SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Honeymoon


__ADS_3

Zach memandang wajah Julia dengan tatapan yang lembut. Malam pertama yang baru saja mereka reguk, menyisakan kenikmatan tiada tara hingga keduanya sama-sama terbaring lemas di atas ranjang.


Zach mengusap anak rambut di dahi istrinya yang berpeluh. Tak bosan-bosan ia memandangi istrinya yang sedang memejamkan mata. Sesaat yang lalu, Julia meneteskan air mata bahagia karena telah mempersembahkan mahkota paling berharga yang ia jaga selama dua puluh empat tahun untuk pasangan halalnya.


"Makasih, Sayang, kamu memang luar biasa hebat. Makasih untuk semua kesabaran dan ketulusan kamu selama ini dalam menghadapi aku," bisik Zach. Julia tak mampu berkata-kata. Ia hanya menautkan jari-jemarinya pada jari tangan suaminya.


Madu indah pernikahan yang baru saja ia teguk sebagai awal langkah mereka berkomitmen dalam ikatan yang sudah disahkan di depan penghulu beberapa waktu lalu, benar-benar terasa merasuk di dalam kalbu Julia.


Meskipun ini bukan kali pertama Zach mereguk madu, melampiaskan hasrat, tetapi bersama Julia rasa itu begitu berbeda. Zach seperti diajak menapaki undakan demi undakan di atas awan. Kemudian perlahan-lahan mereka bersama-sama terbang menuju nirwana. Sungguh rasa yang indah, nyaris tak terkatakan. Tak ada nafsu, yang ada hanya kasih sayang yang sangat besar untuk saling memberi dan menerima.


Zach tidak memaksakan diri. Begitu pun dengan Julia yang membiarkan dirinya menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang diberikan suaminya, hingga akhirnya ia merasa tidak tahan lagi. Dari ******* ******* halus berubah menjadi erangan kenikmatan.


Julia yang baru pertama kali disentuh oleh lelaki, merasakan sensasi yang luar biasa. Betul-betul malam pertama yang sempurna untuk seorang gadis yang baru mengenal cinta. Bahkan juga baru mengenal laki-laki.


"Aku bahagia karena bisa mempersembahkan mahkota istimewa untuk suamiku," ucap Julia lirih seraya memandang suaminya dengan tatapan mesra.


"Iya, Sayang, kamu memang perempuan luar biasa yang dikirim Tuhan untuk laki-laki yang masih punya banyak kekurangan sepertiku. Semoga kita bisa menjalankan rumah tangga ini bersama-sama. Belajar dari kesalahan yang kemarin dan sama-sama menerima kekurangan masing-masing," ucap Zach.


Laki-laki itu juga tidak tahu seakan-akan sekarang ego dirinya terbang. Sementara harga dirinya menegak utuh tanpa cela dan cacat. Zach memang sempat dihimpit sedikit rasa bersalah karena dirinya sudah sering melakukan hubungan dengan Tiffany dulu. Jika mengingat hal itu Zach sangat menyesalinya.


Dalam hati laki-laki itu berjanji tidak akan lagi mengulangi kebodohan yang pernah ia lakukan. Dia berjanji akan menjadikan Julia satu-satunya ratu di hatinya.

__ADS_1


"Kakak tahu, aku belum pernah jatuh cinta kepada lelaki mana pun. Jika Tuhan akhirnya menghadirkan rasa indah ini kepada pria yang telah halal menjadi suami, aku akan bersetia selamanya. Mudah-mudahan malam ini akan menjadi pengingat kita bahwa pernikahan kita diawali dari sesuatu yang baik, niat baik, cara baik, dan proses yang benar. Kakak nggak lupa 'kan pesan dari Ustadz yang waktu itu menjadi penasehat perkawinan kita?" Julia tersenyum manis, membuat Zach lagi-lagi tak tahan untuk tidak mendaratkan ciuman di bibir kekasih halalnya.


Tubuh Julia kembali menegang menerima perlakuan manis dari laki-laki yang sangat ia cintai. Sekarang Julia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi ketika restu orang tua telah mengiringi perjalanan cinta mereka. Seperti ucapan Mang Ebo, guru mengajinya dulu. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Ketakutan-ketakutan yang dulu sempat hadir dan menyergap dirinya, kini perlahan-lahan menghilang, berganti dengan perasaan ikhlas dan kebahagiaan.


"Aku masih harus banyak belajar untuk menata diri, Julia. Dan pada prosesnya aku ingin engkau menjadi satu-satunya orang yang berjalan tegak bersamaku." Lagi-lagi Zach tersenyum.


Entah kenapa penyatuan dengan Julia tadi seperti membuat otaknya menyala hingga ia mampu mengatakan kalimat-kalimat yang selama ini hanya terpendam di dasar hatinya.


Sepasang pengantin baru itu menghabiskan malam dengan saling berpelukan dan mengeja rasa. Keduanya telah menyatukan hati juga jiwa.


Keesokan harinya, mereka berkumpul di meja makan. Melihat rambut basah Julia, Intan tersenyum sambil melirik ke arah Max. Usahanya tak sia-sia meninggalkan mereka berdua kemarin. Anak dan menantunya kini telah berbaikan.


"Zach, Mama sudah berpikir untuk kembali menjadwalkan bulan madu untuk kamu sama Julia. Kali ini kalian nggak boleh nolak lagi," tutur Intan dengan lembut.


Julia membelalakkan matanya. Dia belum pernah pergi ke luar negeri. Sedangkan untuk mengurus paspor pasti membutuhkan waktu. Julia tidak mau menunggu selama itu.


"Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi, masih di Indonesia. Itu juga kalau Kakak mau," tutur Julia perlahan-lahan.


"Katakan saja, Sayang? Nggak perlu malu-malu. Kalo memang belum siap keluar negeri. Ya udah, nggak apa-apa mau ke mana? Bali atau Lombok?" Intan kembali bersuara.


"Labuan Bajo, Ma." Dengan cepat Julia menjawab.

__ADS_1


"Wow, pilihan yang bagus. Labuan Bajo yang sangat eksotis cocok banget untuk bulan madu. Kamu memang luar biasa, Julia! Oke, Mama akan urus tiketnya. Kalian tinggal bersiap-siap nanti siang."


"Bisa berangkat hari ini, Ma?" tanya Julia dengan begitu excited. Zach menggenggam tangan Julia, seolah mengatakan dia tidak usah khawatir karena ia pasti akan di sampingnya.


Akhirnya sepasang pengantin baru itu memang segera terbang ke Labuan Bajo. Mereka berdua akan menikmati pemandangan yang sangat indah di sana. Zach memilih satu resort yang sangat privat. Letaknya berada di tengah pulau. Julia sangat senang menikmati panorama yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Saat ke Bali, Julia sudah dibuat terpana dengan pemandangan laut, gunung, dan alam Bali yang sangat memanjakan matanya. Namun, di Labuan Bajo ternyata dia menemukan sesuatu yang tidak ia lihat di Bali.


Hawanya sangat berbeda. Hamparan pasir putih dengan air laut biru cerah membuat Julia betah berlama-lama bermain air. Mereka berenang, berselancar, dan naik kapal menyeberangi Pulau Kanawa sebagai destinasi pertama.


"Kamu bahagia, Sayang?" tanya Zach saat mereka sedang menikmati super romantis Candle Light Dinner di Gili Laba.


"Tentu saja, aku sangat bahagia. Bukan kita ada di mana, tetapi yang paling penting adalah dengan siapa. Dan bersama Kakak selalu membuat aku bahagia." Kata-kata Julia seperti menghipnotis Zach. Mereka berpelukan hangat seperti layaknya sepasang pengantin yang tengah merayakan bulan madu di tempat yang sangat indah.


Keesokan harinya mereka melakukan snorkeling di Manta Roy dibimbing oleh pembimbing profesional. Julia sangat senang menikmati pemandangan bawah laut. Bertemu banyak ikan berwarna-warni. Selanjutnya mereka mengunjungi Pulau Gusung dengan airnya yang sangat jernih. Lagi-lagi Julia dimanjakan dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya yaitu mengunjungi Pulau Komodo.


"Wah, ini luar biasa sekali, Kak! Aku baru melihat komodo yang begitu banyak. Ternyata mereka nggak seserem yang di kamera."


"Nikmati saja! Selama ini kamu cuma bisa lihat di tayangan TV luar negeri 'kan?" ucap Zach sambil mengelus punggung istrinya.


Kebahagiaan Julia semakin berlipat-lipat karena mereka kembali melakukan tracking di Pulau Kalong. Benar-benar perjalanan yang tidak bisa Julia lupakan. Dia tertawa-tawa bahagia dan mengabadikan momen itu sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Julia yang biasanya tidak suka berfoto, sekarang lebih banyak mengumpulkan foto-foto untuk dokumen pribadinya bersama dengan suami tercintanya. Binar kebahagiaan itu tidak hilang sampai akhirnya mereka menghabiskan waktu selama satu minggu untuk berbulan madu.


__ADS_2