SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Sepupu Tedjo


__ADS_3


...•••...


Pukul 06:00....


Yumi bangun tidur dengan susah payah. Pinggang dan kakinya sangat sakit karena Tedjo yang menimpanya tadi malam dan tempat tidur yang sempit untuk dua orang.


Yumi berusaha turun dari ranjang dengan perlahan agar sakit di tubuhnya tidak terlalu terasa. Rasanya sulit untuk menggerakkan kakinya.


Tedjo tiba-tiba membuka matanya dan langsung menatap Yumi dengan tatapan datar.


"Kenapa lo?" tanya Tedjo.


"Nggak usah nanya." jawab Yumi sambil meringis sakit.


"Pinggang lo sakit? Gue gendong, mau?"


"Kaki gue susah digerakin nih. Ini semua salah lo, tau nggak."


"Kenapa jadi salah gue?"


"Lo tidur tuh banyak makan tempat. Lo juga nendangin gue pas tidur. Lo nggak bakal ngelupain perlakuan lo ke gue."


"Kenapa lo nggak bales balik aja nendang gue? Impas, kan?"


"Gimana gue bisa ngebales lo. Lo tuh berat. Pergi sono." usir Yumi kesal.


"Yakin nggak mau digendong?"


"Kurang jelas gue ngomongnya?"


Tedjo menghela napas. "Iya, iya."


Tedjo melesat pergi dengan cepat.


"Tumben langsung pergi? Duh, pinggang gue.... Awas aja lo ya, Tedjo. Lain kali gue yang bakal nindihin lo." rutuk Yumi.


...•••...


Pagi ini hujan turun dengan derasnya, sehingga tidak ada kegiatan di luar yang akan Tedjo dan Yumi lakukan.


Tedjo dan Yumi duduk di sofa sambil melihat ke arah Beno dan Rinda bergantian.


"Lo berdua tau nggak, kalo jus toge tuh bisa ningkatin kesuburan? Gue dan ayang Beno udah bikinin kalian jus toge." kata Rinda bersemangat pada Yumi.


"Hah?! Jus toge? Woi. Kalian pikir kita nggak subur, gitu?" tanya Yumi tak terima.


"Ibarat kate nih ye, kite tuh rumput liar yang nggak perlu di siram udah subur sendiri." tambah Tedjo.


"Emangnya rumput termasuk tanaman?" tanya Rinda pada Beno yang sudah mengangkat bahu, tidak tahu.


"Tedjo, Yumi, bukan gitu maksud kita. Ini demi kebaikan kalian. Apa salahnya sih nyoba? Lo pasti suka sama jus toge buatan ayang Rinda, Djo." ujar Beno.


"Maksud lo apaan?" tanya Tedjo seolah akan menjadi kelinci percobaan.


"Nih, minum. Kita udah bikin delapan liter jus toge buat kalian." kata Rinda semakin bersemangat.


"Tedjo, ini buat lo." Rinda memberikan segelas jus toge itu.


"Gue juga minum nih? Baik banget lo." kata Tedjo frustasi, tapi tak ada cara untuk menolaknya. "Gue minum nih, ya?"


"Gimana? Seger, kan?" tanya Rinda.


Tedjo memasang wajah serius atau lebih tepatnya menahan rasa mual.


"Seger!" kata Tedjo terdengar terpaksa.


"Beneran? Gue juga mau nyoba deh." kata Yumi sambil meneguk jus toge itu. Namun, dalam sepersekian detik, ia menyemburkan jus itu ke arah Tedjo.


Tedjo mengusap wajahnya pasrah.


"Yumi, lo nggak apa-apa?" tanya Rinda.


"Seger banget. Gila." kata Yumi berbohong. Ia tersenyum kikuk.


"Satu teguk doang, khasiatnya langsung berasa." Tedjo tertekan. "Iya kan, Yum?"


Yumi mengangguk cepat.


"Ya udah. Kalo gitu lo berdua habisin delapan liter jus toge ini, ya? Kasian Rinda, udah capek-capek buatinnya." kata Beno.


"Hah?" Tedjo tiba-tiba cegukan.


Selama proses meminum jus toge itu, Tedjo berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa mualnya.


Selang beberapa menit kemudian, Rinda muncul kembali sambil membawa nampan berisi makanan yang terlihat lezat.


"Makanan datang!"


Tedjo dan Yumi memukul dada mereka pelan.


"Kayaknya enak tuh" kata Tedjo mengira jika penderitaannya dengan jus toge itu sudah berakhir.


"Kalian harus cobain masakan buatan ayang Rinda. Kalian pasti nagih." kata Beno.


"Kan kita bisa mesen makanan dari hotel. Jadi, lo nggak perlu repot-repot masak." kata Yumi heran melihat Rinda yang rajin memasak untuk semua orang.


"Nggak apa-apa kok, Yum. Lagian gue juga lagi belajar masak. Itung-itung simulasi dulu sebelum masakin ayang Beno." jawab Rinda sambil cekikikan. "Nah, sebelum lo berdua makan, gue iket tangan kalian ya?"


"Kok diiket segala sih?" tanya Tedjo bingung.


"Biar lo berdua nggak kabur." jawab Rinda.


"Ngapain juga kita kabur." timpal Yumi kesal.


"Cuman jaga-jaga aja kalo terjadi sesuatu." jawab Rinda enteng.


"Oh iya, Beno mana?" tanya Tedjo.


"Tuh dia!"


Beno yang tadi pergi ke arah dapur tiba-tiba kembali dengan sebilah pisau di tangannya.


Tedjo dan Yumi tersentak kaget.

__ADS_1


"Tedjo! Gue pikir ini waktu yang tepat! Meskipun gue suka kasarin elo dan nggak peduli sama lo, tapi sebenernya gue sayang sama lo!"


"HAH?!"


Tedjo terbelalak tak percaya. Meskipun pernyataan itu tiba-tiba dan terdengar seperti penghapusan dosa sebelum mati tapi ia seperti tersengat tawon. Tedjo senang.


"DIEM WOI!" teriak Beno.


"Lo mau ngapain, Ben?!" tanya Tedjo panik.


"Gue cuman mau bersenang-senang sama lo berdua. Biar kalian bahagia." jawab Beno dengan seringaian aneh di bilah manisnya.


"Kita udah bahagia kok! Lo berdua ngehibur banget!" seru Tedjo keringat dingin.


"Tapi, nggak cukup bahagia, kan?"


"Aaarrghhhh!"


"Kok teriak sih? Gue cuman mau ngelepasin ikatan Rinda." kata Beno sambil melongo. "Ada-ada aja ya Bini gue."


Tedjo dan Yumi akhirnya bisa bernapas lega.


"Maaf, ya. Gue becanda doang kok ngiket lo berdua tadi. Beno nggak suka gue becanda begitu." jelas Rinda menyesal.


"Ya udah, yuk makan gais." ajak Beno untuk menyantap sarapan buatan Rinda.


...•••...


Tedjo dan Yumi berlari ke arah kulkas dan segera mencari jus jeruk.


"Gue duluan!" kata Yumi merampas minuman itu.


"Guelah!"


"Ini punya gue, ege!"


"Tapi, gue yang beliin!"


"Gue yang ngambil lebih dulu! Siniin!"


Yumi meneguk minuman itu dengan perasaan lega.


Begitu Yumi selesai minum, Tedjo langsung meminumnya juga untuk menghilangkan rasa mual di mulutnya.


"Lo nggak ada niatan buat tukar tambah sepupu lo apa?" tanya Yumi kesal.


"Mereka bakal berubah seiring berjalannya waktu jok. Jadi, tahan-tahanin aja dulu." jawab Tedjo enteng.


"Tahan-tahan pala lo! Gue hampir koid gegara tuh jus toge! Terus, gue mikirnya masakan si Rinda tuh bisa ngilangin enek di mulut gue, eh ternyata makin parah." cerocos Yumi tak tahan lagi.


Tedjo dan Yumi memakan roti isi untuk menghilangkan rasa mualnya.


"Tedjo? Yumi?"


Tedjo dan Yumi berhenti mengunyah makanan mereka begitu tahu Beno dan Rinda menghampiri mereka tiba-tiba.


"Lo berdua lahap bener ya makannya tadi." ujar Beno dengan senyuman lebar di wajahnya.


Tedjo dan Yumi hanya mengangguk karena di mulutnya masih ada roti yang belum sempat mereka kuyah.


"Masakan bini gue enak, kan?"


"Wah... lo berdua jadi kehilangan kata-kata ya, saking ngenikmatinnya."


Mereka mengangguk lagi.


Yumi hampir tersedak karena roti yang di mulutnya.


"Yumi, muka lo kok memerah gitu? Lo marah ya gegara Tedjo ngabisin makanan lo?" tanya Rinda.


Yumi menggeleng cepat.


"Tedjo, lo nggak boleh gitu sama istri lo. Harusnya lo sisain tadi buat Yumi. Ngerti?"


Tedjo mengangguk.


"Asal kalian tau aja, kalian tuh orang yang beruntung karena udah ngerasain masakan ayang Rinda. Gue aja belum pernah nyoba. Kata ibu mertua gue, masakan Rinda bisa menyebabkan serangan jantung saking enaknya. Makanya, gue nggak dibolehin makan masakan ayang Rinda." tutur Beno terlihat sedih.


Tedjo dan Yumi mengangguk pasrah.


"Pantes...." batin Tedjo.


"Jadi, gimana masakan bini gue? Enak?" tanya Beno.


Tedjo dan Yumi dengan cepat mengacungkan jempol mereka.


Rinda terharu.


"Beneran? Makasih.... Gue nggak percaya kalo kalian bakal suka. Sebenernya, gue nggak pernah nyicipin masakan gue. Karena itu emang udah jadi tradisi di keluarga kami." jelas Rinda.


Tedjo dan Yumi hanya tertawa kecil. Mereka merasa tertekan karena sudah menjadi kelinci percobaan Beno dan Rinda.


"Makasih ya udah buat ayang Rinda gue seneng."


Beno dan Rinda pun bergegas dari hadapan Tedjo dan Yumi.


Tedjo dan Yumi akhirnya bernapas lega. Namun, pasangan menyebalkan itu tiba-tiba berbalik badan ke arah mereka lagi.


"Oh iya, satu lagi."


Yumi yang tidak tahan akhirnya menyemburkan roti di mulutnya ke arah wajah tampan Beno.


"Astaghfirullah! Maaf, maaf!" Yumi kaget.


"Sayang!" seru Rinda sambil menyeka sisa-sisa roti di wajah Beno.


"Tedjo, ada satu hal lagi." kata Beno meskipun wajahnya sudah belepotan.


"Apaan? Lo mau ngasih gue wasiat?" tanya Tedjo.


"Gue sama bini gue mau nginap beberapa hari lagi di sini. Boleh, ya?"


Tedjo dan Yumi menghela napas berat.


...•••...

__ADS_1


"Tedjo?"


"Iya, Pak. Ada apa, ya?" Tedjo menerima telepon dari Pak Selamet.


"Ternyata sepupumu itu ndak jadi bulan madu di pulau Bintan."


"Hah?!!"


"Mereka ndak bisa pergi karena orang tua dari istri sepupumu bakal marah kalo ndak sekolah. Makanya, mereka ndak jadi liburan di sana." jelas Pak Selamet di seberang sana.


"Lah, terus tuh orang siapa?" gumam Tedjo panik.


"Apa? Kamu bilang apa, Djo?"


"Nggak kok, Pak."


"Ya sudah. Selamat bersenang-senang ya kalian di sana. Jangan lupa pulang."


"Iya."


Telepon ditutup.


"Kenapa?" tanya Yumi.


"Kenapa bisa lo punya firasat yang kuat?" tanya Tedjo pada Yumi.


"Maksud lo apaan?"


"Mereka ternyata bukan sepupu gue."


"Apa gue bilang! Gue bahkan udah minum tuh jus toge gegara lo pikir mereka tuh sepupu lo!" omel Yumi.


"Terus, ini gimana?"


"Gue boleh ngetawain lo nggak sekarang?" goda Yumi membuat Tedjo cemberut.


Tedjo dan Yumi menghampiri Beno dan Rinda yang asik makan cemilan sambil nonton tv.


"Beno?" panggil Tedjo.


"Hm?"


"Lo bilang nama Emak gue Titin, kan? Kalo gitu lo pasti tau nama bapak gue." tanya Tedjo curiga.


Beno diam sebentar, tampak sedang berpikir keras.


"Jelaslah gue tau. Gue sama om kan udah deket waktu gue masih kecil. Kita sering main kelereng jam duabelas siang." jawab Beno mengulur-ulur waktu.


"Terus, nama bapak gue siapa?" tanya Tedjo tak sabaran.


"Ya jelaslah... nama bapak lo... Sumanto, Kan? Udah gue bilang kalo kita ini tuh sepupu deket. Pas bapak sama emak lo nikah aja, gue dateng kok." jawab Beno makin melantur.


Tedjo terbelalak, namun sebaliknya Yumi berusaha menahan tawa.


"Woi! Bapak siapa yang lo maksud?! Nama bapak gue tuh Selamet Kongratulesyen! Bukan Sumanto! Lo sebenernya sepupu siapa sih?!" seru Tedjo karena kaget begitu mengetahui kalau Beno bukanlah sepupunya.


"Hah?! Terus, kenapa lo ngaku-ngaku jadi sepupu gue?!" tanya Beno ikut heran. Ia juga terkejut dengan kenyataan ini.


"Lo yang ngaku-ngaku, ege!" seru Tedjo kesal.


"Kalo gitu, maafin gue deh. Gue beneran nggak tau kalo lo bukan sepupu gue. Gue pikir kita sepupu. Karena hati gue ngarahnya ke elo." ucap Beno sedih.


Tedjo mendengus kesal. "Gue juga mikirnya gitu. Mana gue udah meluk lo, lagi."


"Ya udah, kalo gitu gue sama istri gue pamit ya."


"Hah? Segampang itu ngusir kalian?" Tedjo bingung.


Beno dan Rinda bergegas membereskan koper mereka.


"Yumi, gue tau lo suka temenan sama gue. Jadi, lo jangan nangis ya." kata Rinda sambil memeluk Yumi.


"Iyain." batin Yumi sambil tersenyum terpaksa.


"Gue bantuin ya? Biar lo berdua cepat pergi." Yumi pura-pura bersikap manis.


"Hah?"


"Eh, maksud gue... biar Beno nggak lama nungguin lo." Yumi tersenyum manis.


Akhirnya, Beno dan Rinda akan segera pergi.


"Tedjo, maapin kita ya? Gue harus pergi dan nyari sepupu gue yang sebenernya."


"Iya, pergi sono lu. Beno... meskipun lo ngeselin, tapi lo sepupu terbaik sepanjang sejarah." Tedjo kemudian memeluk Beno.


Beno dan Rinda melambaikan tangan.


Tedjo dan Yumi balas melambai dengan senang hati.


"Sayang, aku baru ingat. Bukannya aku ini anak yatim piatu? Kamu juga hidup sebatang kara, kan? Jadi, kamu nggak punya keluarga sama sekali." kata Rinda polos.


"Hah?! Oh iya, aku juga baru ingat. Ya udah, ayo kita cari tumpangan yang lain." Beno dan Yumi pun segera pergi dari kamar hotel.


"Ternyata lo emang sebego yang gue pikir ya." dengus Yumi.


"Kok gue jadi sedih gini ya, Beno pergi." gumam Tedjo.


"Woi, lo jangan kegeeran gegara omongan gue tadi pagi, ya? Gue cuman becanda. Gue mana sampai hati bilang gue benci sama lo depan tuh anak dua." kata Yumi sebelum Tedjo berpikir ia sudah jatuh cinta.


"Lo selalu mikirin perasaan orang lain, sampe-sampe lo lupa sama perasaan lo sendiri." kata Tedjo dengan wajah serius.


"Apaan sih?" Yumi hanya membalas dengan gusar.


"Lo tau perasaan itu, kan?" tanya Tedjo.


"Perasaan apaan?"


"Perasaan pengen berak. Kesiksa gue nahannya lama-lama. Apalagi kalo ada orang di dalam toilet." canda Tedjo dengan nada yang dramatis.


"Gue buang lo ke laut, mau ya?" tanya Yumi geram.


"Mau. Asal lo juga ikut ya?" goda Tedjo sambil tersenyum manis.


Yumi mendengus untuk menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


...•••...



__ADS_2