
Zach merasa sangat lega setelah mendengar kabar dari Intan bahwa Julia berada di rumah mereka. 'Ternyata dia tidak ke mana-mana,' batinnya berteriak kegirangan.
Dengan tergesa-gesa, Zach segera menjemput Julia saat itu juga. Lalu lintas masih belum terlalu ramai di sepanjang perjalanan. Zach merasakan tidak nyaman. Perasaan bersalah begitu kuat menderanya karena ia pulang terlambat. Apalagi dalam keadaan mabuk berat.
Sebelum keluar dari apartemen tadi, Zach melihat ada sisa makanan yang dibuang ke dalam tong sampah. "Pasti Julia sudah memasak banyak dan menunggu semalaman. Aku benar-benar bodoh sudah mengabaikannya," ucap Zach sambil memukul setir mobil.
Tak butuh waktu lama. Hanya berselang 30 menit Zach sudah berada di depan rumah orang tuanya. Ia pun segera memasuki rumah itu untuk menemui istrinya.
Bi Ipah, orang pertama yang menyadari kedatangan Zach segera menyambutnya. "Selamat pagi, Mas Zach! Pasti mau jemput Neng Julia, ya? Mas Zach ini gimana, sih! Masa istrinya dibiarkan naik taksi sendirian, subuh-subuh lagi datangnya. Bibi sampai kaget loh, Mas. Tak kira siapa yang datang. Biasanya 'kan ada keluarga yang nyusulin kalau pas ada yang sakit. Bibi sampai deg-degan dikira keluarga di kampung mau jemput Bibi seperti biasa." Bi Ipah menyambut Zach dengan ucapan panjang lebar.
"Sekarang Julia ada di mana, Bi?" tanya Zach sambil menoleh ke sekeliling ruangan.
"Neng Julia itu rajin sekali. Tadi cuma tiduran sebentar. Sekarang lagi di pekarangan taman belakang. Langsung saja lihat ke sana!"
Tanpa menunggu lagi Zach langsung menyusul istrinya ke taman belakang. Dia melihat Julia sedang asyik menanam sesuatu di taman yang pepohonannya sudah cukup rimbun. Gadis itu tampak sangat senang saat menyirami tanaman. Wajahnya berseri-seri. Zach bisa melihatnya dari jauh. Saat mendekat, Zach mencoba menyapa istrinya.
"Julia," ucapnya lirih. Seketika senyuman itu hilang ketika Julia melihat Zach datang.
Sontak saja Zach sangat terkejut dengan perubahan sikap Julia yang sangat tiba-tiba. Biasanya istrinya itu dengan antusias akan menyambutnya dengan wajah yang manisnya mengalahkan gulali seperti satu menit yang lalu. Sekarang senyuman itu terbang entah ke mana. Baru sekarang Zach merasa diabaikan.
Julia hanya melangkah maju, kemudian meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya dengan takzim seperti ritual biasa, tapi tanpa ada ekspresi apa-apa. Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang?" tanya Zach kemudian. Julia hanya diam. Tangannya masih terus menyirami tanaman.
__ADS_1
"Kakak 'kan masih tidur. Jadi aku pikir nanti Mama yang akan bilang. Dan, benar 'kan Mama Intan pasti sudah bilang pada Kakak kalau aku ada di sini," ucap Julia datar.
Zach bingung harus menjawab apa. Biasanya Julia dengan senang hati akan menawarinya secangkir teh hangat. Tapi kali ini tidak. Tanpa senyuman, tanpa teh hangat. Bagi Zach, sikap Julia ini terasa bagai sebuah hukuman.
Setelah beres menyirami tanaman, tanpa memedulikan Zach, Julia segera bergegas menuju ruang tamu. Dia duduk di sofa tanpa berkata apa-apa.
"Gimana kalo kita pulang ke apartemen sekarang?" tanya Zach. Lagi-lagi Julia tidak menjawab. Wanita itu hanya mengendikkan bahunya. Tak ada tanda-tanda setuju atau menolak. Sikapnya itu membuat Zach sangat bingung menebak-nebak.
"Aku minta maaf atas sikapku semalam yang telat pulang. Kamu pernah bilang sama Hendra kalau tidak melarangku untuk keluar jalan bareng mereka. Tadi malam ... pertama kali aku keluar, tapi saat aku pulang kamu malah sudah pergi." Zach ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Dia benar-benar bingung harus memulai pembicaraan.
"Kita pulang sekarang, yuk!" bujuk Zach lagi.
"Sebaiknya Kakak kerja saja. Biarkan aku di sini dulu. Bukannya ini sudah jam kerja. Kenapa Kakak malah datang menyusulku?"
"Ada aku atau tidak sama saja 'kan? Tidak ada bedanya," sarkas Julia berhasil menusuk relung pria itu.
Inilah yang dari dulu Zach takutkan saat memulai hubungan dengan seorang wanita. Dia benar-benar kurang peka dan tidak memahami perempuan. Jika harus memilih memulai hubungan baru atau melanjutkan hubungan lama, pasti akan memilih yang kedua. Salah satu alasan dia bertahan dengan Tiffany, selain karena merasa cocok juga mereka sudah sama-sama mengerti satu sama lain.
Dengan sikap Julia yang seperti ini, Zach seperti memulai semuanya dari awal lagi. Dan dia tidak mempunyai keahlian untuk merayu wanita.
"Hari ini aku tidak kerja kalau kamu tidak mau balik ke apartemen," kata Zach kemudian.
"Jangan jadikan aku alasan Kakak tidak bekerja. Itu namanya tidak bertanggung jawab." Dengan tegas Julia menjawab.
__ADS_1
Dalam hati Zach ingin mengucapkan bahwa Julia lebih penting dari pekerjaannya, tapi entah kenapa kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokan. Pada kenyataannya memang Zach tidak lagi memikirkan tentang pekerjaan. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya membujuk Julia supaya mau pulang bersamanya.
"Aku 'kan sudah minta maaf. Ayo, dong, kita kembali ke apartemen!"
"Aku juga sudah maafin Kakak, tapi aku masih mau di rumah Mama. Di sini ramai dan ada kehidupan. Tidak seperti di apartemen."
"Bukannya kemarin-kemarin kamu senang dan antusias kita tinggal di apartemen, ya?"
"Aku senang karena kemarin-kemarin ada orang yang bisa aku ajak ngobrol. Ada orang yang bisa mendengarkan cerita aku. Ada orang yang meskipun bersikap dingin tetap menghargai masakanku."
Lagi-lagi Zach menghela napas panjang. Ternyata berurusan dengan perempuan memang tidak bisa sesederhana itu.
"Sudahlah, Kakak kerja saja. Aku masih mau di sini. Aku akan pulang ke apartemen kalau suasana hatiku sudah lebih baik," pungkas Julia. Setelah mereka terdiam cukup lama di ruang tamu, Julia segera meninggalkan Zach menuju kamarnya.
Intan yang melihat perbincangan suami istri di ruang tamu itu dari balik kaca penyekat ruangan, mundur selangkah supaya tidak terlihat oleh Julia. Dia tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang dibicarakan oleh Zach dan Julia. Tapi perempuan itu menduga telah terjadi kesalahpahaman di antara keduanya.
"Tidak biasanya Julia bersikap ketus begitu. Ini pasti ada kesalahan besar yang dilakukan oleh Zach. Aku harus tanya langsung sama anaknya. Anak itu benar-benar, ya, bikin masalah aja kerjaannya," gumam Intan.
Zach memukul-mukul kepalanya. Dia benar-benar frustrasi menghadapi sikap Julia yang tidak ia mengerti. Dia salah, sudah minta maaf lalu apalagi yang diinginkan oleh Julia, pikirnya.
'Inilah kenapa aku tidak mau buru-buru menikah, karena sebenarnya aku belum siap berumah tangga. Papa sama Mama main paksa-paksa saja. Gini deh, jadinya,' keluh Zach di dalam hati.
Meskipun dia sudah menyadari kesalahannya, tetapi tetap ada sisi lain egonya yang merasa tidak terima diperlakukan Julia seperti itu. Biasanya dia yang mengabaikan perempuan itu, bahkan Tiffany sekali pun. Baru kali ini dia merasa diabaikan oleh perempuan. Dan celakanya perempuan itu adalah istrinya sendiri.
__ADS_1