
Setelah cukup lama memikirkan apa yang harus dilakukan, Zach berinisiatif menyusul Julia ke dalam kamar. Dengan tergopoh-gopoh pria muda itu segera naik ke lantai dua. Intan yang melihat dari dapur langsung memanggil anaknya. "Tunggu dulu!" teriak Intan.
Zach menghentikan langkahnya lalu berbalik turun memberikan salam kepada Intan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sampai kamu biarkan Julia datang sendirian ke sini? Seharusnya kamu antar dia dong, Zach. Bukan begitu suami yang baik?" ucap Intan. Zach tidak bisa menjawab.
"Sebetulnya ada apa? Kenapa sampai Julia bersikap seperti itu? Coba jelaskan sama Mama." Intan meraih tangan Zach, menariknya menuju sofa di ruang tengah.
"Duduk sini!" perintah Intan tegas. Zach menurut saja bagai kerbau dicocok hidungnya.
"Tidak ada apa-apa, sih, Mah. Ya, ini salah Zach karena semalam lembur, jadi pulang hampir pagi," jawab Zach perlahan. Tentu saja dia tidak berani bercerita bahwa tadi malam dia pulang terlambat dalam keadaan mabuk bersama sahabatnya. Ia belum siap menghadapi badai besar yang akan diberikan mamanya.
"Ya sudah, bagus kalau kamu sudah mengakui kesalahan. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah kembali mengambil hati Julia. Dekati dia, bujuk supaya dia bisa luluh dan memaafkanmu." Dengan tegas Intan meminta Zach untuk mendekati Julia.
Lagi lagi Zach kebingungan.
"Tapi, gimana caranya, Mah?" tanya Zach.
"Kalo untuk itu belajarnya sama Papa!" Tiba-tiba Max datang dan langsung menyambung obrolan.
"Papa kalo urusan beginian saja gercep. Ya sudah, beritahu anaknya! Biar jadi laki-laki sejati yang tahu cara meminta maaf pada wanita."
"Memang itu keahlian Papa. Mama sendiri mengakuinya 'kan?" Max menggoda istrinya.
__ADS_1
"Iya, tapi bukan berarti Papa boleh seenak hati melakukan kesalahan lalu minta maaf. Eh, seminggu kemudian diulangi lagi, nanti minta maaf lagi. Terus diulangi lagi. Gitu aja terus sampai Planet Mars bisa ditinggali penduduk Bumi," omel Intan sambil meninggalkan anak dan suaminya di sofa.
Intan percaya Max bisa mengarahkan Zach untuk mengambil hati Julia. Salah satu alasan Intan menerima Max adalah karena laki-laki itu sangat pandai mengambil hatinya dan kedua orang tuanya.
Setelah Intan pergi, Max melanjutkan obrolan. "Papa tidak yakin alasan kamu tadi jujur. Oke, tadi ada Mama. Sekarang hanya ada Papa. Jadi kamu harus jawab jujur. Apa yang terjadi tadi malam sampai Julia begitu marah dan pergi dari apartemen? Ini tidak main-main Zach. Untung Julia perginya ke rumah ini. Coba kalau dia langsung pulang ke rumah orang tuanya. Papa sama Mama pasti malu sama Om Hendi dan Tante Nia," ujar Max.
Tentu saja dugaan Max ini bukan tanpa alasan. Sebagai seorang senior mantan bad boy, dia juga tahu lika-liku kebohongan yang dilakukan kepada pasangan. Zach merasa tidak bisa berkelit lagi.
"Hendra sama Satria ajak aku keluar. Biasa hangout, Pa, karena aku sudah lama tidak kumpul sama mereka." Zach menahan kalimatnya.
"Terus kalian minum mabuk-mabukan sampai pagi, gitu?" Max langsung bisa menebak kelanjutan ceritanya.
Zach menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tidak ada gunanya berbohong kepada papanya karena semakin dia berbohong semakin Max bisa menebak kelakuannya. Dan itu akan membuat dia semakin tak punya muka.
Dia masih ingat saat hari pernikahannya, Julia bilang kepada Hendra bahwa pernikahan tidak akan mengekang satu sama lain. Lalu tadi malam adalah hari pertama dia keluar bersama teman-temannya, tapi saat pulang kenapa Julia marah. Hal itu yang masih menjadi misteri bagi Zach.
Max menghela napas. "Kamu harus belajar mengerti tentang wanita. Bukankah kamu sering juga melihat Papa menghadapi Mama? Papa jawab apa saat Mama tanya apakah masakannya enak? Ya, Papa selalu jawab masakan Mama paling enak. Padahal kenyataannya dulu saat awal-awal menikah, Mama tidak bisa masak. Setiap hari Papa harus merasakan masakan yang hambar, kadang keasinan, sering kemanisan. Tapi Papa selalu bilang masakan Mama enak karena Papa menghargai usaha Mama." Zach dengan saksama mendengarkan perkataan Max.
Dia teringat lagi di tempat sampah ada banyak makanan yang sepertinya sengaja dibuang. Apakah hal itu yang membuat Julia murka? Zach tahu, Julia pasti sudah menunggunya lama. Ya, ini memang kesalahannya.
"Bukan hanya tentang menghargai, tetapi terkadang perempuan selalu bertentangan antara bibir dan hatinya. Di situlah kita sebagai laki-laki harus cerdas mengartikan apa sebenarnya yang diinginkan mereka.
"Rumit sekali, Pa!" Zach menggumam.
__ADS_1
"Mungkin Julia memang mengizinkan kamu berkumpul bersama teman-temanmu karena dia tidak ingin membatasi pergaulanmu, tetapi seharusnya kamu tahu diri jangan kebablasan. Karena sekarang sudah punya istri. Apalagi sampai mabuk-mabukan lagi. Denger Papa, ini yang terakhir, kalo Papa sampai tahu sekali lagi kamu masih mabuk-mabukan, Papa akan panggil Satria dan Hendra. Biar Papa yang bicara sama mereka."
"Jangan, Pa! Kayak anak kecil saja."
"Ya, memang sikapmu ini kayak anak kecil. Kayak laki-laki yang masih lajang belum punya tanggung jawab. Ngerti tidak?" Zach hanya mengangguk samar. Semua omongan papanya adalah benar.
"Papa hanya ingin punya anak yang semakin hari tumbuh dewasa. Bukan kembali jadi anak kecil. Ayolah, Zach masa mudamu sudah sangat puas kau habiskan untuk bersenang-senang. Sekarang saatnya kamu fokus kepada hidupmu bersama Julia. Papa dan Mama hanya bisa membantumu sebatas ini. Setelahnya urusan rumah tanggamu menjadi tanggung jawab kalian berdua."
Lagi-lagi Zach terdiam. Di satu sisi dia menyetujui ucapan papanya, tapi di sisi lain dia masih penasaran, kenapa Julia jadi semarah itu. Padahal dia hanya telat pulang dan mabuk saja.
"Tidak mudah ya, ternyata punya istri," gumam Zach lirih, tetapi Max bisa dengan jelas mendengarnya. Laki-laki paruh baya itu tertawa terbahak-bahak.
"Ini belum seberapa, nanti kamu akan menghadapi banyak badai. Siapkan amunisi dari sekarang. Itu pesan Papa. Amunisinya adalah perbanyak sabar dan pengertian. Lebih tepatnya belajar mengertilah tentang perempuan. Paham, Son?"
Akhirnya setelah mendapat wejangan panjang dan lebar dari Max, Zach memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Julia, kamu sudah tidur?" ucap Zach perlahan-lahan. Julia hanya diam. Merasa tidak mendapat respon, Zach tidak berani berkata apa-apa lagi.
Zach justru merasa aneh karena malam pertama di rumah orang tuanya ternyata menjadi malam yang canggung. Ketika ia melihat Julia memunggungi dirinya dengan guling yang telah terpasang sebagai sekat.
"Apa ini bentuk protes? Belum apa-apa aku dikasih punggung! Masih pakai bonus pembatas guling pula," rutuk Zach di dalam hati.
Sebelumnya Zach merasa tidak masalah, bahkan memang dia yang memasang guling terlebih dahulu. Akan tetapi, entah mengapa melihat Julia yang melakukannya membuat ia tidak nyaman. Zach akhirnya menyingkirkan guling itu. Untuk pertama kalinya mereka tidur di ranjang yang sama tanpa penghalang.
__ADS_1