SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Ungkapan Hati


__ADS_3

Julia berkata sekeras itu kepada Zach yang sudah dirasakannya sangat keterlaluan. Beban yang ia pendam selama ini, sekarang ia ungkapkan karena terpancing dengan sikap Zach yang cemburu kepada pria yang ia temui di luar tadi.


Zach tidak menyangka, Julia semarah itu. Bahkan ia juga baru menyadari ketika malam dia mabuk masih menyebut nama Tiffany.


"Damn it! Aku benar-benar bodoh. Kenapa bisa nyebut nama Tiffany lagi? Padahal aku sudah mencoret nama perempuan itu dari dalam hatiku. ****!" rutuk Zach.


Julia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Bi Ipah yang melihat gadis itu tergesa-gesa naik ke lantai dua hampir saja menegurnya. Akan tetapi, melihat Julia berwajah masam dan bermuka tegang, ia tidak berani berbicara apa-apa.


"Wah, gawat ini! Kayaknya terjadi perang dunia keempat. Pasti Neng Julia sama Mas Zach marahan lagi. Baru baikan sebentar, udah marahan lagi. Pengantin baru ada-ada saja cobaannya," ucap Bi Ipah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Baru ia hendak pergi ke dapur, tiba-tiba muncul Zach dari pintu dan hendak menabraknya.


"Hati-hati, Mas Zach! Bibi di sini dari tadi. Apa tidak kelihatan? Pelan-pelan saja, mau nyusul Neng Julia, to? Dia baru aja naik. Makanya jadi laki itu jangan galak-galak. Nanti istrinya takut," tutur Bi Ipah.


Zach tidak ambil pusing dengan ucapan asisten rumah tangganya itu. Secepat kilat Zach pun mengejar Julia ke atas. Namun, ia terlambat karena Julia sudah mengunci pintu dari dalam kamar.


"Buka, Julia! Buka pintunya! Aku mau bicara sebentar!" teriak Zach sambil mengetuk-ngetuk pintu. Julia bergeming. Dia tidak mau lagi mendengarkan kata-kata Zach yang hanya bisa bersikap egois dan semaunya sendiri. Bagi Julia sekarang kehadirannya di rumah ini sudah tidak penting lagi.


Akhirnya dengan langkah gontai, Zach kembali ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Julia. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan semenjak menikah. Pria muda itu merebahkan dirinya di kasur sambil merenungkan semua yang telah terjadi.


Bagaimana dulu awalnya ia diperkenalkan orang tuanya ke rumah Julia untuk pertama kalinya. Saat itu dia melihat Julia seperti gadis liar, tapi juga sangat cantik dan pintar.

__ADS_1


Semakin lama Zach mengenal Julia, pria itu belum menemukan ada hal yang kurang pada diri istrinya. Sebagai seorang wanita, Julia nyaris sempurna. Dia cantik, bertubuh bagus meskipun mungil. Julia bisa memasak, mengurus rumah, dan yang lebih utama adalah bisa mengurus suami.


Julia juga tidak pernah tampil memalukan saat Zach mengajaknya ke acara perusahaan dan memperkenalkan dengan rekan-rekan bisnisnya. 'Apalagi yang kurang,' pikir Zach.


"Kenapa malah justru aku terus saja memikirkan Tiffany. Bahkan sampai aku mengigau saat mabuk. Ini benar-benar di luar dugaan." Lagi-lagi Zach menggumam.


'Benar kata Papa, seharusnya aku lebih menghargainya. Aku memang bodoh. Nyatanya, baru ditinggal Julia sehari saja, aku sudah kelimpungan. Aku merasa ada yang hilang dan itu membuatku tidak nyaman. Harus bagaimana lagi caranya aku minta maaf?' batin Zach gelisah. Matanya menerawang memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk bisa meluluhkan hati istrinya.


Cukup lama Zach menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda Julia mau keluar kamar. Beberapa kali dia menengok keluar, pintu itu masih tertutup rapat. Zach mengetuk pintu lagi.


"Julia, tolong buka pintunya!" ucapnya perlahan, tapi nihil. Julia tetap tidak mau membuka pintunya hingga sore hari. Menjelang petang, wanita itu baru membuka pintu kamar. Sontak Zach segera menghampirinya.


Alangkah terkejutnya Zach saat melihat Julia menyeret kopernya. Koper yang dulu dibawa dari kampung ternyata masih berada di dalam kamar Julia.


"Lepasin, Kak!" ucap Julia sembari menepis tangan Zach yang memegang tangannya.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku sungguh minta maaf karena aku sama sekali tidak sadar. Saat mabuk malam itu aku tidak tahu apa yang aku bicarakan, tapi yang jelas itu adalah kebodohan. Aku benar-benar bodoh dan aku minta maaf sama kamu, Julia! Please, maafin aku, ya? Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Aku sudah lelah, Kak! Ini bukan yang pertama kali. Aku memang ada di sini, tapi Kakak tidak pernah nganggap aku ada. Jangan berpikir aku tidak ngerti, Kakak masih bertemu diam-diam denganya. Waktu kita ke minimarket Kakak bertemu sama dia 'kan? Aku berusaha menerima dan bersabar karena aku sadar Kakak tidak pernah menginginkan keberadaan aku. Dan itu rasanya sangat menyakitkan," tutur Julia menunjuk dadanya.


Zach baru menyadari, dia memang telah melakukan banyak sekali kesalahan. Siang itu saat di minimarket ia menemui Tiffany. Bahkan sempat bercumbu dengannya. Lagi-lagi Zach merasa menjadi laki-laki durjana yang sudah mendzolimi istrinya.

__ADS_1


"Oh God, Julia ...." Zach sampai tidak bisa merangkai kata. Pria itu teramat sangat menyesal. "Kamu tahu, semua memang tidak mudah. Bagi kita perjodohan ini memang sulit karena kita belum mengenal satu sama lain. Akan tetapi, sejauh ini aku berusaha untuk bertahan. Tiffany sudah pergi jauh. Dia meninggalkanku. Aku sendiri tidak tahu dia pergi ke mana. Jadi hubungan di antara kami sudah berakhir. Sekarang cuma ada kamu satu-satunya," ucap Zach sembari memandang lekat kedua bola mata indah Julia.


Antara percaya dan tidak percaya, Julia mendengarkan semua perkataan Zach. Jika memang Tiffany sudah pergi, artinya sudah tidak ada ancaman lagi di antara mereka.


"Beri aku waktu untuk berpikir, Kak," ucap Julia lirih.


"Berapa pun waktu yang kamu minta, aku akan berikan. Akan tetapi, kamu jangan pergi ke mana-mana. Kamu tetap di sini bersamaku. Kita kembali ke apartemen, ya?" Zach memohon. Julia tidak menjawab, masih setia menundukkan kepala.


Pria itu berlari keluar, lalu mengunci semua pintu rumah. Berharap Julia tidak nekat pergi meninggalkannya. Setelahnya dia kembali lagi ke dalam kamar.


"Aku minta maaf, mulai sekarang aku akan berubah. Kita akan mulai dari nol. Kita mulai dari hari ini. Aku janji tidak akan pernah membuatmu kecewa lagi, Julia."


Zach berjanji akan berubah karena ia menyadari jika ia sudah menaruh hati kepada Julia.


"Sekarang aku ingin memulai semua ini dengan kejujuran. Aku akan jujur padamu bahwa ...," Zach mengatur jantungnya yang dag dig dug, pria itu menelan salivanya dengan sangat sulit. Akhirnya dia tahu apa yang menbuatnya panas ketika Julia bersama pria lain. "bahwa aku sudah mulai sayang sama kamu. Aku cinta kamu, Julia. Kalau tidak, mana mungkin aku seperti orang gila saat kamu pergi dari apartemen. Tidak ada kamu, tuh, rasanya hidupku tidak lengkap. Sekali lagi aku bilang kalau aku tidak punya perasaan sama kamu, aku tidak akan merasa kehilangan sampai sesakit ini. Please, ya, kita mulai semua dari awal lagi," ucap Zach sambil meraih tangan Julia, lalu perlahan-lahan laki-laki itu mencium punggung tangan istrinya.


Mendapati kesungguhan di mata Zach, Julia pun luluh.


"Benarkah Kakak mau berubah?" tanya Julia setengah percaya. Zach menganggukkan kepalanya.


"Asal kamu juga janji mau tetap di sisiku dan tidak akan pernah meninggalkan aku." Zach merengkuh Julia ke dalam pelukannya. 

__ADS_1


Julia sempat terhenyak ketika Zach memeluknya. Pelukan yang selama ini menjadi khayalan Julia, akhirnya masa itu tiba, saat Zach benar menerima kehadirannya. Julia tidak pernah sebahagia ini selain ketika diberikan peralatan hiking oleh kedua orang tuanya. Julia pun menangis haru di pelukan Zach.


Malam itu mereka akhirnya melakukan malam pertama yang selama ini tertunda, sebagai awal dari hidup baru mereka.


__ADS_2