SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Memulai hidup baru


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan udara selama dua setengah jam, akhirnya mereka tiba di bandara Jakarta. Zach yang kelaparan meminta mereka makan dulu di restoran bandara. Julia baru teringat kalau mereka belum membeli oleh-oleh untuk mertua dan orang rumah, karena barang bawaan mereka tiba-tiba sudah sangat banyak.


Julia berinisiatif membeli kue-kue yang ia lihat di bandara, lalu berkata kepada Zach, ”sepertinya memang kita harus ke rumah mama dulu, aku merasa tidak enak kalau langsung balik ke apartemen.”


Zach yang sudah mendapatkan kekuatannya lagi setelah menyantap dua porsi nasi padang hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang dia merasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur.


Mereka sampai ke kediaman orang tua Zach, niatnya untuk memberikan kejutan sekaligus untuk pamit.


“Halo Ma,” sapa Julia saat melihat Intan sedang mengatur meja makan, meletakkan masakan Bi Ipah yang baru saja matang.


“Loh, katanya langsung balik ke apartemen, ternyata kalian datang, Mama benar-benar tidak menyangka kalian akan datang ke sini.” Intan segera memeluk Julia. Seminggu berpisah, wanita itu sangat kangen dengan menantunya.


“Makin cantik saja kamu, Julia. Auranya kenapa sekarang jadi beda, ya?” gumam Intan sambil menopang dagunya membuat Julia tersipu malu.


“Yah anaknya dilupakan,” seru Zach sambil memeluk Intan. Laki-laki itu bergeser memeluk Max yang menepuk-nepuk punggungnya dengan bangga.


“Ini ada sedikit oleh-oleh untuk Papa dan Mama.” Julia meletakkan paperbag dan beberapa box berisi oleh-oleh di atas meja.


“Aduh makasih, Julia. Seharusnya kamu tidak perlu repot-reot begini. Kalian pulang dalam keadaan sehat begini, sudah buat Mama dan Papa bahagia. Ayo, duduk, mumpung makanannya masih panas, kita makan bareng, yuk!” Intan mempersilakan keduanya duduk.


“Zach sudah kenyang tadi makan di bandara, Ma,” ucap Zach sembari mengelus perutnya.


Intan tertawa, perempuan itu melihat Zach makin terlihat segar dan tampan. Pasti karena dia sedang berbahagia dan terurus dengan baik.


“Wah, wajah-wajah kalian bikin mama iri. Sepertinya akan segera ada anggota baru, nih. Bener, kan, Pa?” Intan melirik ke arah Max yang juga tak henti-hentinya menebarkan senyum.


Max sangat senang karena Zach menuruti apa yang ia katakan hingga akhirnya sekarang bisa meluluhkan hati Julia.


“Mama ada-ada saja, do’ain yang terbaik, ya, Ma,” sahut Julia.

__ADS_1


“Mama mau cucu berapa? Nanti Zach kasih cucu sebelas, deh. Biar bisa bikin klub sepak bola, Zach pelatihnya,” seloroh Zach membuat derai tawa di ruang makan menggema hingga aura kebahagiaan itu benar-benar terasa bagi siapa saja yang mendengarnya.


Bi Ipah yang turut mendengarkan samar-samar dari dapur hanya bisa mengucapkan syukur karena Zach dan Julia sudah kembali dalam keadaan selamat.


“Semoga saja keluarga Mas Zach sama Neng Julia selalu seperti ini terus, berbahagia selamanya, tidak akan ada perselisihan lagi seperti kemarin-kemarin. Amiin.” Bi Ipah berkomat-kamit lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Setelah makan malam, Zach dan Julia segera pamit dan kembali ke apartemen.


“Ma, pa, sudah malam jadi Zach harus segera pulang ke apartemen. Besok 'kan Zach harus mulai kerja lagi.”


“Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu, biar besok fresh. Kalau memang masih capek, besok off juga tidak masalah, iya 'kan, Pa?” Intan menyenggol bahu suaminya.


“Atur saja, Zach,” jawab Max. Dia juga senang melihat rumah tangga anaknya sekarang.


“Sudah terlalu lama cuti, nanti karyawan pada keenakan kalau Zach kelamaan libur,” jawab Zach sekenanya.


Mereka berdua segera meninggalkan rumah Max menuju apartemen. Sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di apartemen.


Tiba-tiba tercetus ide di kepala Zach untuk mandi bersama. Mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, jadi apa salahnya?


“Ih, apaan sih, Kakak ini pikirannya mesum melulu. Sudah sana mandi duluan, aku mau beresin kamar dulu, banyak debu nih, ditinggal seminggu,” jawab Julia tak kuasa menahan senyumnya.


Dari seluruh kehidupan pernikahan yang sangat disukainya adalah momen di mana mereka berduaan sepertii ini. Julia bisa menjadi seorang istri seutuhnya, termasuk menyiapkan kamar tidur yang nyaman untuk suaminya.


Usai mengganti sprei, Julia segera menyalakan air purifier hingga ruangan itu menjadi lebih segar dari sebelumnya. Tak lupa Julia juga menyemprotkan pewangi ruangan, hingga keharuman aroma lavender yang lembut menguar kemana-mana.


“Wah, kamar kita jadi wangi begini. Enak banget punya istri yang pintar mengurus rumah,” gurau Zach sembari keluar dari kamar mandi.


“Kakak!” Julia segera memalingkan wajahnya saat melihat Zach bertelanjang dada keluar dari kamar mandi. Bagian bawah tubuhnya hanya terbungkus handuk ala kadarnya.

__ADS_1


“Aduh, Sayang. Kita 'kan suami istri, jangan malu-malu gitu, dong.” Zach menatap Julia yang masih memalingkan wajahnya.


“Iya, tapi bukan gitu konsepnya. Kalau keluar dari kamar mandi itu sudah rapi, jadi handuknya langsung digantung di kamar mandi, dong,” protes Julia beralasan.


Dia bukan terganggu dengan handuk basah, tapi justru dari handuk yang masih menutupi area privasi suaminya itu semua berawal.


Benar saja, Zach mendekatinya membuat Julia segera melompat menuju kamar mandi.


“Awas kamu, ya. Tunggu aja pembalasanku nanti!” ancam Zach saat tubuh mungil istrinya berhasil melepaskan diri dari pelukannya.


Malam itu sepasang pengantin baru yang baru genap sebulan menikah itu kembali melakukan aktifitas malam yang melelahkan sekaligus memuaskan keduanya.


Keesokan harinya, Zach bersiap untuk bekerja. Julia sudah sibuk sejak usai salat Subuh menyiapkan sarapan untuk Zach, padahal suaminya sudah berpesan agar mereka memesan makanan online saja.


“Nggak apa-apa meskipun cuma roti bakar, aku ingin membuatnya untuk kakak,” jawab Julia ketika Zach menegurnya agar tidak terlalu repot di pagi hari.


“Sampai kapan kamu akan panggil aku kakak?” tanya Zach sambil menyentil hidung Julia.


“Sampai kita punya anak,” jawab Julia sambil terkekeh.


Sejak awal dia sudah memanggil Zach dengan sebutan kakak, dan sangat sulit mengubah panggilan itu meskipun Zach berkali-kali protes meminta panggilan yang lebih intim.


“Ya sudah aku berangkat dulu, Sayang. Jangan kecapekan, baju-baju kotor dilondry aja di bawah. Tidak usah masak, beli matang saja, di bawah banyak restoran cepat saji.” Julia hanya mengangguk karena kalau dia menjawab, Zach bisa lebih lama menceramahinya melebihi Bi Ipah.


Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah Zach memberikan kecupan di kening Julia sebelum berangkat kerja. Rasanya hanya ada kebahagiaan di hidupnya.


“Ini tadi aku udah masakin bekal untuk makan siang Kakak. Lebih sehat, jadi Kakak tidak perlu beli makanan online atau keluar kantor.”


Zach hanya bisa menghela napas panjang. Percuma menasihati Julia supaya tidak usah masak, karena nyatanya istrinya memang semakin hari semakin meningkat skill memasaknya, sudah setara dengan para chef yang mengikuti kompetisi memasak di tivi-tivi. Meski begitu dalam hati kecil Zach sangat senang mendapatkan perhatian seperti ini.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, semua karyawan menyambut Zach dengan ramah. Hari semakin merangkak naik, sementara Zach terus menatap bekal yang diberikan Julia itu selama bekerja. Laki-laki itu tidak sabar untuk segera menyantapnya mengisi perutnya saat waktu makan siang tiba.


__ADS_2