
dini pulang ke rumah mamah dia sudah tak mau lagi masak di pabrik karena gaji kami tak juga keluar,dia lama lama bosan hanya memasak saja tapi tak di gaji seperti yang di janjikan.aku tetap bertahan di sini bukan tuk bekerja dengan mereka tapi aku tetap mencari kayu bakar dengan bang ahan.sambil menunggu uang gaji itu keluar.
berbulan bulan aku menunggu tapi tak juga ada hasil,aku sedikit pasrah.aku tak lagi tinggal di pabrik melainkan tinggal dengan bang ahan, istri bang ahan tak keberatan aku menumpang dengan nya.aku di terima dengan baik di sini,aku juga tak tinggal diam tentang dapur aku membantu juga tentang belanja walaupun sudah di larang bang Ahan tapi aku malu kalau hanya menumpang saja tanpa membantu belanja.
"kak mau kemana,"tanyaku pada istri bang ahan
"ke kebun ngutip kopi selagi ada kutipan,apalagi hari minggu adek adek bisa di rumah aja"
"ikut boleh gak,lagian musim hujan gini gak bisa order kayu juga"tanya ku ingin ikut ke kebun agar tak bosan di rumah
"emang kalian gak ke hutan,biasa nya kalau hujan kalian tetap motong kayu,kalau panas tinggal muat ke mobil aja"
"gak lah cuman ngabisin minyak aja tuk apa,kalau ada kopi mending ngutip dulu biar ada uang masuk"
"ya udah ayok" ajak nya
di sini lah aku sekarang di kebun warga dekat rumah bang ahan aku ikut ngutip kopi dengan kak tari istri bang ahan,walau pun cuaca sedikit mendung dan dingin kami tetap bergelut di tengah tengah pohon kopi.badan ku udah basah setengah karna hujan semalam,apalagi tak ada panas sedikitpun membuat daun daun kopi nya basah.walau begitu tak menyurutkan niat kak tari membantu mencari nafkah.sampai siang hari kami berhenti makan siang di gubuk.walau makan seadanya kami semua makan dengan lahap apalagi dengan suasana perkebunan.
sampai sore kami masih di kebun.
"ayah zahra ayok pulang udah sore,besok lagi."ajak kak tari pulang
"kakak aja duluan aku bentar lagi,biar aku bantu langsir kopi pulang dulu."
"ya udah aku duluan gak usah sore sore kali pulang nya"
__ADS_1
"oke bos"ku acung kan jempol ku
beberapa minggu aku tinggal bersama mereka aku merasa mendapatkan saudara baru,mereka sudah menganggap aku seperti adek nya sendiri.itu maka nya aku betah tinggal di sini.
setiap aku gajian hasil ngutip kopi uang nya sebagian aku kirim tuk dini,sebagian aku membantu belanja kak tari,walau sering dia menolak.aku tak kehabisan akal aku tak pernah kasih uang sama kak tari melainkan aku belanja bahan bahan dapur agar tak di tolaknya.
terkadang aku seminggu sekali pulang ke rumah dini tuk melepas rindu dengan mereka,bukan aku tak mau mengajak mereka bersama ku.tapi aku saja masih menumpang,dan zahra juga sudah masuk sekolah. lagi pula dini juga tak terbiasa bekerja di kebun.
tak terasa aku sudah 6 bulan tinggal dengan bang ahan susah senang nya sudah aku rasakan bersama mereka bahkan sampai kami benar benar di titik terendah pun mereka tetap menerima aku di sini. jangan kan tuk mengirim dini kami di sini pun pas pas tuk makan.bukan aku tak mau bekerja tapi memang lagi gak ada orderan kayu dan kopi juga sudah mulai tak ada buah panen.
cuaca beberapa hari ini sangat mendukung kami tuk memotong kayu lagi,aku dan bang ahan sedang asik dengan kerja masing masing kami memang sengaja berjauhan kerja nya.sedang fokus kerja tiba tiba
"aaaaaaaaaaaaagghh tolong ruuu"bang ahan berteriak sekencang kencangnya
"ada apa bang." tanya ku masih di tempat ku semula karna posisi ku di bawah nya jadi aku tak melihat apa yang terjadi,karna tak ada balasan aku naik ke atas di mana bang ahan bekerja tadi.
"ya allah kenapa bang,"ku lihat tangan bang ahan sudah berlumuran darah,tanpa pikir panjang aku lepas baju dalam ku tuk menutupi luka di tangan nya,kemungkinan terkena sinso sewaktu motong kayu tadi.mesin bang ahan juga masih hidup
"udah ayok kita pulang aja,biar di bawa ke puskesmas." kataku sambil membereskan alat alat kerja.
"iya,simpan aja dulu mesin nya di kayu kayu itu biar gampang nyarinya."kata bang ahan,padahal dia sudah terluka tapi masih saja memikirkan mesin
sepanjang jalan bang ahan agak meringis kesakitan menahan sakit di tangan nya.
sampai rumah aku memanggil kak tari yang mungkin sedang istirahat menemani anak nya yang paling kecil karna kurang enak badan juga.aku langsung meminta KK dan BPJS bang ahan tuk aku bawa ke puskesmas.kak tari bengong masih belum sadar karna masih setengah sadar dari tidur.
__ADS_1
"kak tari cepatan mana berkas nya,biar cepat antar bang ahan nanti pingsan lagi repotkan,"ucap ku
"iya iya sebentar,ini berkas nya.sebenar nya ada apa?" tanyak kak tari panik
"ini bang ahan nyobain sinso tajam gak,rupa nya tajam kenak tangan nya untuk aja masih utuh kalau putus kan bahaya gak bisa pegang sinso lagi" ucap ku sambil ketawa agar kak tari tak terlalu panik
"udah sana antar kan dulu cepetan" usir kak tari.padahal bang ahan pun masih ketawa ketawa biar kak tari tak terlalu panik nya.
pulang dari puskesmas ku lihat kak tari di depan pintu nunggu kami pulang.
"gimana" kak tari langsung bertanya padahal kami belum juga masuk rumah
"ya gimana cuman di jahit aja,gak putus juga kok" jawabku yang langsung mendapat pukulan dari kak tari
"jadi kamu mau tangan abg nya putus,iya?"
"ya gak kak.habis nya kak tari panik x ku lihat.orang bang ahan juga biasa aja apalagi tadi waktu di puskesmas.bidan yang jahitnya masih gadis kan makin senang lah bang ahan kak"kata ku biar kak tari sedikit kesal
"terus terus" kata kak tari bukan nya kesal malah penasaran
"ya bang ahan sok sok an nahan sakit,apalgi waktu di suntik kan 6 suntikan.aduh aduh sambil pegangan sama besi tempat tidur"aku memperagakan gimana bang ahan waktu di puskesmas.
"hahahahaha bang ahan kan emang takut jarum suntik kenapa tadi gak di video in aja kan lucu" kak tari malah ketawa bukannya kasian malah di ejekin aja bang ahan.
sedang bang ahan diam aja.
__ADS_1