
Pagi itu terasa nyaman untuk Zach, bahkan pria itu rasanya enggan untuk membuka mata. Indera penciumannya pun dimanjakan oleh harum shampoo yang tidak asing untuknya. Seketika Zach membeliak mendapati dirinya yang memeluk tubuh mungil Julia. Gadis itu tampak tertidur pulas. Zach sendiri bukannya melepas pelukan malah mengeratkannya.
Pria itu baru menyadari jika Julia sangat cantik. Bulu matanya yang panjang membuat Zach tidak henti memandangnya. Apalagi bibir merah pucat milik Julia yang sedikit terbuka, seolah menghipnotis untuk menyentuh benda kenyal itu.
"Aku baru tahu kalau kamu bisa secantik ini," batin Zach sembari menyentuh bibir mungil Julia. Pria itu seolah lupa pernah meremehkan kecantikan Julia yang di bawah standarnya.
Ternyata sentuhannya membuat Julia menggeliat.
"Hmphhh." Julia menggumam lalu perlahan-lahan membuka matanya. Alangkah terkejutnya Julia saat mendapati Zach sedang memeluk tubuhnya dengan erat. Bahkan guling pembatas yang bisa berada di antara mereka kini hilang entah kemana.
Sejenak Julia berusaha mengumpulkan kesadarannya, apakah malam tadi telah terjadi sesuatu antara dirinya dan Zach.
'Bukannya aku tidur duluan ya semalam? Tidak mungkin Kak Zach berani sentuh aku,' batin Julia lagi.
Zach berpura-pura tertidur saat Julia terjaga. Gadis itu segera melepaskan pelukan Zach dengan gerakan yang sangat halus dan berhati-hati takut membangunkan suaminya, lalu bangkit dari ranjang.
Diam-diam Zach tersenyum melihat tingkah Julia yang kikuk karena dirinya. "Menggemaskan, sama suami sendiri masih malu-malu begitu," desis Zach saat Julia bergegas masuk ke kamar mandi.
Hari itu Zach memutuskan libur dari kantor dan membiarkan Papanya bekerja.
"Aku ingin istirahat sehari boleh tidak, Pa? Kebetulan badan Zach pegal semua," ucap Zach saat melihat Max sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Boleh, dong. Pengantin baru memang harus banyak istirahat. Kamu mau cuti berapa hari pun pasti Papa izinkan. Ya, tidak, Ma?" ucap Max sambil melirik Intan.
__ADS_1
"Kemarin usai resepsi Mama sudah menawarkan kalian untuk honeymoon, tapi kamu bilang nanti saja. Ya tiketnya Mama cancel dulu. Gimana kalau sekarang saja bulan madunya?" Intan segera teringat kalau Zach belum berbulan madu.
Zach menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana mau bulan madu, tidur satu kasur saja masih diberi sekat guling. Zach mulai menyesali diri karena awalnya dialah pencetus ide bodoh itu.
"Nanti dulu Ma, gampang kalau honeymoon, kita juga belum tentuin mau kemana. Masih panjang waktunya. Yang penting Zach hari ini mau di rumah saja."
Intan gantian melirik Max yang langsung mengangguk tanda mengerti. Pasangan suami istri ini memang sangat kompak kalau untuk urusan mendamaikan prahara rumah tangga anaknya.
"Pa, Mama mungkin hari ini pulang agak malam. Ada arisan, trus mau nengok teman juga yang sakit, sama ... ada acara wedding anniversary teman Mama. Nanti pulangnya Papa jemput, ya!" rengek Intan.
"Tentu Darling, kalau perlu nanti malam kita juga ikut wedding anniversary di hotel, tidak usah pulang. Gimana?" Max mengedipkan matanya.
"Great idea, kita lihat saja nanti, ya. Ya sudah sekarang semua sarapan dulu. Julia ayo makan yang banyak, kamu juga harus menjaga stamina. Tadi Bi Ipah bikin beras kencur khusus untuk kamu."
Julia jadi seba salag mendengar kalimat Intan yang seperti menduga dia sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, padahal nyatanya Zach masih sibuk mengingat nama lain. Tiffany. Kenyataan itu membuat hati Julia perih. Gadis itu berusaha tegar di depan mertuanya.
"Itu karena kamu sedang berbahagia, Julia. Mama senang dengernya. Pokoknya jangan sungkan kalau mau apa-apa bilang saja. Apalagi kalau kamu sudah mulai ingin yang asam-asam, mangga muda, misalnya. Langsung saja lapor sama Mama, biar Mama beliin, oke?" Intan memandang Julia dengan penuh kasih sayang. Dia tak sabar ingin segera menimang cucu.
"Memangnya kenapa kalau Julia kepingin makan yang asam-asam harus bilang Mama? Dia bisa beli online sendiri," cetus Zach yang segera disambar tatapan mata tajam Intan. Zach terdiam seketika. Lagi-lagi Zach tidak mengerti dunia perempuan yang ia rasa sangat rumit.
Usai sarapan, Max langsung pergi bekerja ke kantor sementara Intan ikut sekalian untuk arisan.
Julia berjalan ke taman belakang untuk melihat tanaman yang beberapa hari ini sangat intens ia perhatikan. Gadis itu senang dengan aktivitas berkebun seperti juga suka dengan kegiatannya keluar masuk hutan.
__ADS_1
Saat hendak mengambil selang air, Julia kaget karena Zach ternyata mengikutinya.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Julia tanpa ekspresi. Zach bukannya menjawab hanya cengar-cengir tidak jelas. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya Julia segera mulai menyiram tanaman.
Zach melihat Julia dari teras, pria itu hanya duduk karena khawatir akan menghilangkan senyuman Julia lagi seperti kemarin. Kali ini Zach sudah bertekad untuk tidak membuat istrinya marah.
Julia sebenarnya risih dan mulai tidak nyaman berada di dekat Zach yang anehnya selalu mengikuti dirinya ke mana pun gadis itu pergi.
Saat Julia pergi ke dapur pun Zach mengekorinya. Julia menyeduh teh hijau yang biasa ia suguhkan untuk Zach. Bi Ipah yang melihat Julia membuat teh ditemani Zach menjadi senyum-senyum sendiri.
"Wah pasangan serasi, yang laki ganteng yang perempuan cantik. Rukun-rukun terus, ya, Mas Zach sama Neng Julia. Bibi sudah tidak sabar mau lihat anak-anak yang pasti juga ganteng dan cantik di rumah ini. Hihi, Neng Julia kalau Mas Zach mau, tehnya dikasih ginseng saja, di lemari obat ada, kok. Mau bibi ambilkan?" tanya Bi Ipah dengan polosnya.
"Apaan, sih, Bi?" Zach menyela.
"Oh, Mas Zach tidak suka ginseng? Gimana kalau telur ayam kampung setengah matang? Bibi bikinin mau?"
Julia nyaris tak bisa menahan tertawa saat wajah masam Zach ditanggapi dengan celoteh jahil Bi Ipah. Buru-buru ia membawa teh hijau itu ke ruang tengah.
Setelah mengomeli Bi Ipah, Zach langsung menyusul Julia yang sedang termenung di ruang tengah. Meskipun Julia menyalakan TV, tapi Zach bisa melihat Julia tidak fokus pada layar kaca.
Julia memang sedang menguatkan diri, mempertahankan janji akan menghapus rasa cintanya pada Zach. Dia hanya akan menjadi istri yang baik tanpa ada perasaan di dalamnya.
"Sejak tadi Kak Zach terus mengikuti kemana pun aku pergi. Aku tidak boleh goyah. Sakit rasanya menerima kenyataan kalau aku hanya cinta sendiri, bertepuk sebelah tangan. Jadi, aku akan melakukan tugasku tanpa melibatkan perasaan lagi. Kamu bisa Julia," batinnya terus menyemangati diri.
__ADS_1
"Diminum dulu tehnya, aku mau masak. Kakak mau dimasakin apa hari ini?" tanya Julia tanpa melihat Zach. Julia segera beranjak dari sofa.
Zach menahan Julia dan menatap mata gadia itu. Masih ada luka di sana. Pantas saja Julia tidak lagi menunjukkan kepedulian lebih dan itu membuat Zach sedih. Pria itu ingin Julia kembali seperti sebelumnya.