
...•••...
"Tedjo!!! Yumi!!!" teriak Pak Udin di suatu pagi sambil memukul-mukul panci, membuat Yumi langsung terbangun karena begitu kaget.
"Masih belon bangun juga lu bedua, hah?!!! Cepet sarapan sebelum gua kasih jatah kalian ke ayam!!!"
Yumi bersungut. "Selalu aja prioritasin ayam. Lama-lama gue goreng juga tuh ayam."
Yumi kemudian melesat membuka pintu kamarnya.
"Aye udah bangun kok, Beh." kata Yumi masih semrawut.
"Lu bedua ngapain aja sih tadi malem, ampe bangun jam tujuh begini?!! Lu bedua masih main ular tangga?!! Allahu Akbar... kebiasaan lu bedua dari kecil. Nggak ada berubah-ubahnya. Heran gua." omel Pak Udin.
"Hah? Bentar, bentar, Beh. Jam berapa Babeh bilang tadi?" tanya Yumi panik.
"Jam tujuh! Budek lu!" seru Pak Udin sengaja membuat Yumi makin panik.
Yumi langsung bergegas membangunkan Tedjo, sedangkan Pak Udin pergi sambil cekikikan setelah berhasil mengusili Yumi.
"Tedjo!!! Bangun lo!!! Lo mau tidur sampe kapan, ege?!! Apa idup lo isinya cuman tidur doang?!!"
"Kenapa teriak pagi-pagi buta sih, yang?" rengek Tedjo karena merasa terganggu dengan teriakan Yumi.
"Bangun kagak lo?!!"
"Kenapa sih ribut banget? Lo udah kepengen?" tanya Tedjo asal dengan mata yang masih terpejam.
"Ini udah jam tujuh, woi! Jam pertama lo sejarah, kan?!!"
Tedjo langsung bangun. Bukannya apa-apa, guru sejarah adalah guru yang paling galak sepanjang sejarah sekolah.
"Gue duluan!"
Tedjo melesat ke kamar mandi. Tapi Yumi tak mau kalah, ia menahan Tedjo yang akan mandi terlebih dahulu.
"Gue yang pertama bangun, jadi gue yang mandi duluan." kata Yumi.
"Kenapa lo bangunin gue kalo lo belum mandi, ege? Gue ajalah yang mandi duluan. Jam pertama gue sejarah, woi."
"Nggak peduli gue. Itu mah derita lo." Yumi mendorong Tedjo.
"Duh!"
Yumi masuk ke kamar mandi begitu berhasil menyingkirkan Tedjo.
"Woi, Yumyum!" Tedjo frustasi sampai membenturkan kepalanya ke bantal.
Tak mau bertengkar hanya karena kamar mandi, akhirnya Tedjo pergi menuju kamar mandi di lantai bawah.
Dalam beberapa menit kemudian, Tedjo dan Yumi pun siap dengan seragam sekolahnya.
"Aa! Eneng! Ayo, sini. Sarapan dulu." perintah Bu Titin begitu melihat Tedjo dan Yumi yang sudah turun dari lantai atas.
Tedjo dan Yumi berjalan beriringan sambil menatap sinis pada satu sama lain.
"Tedjo nggak bisa sarapan hari nih, Mak. Tedjo udah telat ke sekolah." kata Tedjo panik. "Gurunya galak."
"Aye juga udah telat, Mak. Kalo aja nggak ada cowok di kamar aye, mungkin aye nggak bakal kesiangan gini." sindir Yumi pada Tedjo.
"Apa lo bilang? Itu kamar gue! Lo aja yang mau tidur bareng gue sampe gue nggak bisa nolak." balas Tedjo tak mau kalah.
"Harusnya kamar mandi di kamar tuh ada dua. Jadi, gue nggak perlu buang-buang tenaga buat berantem sama lo." balas Yumi geram.
"Kalian berdua pada kenapa sih? Masih pagi kok udah ribut aja?" tanya Embun dengan wajah malas.
"Gue telat gegara nih orang!" kata Tedjo dan Yumi bersamaan sambil menunjuk satu sama lain.
Embun menghela napas sejenak sebelum berkata. "Emangnya di kamar kalian nggak ada jam? Ini kan masih jam enam pagi."
"Hah?!" Tedjo dan Yumi melihat ke arah jam dinding, lalu bergantian melihat ke arah Pak Udin yang sedang sarapan dengan tatapan sebal.
"Makanya, lu bedua sekolah yang bener. Hehehe...." bela Pak Udin.
Kemudian, Tedjo dan Yumi akhirnya bisa sarapan dengan tenang.
...•••...
Setibanya di sekolah, tepatnya di pintu masuk belakang sekolah.
"Lo jalannya jangan sejajar sama gue. Jauh dikit lo." kata Yumi masih kesal dengan kejadian perebutan kamar mandi tadi.
"Lo nggak bisa jauh-jauh dari gue, kan? Makanya lo nyuruh gue yang ngejauh. Ketebak banget." balas Tedjo.
"Ya udah, gue yang ngejauh." balas Yumi.
Hampir saja Tedjo ingin menjitak kepala Yumi kalau tidak ditahannya.
Tiba-tiba....
"Woi, Tedjo!" sapa seseorang yang Yumi hafal wajahnya.
Tedjo melambaikan tangannya, lalu menghampiri orang itu. Sementara Yumi hanya membelakangi mereka sambil diam-diam mendengarkan apa yang Tedjo dan laki-laki itu bicarakan.
"Yumyum, sini lo. Temen-temen gue mau kenalan sama lo."
"Lo manggil gue?" tanya Yumi pada Tedjo.
"Iyalah."
Yumi datang ke arah Tedjo dan seseorang itu. Dan ternyata benar, seseorang itu masih membawa pasukan seperti tempo hari.
"Kenapa ya, Bang, manggil saya?" tanya Yumi.
__ADS_1
"Wah... berani juga nih cewek." kata salah seorang di kelompok itu.
"Mau apa kalian?" tanya Yumi lagi.
"Jadi, elo yang udah ngelempar telur busuk ke Baruna? Kenapa lo ngelempar temen kita, hah?" tanya ketua geng yang Yumi pikir sudah merundung Baruna beberapa hari yang lalu.
"Hah? Gue kan nolongin Baruna dari bulian kalian. Telur busuk itu mau gue lemparin ke kalian, tapi malah Baruna yang kena."
"Kita ini temennya Tedjo sama Baruna. Ya kali mau ngebuli Baruna."
"Hah?!" Yumi kemudian menatap Tedjo dengan memelas. "Kenapa lo nggak cerita sama gue?"
"Hahaha... lo pikir mereka adonan kue makanya lo lempar pake telor?" ledek Tedjo.
"Bisa diem nggak lo?" tanya Yumi geram.
"Baruna marah banget sama lo, Yum, katanya. Dia bilang sama gue dan yang lainnya di grup chat semalam."
"Beneran?"
"Lo nggak tau kan, Baruna kalo udah marah, dia bisa mukul siapa aja."
"Dia nggak mungkin mukul ceweklah."
"Iya sih, cewek. Kecuali elo."
"Maksud lo apaan? Jadi, lo pikir gue cowok gitu?"
"Jadi, lo beneran cewek?"
Yumi geram dengan Tedjo yang sudah cengengesan sekarang.
"Kenapa jadi lo berdua yang berantem? Tedjo, bilangin deh ama nih cewek kalo kita-kita ini temen lo sama Baruna. Biar dia percaya."
"Bener, Yum. Nih orang-orang semua emang temen gue sama Baruna. Mereka tuh siswa drop out, tapi mereka pinter-pinter kok."
"Kalo mereka semua pinter-pinter, terus kenapa dikeluarin dari sekolah?" tanya Yumi heran.
"Nih orang-orang dikeluarin juga gegara hal yang baik. Kayak si rambut gondrong yang pake celana di kepala itu tuh. Dia dikeluarin gegara ngusap kepala Kepala Sekolah." jelas Tedjo dengan bicara pelan pada Yumi.
"Kepala Kepala Sekolah?" tanya Yumi karena kedengaran aneh.
Tedjo mengangguk.
"Terus, cowok yang pake tanktop kuning itu tuh. Dia dikeluarin gegara masalah ekonomi."
"Kasian banget." komentar Yumi turut prihatin.
"Iya. Soalnya dia sering banget bayar uang sekolah lebih dari yang diminta."
"Nyesel gue kasian sama tuh cowok."
"Terus, cowok yang mukanya dicoret spidol, dikeluarin gegara masalah yang paling sulit di antara yang lain."
"Apaan masalahnya?"
"Itu mah namanya emang kurang kerjaan." dengus Yumi.
"Jangan ngomong kayak gitu dong, Yum, depan temen-temen gue. Itu bisa ngelukain hati mereka, tau." kata Tedjo memelas.
"Ya udah deh. Kalo gitu gue mau minta maaf. Gue bener-bener nggak sengaja ngelempar telur busuk ke Baruna. Awalnya niat gue mau ngelemparin kalian, tapi malah meleset. Maafin ya. Gue boleh cabut kan sekarang?" ujar Yumi menyesal.
"Iya deh, kita semua maafin gegara lo temennya Tedjo sama Baruna. Kalo nggak...."
"Kalo nggak apa?" Yumi takut.
"Kalo nggak... gue bakal ngusap kepala Tedjo."
"Kenapa harus kepala Tedjo sih?" tanya Yumi tak mengerti.
"Karena kalo kepala si Kepala Sekolah kan nggak mungkin banget. Gue kan udah dikeluarin gegara masalah itu." jawab cowok dengan celana di kepalanya.
"Mau gue panggilin Kepala Sekolah, nggak?" ledek Yumi.
"Nggak usah. Gue bisa nelponnya ntar. Ya udah, kita cabut dulu ya."
Mereka pergi sambil melambaikan tangannya. Tedjo dan Yumi pun ikut melambaikan tangan.
"Lo hutang nyawa sama gue. Mana makasihnya?" tanya Tedjo sambil merangkul Yumi.
Yumi yang kesal dengan cepat menepis tangan Tedjo yang ada di pundaknya.
"Orang kayak lo ini, apa nggak babak-belur kalo gue hajar?" tanya Yumi geram.
Tedjo mengulum senyumannya karena melihat Yumi yang cemberut.
...•••...
Yumi jalan terpisah dengan Tedjo karena akan menuju ke kelasnya.
"Allahu Akbar!" Yumi kaget karena saat ini di hadapannya ada Baruna.
Yumi terdiam dan terpaku.
"H-hai...." sapa Yumi garing.
"Gimana nih? Nih cowok masih marah nggak ya gegara gue lempar dia pake telur busuk? Kok dia diem doang? Nggak balas hai juga? Dia masih marah nggak, ya? Jangan-jangan nih cowok lagi nyusun rencana buat ngabisin gue. Bener nggak ya, yang dibilangin Tedjo." batin Yumi gemuruh.
Lain halnya dengan apa yang di pikirkan Baruna.
"Yumi masih inget nggak ya kejadian semalem? Nih cewek beneran nganggep gue korban bulian? Duh, malu banget gue. Mau gue taroh mana muka gue? Pasti sekarang Yumi nganggep gue cowok lemah." batin Baruna cemas.
"Terus gue mau ngapain coba? Oke, tenang. Ini gampang kok. Gue tinggal jalan lurus ke depan dan jangan liat balik ke arah tuh cowok. Pas dia lengah dan nggak fokus sama situasi di sekitar, gue bakal nyerang dia dari belakang. Setelah itu, Baruna bakal hilang ingatan dan ngelupain kejadian itu." batin Yumi, mantap dengan rencananya.
"Yang harus gue lakuin adalah belok ke kanan buat ngehindarin dia. Terus, lari di atap sekolah kayak kura-kura ninja." batin Baruna siap menyusun siasat.
__ADS_1
Yumi menghela napas sesaat. Tampaknya ia ragu dengan rencana yang sebelumnya. "Gue ngapain sih? Gue nggak mungkin nyerang Baruna. Tuh cowok pasti udah lebih dulu nahan kepala gue gegara dia tinggi banget kayak tiang tower." Isi kepala Yumi berkecamuk.
"Oke, deh. Sekarang waktunya."
"Satu... dua... tiga!!!"
Hiaaaaaaaat!!!
Tapi, kenyataannya malah....
Yumi kembali menyapa Baruna dengan tersenyum. "Hai, cowok."
Dan Baruna membalas sapaan Yumi dengan senyum manisnya. "Hai, cewek."
Mereka berlalu begitu saja.
Dan, benar saja. Tidak ada peperangan yang terjadi seperti apa yang mereka pikirkan sebelumnya.
Memang pertempuran yang sangat mencengangkan.
...•••...
"Pag...i!!" sapa Yumi begitu akan masuk ke kelasnya.
Tapi, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya kemudian bersembunyi di balik pintu.
"Kenapa tuh cowok ada di sini?" gumam Yumi.
Ketika Yumi masih mengamati sosok asing di kelasnya, seorang laki-laki menghampirinya dan ikut bersembunyi di balik pintu.
"Lo ngintipin apaan?" tanya laki-laki itu membuat Yumi tersentak kaget.
"Allahu Akbar!!!"
Karena kaget Yumi pun tidak bisa menjaga keseimbangannya sampai akhirnya jatuh ke lantai.
"Yumi!!!"
Laki-laki yang membuat Yumi kaget dan laki-laki yang diamati Yumi tadi pun segera membantu Yumi berdiri.
"Hai lagi...." Yumi tersenyum kikuk karena menahan malu.
"Lo nggak apa-apa, kan?" tanya laki-laki yang diamati Yumi.
Yumi menggeleng dengan wajah yang tertekan.
"Baruna? Kok lo ada di kelas kita?" tanya laki-laki lain yang tiba-tiba menimbrung.
"Gue baru dipindahin ke kelas ini, Bang." jawab Baruna sambil tersenyum pada Awang yang bertanya sebelumnya.
"Hah?!!" Yumi terbelalak.
"Ohoo.... Jadi, lo tadi lagi ngintipin Bar...."
Yumi langsung menutup mulut Awang dengan tangannya.
"Tolooohhngggg...." Awang sulit bernapas.
"Nggak apa-apa kok. Obatnya udah abis." canda Yumi canggung, lalu membawa Awang menjauh dari Baruna.
Setelah kejadian tadi berlalu, Yumi pun mulai bertanya lebih dalam pada Baruna. Saat ini, mereka sudah duduk di bangku kelas.
"Run, soal kemarin...."
Baruna panik. Ia sudah tahu arah pembicaraan Yumi.
Sementara itu, Awang sedang sibuk bermain game di ponselnya.
"Lo suka ikan buntal nggak, Yum?" potong Baruna. Ia panik jika Yumi memberitahu Awang tentang buli itu. Meskipun hanya salah paham, tapi Baruna juga tidak ingin Awang salah paham.
"Ikan buntal mana bisa dimakan." jawab Yumi. "Run, gue mau bahas yang kemarin dulu."
"Ikan buntal masih sodaraan sama dugong nggak ya?" Baruna berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya Allah, Run. Gue mau ngejelasin soal lo yang kena buli kemarin. Gue mau...."
Baruna bangkit dari duduknya, membuat Yumi kaget.
"Gue udah nggak inget." tukas Baruna sambil menatap Yumi tajam. "Udah deh. Gue tiba-tiba anemia."
"Anemia? Hubungannya apa anemia sama nggak ingat apa-apa?" tanya Awang bingung.
"Ya adalah. Anemia kan lupa ingatan." balas Baruna.
"Amnesia tuh, Bar. Ya Allah, begonya keliatan banget." ledek Awang cengengesan.
"Serah-serah guelah, Bang. Mulut, mulut gue juga."
Kemudian, Baruna pergi dari kelas itu sambil menahan malu.
"Baruna kenapa, Yum?" tanya Awang pada Yumi.
"Kebelet kali." jawab Yumi seadanya.
"Lo apain Baruna sih, Yum?" tanya Awang. "Ampe grogi tuh anak."
"Mana ada gue apa-apain." Yumi bingung padahal ia hanya ingin meminta maaf karena sudah menganggap Baruna dirundung waktu itu.
Awang menghela napas. "Bang Ishak sama Caca kok pada belum dateng sih? Jangan-jangan tuh orang dua kencan diem-diem di belakang gue? Awas aja kalo sampe Bang Ishak ngerebut Caca dari gue. Caca oh Caca~" sungut Awang.
"Udahlah, Bang. Lo tuh bukan tipenya Caca." Yumi frustasi mendengar celotehan Awang.
"Terus tipe Caca kayak apa, Yum?"
"Kayak sikat gigi."
__ADS_1
...•••...