...


Yumi sudah berdiri di depan para tamu untuk pemasangan cincinnya. Tapi tidak dengan Tedjo, ia malu kalau-kalau dilihat para tamu dengan kostum konyolnya itu.


"Mas Tedjo!" panggil Yumi.


Tedjo masuk ke ruangan dan menghampiri Yumi yang berusaha menahan tawanya.



"Jangan ketawa lo." bisik Tedjo pada Yumi dengan geram.


"Tedjo...." gumam Bu Titin.


Sementara Pak Udin, Pak Selamet dan Embun mati-matian menahan tawanya.


Detik berikutnya, Tedjo pun memasangkan cincin pada Yumi, begitupun sebaliknya.


Acara pertunangan mereka pun berjalan dengan lancar.


...•••...


Hari Senin, pukul 06:25....


Yumi sudah siap dengan seragam sekolah barunya.


Begitu juga dengan Tedjo yang sudah siap berangkat sekolah dengan gaya menawannya.


Yumi cemberut sambil terus menatap muka Tedjo dengan kesal.


Tedjo menatap lurus ke depan karena sedang menyetir untuk menuju sekolah.


Hari ini, Yumi akan sekolah di sekolah yang sama dengan Tedjo.

__ADS_1


Saat mereka sarapan pagi....


"Yum, abis lu nikah lu bakal tetep tinggal di Jakarta bareng Tedjo." kata Pak Udin.


"Apa? Terus, Babeh begimane?" tanya Yumi.


"Ya gua baliklah ke Surabaya." kata Pak Udin.


"Kok gitu sih? Kenapa Babeh ninggalin aye di sini?" tanya Yumi.


"Lu kan bakal jadi bininya si Tedjo. Lu pada bakal tinggal di rumah baru dan hidup bareng-bareng. Udeh." jelas Pak Udin.


"Kalian tinggalnya berdua dan sesekali kami bakal datang jenguk ke rumah kalian." tambah Pak Selamet dengan logat jawanya yang kental.


"Pakde, kalo gitu gimana ama sekolah aye?" tanya Yumi sedih.


"Neng Yumi bakal dipindahin ke sekolahnya Tedjo." timpal Bu Titin.


"Bude? Kenapa?" tanya Yumi pasrah.


"Karena gue." jawab Tedjo dengan enteng sambil memakan makanannya.


"Kenapa kagak kasih tau aye dulu sih? Kenapa kalian semua nggak mau diskusiinnya ama aye? Aye tuh bukan anak kecil lagi." protes Yumi.


"Tenang dulu, Yum." kata Pak Udin.


"Babeh, buat nikah ama Tedjo aja aye mau kalo diomongin baik-baik. Tapi ini... kenapa kalian buat keputusan sendiri hah?"


Yumi kemudian pergi keluar dengan rasa kecewa dan marah.


"Mbak Yumi!" panggil Embun, kemudian menatap Tedjo dengan tajam. "Mas Tedjo, buruan kejar Mbak Yuminya!"


Tedjo segera mengikuti Yumi yang sudah pergi keluar.


...•••...


Toko eskrim di dekat rumah Tedjo....


Yumi sedang makan es krim.


"Di sini lo ternyata."


Tedjo langsung duduk di depan Yumi.


"Gue kira lo bakal nangis kayak waktu itu." goda Tedjo.


"Baguslah." Tedjo kemudian memesan es krim. "Gue pesan es krim coklat pake topping strawberry."


Tedjo tersenyum puas.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Yumi akhirnya.


"Harusnya gue yang nanya begitu." ujar Tedjo. "Gue sering ke sini kalo belum sarapan. Sama kayak lo."


Yumi mendengus. "Emangnya es krim bisa jadi pengganti sarapan?"


"Kagak percaya kan lu? Makanya, ayo pulang. Sarapan dulu lu sono."


Yumi menghela napas sambil menyudahi makan es krimnya. "Gue udah kenyang."


Es krim pesanan Tedjo pun datang.


"Wah, mantep. Es krimnya enak." kata Tedjo sambil menikmati es krimnya.


"Pergi sono lu. Ntar gue juga baik sendiri." kata Yumi yang tahu maksud kedatangan Tedjo.


Tedjo mengalihkan pembicaraan.


"Lo mau nyoba es krim gue nggak?" tawar Tedjo.


"Nggak, makasih."


"Atau lo mau nyoba... ini." goda Tedjo sambil menunjuk ke bibirnya.


"Heh, Tedjo!! Ya Allah... lo ini kenapa sih? Apa lo nggak tau kalo gue lagi sedih. Ngapain lo ngajakin gue bercanda?" Yumi geram.


"Gue nggak bercanda. Gue serius. Ayo dong, Yum. Sekali aja."


Tedjo mengerlingkan matanya.


Kontan muka Yumi langsung memerah. "Dasar cabul!!!"


"Jangan teriak keras-keras. Kalo orang lain dengar gimana?" Tedjo panik.


"Emangnya kenapa? Lo kan emang cabul!!!"


Spontan, Tedjo menutup mulut Yumi dengan tangannya.


Tapi, Yumi menggigit tangan Tedjo.

__ADS_1


"Aouw! Yumi!!!"


Tedjo meringis kesakitan.


"Apa?! Apa lo?!" Yumi menantang Tedjo tapi karena tidak benar-benar berani, Yumi pergi begitu saja.


"Yumyum, mau kemana lagi lo?!"


"Mau pulang gue!"


Yumi meleletkan lidahnya pada Tedjo sebelum meninggalkannya.


Tedjo terkejut dan mendengus kesal.


"Gampang banget ngebujuk tuh anak." gumam Tedjo.


"Bayarin es krim gue juga ya!"


"Woi! Lo belum bayar?!! Yumi!"


Yumi berlari sambil tertawa puas.


Sedangkan Tedjo hanya bisa pasrah sambil menahan kekesalan pada Yumi.


...•••...


Yumi dan Tedjo akhirnya pulang ke rumah....


"Babeh, Pakde, Bude, Embun...." Yumi memulai pembicaraan.


"Ya?" jawab mereka.


"Ada apa, Neng?" tanya Bu Titin sambil tersenyum tulus.


"Aye mau sekolah di Jakarta. Tapi, ada syaratnya."


"Apa syaratnya?" tanya mereka serempak.


"Kalo aye ama Tedjo udah nikah dan tinggal di rumah baru, aye mau kite semua bisa tinggal bareng-bareng." pinta Yumi.


"Apa!!!" Tedjo kaget dengan perkataan Yumi. "Maksud lo apaan?"


"Kurang jelas omongan gue emang? Kalo lo nggak mau, nggak masalah buat gue." balas Yumi.


"Gimana, Djo?" tanya Pak Selamet.


Yumi menatap Tedjo tajam.


Tedjo balas menatap Yumi dengan kesal.


"Ya udah. Kita tinggal bareng-bareng aja." kata Tedjo mengalah.


Yumi tersenyum menang.


"Tapi pernikahannya, di cepetin ya." goda Tedjo.


"Lo kenapa nggak mau ngalah sih sama gue?!" Yumi yang geram langsung memukul Tedjo.


"Hahahaha.... Yumyum!!! Gue cuman bercanda. Aouw!! Maaf!!!"


Meskipun begitu masih terdengar suara gelak tawa Tedjo.


Semua orang yang melihat perkelahian Tedjo dan Yumi pun ikut tertawa.


Karena sebab itulah, Yumi pindah ke sekolahan Tedjo.


Tedjo yang sadar dilihat Yumi, menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan heran.


"Apa lo? Kenapa lo ngeliatin gue segitunya? Lo baru sadar kalo gue ini ganteng? Udah naksir lo?" goda Tedjo membuat Yumi ingin muntah.


"Tedjo?"


"Apa? Kenapa?"


Tedjo kembali menatap lurus.


"Gue benci lo."


Tedjo menoleh sebentar.


"Gue juga. I love you." jawab Tedjo dengan muka datar.


Yumi mendengus sambil membuang muka.


Tedjo terkekeh melihat tingkah Yumi yang menurutnya sangat menggemaskan.


...•••...


__ADS_1


__ADS_2