SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Kerelaan Zach


__ADS_3

Setelah Hendra memberi kabar kepergian Tiffany ke luar negeri, benak Zach diliputi tanda tanya besar. Bagaimana bisa perempuan yang sudah menjalin hubungan dengannya selama empat tahun itu tega meninggalkannya tanpa satu patah kata pun. 


 


Kesibukan di kantor memang cukup menyita waktu dan tenaganya, tapi saat Zach berada di rumah terbaring sendiriann di kamar, bayangan Tiffany selalu menari-nari di pelupuk matanya. 


 


Suatu malam, Zach menyempatkan diri untuk keluar menemui Hendra dan Satria di tempat tongkrongan mereka. Kedua sahabatnya itu menyambutnya antusias seolah Zach adalah prajurit yang baru selamat dari medan laga. 


 


“Sumpah, aku kira sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi, Bro, hampir saja aku bikin acara yasinan seratus hari untukmu!” seru Satria sambil memukul bahu Zach sebelum menariknya ke dalam pelukan. Hendra juga bersikap sama, menyambut hangat sahabatnya yang telah menghilang sekian purnama. “Tidak seru kalau tidak ada kamu Zach, sepi.” Hendra mendorong sohibnya itu dengan kasar sebelum menariknya lagi, membuat Zach tergelak.


 


“Maksudnya tidak seru karena tidak ada yang traktir kalian minum ‘kan? Sudah hapal aku dengan kelakuan kalian, temen kurang akhlak semua,” sahut Zach sambil tertawa lebar. 


Mereka memesan minuman dan ngobrol kesana kemari sampai akhirnya membahas tentang kepergian Tiffany ke luar negeri. 


 


“Beneran dia tidak pamit sama kalian juga?” tanya Zach dengan mimik muka serius. 


 


“Tidak ada, Bro. Terakhir kita ketemu yang waktu itu aku menelponmu, tapi kamu tidak mengangkatnya. Tiffany bilang masih mau menunggu kabar darimu, tapi setelahnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.” Hendra mengendikkan bahu. 


Zach merasa penasaran, karena tidak biasanya Tiffany mengabaikannya, bahkan tak menghubunginya sama sekali.


 


Sikap uring-uringan ini terbawa saat dia pulang ke rumah. Julia sedang membantu menyiram bunga di taman depan, saat melihat mobil Zach datang. Gadis itu langsung menyapanya.


 


“Hai, Kak, baru pulang? Sebentar aku bikinin teh dulu,” ucap Julia sambil menaruh selang air.


 


“Tidak usah, aku tidak haus,” jawab Zach ketus sambil menutup pintu mobil lalu bergegas memasuki rumah. Julia merasa Zach bersikap sedikit aneh, tapi gadis itu langsung menepis pikirannya sendiri.


 


“Mungkin Kak Zach sakit,” batinnya. Julia tetap menyeduh teh hijau untuk Zach lalu mengantarkannya ke dalam kamar pria yang sedang patah hati itu.


 


“Ngapain kamu masuk tidak ketuk pintu dulu?” teriak Zach saat melihat Julia datang dengan secangkir teh di atas baki. Sebenarnya dia tahu tak mungkin Julia mengetuk pintu dengan dua tangan sibuk memegang baki, tapi karena mood-nya memang sedang buruk, dia menyalahkan Julia sebagai pelampiasan kekesalan. 


 

__ADS_1


“Maaf, Kak. Ini tehnya diminum dulu,” ucap Julia merasa bersalah. Dia juga merasa akhir-akhir ini Zach sedang uring-uringan tak keruan.


 


“Kakak lagi capek? Mau aku temenin nonton di sini? Atau kita ke bioskop aja? Avatar udah main, loh. Yang sekarang The Way of Water seru banget, jadi mereka harus bertahan hidup di pulau baru yang dekat sama laut, hidupnya lebih banyak di laut gitu.”


 


Mata Julia yang berbinar menggantungkan harapan sontak membuat Zach tak bisa menolak permintaan itu. Ternyata upaya Julia untuk mengembalikan mood Zach memang tak sia-sia. Usai menonton, wajah Zach berangsur cerah.


 


“Keren 'kan Kak? Aku suka karakter Kiri di sini. Pinter banget cewek itu beradaptasi, dari kehidupan di hutan, berubah masuk ke dalam laut, tapi tetap saja dia punya energi terselubung untuk mengendalikan makhluk laut. Keren abis,” seru Julia usai nonton film.


 


“Mengandung bawang filmnya, aku tidak suka waktu bagian Neteyem … ah sudahlah, memang kita harus berkorban untuk orang-orang yang kita sayangi, ya keluarga. Terkadang juga harus mengorbankan kebahagiaan kita sendiri. Deep banget, so sad,” isak Zach sedikit mellow usai menonton film yang diusulkan Julia. 


 


Zach sangat mencintai Tiffany, tapi demi kebahagiaan kedua orang tuanya dia rela bertunangan dengan Julia, padahal ia tahu kenyataan itu melukai Tiffany, dan menyakiti dirinya sendiri tentu saja. 


 


Terkadang Zach menyesali, andai tidak ada perjodohan tersebut mungkin Tiffany masih ada di sini, masih bersamanya. Mereka akan tetap menjadi pasangan kekasih yang saling mengerti dan memahami, saling memberi dan menerima. 


 


“Kakak mau makan dulu? Itu aku lihat di warung tenda ramai sekali, ada nasi bebek. Kayaknya enak, deh.”


 


 


“Mau tambah sambalnya?” tanya Julia seraya mengamati piring Zach. Pria itu mengangguk. 


 


Baru kali ini Zach makan di warung tenda, dan ternyata benar kata Julia rasanya sangat nikmat, bahkan sambalnya juara.


 


Diam-diam Julia tersenyum senang melihat Zach yang hari-hari terakhir terlihat murung sudah mulai bersikap normal. Gadis itu tak banyak bicara, ia hanya sedikit mengalihkan perhatian Zach dari kesedihannya. 


 


“Jangan begadang sudah malam, Kakak langsung tidur, ya.” Mereka berpisah di depan pintu kamar masing-masing.


 


“Julia tunggu dulu!” teriak Zach saat melihat Julia hendak menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


 


“Iya, Kak, kenapa?” Gadis itu kembali membuka lebar pintu yang nyaris ditutupnya.


 


“Aku … aku minta maaf,” ucap Zach lirih.


 


“Minta maaf? Untuk apa?” Julia mengernyitkan dahi tak tahu maksud perkataan Zach. Pria itu tak melakukan kesalahan apa-apa, kenapa harus minta maaf?


 


“Maaf kalau akhir-akhir ini aku sedikit kasar padamu, bukan maksudku bersikap begitu, hanya saja ….”


 


“Iya, tidak apa-apa, kok. Aku ngerti. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat Kak Zach nggak nyaman. Sayangnya aku tidak bisa membantu karena tidak tahu caranya.”


 


“Justru kamu sudah sangat membantu.” Lagi-lagi Julia bingung, karena dia merasa tak melakukan apa-apa.


 


“Dengan diam dan tak banyak bertanya saja, kamu sudah membantuku. Intinya aku minta maaf kalau ada sikapku yang mungkin bikin kamu sakit hati.” Zach menurunkan suaranya.


 


Julia menggelengkan kepalanya. “Kakak mungkin kecapekan, jadi sebaiknya sekarang istirahat. Pekerjaan yang banyak, rutinitas yang monoton, kadang memang bikin kita burn out.”


Julia tersenyum manis seperti biasanya. Melihat senyuman itu hati Zach bagai disiram air es.  


 


Tidak seharusnya dia melampiaskan kekecewaan pada Julia yang sama sekali tidak tahu permasalahannya. Bahkan, gadis itu tidak pernah menghasut atau meminta Zach melupakan Tiffany. Julia membiarkan Zach menyelesaikan urusan hatinya sendiri. 


 


“Ya sudah, kamu juga langsung tidur, jangan baca novel terus. Bye.” 


 


Julia mengangguk lalu menutu pintu kamarnya. Zach berjalan gontai ke dalam kamarnya. Pria itu menggantung jaketnya, lalu mengempaskan tubuhnya di atas springbed. 


 


“Tiffany, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi caramu meninggalkanku sekarang ini sangat jahat. Aku tidak menyangka kamu bisa berbuat seperti ini, setega ini sama aku. Tapi kamu tidak usah khawatir, kalau memang kamu memutuskan untuk pergi dari hidupku, tidak apa-apa. Asal kamu bahagia, aku juga ikut senang.”


 

__ADS_1


Zach berbicara sendiri sambil menatap wallpaper di ponselnya yang menggunakan latar foto dirinya dan Tiffany. Perlahan-lahan, sambil menarik napas panjang, Zach mengganti wallpaper di ponselnya itu. 


 


__ADS_2